MBG Haram Bila Ada Korupsi?

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum warahmatullahi, menyikapi carut marut MBG kok makin keruh saja, ada yg berpendapat makanannya haram, karena itu merupakan anggaran untuk orang miskin, BPJS dan guru guru honorer. Bukti sih belum ada hanya asumsi. Benarkah MBG itu haram ,? Yg katanya juga lahan korupsi dll. Wa’alaikummussalam


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

MBG sebagai makanan, selama makanannya halal dan cara mendapatkan juga halal, maka halal untuk penerimanya sesuai peruntukkannya yaitu siswa sekolah.

Hukum tidak bisa ditegakkan oleh gambaran yang belum jelas, maka mengharamkan sesuatu tanpa dalil juga prilaku yang terlarang.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (QS. An Nahl: 116)

Jika ada yang korupsi dalam pengadaan MBG, juga harus jelas dibagian mana yang dikorupsi. Di lini tertentu atau semua lini, kalau tidak ada kejelasan, maka itu masih sekedar rumor.

Saya pribadi termasuk yang tidak setuju MBG, lebih setuju program pendidikan gratis. Tetapi jika sudah persoalan mengharamkan, maka harus ekstra hati-hati.

Wallahu A’lam


▫▪▫

PERTANYAAN

Ustdz afwan mau tanya…

Misal ,…ada seseorang sebenarnya dia ga suka program mbg, krn dia tau program mbg itu banyak bermasalah ,tpi dia sendiri ikut nanam saham krn tergiur keuntungan, ..

Apakah keuntungan itu halal bgi dia?


 JAWABAN

▪▫▪

Ketidaksukaan terhadap sesuatu bukanlah variabel hukum syariah.

Halal haramnya ditentukan oleh sistemnya dan zat makanannya.

Jika bebas dari unsur haram seperti penipuan, riba, zalim, risywah, dll.. Maka halal.

Hanya saja khusus orang tersebut tidak konsisten, ngaku anti MBG tapi mencari keuntungan dari MBG.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Bergembira Mendengar Kabar Kekalahan Musuh

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum WW

Ustadz Farid Nu’man ykc

Bolehkah kita bergembira jika ada musuh yg kemudian menderita bahkan mati ?

Sejak perang Iran vs Israel & USA, ada fakta beberapa tentara IDF yang sempat pamer kekejaman terhadap muslim Palestina, terkena serangan lalu luka berat dan mati.

Mohon penjelasannya..

Wassalam


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Mendengar kabar kalahnya atau tewasnya musuh, lalu orang beriman bergembira adalah diperbolehkan. Bahkan seandainya kematian musuh itu di tangan musuh yang lain. Sebagaimana kekalahan Majusi (Persia) ketika kalah oleh Nasrani (Romawi), yang diabadikan dalam surat Ar Rum:

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ

Dan pada hari (kemenangan Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman (QS. Ar Rum: 4)

Alasan kegembiraan ini, dijelaskan oleh Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma:

كَانَ الْمُشْرِكُونَ يُحِبُّونَ أَنْ يَظْهَرَ أَهْلُ فَارِسَ عَلَى الرُّومِ لِأَنَّهُمْ وَإِيَّاهُمْ أَهْلُ أَوْثَانٍ، وَكَانَ الْمُسْلِمُونَ يُحِبُّونَ أَنْ تَظْهَرَ الرُّومُ عَلَى فَارِسَ لِأَنَّهُمْ أَهْلُ كِتَابٍ

Orang-orang musyrik senang jika yang menang adalah penduduk Persia terhadap Romawi, karena mereka sama-sama penyembah berhala. Sedangkan kaum muslimin lebih senang kemenangan Romawi terhadap Persia karena mereka adalah ahli kitab. (Tafsir Al Qurthubi, 1/14)

Maka, ketika kafir harbi seperti tentara Zionis tewas, baik di tangan Mujahidin Izzuddin al Qassam atau lainnya, lalu kita bergembira adalah diperkenankan.

