Hukum Kaki Selonjoran Ke Arah Kiblat

▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Jazakallahu ustadz,
larangan ketika kita habis shalat, karena masih ada waktu istirahat kita tiduran dengan kaki mengarah kekiblat, ada yang bilang tidak boleh yg benar kepala yang dikiblat (barat) kaki ditimur (+62 878-2133-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Para ulama berbeda pendapat tentang menjulurkan kaki ke arah kiblat saat duduk, tiduran, di masjid atau di tempat lainnya.

Pertama. Makruh.

Imam Ibnu Muflih Rahimahullah – madzhab Hambaliy- menulis demikian:

[فَصْلٌ كَرَاهَةُ مَدِّ الرِّجْلَيْنِ إلَى الْقِبْلَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ]

Fasal tentang makruhnya selonjor kaki ke arah kiblat atau di masjid

ِ ذَكَرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ – رَحِمَهُمُ اللَّهُ – أَنَّهُ يُكْرَهُ مَدُّ الرِّجْلَيْنِ إلَى الْقِبْلَةِ فِي النَّوْمِ وَغَيْرِهِ

Lebih dari satu ulama Hanafiyah -Rahimahumullah- yang menyebutkan makruhnya selonjor kaki ke arah kiblat ketika tidur atau selainnya…

Beliau juga mengatakan:

قَالَ فِي الْمُفِيدِ مِنْ كُتُبِهِمْ: وَلَا يَمُدُّ رِجْلَيْهِ يَعْنِي فِي الْمَسْجِدِ؛ لِأَنَّ فِي ذَلِكَ إهَانَةً بِهِ، وَلَمْ أَجِدْ أَصْحَابَنَا ذَكَرُوا هَذَا، وَلَعَلَّ تَرْكَهُ أَوْلَى

Berkata di dalam Al Mufid, salah satu kitab mereka: “Janganlah menyelonjorkan kaki yakni di masjid, sebab itu adalah bentuk penghinaan kepadanya.” Tapi aku sendiri belum pernah mendapatkan sahabat-sahabat kami (Hambaliyah) mengatakan demikian, namun meninggalkannya (selonjoran kaki ke kiblat) tentu lebih utama.

(Al Adab Asy Syar’iyyah, 3/41)

Imam Az Zaila’iy Rahimahullah -madzhab Hanafiy- mengatakan:

ويكره مد الرجل إلى القبلة وإلى المصحف وإلى كتب الفقه في النوم وغيره

Dimakruhkan selonjor kaki ke kiblat, ke mushaf, dan ke kitab-kitab fiqih baik ketika tidur atau selainnya. (Tabyin Al Haqaiq, 1/168)

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah -madzhab Syafi’iy- mengatakan:

صرح الزركشي بحرمة مد الرجل للمصحف، فقد يقال إن الكعبة مثله لكن الفرق أوجه

Az Zarkasyiy menerangkan tentang haramnya selonjor kaki di hadapan mushaf, telah dikatakan ke Ka’bah juga begitu, namun ada perbedaan diberbagai sisi.

(Tuhfatul Muhtaj, 4/85)

Kedua. Boleh asalkan tidak mengganggu manusia dan terhalang oleh penghalang.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

يجوز القعود متربعا ومفترشا ومتوركا ومحتبيا والقرفصاء والاستلقاء على القفا ومد الرجل وغير ذلك من هيئات القعود ونحوها ولا كراهة في شيء من ذلك إذا لم يكشف عورته ولم يمد رجله بحضرة الناس

Dibolehkan duduk dengan posisi bersila, iftirasy, tawaruk, jongkok, bersandar pada tengkuk, dan menyelonjorkan kaki dan posisi duduk lainnya, hal ini sama sekali tidak makruh selama tidak terbuka auratnya dan tidak menyelonjorkan kaki di hadapan manusia.

