Adab Terhadap Non Muslim yang Wafat

💢💢💢💢

📘 Bolehkah mengucapkan istirja’?

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah menjawab:

ج: الكافر إذا مات لا بأس أن نقول: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} الحمد لله، إذا كان من أقربائك لا بأس، كل الناس إلى الله راجعون، كل الناس ملك لله سبحانه وتعالى، لا بأس بهذا، ولكن لا يدعى له ما دام كافرا لا يدعى له

Jika orang kafir wafat tidak apa-apa kita mengucapkan “Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun”. Alhamdulillah, jika dia adalah kerabat Anda tidak apa-apa. Semua manusia akan kembali kepada Allah, semua manusia kepunyaan Allah Ta’ala, tidak masalah dengan hal ini. Tetapi, tidak boleh mendoakan dia, selama dia kafir tidak mendoakan dia. (Fatawa Nuur ‘Alad Darb, 14/365)

📙 Bolehkah berta’ziyah kepadanya?

Boleh, dan itu merupakan pendapat mayoritas ulama.

Demikian ini keterangannya:

يجوز للمسلم أن يعزي غير المسلم في ميته وهذا قول جمهور أهل العلم وذكر العلماء عدة عبارات تقال في هذه التعزية منها :

– أخلف الله عليك ولا نقص عددك .

– أعطاك الله على مصيبتك أفضل ما أعطى أحداً من أهل دينك . المغني 2/46 .

– ألهمك الله الصبر وأصلح بالك ، ومنها : أكثر الله مالك وأطال حياتك أو عمرك

– ومنها لا يصيبك إلا خير . أحكام أهل الذمة 1/161 .

Boleh bagi seorang muslim berta’ziyah kepada mayat non muslim. Ini adalah pendapat jumhur ulama. Para ulama menyebutkan beberapa ucapan yang bisa diucapkan ketika berta’ziyah kepada mereka. Di antaranya:

🔸 Semoga Allah menggantikan untukmu dan tidak mengurangi jumlahmu (maksudnya supaya tetap ada harta untuk membayar jizyah, pen)

🔹 Semoga Allah memberikan kepadamu hal yang lebih baik dibanding pemberian seorang dari pemeluk agamamu. (Al Mughni, 2/46)

🔸 Semoga Allah memberikanmu kesabaran dan memperbaiki keadaanmu, dan di antaranya juga: semoga Allah memperbanyak hartamu dan memanjangkan hidup dan usiamu.

🔹 Juga: semoga tidak ada yang menimpamu kecuali kebaikan. (Ahkam Ahludz Dzimmah, 1/161).

📚 Lihat Al Khulashah fi Ahkam Ahli Adz Dzimmah, 3/149

Tapi, kebolehannya memiliki beberapa patokan:

1⃣ Tidak ikut pada acara ritualnya

2⃣ Tidak mendoakan ampunan bagi mereka

3⃣ Tidak merendahkan diri di sana seakan mereka adalah kelompok yang benar

Jika kita tidak mampu menjaga hal-hal ini, maka sebaiknya tidak berta’ziyah, demi menjaga keselamatan aqidah kita.

Demikian. Wallahu A’lam

🔶🔷🔶🔷

✏ Farid Nu’man

Tanda Penderitaan

💦💦💦💦💥💥💥💥

Imam Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata:

خمس من علامات الشقوة: القسوة في القلب، وجمود العين، وقلة الحياء، والرغبة في الدنيا، وطول الأمل

Ada lima tanda penderitaan:

1. Hati yang keras
2. Mata yang tidak pernah berpaling
3. Sedikit rasa malu
4. Terobsesi dunia
5. Panjang angan-angan

📚 Durar Aqwaal A’immah As Salaf

📒📕📗📘📙📓📔

🖋 Farid Nu’man Hasan

Tafsir Surat Al Kafirun (Bag.3)

Orang Kafir Tidak Akan Menyembah Allah dalam Kekafirannya

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)

📖 Terjemah :

2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah
4). Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah
5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah

Ayat ke dua sampai ayat lima menyebutkan muqabalah (lawan kata) antara orang kafir dan muslim, bahwa diantara mereka tidak akan menyembah tuhan masing-masing. Ayat ini seperti ada pengulangan meski dengan perangkat huruf yang sedikit berbeda.

Menurut Imam Ibnu Taimiyah menyebutkan, penyebutan berulang-ulang (at tikrar) dalam ayat diatas memiliki dua fungsi:

1⃣ Sebagai pengingkaran kondisi (Nafyu Al Hal)

Terkait dengan keadaan orang kafir dalam ayat diatas. Karena orang kafir tak mungkin mau menyembah Allah.

2⃣ Sebagai penguat (taukid) seperti pendapat Al Farra ( Majmu’ Fatawa, 16/534).

