Bagaimana Cara Memuliakan dan Berbuat Baik pada Tetangga

💦💥💦💥💦💥

وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangganya (HR. Al Bukhari No. 6138, Muslim No. 48)

📌 Bagaimana memuliakannya?

Yaitu dengan berbuat baik kepadanya, tidak menyakitinya baik dengan lisan dan tangan, tidak mengganggu ketenangan mereka dengan kegaduhan di rumah kita, membantu mereka jika mengalami kesulitan baik diminta atau tidak, berbuat baik pula dengan anak-anak mereka, menutupi aib dan kekurangan mereka, dan memberikan makanan jika mereka kelaparan, memberikan pakaian jika mereka tidak punya, dan semisalnya. Ini semua merupakan bukti kesempurnaan iman.

Imam Abu Walid Al Baji Rahimahullah menjelaskan:

أَنَّ ذَلِكَ مِنْ شَرَائِعِ الْإِيمَانِ وَأَنَّ كُلَّ مُؤْمِنٍ بِاللَّهِ وَبِالثَّوَابِ وَالْعِقَابِ فِي الْآخِرَةِ يَتَعَيَّنُ عَلَيْهِ أَنْ يَلْتَزِمَ هَذَا وَيَعْمَلَ بِهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ : وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدِينَ إحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ

Sesungguhnya hal tersebut merupakan di antara aturan keimanan, dan setiap orang yang beriman kepada Allah, pahala, dan siksa akhirat yang akan pasti datang kepadanya, hendaknya komitmen dengan hal ini dan beramal dengannya, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh ..” (Al Muntaqa Syarh Al Muwaththa’, 4/334. Syamilah)

Apakah yang dimaksud dengan tetangga dekat (Al Jaar dzil qurba) dan tetangga jauh (Al Jaar Al Junub)? Ada beberapa keterangan dari para imam mufassir.

Pertama. Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menjelaskan:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني الذي بينك وبينه قرابة، { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } الذي ليس بينك وبينه قرابة. وكذا رُوِيَ عن عِكْرِمةَ، ومُجَاهد، وميمون بنِ مهْرانَ، والضحاك، وزيد بْنِ أَسْلَمَ، ومقاتل بن حيَّان، وقتادة

(Tetangga dekat) yakni antara dirimu dan dirinya ada hubungan kekerabatan, (tetangga jauh) yaitu yang bukan ada hubungan kekerabatan antara dirimu dengan dirinya. Hal seperti ini juga diriwayatkan dari ‘Ikrimah, Mujahid, Maimun bin Mihran, Adh Dhahak, Zaid bin Aslam, Muqatil bin Hayyan, dan Qatadah. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/298. Dar Ath Thayyibah)

Kedua. Berkata Abu Ishaq dari Nauf Al Bikaliy:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني المسلم { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } يعني اليهودي والنصراني رواه ابنُ جَريرٍ، وابنُ أبي حَاتم

(tetangga dekat) yakni muslim (tetangga jauh) yakni Yahudi dan Nasrani. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. (Ibid)

Ketiga. Ali Radhiallahu ‘Anhu dan Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

{ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى } يعني المرأة. وقال مُجَاهِد أيضا في قوله: { وَالْجَارِ الْجُنُبِ } يعني الرفيق في السفر

(tetangga dekat) yakni wanita (isteri). Mujahid juga berkata tentang firmanNya (tetangga jauh) yakni rekan dalam perjalanan. (Ibid)

📌Macam-Macam Tetangga

Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الجِيرانُ ثَلاثَةٌ: جَارٌ لهُ حَقٌ وَاحِدٌ، وَهُوَ أَدْنَى الجيرانِ حقًّا، وجار له حقَّان، وجَارٌ له ثلاثةُ حُقُوقٍ، وَهُوَ أفضلُ الجيرانِ حقا، فأما الذي له حق واحد فجار مُشْرِكٌ لا رَحمَ لَهُ، لَهُ حق الجَوار. وأمَّا الَّذِي لَهُ حقانِ فَجَارٌ مُسْلِمٌ، له حق الإسلام وحق الْجِوارِ، وأَمَّا الَّذِي لَهُ ثَلاثةُ حُقُوقٍ، فَجَارٌ مُسْلِمٌ ذُو رَحِمٍ لَهُ حق الجوار وحق الإسلام وحَقُّ الرحِمِ

Tetangga ada tiga macam:

1) tetangga yang memiliki satu hak, dia mendapatkan hak bertetangga saja.

