Apakah Puasa Tarwiyah Itu Bid’ah?

▫▪▫

 PERTANYAAN

Ustad⁩ mau tanya ttg puasa Tarwiyah. Apakah benar itu bid’ah? Karena Rasulullah saw blm pernah melakukannya (+62 812-8791-xxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Keliru jika dikatakan Rasulullah ﷺ belum pernah puasa tanggal 8 Zulhijjah (tarwiyah). Apalagi sampai menuduhnya Bid’ah. Sayangnya kekeliruan ini terlanjur disebarkan, tanpa melihat memuraja’ah dulu pendapatnya.

Perlu diketahui, Keutamaan puasa Tarwiyah secara khusus tidak ada yang shahih bahkan sebagian ada yang palsu. Ini benar. Tetapi bukan hadits-hadits itu dalil puasa Tarwiyah.

Berpuasa tanggal 8 Zulhijjah berdasarkan hadits berikut:

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Bahwa Nabi ﷺ berpuasa pada hari Asyura, SEMBILAN HARI dari bulan Dzulhijjah dan tiga hari setiap bulan, hari Senin pertama tiap bulan dan dua hari Kamis.”

(HR. An Nasa’i no. 2372. Shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i no. 2372)

Tertulis dalam Al Mausu’ah :

اتفق الفقهاء على استحباب صوم الأيام الثمانية التي من أول ذي الحجة قبل يوم عرفة

Para ahli fiqih sepakat sunahnya puasa di hari-hari delapan di awal dzulhijjah sebelum hari arafah .. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/91)

Artinya, jika sunah berpuasa sejak 1-8 Zulhijjah, maka tentunya tanggal 8 juga termasuk.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ومن المسنون صوم شعبان ومنه صوم الايام التسعة من اول ذى الحجة وجاءت في هذا كله احاديث كثيرة

Di antara shaum yang disunnakan adalah shaum bulan sya’ban, shaum 9 hari di awal Dzulhijjah, dan tentang semua ini haditsnya begitu banyak.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/386)

Apa yang dikatakan Imam An Nawawi 9 hari awal Zulhijjah menunjukkan shaum tanggal 8 Zulhijjah (hari Tarwiyah), juga termasuk sunah. Sedangkan jika seseorang hanya puasa tanggal 8 dan 9 saja, atau 1 dan 2 saja, atau tanggal lainnya di antara itu, sesuai kemampuan dan kesanggupannya tentunya tidak disalahkan. Lebih bagus jika dia 9 hari tersebut.

Syaikh Shalah Muhammad Abul Haj Al Hanafi Hafizhahullah menjelaskan tentang puasa Tarwiyah:

أقول وبالله التوفيق: يوم التروية هو الثامن من ذي الحجة، ويستحب صوم الأيّام الثّمانية الّتي من أوّل ذي الحجّة قبل يوم عرفة ويدخل فيها يوم التروية؛ لحديث ابن عبّاس رضي الله عنهما مرفوعاً: ((ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى اللّه من هذه الأيّام – يعني أيّام العشر – قالوا: يا رسول اللّه، ولا الجهاد في سبيل اللّه؟ قال: ولا الجهاد في سبيل اللّه، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله، فلم يرجع من ذلك بشيء))، في سنن أبي داوود، 5: 102، وصححه الألباني، والسنن الكبرى، 17: 138. والله أعلم.

Wabillahit Tawfiq.

Hari Tarwiyah adalah hari ke 8 di bulan. Dan disunnahkan berpuasa  selama 8 hari di hari-hari  awal Dzulhijjah sebelum hari Arafah, dan hari Tarwiyah termasuk di dalamnya.

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, secara marfu’:

Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari ini -yakni 10 hari Zulhijjah.

Mereka bertanya:  “Tidak juga dengan jihad wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang laki-laki yang keluar membawa harta dan jiwanya, dan dia tidaklah kembali dengan itu semua (maksudnya: mati syahid).” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani).
Wallahu a’lam. (Fatwa Markaz Anwaar Al ‘Ulama Ats Tsaqafiy Ad Dauliy, No. 1323)

Lalu apa keutamaannya?

Keutamaannya adalah mencakup keumuman hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini (10 hr Zulhijjah).”

Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?”

Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari No. 969)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Membagikan Kurban Kepada Tetangga Non Muslim

▪▫▪

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh. Ustadz Farid,mau tanya. Bagaimana hukumnya membagikan daging kurban kpd orang non muslim (tetangga)?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ada tiga pendapat dalam hal tersebut.

