Hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak imam mukharrijul hadits, dari jalur Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu. Sebagian ada juga sebagai ucapan para sahabat saja, di antaranya:
– An Nasa’i, dalam Sunan-nya no. 1578, dari Jabir. Juga dalam As Sunan Al Kubra no. 1799, dan 5861, dari Jabir juga
– Ibnu Khuzaimah, dalam Shahihnya, no. 1785, dari jalur Jabir bin Abdillah
– Al Baihaqi, dalam Al Asma’ wash Shifat, no. 137, dari Jabir. Sdgkan no. 413, ucapan Ibnu Mas’ud
– Ibnu Baththah, dalam Ibanah Al Kubra no. 198, perkataan Ibnu Mas’ud. Juga no. 1491, dari Jabir
– Ibnu Wadhah, dalam Al Bida’, no. 56, perkataan dari Umar
– Al Maruzi, dalam As Sunnah, no. 79, perkataan Ibnu Mas’ud
– Al Firyabi, dalam Al Qadr no. 448, dari jalur Jabir
– Al Ajurri, dalam Asy Syari’ah, no. 84 dan 408, dari Jabir
– Ath Thabarani, dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8521, ucapan Ibnu Mas’ud
Status tambahan kalimat tersebut diperdebatkan keshahihannya.
Dinyatakan shahih oleh:
– Imam Ibnu Khuzaimah, Beliau memasukkan dalam kitab Shahih-nya
– Imam Ash Shan’ani dalam At Tanwir
– dan Syaikh Al Albani dalam beberapa kitabnya.
Sebagian lain mendhaifkannya. Imam Ibnu Taimiyah ada dua pendapat darinya. Beliau mengatakan bahwa kalimat tsb tidak ada:
لم يقل وكل ضلالة في النار
“Rasulullah ﷺ tidak pernah mengatakan setiap kesesatan itu neraka” (Majmu’ Al Fatawa, 19/191)
Tapi di Al Fatawa Al Kubra Beliau mengatakan:
رَوَاهُ النَّسَائِيّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»
Diriwayatkan oleh An Nasa’i dengan sanad SHAHIH, dan tambahan “setiap bid’ah di neraka.” (Al Fatawa Al Kubra, 6/78)
Syaikh Ahmad Khalifah Shadiq mengatakan:
هذه الزيادة شاذة، والشاذ في عداد الواهي كما قال الذهبي في الموقظة، والشاذ لا تنفعه المتابعات والشواهد كما هو معروف؛ لأنه خطأ من أساسه. الشيخ محمد عمرو عبد اللطيف رحمه الله تعالى: “وشَرُّ الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة”، هذا هو الثابت المحفوظ ..
Tambahan (lafaz) ini adalah syadz (ganjil/menyelisihi riwayat yang kuat), dan hadis syadz termasuk dalam kategori hadits lemah sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Mauqiẓah. Riwayat syadz tidak dapat dikuatkan dengan mutaba‘at dan syawahid sebagaimana telah dikenal, karena pada asalnya ia memang merupakan sebuah kesalahan.
Syaikh Muhammad ‘Amr ‘Abdul Lathif رحمه الله تعالى berkata: ‘Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid‘ah adalah sesat.’ Inilah lafaz yang shahih dan terjaga.. (Dha’fu Ziyadah “Wa Kullu Dhalalatin Fin Naar” Riwayah wa Dirayah)
Farid Nu’man Hasan