2) tetangga yang memiliki dua hak.

3) tetangga yang memiliki tiga hak, dan dia memiliki hak tetangga yang paling utama. Ada pun tetangga yang memiliki satu hak adalah tetangga musyrik, tidak ada hubungan kasih sayang dengannya (baca: bukan senasab), baginya hanya hak tetangga saja. Ada pun yang memiliki dua hak adalah tetangga muslim, dia memiliki hak sebagai orang Islam dan hak sebagai tetangga. Ada pun yang memiliki tiga hak adalah tetangga muslim yang memiliki ikatan kasih sayang (senasab), dia memiliki hak tetangga, hak Islam, dan hak saudara senasab. (HR. Al Bazzar dalam Musnadnya No. 1896)

Imam Nuruddin Al Haitsami Rahimahullah mengatakan:

رواه البزار عن شيخه عبد الله بن محمد الحارثي وهو وضاع

Diriwayatkan oleh Al Bazar dari syaikhnya (gurunya), Abdullah bin Muhammad Al Haritsi, dan dia adalah wadhaa’ (pemalsu hadits). (Majma’ Az Zawaid, 8/164)

Sehingga hadits ini telah didhaifkan oleh para imam, seperti Imam Asy Syaukani. (Lihat Al Fawaid Al Majmu’ah fil Ahadits Maudhu’ah, No. 134), Imam Al ‘Iraqi mengatakan: dikeluarkan oleh Al Hasan bin Sufyan dan Al Bazzar dalam Musnad mereka, dan Abu Syaikh dalam Ats Tsawab, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah, dari hadits Jabir, dan Ibnu ‘Adi dari Ibnu Umar, kedua jalur ini adalah dhaif. (Lihat Takhrijul Ihya’, 4/498, No. 1998), Imam Muhammad Thahir Al Hindi Al Fatani. (Lihat Tadzkiratul Maudhu’at, Hal. 203) juga Syaikh Al Albani dalam berbagai kiytabnya. (Dhaiful Jami’ No. 2674, As Silsilah Adh Dhaifah No. 3493, dll)

📌Tetangga Mana Yang Lebih Diutamakan?

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Wahai Rasulullah, saya memiliki dua tetangga, yang manakah di antara keduanya yang mesti saya berikan hadiah? Beliau bersabda: “Kepada yang paling dekat di antara mereka berdua pintu rumahnya darimu.” (HR. Bukhari No. 2259, 2595, 6020, juga dalam Adabul Mufrad No. 108, Ibnul Mubarak dalam Musnadnya No. 10, Ahmad No. 25423, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya No. 1367, Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 1529, dll)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah telah memberikan penjelasan yang luas terhadap hadits ini, sebagai berikut:

أَيْ أَشَدّهمَا قُرْبًا . قِيلَ : الْحِكْمَة فِيهِ أَنَّ الْأَقْرَب يَرَى مَا يَدْخُل بَيْت جَاره مِنْ هَدِيَّة

Yaitu yang paling kuat kedekatannya di antara keduanya. Dikatakan: hikmah di dalamnya adalah bahwasanya tetangga yang lebih dekat akan melihat apa-apa yang masuk ke dalam rumah tetangganya, baik berupa hadiah dan selainnya. (Fathul Bari, 10/447)

Tentunya jika kita membawa hadiah kepada tetangga agak jauh dan melewati tetangga dekat, tentu ini bisa melahirkan fitnah; seperti iri hati, dengki, dan curiga dari tetangga yang dilewatinya, paling tidak tetangga yang lebih dekat itu akan bertanya-tanya, kenapa dirinya tidak kebagian?