وقد تظاهرت الأحاديث الصحيحة على ذلك (منها) حديث ابن عمر ” رأيت رسول الله صلى
الله عليه وسلم بفناء الكعبة محتبيا بيديه ووصف بيديه الاحتباء وهو القرفصاء “
رواه البخاري

Telah jelas hadits-hadits shahih yang menyebutkannya, di antaranya dari Ibnu Umar: “Aku melihat Rasulullah ﷺ berada di serambi Ka’bah duduk ihtiba` dengan tangannya seperti ini.” (HR. Bukhari)

وعن عبد الله بن زيد ” أنه رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم مستلقيا في المسجد واضعا إحدى رجليه على الأخرى “
رواه البخاري ومسلم

Dari Abdullah bin Zaid bahwa dia melihat Rasulullah ﷺ bersandar di masjid meletakkan satu kakinya di atas lainnya.(HR. Bukhari dan Muslim)

وعن جابر بن سمرة ” كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا صلى الفجر تربع في مجلسه حتى تطلع الشمس حسناء “
رواه أبو داود وغيره بأسانيد صحيحة

Dari Jabir bin Samurah, bahwa Nabi ﷺ jika selesai shalat subuh dia duduk bersila di tempat duduknya sampai terbitnya matahari terang benderang. (HR. Abu Daud dan lainnya, dengan sanad Shahih)

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/472-473)

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فلا حرج على المسلم في مد الرجلين في المسجد ما لم يكن قد مدهما بين الناس، وبشرط أن يعد ذلك من خوارم المروءة وقلة الأدب مع الحاضرين ونحو ذلك

Tidak apa-apa bagi seorang muslim menyelonjorkan kakinya ke di masjid selama tidak menyelonjorkannya di antara manusia, dengan syarat hal itu tidak menjadi hal yang menciderai kehormatan, kurang etika ditengah manusia, dan semisalnya.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 49607)

Syaikh Abdullah bin Humaid Hafizhahullah berkata:

لا مانع منه ، إلا أن بعض العلماء يكره أن يمد رجليه نحو الكعبة ، إذا كان قريباً منها ، فكره ذلك كراهة تنزيهية . أما مثل وجود مسجد في مكان آخر وفيه مسلم يوجه رجليه نحو القبلة ، فهذا لا بأس به ، ولا محظور فيه إن شاء الله ، كما قرره أهل العلم . والله أعلم .

Hal itu tidak terlarang, hanya saja sebagian ulama memakruhkan menyelonjorkan kaki ke arah Ka’bah jika dia dekat dengannya, dan hal itu makruh tanzih.

Ada pun umapanya masjidnya ada di tempat lain dan di dalamnya seorang muslim mengarahkan kakinya ke arah kiblat, ini tidak apa-apa dan tidak terlarang Insya Allah, sebagaimana ditetapkan para ulama.

(Fatawa Asy Syaikh Ibni Humaid, Hal. 144)

Syaikh Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

ليس على الإنسان حرج إذا نام ورجلاه في اتجاه القبلة

Tidak apa-apa bagi manusia jika dia tidur kakinya menghadap ke kiblat. (Fatawa Asy Syaikh Ibni Utsaimin, 2/976)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Berdoa Di Dalam Shalat; Bolehkah Dengan Bahasa Selain Arab?

▫▪▫▪▫▪▫▪

📨 PERTANYAAN:

Bolehkah berdoa bukan dengan bahasa arab dalam shalat?(+62 857-2508-xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim ..

Berdoa dalam shalat ada dua jenis:

1⃣ Doa-doa yang terikat dgn shalat itu sendiri, seperti doa iftitah, doa saat duduk di antara dua sujud, doa ruku’, dan bacaan lainnya di masing-masing gerakan dan posisi shalat. Tentu pula takbiratul ihram dan bacaan Al Qur’annya.

– Mayoritas ulama mengatakan TIDAK BOLEH membaca Al Qur’an ketika shalat dengan selain bahasa Arab, kecuali menurut Imam Abu Hanifah yang membolehkan dengan bahasa Persia dan lainnya.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

لاَ يَجُوزُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالْعَجَمِيَّةِ مُطْلَقًا، سَوَاءٌ أَحْسَنَ الْعَرَبِيَّةَ أَمْ لاَ فِي الصَّلاَةِ أَمْ خَارِجَهَا. وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّهُ يَجُوزُ مُطْلَقًا، وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدٍ يَجُوزُ لِمَنْ لاَ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ، لَكِنْ فِي شَرْحِ الْبَزْدَوِيِّ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَجَعَ عَنْ ذَلِكَ، وَوَجْهُ الْمَنْعِ أَنَّهُ يَذْهَبُ إِعْجَازُهُ الْمَقْصُودُ مِنْهُ

Tidak boleh membaca Al Qur’an dengan bahasa selain Arab secara mutlak, sama saja apakah dia bagus bahasa Arabnya atau tidak, di dalam shalat atau di luar shalat.