📖 Pendapat Para Ulama Mufassirin

⭐ Ayat kedua:

لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ

Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (QS. Al Kafirun:2)

Ini pernyataan tegas, bahwa seorang muslim tak akan menyembah kepada tuhan-tuhan orang kafir, secara lahir maupun bathin. Kaum muslimin berlepas diri dari penyembahan jenis ini karena termasuk perbuatan syirik.
Menurut Imam Asy Syaukani (1316H) maksud dari ayat kedua ini adalah:

لا أعبد الذي تعبدونه في المستقبل والمعنى: لا أفعل في المستقبل ما تطلبونه مني من عبادة آلهتكم من دون الله من الأوثان

“Aku tak akan menyembah yang kalian sembah dikemudian hari, maknanya: aku tak akan melakukan pada masa yang akan datang perbuatan yang kalian inginkan dengan menyembah tuhan-tuhan berhala kalian selain Allah. (Asy Syaukani, Marah Labid,6/672)

⭐ Ayat ketiga

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”. (QS. Al Kafirun:3)

Penolakan ini bukan tanpa alasan, penolakan ini karena keinginan orang kafir tersebut hanya keinginan dibibir saja, kedustaan belaka. Seperti yang disebutkan oleh As Sa’di (1376H) dalam tafsirnya:

فعبادتكم له المقترنة بالشرك لا تسمى عبادة

Ibadah kalian dengan diiringi syirik tidaklah dinamakan ibadah yang sesungguhnya (Tafsir As Sa’di, 1/936)

Menurut Imam Asy Syaukani:

ولا أنتم عابدون في المستقبل عبادتي، أي مثل عبادتي، أي ولا أنتم فاعلون في المستقبل ما أطلبه منكم من عبادة إلهي وهو الله الواحد

Kalian bukanlah penyembah seperti bagaimana aku beribadah pada masa yang akan datang, kalian juga tidak akan melakukan apa yang aku minta dari kalian untuk menyembah Tuhanku yaitu Allah yang Maha Esa. (Asy Syaukani, Marah Labid,6/672)

⭐ Ayat keempat

وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ

“Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”(QS. AL Kafirun:4)

Ayat ini menggunakan perangkat isim Fa’il (kata benda pelaku) yaitu عَابِدٌ (penyembah). Fungsinya adalah haqiqatun Fil Hal (hakikat dalam keadaan sebenarnya). Bahwa orang-orang kafir benar-benar tak akan melakukan penyembahan kepada sesembahan kaum muslimin yaitu Allah.( At Tahrir Wa tanwir, 30/582)

Syekh Ahmad Musthafa Al Maraghi (1371H) menyebutkan dalam ayat ini:

إنكم لستم بعابدين إلهى الذي أدعو إليه لمخالفة صفاته لإلهكم، فلا يمكن التوفيق بينهما بحال

“Kalian bukanlah penyembah Tuhanku tempat aku berdoa, untuk berbeda dengan sifat tuhan kalian, maka tak mungkin menyatukan keduanya. (Tafsir Al Maraghi, 30/256)

⭐ Ayat kelima

وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ

“Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah” (QS.Al Kafirun:5)

📖 Kesimpulan

✅ Orang kafir tak akan menyembah Allah dalam kekafirannya, ungkapan ingin tersebut hanya penghias bibir saja.

✅ Penyebutan ayat secara diulang-ulang lebih dominan berfungsi menguatkan secara keseluruhan(taukid)( Tafsir Ibnu Katsir, 8/508)

✒ Fauzan Sugiyono Lc M.A.

ORANG TERBAIK MENURUT STANDAR AL QURAN DAN AS SUNNAH

💥💦💥💦💥💦

Berikut ini adalah manusia-manusia terbaik menurut standar Allah Ta’ala dan RasulNya. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amiin.

1⃣ Orang beriman dan beramal shalih

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. (QS. Al Bayyinah: 7)

Imam Ibnu Katsir berkata:

وقد استدل بهذه الآية أبو هريرة وطائفة من العلماء، على تفضيل المؤمنين من البرية على الملائكة

Abu Hurairah dan segolongan ulama telah berdalil dengan ayat ini bahwa kaum beriman di kalangan manusia lebih uatam dibanding malaikat. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/458)

2⃣ Orang kaya tapi taat kepada Allah Ta’ala

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, Dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 30)

3⃣ Orang Yang Ditimpa ujian (penyakit, miskin, musibah) tapi Bersabar dan Taat

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya). (QS. Shad: 44)