1. Tidak boleh secara mutlak

Ini pendapat sebagian Syafi’iyah. Imam Sulaiman bin Umar Al Jamal Rahimahullah mengatakan:

وَلَوْ ارْتَدَّ الْمُضَحِّي لَمْ يَجُزْ لَهُ الْأَكْلُ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ كَمَا لَا يَجُوزُ إطْعَامُ كَافِرٍ مِنْهَا مُطْلَقًا

“Seandainya orang yang berqurban itu murtad, maka tidak boleh baginya makan bagian hewan qurbannya, sebagaimana tidak boleh memberikan kepada orang kafir bagian darinya secara mutlak.” (Hasyiyah Al Jamal, 5/259)

Maksud “mutlak” adalah keseluruhan orang kafir, baik dzimmiy dan harbiy, kaya atau miskin, baik pada qurban wajib atau sunnah.

Alasannya adalah:

إذْ الْقَصْدُ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِالْأَكْلِ لِأَنَّهَا ضِيَافَةُ اللَّهِ لَهُمْ فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ

Sebab, maksud dari qurban adalah sebagai kasih sayang kepada kaum muslimin dengan memberikan makan, karena itu merupakan jamuan dari Allah bagi kaum muslimin maka tidak sah bagi mereka jika memberikannya kepada selain kaum muslimin. (Ibid)

2. Makruh

Ini pendapat Malikiyah dan Imam Laits bin Sa’ad (sezaman dgn Imam Malik), dia tinggal di Mesir.

Imam Ad Dusuqi mengatakan:

وكره مالك و الليث إعطاء النصراني جلد الأضحية وقال مالك غيرهم أحب إلينا

Imam Malik dan Al Laits memakruhkan memberikan kulit qurban kepada kaum Nasrani. Imam Malik berkata: “Selain mereka, lebih kami sukai.” (Asy Syarh Al Kabir, 3/587)

3. Boleh, khusus bagi kafir dzimmi

Inilah pendapat mayoritas ulama. Baik Hanafiyah, sebagiam Malikiyah, sebagian Syafi’iyah, dan Hambaliyah.

Dalam konteks ini, Qurban kedudukannya dianggap sama dengan sedekah sunnah, di mana semua madzhab sepakat bolehnya sedekah sunnah kepada kafir dzimmi.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah Al Hambali berkata:

وَيَجُوزُ أَنْ يُطْعِمَ مِنْهَا كَافِرًا ، … ؛ لِأَنَّهُ صَدَقَةُ تَطَوُّعٍ ، فَجَازَ إطْعَامُهَا الذِّمِّيَّ وَالْأَسِيرَ، كَسَائِرِ صَدَقَةِ التَّطَوُّعِ

Diperbolehkan memberi makanan dari (daging qurban) kepada orang kafir…., Karena itu (qurban) adalah sedekah sunnah. Maka diperbolehkan memberikan makanan kepada orang kafir dzimmi (dalam perlindungan Negara Islam) dan tawanan, sebagaimana sedekah sunnah lainnya. (Al Mughni, 9/450)

Dalam Imam Ad Dusuqi Rahimahullah mengatakan:

ويجوز أن يطعم منها كافرا وبهذا قال الحسن و أبو ثور وأصحاب الرأي

Dibolehkan orang kafir makan darinya (daging qurban), inilah pendapat Al Hasan, Abu Tsaur, dan Ashabur Ra’yi (pengikutnya Abu Hanifah). (Asy Syarh Al Kabir, 3/587)

Imam Ad Dusuqiy sendiri –walau dia seorang Malikiy- membolehkannya jika kepada kafir dzimmiy. Beliau berkata:

ولنا أنه طعام له أكله فجاز إطعامه الذمي كسائر طعامه ولأنه صدقة تطوع فأشبه سائر صدقة التطوع وأما الصدقة الواجبة منها فلا يجزئ دفعه إلى كافر

Bagi kami bahwasanya qurban adalah makanan baginya dan boleh bagi dia memakannya, maka boleh memberikan qurban kepada kafir dzimmiy sebagaimana makanan lainnya, sebab ini termasuk sedekah sunnah. Maka, ini serupa dengan sedekah sunnah lainnya. Ada pun sedekah wajib tidaklah boleh diberikan kepada orang kafir. (Ibid)

Sebagian Syafi’iyah, seperti Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa ketetapan madzhab Syafi’i adalah boleh:

Dari Majmu Nawawi:

وَمُقْتَضَى الْمَذْهَبِ أَنَّهُ يَجُوزُ إطْعَامُهُمْ مِنْ ضحية التطوع دون الواجبة والله أَعْلَمُ

Dan yang menjadi ketentuan madzhab Syafi’i, bolehnya memberikan mereka (kafir dzimmi) dari qurban sunnah, bukan dari qurban wajib. Wallahu a’lam. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdab, 8/425)

Pendapat BOLEH, adalah pendapat yang paling pas dan realistis saat ini di tengah kesulitan yang merata dialami warga masyarakat. Ditambah lagi, itu bisa bernilai dakwah kepada non muslim.

Ada pun di sisi dalil kebolehannya adalah Allah Ta’ala tidak melarang umat Islam berbuat baik kepada kafir yang damai kepada umat Islam, Allah Ta’ala berfirman:

لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.

(QS. Al-Mumtahanah, Ayat 8)

Diperkuat lagi oleh hadits:

وعَنْ مُجَاهِدٍ : ” أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ فِي أَهْلِهِ ، فَلَمَّا جَاءَ قَالَ: أَهْدَيْتُمْ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ ؟ ، أَهْدَيْتُمْ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Dari Mujahid, bahwa Abdullah bin Amr menyembelih kambing untuk keluarganya. Ketika beliau datang bertanya, “Apakah anda telah memberikan hadiah kepada tetangga kita yang Yahudi? Apakah anda telah memberikan hadiah kepada tetangga kita yang Yahudi? Saya mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk tetangga, sampai saya menyangka dia akan mewarisinya.”

(HR. At Tirmidzi no. 1943, katanya: hasan)

Demikian. Wallahu a’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Hukum Memperingati Ulang Tahun

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamu’alaikum Ustadz bagaimana hukum merayakan ulang tahun, jika diundang acara ulang tahun dan jika diberi makanan acara ulang tahun? Baik ulang tahun seseorang maupun ulang tahun/hari jadi lainnya. Jazaakalllahu khairan (+62 897-6709-xxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Masalah memperingati ulang tahun, baik skup pribadi, atau instansi, dll, adalah khilafiyah ulama kontemporer.

Karena memang masalah ini tidak pernah ada pada diskusi ulama salaf. Ini masalah yang baru terjadi di masa ini, lalu muncullah beragam pandangan.

Pihak yang melarang, menganggap ini sebagai tasyabbuh bil kuffar, menyerupai orang kafir. Walau isinya sudah dimodifikasi dengan acara kebaikan, tanpa pesta dan hura-hura, tetaplah tidak boleh.

Sebab, syariat telah memerintahkan kita untuk berbeda dengan mereka, bukan hanya dalam urusan agama.

Dalam urusan jenggot, kumis, menyemir rambut, Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda: wa khallifuu bil majuus – berbedalah dengan orang Majusi.

Dalam masalah alat menyembelih, orang Habasyah menggunakan kuku. Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam memerintahkan berbeda dengan mereka.

Dalam menyikapi istri haid, orang Yahudi mengucilkan istrinya sampai tidak mau makan bareng. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memerintahkan untuk bergaul dengan istri Kecuali jima’.

Nah, semua ini menunjukkan bahwa larangan mengikuti orang kafir bukan hanya pada perkara agama, tapi juga perkara kebiasaan duniawi yang khusus yang telah menjadi “brand” mereka ..

Maka, karena asal dan akarnya dari budaya Barat yang notabene kafir, maka apa pun bentuk HUT, adalah terlarang. Inilah pandangan sebagian ulama zaman ini.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata:

كل هذا منكر، عيدا ً له أو لأمه أو لبنته أو لولده كل هذه التي أحدثوها الآن تشبهاً بالنصارى أو اليهود، لا أصل لها، ولا أساس لها، عيد الأم أو عيد الأب، أو عيد العم أو عيد الإنسان نفسه، أو عيد بنته أو ولده، كل هذه منكرات، كلها بدع، كلها تشبه بأعداء الله، لا يجوز شيء منها أبداً

Semua ini munkar. Merayakan hari jadinya, ibunya, putrinya, atau putranya, semua ini adalah perkara baru yang muncul sekarang yang menyerupai Nasrani atau Yahudi, tidak ada dasarnya dan tidak ada asas dalam agama baginya, baik hari raya bagi ibunya, ayahnya, pamannya, atau dirinya, putrinya, putranya, semua ini munkar, semuanya bid’ah, dan menyerupai musuh Allah, sama sekali tidak boleh selamanya.