Dari Abu Hanifah bahwa Beliau membolehkan secara mutlak. Dari Abu Yusuf dan Muhammad (bin Hasan) membolehkan selain bahasa Arab bagi yang tidak baik bahasa Arabnya, tetapi dalam Syarh Al Bazdawiy disebutkan bahwa Abu Hanifah telah meralat pendapatnya. Sebab pelarangannya adalah karena hal itu menghilangkan kemukjizatan maksud-maksud Al Qur’an.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 13/258)

Di halaman lain juga disebutkan:

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي جَوَازِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي الصَّلاَةِ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ، فَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهُ لاَ تَجُوزُ الْقِرَاءَةُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ سَوَاءٌ أَحْسَنَ الْقِرَاءَةَ بِالْعَرَبِيَّةِ أَمْ لَمْ يُحْسِنْ.
وَيَرَى أَبُو حَنِيفَةَ جَوَازَ الْقِرَاءَةِ بِالْفَارِسِيَّةِ وَغَيْرِهَا مِنَ اللُّغَاتِ سَوَاءٌ كَانَ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ أَوْ لاَ، وَقَال أَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدٌ لاَ تَجُوزُ إِذَا كَانَ يُحْسِنُ الْعَرَبِيَّةَ؛ لأَِنَّ الْقُرْآنَ اسْمٌ لِمَنْظُومٍ عَرَبِيٍّ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا} وَالْمُرَادُ نَظْمُهُ

Para fuqaha berbeda pendapat tentang kebolehan membaca Al Qur’an di dalam shalat dengan selain bahasa Arab. Mayoritas ulama mengatakan tidak boleh membaca Al Qur’an dalam shalat dengan selain bahasa Arab, baik bagi yang jago bahasa Arab atau tidak.

Abu Hanifah berpendapat bolehnya dengan bahasa Persia dan bahasa lainnya, sama saja apakah dia bisa bahasa Arabnya atau tidak. Sementara Abu Yusuf dan Muhammad menyatakan tidak boleh jika dia bagus bahasa Arabnya, sebab Al Qur’an adalah isim yang terdiri bahasa Arab. Sebagaimana ayat: “Sesungguhnya Kami jadikan Al Qur’an dengan berbahasa Arab”, maksudnya susunannya berbahasa Arab.

(Ibid, 33/38)

Ada pun dzikir-dzikir sunnah dalam shalat, bagi yang bisa membacanya dalam bahasa Arab maka wajib memakai bahasa Arab, bagi yang tidak mampu maka boleh dengan bahasa selain Arab.

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah mengatakan:

والصحيح في التسبيحات وسائر الأذكار المستحبة كالتشهد الأول والقنوت وتكبيرات الانتقالات والأدعية المأثورة منعه للقادر بخلاف العاجز فإنه يجوز على الأصح

Pendapat yg benar tentang beragam tasbih dan semua bentuk dzikir yg Sunnah seperti tasyahud awal, qunut, takbir intiqal, doa-doa ma’tsur, maka itu TERLARANG (selain bahasa Arab) bagi yang mampu, berbeda dengan yang lemah maka dia BOLEH menurut pendapat yg lebih Shahih.

(At Tamhid, 1/141)

Imam Az Zarkasyiy Rahimahullah mengatakan:

ما يمتنع في الأصح للقادر دون العاجز كالأذان وتكبير الاحرام والتشهد يصح بغير العربية إن لم يحسن العربية وان أحسنها فلا لما فيه من معنى التعبد وكذلك الأذكار المندوبة والأدعية المأثورة في الصلاة

Tidak terlarang dengan selain bahasa Arab menurut pendapat yg lebih Shahih bagi yang mampu tapi tidak bagus bahasa Arabnya seperti adzan, takbiratul ihram, tasyahud, maka sah dengan selain bahasa Arab, tapi kalau dia bagus pengucapan bahasa Arabnya maka tidak boleh pakai selain bahasa Arab, karena ini adalah peribadatan, demikian juga dzikir-dzikir Sunnah dan doa-doa ma’tsur dalam shalat.