4⃣ Para sahabat nabi dan orang yang mengikuti jejak mereka

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat yang terbaik dikeluarkan untuk manusia, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Siapakah umat terbaik dalam ayat ini? Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan: “Mereka adalah para sahabat nabi yang berhijrah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Mekkah ke Madinah.” (Musnad Ahmad No. 2463. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 6164, katanya: shahih. Disepakati Adz DZahabi)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وَالصَّحِيحُ أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ عامةٌ فِي جَمِيعِ الْأُمَّةِ، كُلُّ قَرْن بِحَسْبِهِ، وَخَيْرُ قُرُونِهِمُ الَّذِينَ بُعثَ فِيهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلونهم، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Yang benar adalah ayat ini berlaku secara umum bagi semua umat ini (Islam), setiap masing-masing zaman, dan sebaik-baik zaman mereka adalah manusia yang ketika itu pada mereka diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/94)

Demikianlah generasi sahabat, dan kita pun bisa menjadi khairu ummah sebagaimana mereka jika sudah memenuhi syarat-syarat seperti mereka. Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu berkhutbah ketika haji:

مَنْ سَرَّه أَنْ يَكُونَ مِنْ تِلْكَ الْأُمَّةِ فَلْيؤدّ شَرْط اللَّهِ فِيهَا

Barang siapa yang suka dirinya menjadi seperti umat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Tafsir Ath Thabari, 7/102)

Ayat ini diperkuat oleh hadits berikut:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baiknya manusia adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya. (HR. Bukhari No. 2652)

Tentunya maksud manusia pada zaman nabi adalah manusia yang beriman kepadanya di zamannya, yaitu para sahabatnya. Bukan kaum munafiq dan kaum kafir yang hidup di zamannya.

5⃣ Paling konsisten terhadap kewajiban

«إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً»

Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling bagus qadha-nya. (HR. Bukhari No. 2305, Muslim No. 1601, dari Abu Hurairah)

Maksud “qadha” adalah yang paling konsisten menepati kebenaran dan kewajiban yang ada padanya. (Ta’liq Mushthafa Al Bugha, 2/809)

6⃣ Terbaik pada masa jahiliyah dan Islam

«فَخِيَارُكُمْ فِي الجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الإِسْلاَمِ إِذَا فَقُهُوا»

Sebaik-baiknya kalian pada masa jahiliyah adalah yang terbaik di antara kalian pada masa Islam, jika mereka paham agama.

(HR. Bukhari No. 3384, dari Abu Hurairah)

7⃣ Paling Bagus Akhlaknya

«إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا»

Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya. (HR. Bukhari No. 3559, dari Ibnu Umar, Muslim No. 2321, dari Ibnu Amr. Ini lafaz Bukhari)

8⃣ Mempelajari Al Quran dan Mengajarkannya

«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»

Sebaik-baiknya kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya. (HR. Bukhari No. 5027, dari Utsman)

9⃣ Manusia yang panjang umur dan amalnya semakin baik

” أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِكُمْ؟ “، قَالُوا: نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: ” خِيَارُكُمْ أَطْوَلُكُمْ أَعْمَارًا، وَأَحْسَنُكُمْ أَعْمَالًا “

Maukah aku tunjukkan manusia terbaik di antara kalian? Mereka menjawab: “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Manusia terbaik di antara kamu adalah yang paling panjang usianya dan semakin baik amalnya.” (HR. Ahmad No. 7212, dari Abu Hurairah. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Al Hakim, Al Mustadrak No. 1255, katanya: shahih sesuai syarat Syaikhan (Bukhari-Muslim) )

🔟 Manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya

وَخَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath No. 5787. Al Qudha’i, Musnad Syihab No. 129. Dihasankan Syaikh Al Albani. Lihat Shahihul Jami’ No. 6662)

1⃣1⃣ Manusia yang paling tenang, khusyu, dan tuma’ninah ketika shalat

«خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلَاة»

Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling lentur bahunya ketika shalat. (HR. Abu Daud No. 672. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 672)

Maksud hadits ini adalah mereka yang shalatnya tenang, tuma’ninah, khusyu, tidak menoleh, dan tidak mengganggu bahu saudaranya. (Imam Al Khathabi, Ma’alimus Sunan, 1/184. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 3/466, Imam Al ‘Aini, Syarh Sunan Abi Daud, 3/221)

1⃣2⃣ Suami yang terbaik sikapnya terhadap istrinya

خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي

Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik terhadap istrinya, dan aku yang terbaik terhadap istriku. (HR. At Tirmidzi No. 3895, dari ‘Aisyah. Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Imam Ibnu Majah No. 1977, dari Ibnu Abbas, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 15699, Ibnu Hibban No. 4177. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 3314)

1⃣3⃣ Manusia yang tidak suka mengusik dan menyakiti saudaranya

قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ، وَيَدِهِ»

Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling utama? Beliau bersabda: “Yaitu orang yang muslim lainnya aman dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari No. 11, Muslim No. 42, dari Abu Musa Al Asy’ari)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌻🌺☘🌷🌾🌸🌴

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top