Rasulullah ﷺ pun pernah bergembira dengan tewasnya para pembesar Quraisy saat perang Badar, juga tewasnya Ka’ab bin Asyraf, seorang Yahudi Madinah yang selalu memaki-maki Islam dan dirinya.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Hadits Tentang Keruntuhan Persia

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ustadz mohon penjelasan untuk hadits ini: “Jika Raja Persia telah runtuh, maka tidak mungkin ada kerajaan Persia selanjutnya.” (HR Bukhari no 2889, Muslim)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bunyi lengkapnya:

إذا هلك كسرى فلا كسرى بعده، وإذا هلك قيصر فلا قيصر بعده

Jika Kisra binasa maka tidak ada Kisra setelahnya, dan jika Qaisar (Romawi) binasa maka tidak ada lagi Qaisar setelahnya.

Maknanya, setelah Kisra runtuh oleh Islam maka tidak ada lagi kerajaan atau kekuasaan Kisra yang majusi, baik di Persia atau lainnya. Begitu pula Kaisar Romawi. Ini juga menjadi dalil kebenaran kenabian Rasulullah ﷺ.

Imam An Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim:

قال الشافعي وسائر العلماء: معناه لا يكون كسرى بالعراق، ولا قيصر بالشام كما كان في زمنه -صلى الله عليه وسلم- فعلمنا -صلى الله عليه وسلم- بانقطاع ملكهما في هذين الإقليمين، فكان كما قال -صلى الله عليه وسلم-، فأما كسرى فانقطع ملكه، وزال بالكلية من جميع الأرض، وتمزق ملكه كل ممزق، واضمحل بدعوة رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وأما قيصر فانهزم من الشام، ودخل أقاصي بلاده فافتتح المسلمون بلادهما، واستقرت للمسلمين ولله الحمد، وأنفق المسلمون كنوزهما في سبيل الله؛ كما أخبر -صلى الله عليه وسلم- وهذه معجزات ظاهرة

Imam Asy Syafi’i dan para ulama lainnya berkata: maknanya adalah tidak akan ada lagi Kisra (raja Persia) di Irak, dan tidak pula Kaisar (Romawi) di Syam sebagaimana pada masa beliau ﷺ. Maka Nabi ﷺ telah memberitahukan kepada kita tentang terputusnya kekuasaan keduanya di dua wilayah tersebut, dan terjadilah sebagaimana yang beliau sabdakan.

Adapun Kisra, maka kekuasaannya benar-benar terputus dan lenyap secara total dari seluruh bumi; kerajaannya hancur berkeping-keping dan sirna, sebagai akibat dari doa Rasulullah ﷺ.

Sedangkan Kaisar, ia dikalahkan dari wilayah Syam dan mundur ke pelosok negerinya. Lalu kaum Muslimin menaklukkan negeri-negeri keduanya, dan kekuasaan itu menetap di tangan kaum Muslimin—segala puji bagi Allah. Kaum Muslimin pun membelanjakan harta-harta kekayaan (perbendaharaan) keduanya di jalan Allah, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ. Dan ini semua merupakan mukjizat yang nyata.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Al Bayan Ash Shahih Liman Badala Din Al Masih:

فصل: إخباره عليه السلام بالكثير من الغيوب الماضية، والمستقبلة، ودلالتها على النبوة- : وهذا أخبر به، وملك كسرى وقيصر أعز ملك في الأرض، فصدق الله خبره في خلافة عمر وعثمان فهلك كسرى، وهو آخر الأكاسرة في خلافة عثمان بأرض فارس، ولم يبق بعده كسرى، ولم يبق للمجوس والفرس ملك، وهلك قيصر الذي بأرض الشام، وغيرها، ولم يبق بعده من هو ملك على الشام، ولا مصر، ولا الجزيرة من النصارى، وهو الذي يدعى قيصر

Pasal: Pemberitaan beliau ﷺ tentang banyak perkara gaib, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta hal itu sebagai dalil kenabian.

Ini termasuk kabar yang beliau sampaikan, padahal kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi) adalah kerajaan yang paling kuat di muka bumi. Maka Allah membenarkan kabar beliau itu pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab dan Uthman ibn Affan.