(Al Mantsur, 1/282)

Kesimpulan:

– Untuk membaca Al Qur’an dalam shalat, WAJIB dgn lafaz bahasa Arab, inilah pendapat mayoritas ulama; Malikiyah, Syafi’iyyah, Hambaliyah. Ada pun Imam Abu Hanifah akhirnya telah meralat pendapatnya yg membolehkan memakai bahasa selain Arab.

– Untuk dzikir-dzikir Sunnah pada shalat: WAJIB pakai bahasa Arab bagi yg bisa dan mampu melafalkannya. Batal shalatnya jika selain bahasa Arab. Ada pun bagi yg benar-benar tidak mampu mereka boleh selain bahasa Arab.

2⃣ Doa-doa tambahan, selain doa dan dzikir shalat. Seperti doa tambahan saat sujud atau saat duduk tasyahud akhir sebelum salam.

Mayoritas ulama mengatakan makruh memakai bahasa selain Arab.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata:

ولهذا كان كثير من الفقهاء أو أكثرهم يكرهون في الأدعية التي في الصلاة والذكر أن يدعي الله أو يذكر بغير العربية

Oleh karena itu, mayoritas ahli fiqih Memakruhkan doa-doa dalam shalat dan dzikir, menggunakan bahasa selain Arab, dan juga dzikir kepada Allah selain bahasa Arab. (Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 203)

Sebagian ulama membolehkan memakai bahasa non Arab bagi orang yg tidak mampu melafazkan bahasa Arab, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

أنه يجوز الدعاء بغير العربية في الصلاة ، لمن كانت هذه لغته ، لا سيما إذا شق عليه تعلم العربية. وله أن يدعو بما شاء من خير الدنيا والآخرة ، ولا يشترط أن يكون مأثورا

Bahwasanya boleh berdoa dgn selain bahasa Arab di dalam shalat bagi yang memang bahasa sehari-harinya bukan Arab, apalagi yang kesulitan mempelajari bahasa Arab, maka dia hendaknya berdoa dgn doa apa pun yang dikehendakinya untuk kebaikan dunia dan akhirat, dan tidak disyaratkan mesti doa yg ma’tsur (berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah).

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no.262254)

Jalan keluarnya, doa dengan doa bahasa Arab yang dia hapal, atau kalau ingin susunan sendiri dan tidak dapat berbahasa Arab doa di hati saja kalau dengan bahasa Indonesia. Sebagai jalan tengah antara yang menyebutnya batal, makruh, dan sbagian ulama memang ada yang membolehkan dgn lafaz bahasa non Arab, tapi pilih pendapat yang aman saja.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Hukum Shalat Sunnah Rawatib Dalam Safar (Perjalanan)

▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalaamu’alaykum,
slamat morning pak Ustadz Farid dan Saudara Muslim lainnya disini,
Semoga Alloh Ta’ala senantiasa memberikan Taufik dan Hidayah NYA kepada kita semua,
Aamiin,
‘afwan pak Ustadz,
ana ingin bertanya,
kalo kita dalam keadaan musafir, lalu kita lkukan qashar sholat, apakah sholat sunnah rawatib nya termasuk tidak dikerjakan atau tetap dikerjakan…

syukron jazilan pak Ustadz (+62 811-1348-024)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Shalat sunnah rawatib (Qabliyah dan Ba’diyah), tidak dianjurkan saat safar. Sebab musafir sdg dapat keringanan untuk Qashar yaitu mengurangi shalat yang 4 rakaat menjadi 2, … malah menjadi kontradiksi dgn keringanan itu jika dia melakukan sunnah rawatib.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

كان من هدي النبي صلى الله عليه وسلم في السفر الاقتصار على الفرض ولم يحفظ عنه أنه كان يصلي السنن الرواتب لا قبل الفرائض ولا بعدها

Di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam safar adalah meringkas shalat wajib dan tidak melakukan shalat sunah rawatib, tidak qabliyah dan tidak pula ba’diyah.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 21467)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:

وكان من هديه في سفره الاقتصار على الفرض ولم يحفظ عنه أنه صلى سنة الصلاة قبلها ولا بعدها إلا ما كان من الوتر وسنة الفجر فإنه لم يكن ليدعهما حضرا ولا سفرا

Di antara petunjuk Nabi ﷺ dalam safar adalah meringkas shalat wajib dan tidak ada riwayat darinya melakukan shalat sunah rawatib, tidak qabliyah dan tidak pula ba’diyah, KECUALI witir dan dua rakaat sebelum fajar sebab Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan keduanya baik safar atau tidak.