(Lihat http://www.binbaz.org.sa/noor/1132)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjelaskan:

فإن الاحتفال بمناسبة أعياد الميلاد، عادة دخيلة على المسلمين، ففعلها تقليد لأعداء الله تعالى وتشبه بهم، ومن تشبه بقوم فهو منهم، فلا يجوز الاحتفال بها بأي نوع من أنواع ، سواء كان خفيفاً أو كبيراً، لما في ذلك من التشبه بالمشركين الذين أمرنا الله تعالى بمخالفتهم والابتعاد عن اتباع ما سنوه من سنن

Sesungguhnya perayaan yang terkait dengan hari ulang tahun telah menjadi kebiasaan yg merasuk kepada kaum muslimin. Maka, melakukannya sama juga mengikuti musuh-musuh Allah dan menyerupai mereka. Dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari kaum itu. Maka, tidak boleh merayakannya dengan cara dan model apa pun, baik kecil atau besar, sebab hal itu ada penyerupaan dengan kaum musyrikin yg mana Allah memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka dan menjauhi jalan hidup mereka. *(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 60980)*

Kemudian ..

Tidak semua ulama setuju dengan pendapat di atas, yang dinilai terlalu memukul rata. Sebab, ada di antara kaum muslimin yang menjadikan hari lahirnya sebagai sarana untuk muhasabah, napaktilas, dan bersyukur atas nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Bukan untuk membuat acara-acara yg hura-hura, apalagi disebut “perayaan”, bukan. Mereka anggap rincian seperti ini mesti diperhatikan, sebab dalam hukum, beda sedikit tetaplah beda.

Asy Syaikh Dr. Samiy bin Abdul Aziz Al Masjid Hafizhahullah, seorang dosen di Jami’atul Imam Muhammad bin Su’ud – Riyadh, menjelaskan:

الأظهر –والله أعلم- أن مجرد التذكير بيوم ميلاد أحد الأعضاء لا يدخل في بدع الأعياد، فمجرد حساب أيام العمر وتذكر يوم الميلاد كل عام لا يضفي بدعة عيد على أعياد الإسلام، كيف وقد قال الله –في معرض المن والتذكير بنعمته-:”هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نوراً وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب” [يونس: 5]، “وجعلنا الليل والنهار آيتين فمحونا آية الليل وجعلنا آية النهار مبصرة لتبتغوا فضلاً من ربكم ولتعلموا عدد السنين والحساب” [الإسراء: 12].

كذلك تذكير المرء بما يوافق يوم ميلاده من العام الجديد لا يعدو أن يكون مجرد تذكير، ليس إلا!.
أفلا يحسن مع التذكير أن يُدعى له ببركة العمر، ويذكر بوجوب المبادرة بالتوبة ومحاسبة النفس، وانتهاز بقية العمر في طاعة الله، والتحذير من التسويف، والاعتبار بسرعة مضي الأعوام…إلخ.

وهذا الصنيع بمجرده –والذي هو مجرد تذكير ودعوة- لا يمكن أن يطلق عليه اسم العيد، بل لا أرى فرقاً بين التذكير والتهنئة ببداية عام هجري جديد، والتذكير والتهنئة بيوم الميلاد، أليست هي تذكيراً باكتمال عام وبداية عام جديد في عمر الإنسان؟

Pendapat yang benar -Wallahu alam- bahwa semata-mata mengingat hari kelahiran seseorang tidaklah termasuk dikatakan perayaan yang bid’ah. Maka, semata-mata introspeksi hari-hari pada usianya, dan mengingat hari kelahiran pada tiap tahunnya bukanlah menambah bid’ah perayaan di hari-hari raya Islam, bagaimana bisa disebut bid’ah padahal Allah Ta’ala telah berfirman tentang pemberian dan mengingatkan ni’matNya:

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (QS. Yunus: 5)

Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. (QS. Al Isra: 12)

Demikian juga seseorang yang memperingati hari kelahirannya dengan sebatas untuk mengingat tahun kelahirannya di tahun yang baru, tidaklah dihitung semata-mata mengingat, hanya itu tidak lainnya.