Lalu Al Hafizh melanjutkan:

وَأَنَّ الْأَقْرَب أَسْرَع إِجَارَة لِمَا يَقَع لِجَارِهِ مِنْ الْمُهِمَّات وَلَا سِيَّمَا فِي أَوْقَات الْغَفْلَة . وَقَالَ اِبْن أَبِي جَمْرَة : الْإِهْدَاء إِلَى الْأَقْرَب مَنْدُوب ، لِأَنَّ الْهَدِيَّة فِي الْأَصْل لَيْسَتْ وَاجِبَة فَلَا يَكُون التَّرْتِيب فِيهَا وَاجِبًا . وَيُؤْخَذ مِنْ الْحَدِيث أَنَّ الْأَخْذ فِي الْعَمَل بِمَا هُوَ أَعْلَى أَوْلَى ، وَفِيهِ تَقْدِيم الْعِلْم عَلَى الْعَمَل . وَاخْتُلِفَ فِي حَدّ الْجِوَار : فَجَاءَ عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُ ” مَنْ سَمِعَ النِّدَاء فَهُوَ جَار ” وَقِيلَ : ” مَنْ صَلَّى مَعَك صَلَاة الصُّبْح فِي الْمَسْجِد فَهُوَ جَار ” وَعَنْ عَائِشَة ” حَدّ الْجِوَار أَرْبَعُونَ دَارًا مِنْ كُلّ جَانِب ” وَعَنْ الْأَوْزَاعِيِّ مِثْله ، وَأَخْرَجَ الْبُخَارِيّ فِي ” الْأَدَب الْمُفْرَد ” مِثْله عَنْ الْحَسَن ، وَلِلطَّبَرَانِيِّ بِسَنَدٍ ضَعِيف عَنْ كَعْب بْن مَالِك مَرْفُوعًا ” أَلَّا إِنَّ أَرْبَعِينَ دَارًا جَار ” وَأَخْرَجَ اِبْن وَهْب عَنْ يُونُس عَنْ اِبْن شِهَاب ” أَرْبَعُونَ دَارًا عَنْ يَمِينه وَعَنْ يَسَاره وَمِنْ خَلْفه وَمِنْ بَيْنَ يَدَيْهِ ” وَهَذَا يَحْتَمِل كَالْأُولَى ، وَيَحْتَمِل أَنْ يُرِيد التَّوْزِيع فَيَكُون مِنْ كُلّ جَانِب عَشْرَة

Sesungguhnya yang lebih dekat akan lebih cepat dalam memberikan bantuan ketika terjadi apa-apa pada tetangganya berupa hal-hal yang genting, apalagi pada saat-saat lengah. Ibnu Abi Jamrah mengatakan: memberikan hadiah kepada tetangga yang lebih dekat adalah mandub (sunah), karena pada dasarnya hadiah bukanlah wajib, maka tidaklah wajib pula memberikan hadiah berdasarkan urutan (kedekatan rumah, pen). Mengambil pelajaran dari hadits bahwa menjalankan perbuatan yang lebih tinggi adalah lebih utama dilakukan, dan di dalamnya terdapat pengutamaan ilmu di atas amal. Telah diperselisihkan tentang batasan ketetanggaan: telah ada riwayat dari Ali Radhiallahu ‘Anhu bahwa “Barangsiapa yang mendengarkan panggilan azan maka dia adalah tetangga”, ada juga yang bilang “Barang siapa yang shalat subuh bersamamu di masjid maka dia adalah tetangga” , dan dari ‘Aisyah “Batasan tetangga adalah empat puluh rumah dari setiap sisi” dan yang seperti itu juga diriwayatkan dari Al Auza’i. Imam Bukhari meriwayatkan dalam Adabul Mufrad yang semisal itu dari Al Hasan, dan juga dalam riwayat Ath Thabarani dengan sanad yang dhaif dari Ka’ab bin Malik secara marfu’ katanya “Ketahuilah sesungguhnya empat puluh rumah adalah tetangga”. Ibnu Wahhab meriwayatkan dari Yunus dari Ibnu Syihab “Empat puluh rumah dari sebelah kanannya, kirinya, belakangnya, dan di hadapannya” dan ini penafsirannya seperti yang pertama, dan juga bermakna bahwa hendaknya pembagian itu adalah sepuluh tetangga pada setiap sisi. (Ibid)