(Zaadul Ma’ad, 1/473)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Hukum Satu Ekor Kambing Dengan Dua Niat: Aqiqah dan Qurban

▪▫▪▫▪▫▪▫

(Ini salah satu pertanyaan yg sering ditanyakan menjelang hari raya qurban)

Bismillahirrahmanirrahim ..

Para ulama berbeda pendapat tentang, apakah hewan qurban sudah dapat mewakili aqiqah?

1. Tidak boleh, tidak sah

Ini pendapat Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Alasannya, karena keduanya sama-sama Sunnah yang berdiri sendiri, ada ketentuan masing-masing. Sebagaimana bayar dam pada haji tamattu’ dan bayar dam fidyah yg tidak bisa disatukan.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah berkata:

وَظَاهِرُ كَلَامِ َالْأَصْحَابِ أَنَّهُ لَوْ نَوَى بِشَاةٍ الْأُضْحِيَّةَ وَالْعَقِيقَةَ لَمْ تَحْصُلْ وَاحِدَةٌ مِنْهُمَا ، وَهُوَ ظَاهِرٌ ; لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا سُنَّةٌ مَقْصُودَةٌ

Jika seseorang berniat dalam satu kambing untuk qurban dan aqiqah, maka ia tidak mendapatkan dua-duanya, pendapat inilah yang kuat, karena masing-masing dari qurban dan aqiqah memiliki tujuan tersendiri.

(Tuhfatul Muhtaj, 9/371)

Imam Al Hathab Rahimahullah berkata:

إِنْ ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ أَوْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً ، فَقَالَ فِي الذَّخِيرَةِ : قَالَ صَاحِبُ الْقَبَسِ : قَالَ شَيْخُنَا أَبُو بَكْرٍ الْفِهْرِيُّ إذَا ذَبَحَ أُضْحِيَّتَهُ لِلْأُضْحِيَّةِ وَالْعَقِيقَةِ لَا يُجْزِيهِ ، وَإِنْ أَطْعَمَهَا وَلِيمَةً أَجْزَأَهُ ، وَالْفَرْقُ أَنَّ الْمَقْصُودَ فِي الْأَوَّلَيْنِ إرَاقَةُ الدَّمِ ، وَإِرَاقَتُهُ لَا تُجْزِئُ عَنْ إرَاقَتَيْنِ ، وَالْمَقْصُودُ مِنْ الْوَلِيمَةِ الْإِطْعَامُ ، وَهُوَ غَيْرُ مُنَافٍ لِلْإِرَاقَةِ ، فَأَمْكَنَ الْجَمْعُ . انْتَهَى

Jika seseorang menyembelih sembelihannya untuk Qurban dan aqiqah, atau untuk walimahan, maka ia berkata dalam “Adz Dzakhirah”: Pengarang “al Qabas” berkata: “Syaikh kami Abu Bakr Al Fihri berkata: “Jika seseorang menyembelih sembelihannya untuk niat kurban digabung aqiqah, maka itu tidak dibolehkan, namun jika ia berniat untuk qurban digabung dgn walimahan, atau aqiqah dengan walimahan, maka dibolehkan.

Bedanya adalah karena tujuan qurban dan aqiqah adalah sama-sama pengucuran darah, sedang sembelihan buat walimahan adalah untuk hidangan makan semata, dan ini tidak menafikan adanya pengucuran darah, maka memungkinkan untuk digabungkan (antara aqiqah dan walimahan, atau qurban dan walimahan).

(Mawahib Al Jalil, 3/259)

2. Boleh dan Sah

Inilah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, dan juga pendapat Hanafiyah, dan sebagian tabi’in. Alasannya, aqiqah dan qurban adalah sama-sama ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Maka, cara yang satu sudah mewakili yang lain. Sebagaimana shalat tahiyatul masjid sudah terwakili oleh Sunnah Qabliyah.

Imam Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

إذَا ضَحُّوا عَنْ الْغُلَامِ فَقَدْ أَجْزَأَتْ عَنْهُ مِنْ الْعَقِيقَةِ .

Jika mereka menyembelih kurban untuk seorang anak, maka juga boleh untuk aqiqah. (Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, no. 24750)

Imam Ibnu Sirin Rahimahullah berkata:

يُجْزِئُ عَنْهُ الْأُضْحِيَّةُ مِنْ الْعَقِيقَةِ .

