Menafkahi Keluarga Lebih Baik dari Membangun Seribu Masjid?

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum…ust,apakah benar menafkahi keluarga pahalanya lebih baik dari membangun 1000 masjid?(+62 858-8179-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Ya benar .. bahkan sejuta masjid sekalipun. Sebab, itu hukumnya sunnah. Sedangkan nafkah ke keluarga adalah wajib. Satu kewajiban tidak bisa dikalahkan dengan sebanyak apa pun ibadah sunnah. Bahkan seandainya dia lalaikan kewajiban nafkah untuk keluarganya, dia lebih mementingkan infak yang sunnah, maka sunnahnya itu tidak diterima.

Hal ini berdasarkan hadits berikut:

دينار أنفقته في سبيل الله ودينار أنفقته في رقبة ودينار تصدقت به على مسكين ودينار أنفقته على أهلك أعظمها أجرا الذي أنفقته على أهلك

Dinar yang kau infakkan fisabilillah, dinar yang kau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang kau pakai untuk bersedekah ke orang miskin, dan dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu, maka pahala yang paling besar adalah dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu.

(HR. Muslim No. 995)

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu berkata:

وَأنَّهُ لاَ يَـقـْـبَلُ نَافِلَةً حَتَّى تُؤَدَّى الْفَريِْضَة

Tidaklah diterima ibadah sunnah sampai ditunaikan yang wajibnya. (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 1/36)

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata:

إن أفضل العبادة أداء الفرائض و اجتناب المحارم

Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. (Jawaahir min Aqwaal As Salaf No. 65)

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Keislamanmu; Adalah Kunci Kejayaan

Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu berkata:

أنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله

Dahulu kita adalah kaum yang hina, lalu Allah jayakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah turunkan (yaitu Islam), maka Allah akan hinakan kita. (Imam Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shaihain, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Dan disepakati Adz Dzahabi dalam Talkhisnya)

Syaikh Amir bin Muhammad Al Madari berkata:

إننا لن نخرج ممانحن فيه من الذل والصغار ولن ننال العزة والكرامة إلا إذا عدنا إلى ديننا وتمسكنا بإسلامنا فكما قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فإن ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله

Kita tidak akan mampu keluar dari kondisi hina dan kecil seperti saat ini, dan tidak akan pernah sampai kondisi mulia dan terhormat, kecuali jika kita kembali kepada agama kita dan kita berpegang erat dengan keislaman kita, sebagaimana perkataan Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu: Kita adalah kaum yang telah Allah muliakan dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan selain dari Islam maka Allah akan hinakan kita. (Al Mawaa’izh Al Imaniyyah minal Ayaat Al Quraniyah, Hal. 250)

Sebab lainnya adalah wahn, cinta dunia dan takut mati.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hampir-hampir bangsa-bangsa mengeroyok kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di atas tempat makan.”

Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?”

Beliau menjawab: “Justru jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah mencabut rasa takut musuh kalian kepada kalian, dan Allah tanamkan ke dalam hati kalian Al Wahn.”

Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al Wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”

(HR. Abu Daud no. 4297. Shahih)

Oleh karena banyak PR umat Islam, yaitu:

– Kuatkan aqidah
– Eratkan ukhuwah
– Satukan langkah
– Lapang dada thdp khilafiyah
– Jadikan akhirat orientasi utama
– Jadikan cita-cita tertinggi adalah mati syahid walau akhirnya mati di atas pembaringan
– Mengangkat pemimpin yang cinta agama, dekat dengan ulama, dan juga bervisi Islam dan menjadikan Islam sebagai soko guru dunia.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

✍️ Farid Nu’man Hasan

Hadits Tentang Pencari Ilmu dengan Motivasi Dunia

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz 🙏,,, Afwan izin bertanya ustadz 🙏,,ana pernah mendengar hadits tentang seseorang yg menuntut ilmu dgn orientasi dunia ,maka dia tidak akan mencium bau surga. Bagaimana status dan derajat hadist ini ustadz?… (+62 852-7236-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ

Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang bodoh, atau berbangga di depan ulama, atau mencari perhatian manusia kepadanya, maka dia di neraka.

(HR. Ibnu Majah No. 253. At Tirmidzi No. 2654. Hasan)

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

Janganlah kalian menuntut ilmu dengan maksud berbangga di depan ulama, mendebat orang bodoh, dan memilih-milih majelis. Barangsiapa yang melakukan itu maka dia di neraka, di neraka.

(HR. Ibnu Majah No. 254, Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 1725, Ibnu Hibban No. 77, Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihain, No. 290. Shahih)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

Barangsiapa yang menuntut ilmu yang dengannya dia menginginkan wajah Allah, (tetapi) dia tidak mempelajarinya melainkan karena kekayaan dunia, maka dia tidak akan mendapatkan harumnya surga pada hari kiamat.

(HR. Abu Daud No. 3664, Ibnu Majah No. 252, Ibnu Hibban No. 78, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, No. 288, katanya: SHAHIH sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Terlarangkah Berdoa Dengan “Insya Allah”?

PERTANYAAN

Kadang kita dengar berdoa, “Semoga kita dikumpulkan lagi di surga, Insya Allah” .. apakah benar ini doa terlarang? Karena ada kesan tidak yakin dan tidak serius.

 JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Ucapan Insya Allah, adabnya dipakai dalam janji, bukan dalam doa, sebagian ulama mengatakan makruh. Tapi, jika pemakaian Insya Allah untuk meyakinkan atau tabarruk (mencari berkah) maka boleh. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri yang mengajarkan salah satu doa untuk orang sakit: Laa ba’sa Thahurun, Insya Allah sebagaimana dalam hadits Imam Bukhari.

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

والنهي الوارد عن تعليق الدعاء بالمشيئة في قوله -صلى الله عليه وسلم- -كما في الصحيحين-: لا يقولن أحدكم: اللهم اغفر لي إن شئت، اللهم ارحمني إن شئت، ليعزم المسألة، فإنه لا مكره له. هو لكراهة التنزيه لا للتحريم على الصحيح، ومن العلماء من يرى أن قول: إن شاء الله. عقب الدعاء إن كان على سبيل التبرك، فإنه لا يكره.

ومن العلماء من يرى أيضا أن الدعاء إذا كان بصيغة الخبر، فإنه لا يكره تعليقه بالمشيئة، كالدعاء للمريض بقول: طهور إن شاء الله.

Ada larangan yang datang tentang menggantungkan doa dengan kehendak (masyi’ah) dalam sabda Nabi ﷺ sebagaimana terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim:

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan: ‘Ya Allah, ampunilah aku INSYI’TA ( jika Engkau menghendaki). Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.’

Hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya.”

Larangan ini menurut pendapat yang shahih adalah untuk makruh tanzih (tidak sampai haram), bukan untuk pengharaman. Sebagian ulama berpendapat bahwa ucapan “insya Allah” setelah doa, jika dimaksudkan sebagai bentuk tabarruk (mengharap keberkahan), maka tidaklah makruh.

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa apabila doa itu berbentuk kalimat berita (bukan permintaan langsung), maka tidak makruh menggantungkannya dengan masyi’ah, seperti mendoakan orang sakit dengan ucapan: “Semoga menjadi pembersih (dosa), Insya Allah.”

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 443119)

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top