Bukankah hal yang baik bersamaan peringatan itu dia diajak untuk hal yang membuat berkahnya umur, mengingat kewajiban bersegera taubat, muhasabah, mengisi sisa umur dengan ketaatan, dan memperingatkan dari sikap menunda-nunda, dan mengambil pelajaran dari begitu cepatnya tahun-tahun berjalan .. dst.

Perbuatan ini -semata-mata mengingat dan ajakan kebaikan- tidak mungkin disebut perayaan. Bahkan saya melihat tidak ada perbedaan antara peringatan ini dengan berbahagia (tahniah) dengan datangnya tahun baru Hijriyah. Bukankah keduanya sama-sama mengingat telah sempurnanya setahun dengan mulainya tahun yang baru?

(Lihat di: http://www.islamtoday.net/fatawa/quesshow-60-18286.htm)

Demikian. Para ulama sepakat tentang haramnya perayaan ulang tahun yang diisi dengan kemungkaran, nyanyi-nyanyi, tiup lilin, petasan, dan hura-hura lainnya.

Tapi, mereka tidak sepakat jika diisi dengan kebaikan semata-mata mengingat dan titik tolak perbaikan diri. Sebagain tetap melarang, sebab itu sama saja bagi mereka; tasyabbuh bil kuffar, dan untuk muhasabah tidaklah menunggu dihari ulang tahun.

Sementara ulama lain, tidak mempermasalahkan jika semata-mata untuk mengingat dan berbahagia atas apa yang Allah berikan, untuk kemudian berbenah diri, dst. Itu bukan hari raya dan bukan pula bid’ah dalam agama. Tidak melakukannya pun tidak masalah, sebagaimana melakukannya pun tidak masalah.

Demikian. Wallahu a’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Perbedaan Karamah dan Sihir

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualaikum WW. Ustadz Farid Nu’man ykc. Apakah perbedaan karamah dengan kesaktian/kemampuan di luar batas manusia yang sesat? Jazakallah khairan. Wassalam

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Karamah itu:

– Kejadilan luar kebiasaan (khawariqul ‘aadah), pada orang-orang mulia selain para nabi. Jika terjadi pada para nabi maka itu mu’jizat, jika terjadi pada ahli maksiat, fasik, dan org kafir maka itu istidraj.

Al Jurjaani Rahimahullah menjelaskan dalam At Ta’rifaat (Hal. 184):

هي ظُهورُ أمرٍ خارِقٍ للعادةِ من قِبَلِ شَخصٍ، غيرِ مُقارِنٍ لدَعوى النُّبوَّةِ، فما لا يَكونُ مَقرونًا بالإيمانِ والعَمَلِ الصَّالِحِ يَكونُ استِدراجًا، وما يَكونُ مَقرونًا بدَعوى النُّبوَّةِ يَكونُ مُعجِزةً

Karamah adalah tampaknya suatu perkara luar biasa yang menyelisihi kebiasaan, yang muncul dari seseorang, namun tidak disertai dengan pengakuan kenabian.

Sedangkan sesuatu yang tidak disertai dengan iman dan amal saleh, itu merupakan istidraj.

Sedangkan sesuatu yang disertai dengan pengakuan kenabian, maka itu merupakan mukjizat.”

– Itu adalah minhatullah (karunia, pemberian Allah) kepada hambanNya yang shaleh yang dikehendakiNya, yang belum tentu diberikan kepada orang shaleh lainnya.

– Karamah bukan standar kewalian atau Keshalehan. Maka keliru jika seseorang baru dianggap shaleh atau wali jika dia mengalami peristiwa yang ajaib-ajaib terlebih dahulu. Kewalian dan keshalehan itu krn taqwa, iman, dan amal shaleh.

– Karamah bukan sesuatu yang kemunculannya bisa direncanakan oleh pemilik karamah, atau ditransfer ke orang lain, atau dipertontonkan ke khalayak. Sebab, karamah adalah murni pemberian Allah Ta’ala yang bisa jadi pemilik karamah sendiri tidak tahu bahwa dirinya memiliki karamah.

Sedangkan sihir:

– Dia bukan karamah tetapi istidraj

– Terjadi pada orang-orang yang rusak aqidahnya walau secara zahir menampakkan rupa atau atribut seperti orang shaleh atau ulama.

– Sihir bisa dipelajari, dipertontonkan, diatraksikan, dan bisa ditransfer ke orang lain.

– Sihir bukan dari Allah Ta’ala tapi dr syetan agar manusia semakin jauh dari Allah Ta’ala dan lebih mengagungkan syetan.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top