Dibolehkan sembelihan untuk aqiqah diniatkan juga untuk qurban. (Ibid, no. 24751)

Imam Al Bahuti Rahimahullah berkata:

وَإِنْ اتَّفَقَ وَقْتُ عَقِيقَةٍ وَأُضْحِيَّةٍ ، بِأَنْ يَكُونَ السَّابِعُ أَوْ نَحْوُهُ مِنْ أَيَّامِ النَّحْرِ ، فَعَقَّ أَجْزَأَ عَنْ أُضْحِيَّةٍ ، أَوْ ضَحَّى أَجْزَأَ عَنْ الْأُخْرَى ، كَمَا لَوْ اتَّفَقَ يَوْمُ عِيدٍ وَجُمُعَةٍ فَاغْتَسَلَ لِأَحَدِهِمَا ، وَكَذَا ذَبْحُ مُتَمَتِّعٍ أَوْ قَارِنٍ شَاةً يَوْمَ النَّحْرِ ، فَتُجْزِئُ عَنْ الْهَدْيِ الْوَاجِبِ وَعَنْ الْأُضْحِيَّةَ ” انتهى .

Jika waktu aqiqah bersamaan dengan waktu berkurban, seperti pada hari ke tujuh atau yang lainnya bertepatan dengan hari raya idul adha atau hari tasyriq, maka salah satu dari aqiqah atau kurban bisa mewakili yang lainnya. Sebagaimana jika hari raya bersamaan dengan hari jum’at, maka niat mandinya untuk salah satunya saja, sebagaimana juga sembelihan haji tamattu’ atau haji qiran pada hari raya Idul adha, maka sembelihan dam (yang wajib) juga untuk qurban Idul adha”.

(Syarh Muntahal Iradaat, 1/616)

Beliau –Rahimahullah- juga berkata dalam “Kasysyaful Qina’” 3/30 :

وَلَوْ اجْتَمَعَ عَقِيقَةٌ وَأُضْحِيَّةٌ ، وَنَوَى الذَّبِيحَةَ عَنْهُمَا ، أَيْ : عَنْ الْعَقِيقَةِ وَالْأُضْحِيَّةِ أَجْزَأَتْ عَنْهُمَا نَصًّا

Jika aqiqah dan kurban berkumpul, dan berniat dalam satu sembelihan untuk keduanya (aqiqah dan kurban), maka hal itu dibolehkan secara tekstual oleh nash (perkataan Imam Ahmad).

(Kasysyaf Al Qinaa’, 3/29)

Ulama Hambaliy kontemporer, seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah telah memilih pendapat ini dengan mengatakan:

لو اجتمع أضحية وعقيقة كفى واحدة صاحب البيت ، عازم على التضحية عن نفسه فيذبح هذه أضحية وتدخل فيها العقيقة .
وفي كلامٍ لبعضهم ما يؤخذ منه أنه لابد من الاتحاد : أن تكون الأضحية والعقيقة عن الصغير. وفي كلام آخرين أنه لا يشترط ، إذا كان الأب سيضحي فالأضحية عن الأب والعقيقة عن الولد .
الحاصل : أنه إذا ذبح الأضحية عن أُضحية نواها وعن العقيقة كفى” انتهى .

Jika bertemu antara waktu aqiqah dengan waktu kurban, maka cukup dengan satu hewan sembelihan, dengan berniat untuk berkurban untuk dirinya dan berniat untuk aqiqah anaknya. Sebagian dari mereka justru berpendapat harus dijadikan satu, yaitu; kurban dan aqiqah untuk bayi. Namun pendapat yang lain tidak mensyaratkan hal itu, jika seorang ayah mau berkurban, maka kurban itu untuk sang ayah dan aqiqah untuk si anak.

Kesimpulannya adalah: Jika seseorang berniat untuk berkurban, pada waktu bersamaan ia berniat untuk aqiqah maka hal itu sudah cukup.

(Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/159)

Pendapat pertama, nampaknya pendapat yang lebih hati-hati, bahwasanya sebaiknya keduanya dipisahkan. Memisahkan keduanya juga disepakati semua ulama atas kebolehannya, sebab didebatkan para ulama adalah tentang hukum menyatukannya.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top