📌Perintah Memuliakan Tetangga dan Tidak Menyakiti Mereka

Banyak riwayat shahih yang memerintahkan hal ini, kami sebutkan beberapa saja. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari keburukannya. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 121, Muslim No. 46, Abu Ya’la No. 6482, Ahmad No. 8855, Ibnu Mandah dalam Al Iman No. 304, 304. Al Qudha’i dalam Musnad Asy Syihab No. 875. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9535)

Apakah makna keburukan (bawaiq) di sini?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya hal itu, dan beliau menjawab:

غَشْمُهُ وَظُلْمُهُ

Kesewenangannya dan kezalimannya. (HR. Ahmad No. 3672, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 5524, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 8990, Al Bazzar No. 3562, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 2030, Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 4/313, Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd, 11/34, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 4/165)

Imam Al Haitsami mengatakan: “diriwayatkan oleh Al Bazzar, di dalamnya terdapat orang yang saya tidak mengenal mereka.” (Majma’ Az Zawaid, 10/522-523)

Orang tersebut adalah Ash Shabah bin Muhammad, yakni Ibnu Abi Hazim Al Bajali. Imam Al Bushiri mengatakan dalam Az Zawaidnya:

هَذَا ضَعِيفٌ ، الصَّبَّاحُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَبُو حَازِمٍ الْبَجَلِيُّ الْكُوفِيُّ : مَجْهُولٌ ، قَالَهُ الذَّهَبِيُّ فِي طَبَقَاتِ رِجَالِ التَّهْذِيبِ , وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ : كَانَ مِمَّنْ يَرْوِي الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الثِّقَاتِ . وَقَالَ الْعُقَيْلِيُّ : فِي حَدِيثِهِ وَهْمٌ ، وَيَرْفَعُ الْمَوْقُوفَ

Ini dhaif, Ash Shabah bin Muhammad Abu Hazim Al Bajali Al Kufi: majhul (tidak dikenal), Imam Adz Dzahabi mengatakan itu dalam thabaqat-nya para perawi kitab At Tahdzib. Ibnu Hibban mengatakan: dia termasuk yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang yang terpercaya. Al Uqaili mengatakan: pada haditsnya ada keraguan (wahm), dia memarfu’kan hadits mawquf. (Imam Ahmad bin Abi Bakar bin Ismail Al Bushiri, Ittihaf Al Khairah Al Mahrah bizawaid Al Masanid Al ‘Asyrah, 1/82. Cet. 2. Darul Wathan, Riyadh)

Namun dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang Bawaiq, beliau menjawab: syarruhu (keburukannya). (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 7299, beliau mengatakan: shahih sesuai syarat Bukhari – Muslim, Imam Adz Dzahabi menyepakatinya dalam At Talkhish)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah menyakiti tetangganya. (HR. Bukhari No. 6018, 6136. Muslim No. 47, Ibnu Majah No. 3971, Ahmad No. 9967, dll)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي النَّارِ “، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: هِيَ فِي الْجَنَّةِ