Akhirnya Kisra binasa—dan ia adalah Kisra terakhir—pada masa kekhalifahan Utsman di wilayah Persia. Setelah itu tidak ada lagi Kisra, dan tidak tersisa kekuasaan bagi kaum Majusi dan Persia.

Demikian pula Kaisar yang berkuasa di wilayah Syam dan sekitarnya mengalami kehancuran. Tidak ada lagi setelahnya penguasa Nasrani yang memerintah Syam, Mesir, maupun Jazirah dengan gelar “Kaisar”.

Imam Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah:

قال الشافعي وغيره من العلماء: ولما كانت العرب تأتي الشام والعراق للتجارة، فأسلم من أسلم منهم، شكوا خوفهم من ملكي العراق، والشام إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، فقال: إذا هلك كسرى فلا كسرى بعده، وإذا هلك قيصر، فلا قيصر بعده قال: فباد ملك الأكاسرة بالكلية، وزال ملك قيصر عن الشام بالكلية، وإن ثبت لهم ملك في الجملة، ببركة دعاء رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لهم حين عظموا كتابه، والله أعلم. قلت: وفي هذا بشارة عظيمة بأن ملك الروم لا يعود أبدا إلى أرض الشام

Imam Asy Syafi’i dan ulama lainnya berkata:

Ketika orang-orang Arab dahulu pergi ke Syam dan Irak untuk berdagang, lalu sebagian dari mereka masuk Islam, mereka mengadukan rasa takut mereka terhadap dua penguasa besar Irak dan Syam kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau bersabda:

“Apabila Kisra telah binasa, maka tidak ada lagi Kisra setelahnya. Dan apabila Kaisar telah binasa, maka tidak ada lagi Kaisar setelahnya.”

Ia (Imam Syafi‘i) berkata: Maka kekuasaan para Kisra benar-benar lenyap seluruhnya, dan kekuasaan Kaisar pun hilang dari wilayah Syam secara total. Meskipun secara umum mereka (Romawi) masih memiliki kekuasaan di tempat lain, hal itu karena berkah doa Rasulullah ﷺ kepada mereka ketika mereka menghormati surat beliau. Wallahu a‘lam.

Aku (penulis) berkata: Dalam hal ini terdapat kabar gembira yang besar, bahwa kekuasaan Romawi tidak akan kembali lagi selamanya ke wilayah Syam.

(Selesai)

Ini menunjukkan bahwa wilayah Kisra dan Qaishar di Syam, setelah keruntuhan mereka akan tetap menjadi wilayah milik kaum muslimin selamanya. Bisa jadi direbut orang kafir di suatu masa, tapi akan kembali ke pangkuan umat Islam.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Benarkah Doa Rabithah Bid’ah?

– Doa adalah bagian dari zikir, tetapi zikir tidak selalu isinya doa

– Zikir dan Doa ada dua macam: Ma’tsur (dari Al Quran dan As Sunnah), dan Ghairul Ma’tsur (susunan manusia, selain Al Quran dan As Sunnah).

– Doa Rabithah termasuk Ghairul Ma’tsur, kalimatnya disusun oleh Imam Hasan Al Banna

– Menyusun doa dan dzikir sendiri, sesuai hajat manusianya, sudah dilakukan sejak masa salaf dan khalaf

– Sehingga itu adalah boleh dan sah menurut mayoritas ulama, selama isinya tidak ada yang melanggar syariat dan tidak dianggap sunnah nabi saat mengamalkannya.

Beberapa contoh zikir dan doanya para sahabat:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi berkata,

“Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya) ‘. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca;

‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) ‘.”

Selesai shalat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?”

Orang itu menjawab, “Saya.”

Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut.”

(HR. Bukhari no. 799)

Hadits ini menunjukkan, sahabat nabi yg menciptakan dzikirnya sendiri di dalam shalat, dan Rasulullah ﷺ menyetujuinya. Istilahnya sunnah taqririyah.

Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه

Hadits ini merupakan dalil BOLEHNYA menciptakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur, dan menunjukkan kebolehan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)

Imam Ibnu ‘Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

في مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم لفعل هذا الرجل وتعريفه الناس بفضل كلامه وفضل ما صنع من رفع صوته بذلك الذكر أوضح الدلائل على جواز ذلك

Pujian Rasulullah ﷺ terhadap apa yang dilakukan laki-laki tersebut dan manusia mengetahui keutamaan perkataannya dan keutamaan apa yang dilakukannya berupa meninggikan suara dzikirnya, telah menjadi petunjuk bahwa hal itu memang boleh. (At Tamhid, 16/198)

Contoh lain, doanya Umar bin Khathab:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Umar Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:

“Ya Allah, rezekikanlah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu.”

(HR. Bukhari no. 1890)

Dalam riwayat lain:

  وقال منصور سألت مجاهدا فقلت أرأيت دعاء أحدنا يقول اللهم إن كان اسمي في السعداء فأثبته فيهم وإن كان في الأشقياء فامحه عنهم واجعله في السعداء فقال حسن

Manshur berkata: aku bertanya kepada Mujahid: Apa pendapatmu dengan doa salah satu di antara kami:

“Ya Allah jika namaku bersama orang-orang berbahagia maka tetapkanlah bersama mereka, jika bersama orang-orang sengsara maka hapuslah, dan jadikan bersama orang-orang berbahagia.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/469)

Malik bin Dinar berdoa:

وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي دَعَا لَهَا: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِي بَطْنِهَا جَارِيَةٌ فَأَبْدِلْهَا غُلَامًا فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ وَتُثْبِتُ وَعِنْدَكَ أُمُّ الْكِتَابِ

Malik bin Dinar mendoakan ibu hamil; “Ya Allah jika diperutnya adalah bayi perempuan, gantilah menjadi bayi laki-laki, karena Engkau maha menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkannya, dan di sisiMulah Ummul Kitab.” (Tafsir Al Qurthubi, 9/330)

Contoh lain kaum salaf:

Imam An Nawawi berkata:

وَقَدْ كَانَ بَعْضُ الْمُتَقَدِّمِينَ إذَا ذَهَبَ إلَى معلمه تصدق بشئ وَقَالَ اللَّهُمَّ اُسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي

Sebagian ulama terdahulu, jika pergi menuju gurunya maka mereka menyedekahkan sesuatu dan berdoa: “Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku dan janganlah Kau lenyapkan keberkahan ilmunya dariku.”

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Jilid. 1, Hal. 157-158)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

وإني لأدعو للشافعي منذ أربعين سنة في صلاتي

“Dalam shalat saya, sejak 40 tahun yang lalu saya berdoa untuk Asy Syafi’i.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 1/54)

Imam Yahya bin Said Al Qaththan Rahimahullah berkata:

أنا أدعو الله للشافعي، أخصه به

“Saya berdoa kepada Allah untuk Asy Syafi’i, saya khususkan doa baginya.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 2/243)

Semua contoh ini adalah sama-sama doa susunan dari manusia selain Rasulullah ﷺ dan bukan pula dari Al Quran. Tidak ada satu pun ulama yang mengingkarinya, dan ini menunjukkan kebolehannya.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فما صح معناه من الأدعية غير المأثورة يجوز الدعاء به، لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ليتخير أحدكم من الدعاء أعجبه إليه فليدع الله عز وجل. رواه البخاري والنسائي، واللفظ له

Doa-doa yg ghairul ma’tsur (tidak ma’tsur) namun maknanya shahih boleh dipakai berdoa dengannya, hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ: “kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’alah kepada Allah dengan do’a itu.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, dan ini lafaznya An Nasa’i).

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 25798)

Semua ini sudah menunjukkan dalil dalam Sunnah, perilaku sahabat, dan kaum salaf bolehnya menyusun zikir dan doa sendiri, seperti doa Rabithah.

Demikian kebolehan berdoa dengan susunan sendiri, dengan syarat, isinya tidak melanggar syariat dan tidak dianggap sebagai sunnah nabi saat memakainya.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Admin Madrasatuna

scroll to top