Berkata seorang laki-laki: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah diceritakan sebagai seorang wanita yang banyak shalatnya, puasa, dan sedekah, hanya saja dia menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Beliau bersabda: “Dia di neraka.” Laki-laki itu berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya fulanah diceritakan sebagai wanita yang sedikit puasanya, sedekah, dan shalatnya, dia memberikan sedekah kepada sapi berupa keju, dan tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya.” Beliau bersabda: “Dia di surga.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 119, Ahmad No. 9675, Al Bazzar No. 902, Ibnu Hibban No. 5764. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9545, 9546. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu hasan. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 9675)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَازَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Senantiasa Jibril mewasiatkanku terhadap tetangga sampai-sampai aku kira bahwa tetangga juga mendapatkan warisan. (HR. Ahmad No. 9746, Ibnu Majah No. 3674, Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 101, dari jalan ‘Aisyah, No. 104, dari jalan Ibnu Umar, No. 105 dari jalan Abdullah bin Amru, No. 128 dari Abdullah bin Amru juga. Semuanya shahih, sebagaimana dikatakan Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

📌Belanja Di Warung Tetangga

Belanja di warung tetangga –apalagi muslim- adalah bagian dari upaya mewujudkan ajaran “memuliakan tetangga”, menjaga hubungan dengan mereka, menjaga beredarnya uang umat Islam, serta pemberdayaan ekonomi umat. Begitu banyak manfaat dari belanja di warung tetangga.

Kadang harga warung tetangga bisa lebih sedikit mahal dibanding kios-kios besar yang ujung-ujungnya dimiliki non muslim. Itu sering dijadikan alasan untuk tidak berbelanja di warung mereka. Padahal perbedaan harga tidak jauh. Jika ini berlangsung lama bukan tidak mustahil warung-warung kecil tetangga kita akan mati, karena ditinggalkan tetangganya sendiri.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, kios-kios besar bisa memiliki harga sedikit lebih murah karena fondasi modal mereka juga kuat, sehingga murahnya harga dan sedikitnya keuntungan per-barang bukan masalah bagi mereka. Mereka sanggup untuk diskon, harga promo, karena ada subsidi silang dengan keuntungan dari barang lain. Ini tentu tidak mampu dilakukan warung-warung kecil tetangga. Maka, biarlah warung tetangga lebih sedikit mahal, apalagi jika keuntungan itu buat dijadikannya zakat, infaq dan sedekah, sehingga kembali kepada kemaslahatan umat, yang mana semua ini belum tentu dilakukan oleh kios-kios besar itu.

Wallahu A’lam

🌴🌿🍃🌺🌷☘🌸🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Pelajarilah Hadits Nabi!

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Dari Tsauban Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ

“Ada segolongan (thaifah) umatku yang senantiasa di atas kebenaran, tidaklah memudharatkan mereka orang-orang yang menelantarkan mereka, sampai Allah datangkan urusannya (kiamat), dan mereka tetap demikian.” (HR. Muslim No. 1920, At Tirmidzi No. 2229, Ibnu Majah No. 6)

Siapakah “segolongan umatku” yang dimaksud dalam hadits ini?

Imam Ali bin Al Madini Rahimahullah berkata:

علي هم أهل الحديث

Bagiku mereka adalah ahli hadits. (Sunan At Tirmidzi No. 2229)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah berkata:

إن لم يكونوا هم أهل الحديث فلا أدري من هم ؟

Jika mereka bukan ahli hadits maka aku tidak tahu lagi siapakah mereka ? (Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 13/76)

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

وإنما أراد أهل السنة والجماعة ومن يعتقد مذهب أهل الحديث

Maksudnya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan orang yang berkeyakinan dengan madzhab Ahli Hadits. (Ibid)

Sementara Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan, bahwa maksud golongan ini tidak terbatas ahli hadits saja:

قلت ويحتمل أن هذه الطائفة مفرقة بين أنواع المؤمنين منهم شجعان مقاتلون ومنهم فقهاء ومنهم محدثون ومنهم زهاد وآمرون بالمعروف وناهون عن المنكر ومنهم أهل أنواع أخرى من الخير ولا يلزم أن يكونوا مجتمعين بل قد يكونون متفرقين فى أقطار الأرض

Aku (An Nawawi) berkata: bahwasanya kelompok ini berbeda-beda di antara macam-macam orang beriman. Di antara mereka ada para pemberani dari kalangan mujahid, ahli fiqih, ahli hadits, orang-orang zuhud, orang yang beramar ma’ruf nahi munkar, juga macam-macam kebaikan lainnya. Tidak mesti mereka ini berkumpul di satu tempat tetapi boleh saja mereka berpencar di berbagai penjuru bumi. (Ibid)

📌 Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء

Islam pertama kali dipandang asing dan akan datang masa dianggap asing lagi, maka beruntunglah orang-orang asing itu. (HR. Muslim No. 145)

Siapakah ghuraba (orang-orang asing) yang dimaksud? Salah satu maknanya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain:

الذين يحيون سنتي ويعلمونها عباد الله

Orang-orang yang menghidupkan sunahku dan mengajarkannya kepada hamba-hamba Allah. (HR. Al Qudha’i dalam Musnad Syihab No. 1052, 1053)

📌 Pujian Para Imam

Al A’masy Rahimahullah berkata:

لَا أَعْلَمُ لِلَّهِ قَوْمًا أَفْضَلَ مِنْ قَوْمٍ يَطْلُبُونَ هَذَا الْحَدِيثَ وَيُحْيُونَ هَذِهِ السُّنَةَ

Aku tidak ketahui bagi Allah kaum yang lebih utama dibanding kaum yang mencari hadits dan menghidupkan sunah ini. (Al Qadhi ‘Iyadh, Al Ilma’ , Hal. 27)

Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah berkata:

مَا شَيْءٌ أَخْوَفَ عِنْدِي مِنَ الْحَدِيثِ وَلَا شَيْءَ أَفْضَلُ مِنْهُ لِمَنْ أَرَادَ بِهِ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Tidak ada sesuatu yang lebih membuatku takut (kepada Allah) dibanding mempelajari hadits, dan tidak ada sesuatu yang lebih utama darinya bagi orang yang menginginkan apa-apa yang ada di sisi Allah. (Ibid, Hal. 28)

Beliau juga berkata: “Innama Ad Diin bil aatsaar – Sesungguhnya agama itu adalah dengan atsar-atsar (hadits).” (Ibid, Hal. 38)

Syaikh Al Albani mengutip sebuah syair dalam kitabnya:

أهل الحديث هم أهل النبي وإن لم يصحبوا نفسه أنفاسه صحبوا

Ahli hadits, mereka adalah keluarga Nabi, walau pun mereka tidak bersahabat dengan dirinya, tapi mereka bersahabat dengan nafas-nafasnya. (Tahrim Alat Ath Tharb, Hal. 69)

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

🍃🌸🌻🌴🌺☘🌷🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Pembagian Waktu Shalat Ashar Menurut Madzhab Syafi’iy

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam An Nawawi Rahimahullah:

قَالَ أَصْحَابنَا – رَحِمَهُمْ اللَّه تَعَالَى قَوْله تَعَالَى – : لِلْعَصْرِ خَمْسَة أَوْقَات : وَقْت فَضِيلَة ، وَاخْتِيَار ، وَجَوَاز بِلَا كَرَاهَة ، وَجَوَاز مَعَ كَرَاهَة وَوَقْت عُذْر . فَأَمَّا وَقْت الْفَضِيلَة : فَأَوَّل وَقْتهَا ، وَوَقْت الِاخْتِيَار يَمْتَدّ إِلَى أَنْ يَصِير ظِلّ كُلّ شَيْء مِثْلَيْهِ ، وَوَقْت الْجَوَاز إِلَى الِاصْفِرَار ، وَوَقْت الْجَوَاز مَعَ الْكَرَاهَة حَالَة الِاصْفِرَار إِلَى الْغُرُوب ، وَوَقْت الْعُذْر وَهُوَ وَقْت الظُّهْر فِي حَقّ مَنْ يَجْمَع بَيْن الظُّهْر وَالْعَصْر لِسَفَرٍ أَوْ مَطَر ، وَيَكُون الْعَصْر فِي هَذِهِ الْأَوْقَات الْخَمْسَة أَدَاء ، فَإِذَا فَاتَتْ كُلّهَا بِغُرُوبِ الشَّمْس صَارَتْ قَضَاء . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Sahabat-sahabat kami –rahimahumullah- berkata: “Shalat Ashar itu ada lima jenis waktu; waktu fadhilah (utama), waktu ikhtiyar (biasa/baik), waktu jawaz bilaa makruh (boleh tidak makruh), waktu jawaz ma’al makruh (boleh tapi makruh), dan waktu ‘udzur.

📌 Waktu fadhilah adalah shalat Ashar pada awal waktunya,

📌 waktu ikhtiyar adalah berlangsung sampai panjang bayangan dua kali aslinya,

📌 waktu jawaz adalah dari ikhtiyar sampai matahari menguning,

📌 waktu makruh adalah dari menguning hingga terbenam matahari

📌 sedangkan waktu ‘udzur adalah waktu zhuhur yang memiliki hak untuk dijamak shalat Ashar dengan Zhuhur, disebabkan karena perjalanan atau hujan.

Melakukan shalat Ashar pada waktu lima ini, disebut ada’i (menunaikan shalat), dan jika telah luput ke semuanya disebabkan matahari terbenam maka, itu disebut qadha’ (membayar hutang). Wallahu A’lam.” Selesai kutipan dari Imam An Nawawi.

🌴🌴🌴🌴🌴

📚 Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/110. Cet. 2, 1392H. Dar Ihya At Turats Al ‘Arabiy, Beirut

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Shalat Berjamaah Berdua, Sejajar atau Mundur Dikit?

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum, tadz ada yg bertanya tentang kaifiyat shalat jamaah yg cuma 2 orang, terkait posisi. Apakah persis sejajar atau agak kebelakang dikit. Yg ana pahami tdk persis sejajar. Terkait hadits dibawah ini bgmn?. Syukron

Cara shalat berjemaah yang dilakukan dua orang, satu imam dan satu makmum, dirinci sebagai berikut:

Sesama jenis, keduanya laki-laki atau keduanya wanita. Posisi makmum tepat persis di samping kanan imam, dan tidak bergeser sedikit ke belakang. Ini sebagaimana riwayat dari Ibnu Abbasradhiallahu ‘anha; beliau menceritakan, “Saya pernah menginap di rumah Maimunah (bibi Ibnu Abbas dan istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tahajud, aku pun menyusul beliau dan berdiri di sebelah kiri beliau. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkanku ke sebelah kanan, sejajar.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Hadits Ibnu Abbas tersebut, secara zhahir menunjukkan bahwa antara imam dan makmum, jika shalat hanya berdua, adalah sejajar.

Oleh karena itu Imam Al Bukhari membuat BAB dalam kitab Shahih-nya berjudul:

باب يَقُومُ عَنْ يَمِينِ الْإِمَامِ بِحِذَائِهِ سَوَاءً إِذَا كَانَا اثْنَيْنِ

“Bab berdiri di samping kanan Imam secara sejajar jika hanya dua orang”

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang maksud kata Sawaa’an (sejajar sama rata):

لَا يَتَقَدَّمُ وَلَا يَتَأَخَّرُ

Tidak kedepan dan tidak mundur. (Fathul Bari, 3/38)

Beliau juga mengatakan, “Ucapan Ibnu ‘Abbas “Aku berdiri di sampingnya” secara zhahir menunjukkan berdiri sejajar.” (Ibid)

Beliau mengutip, Ibnu Juraij yang berdialog dengan ‘Atha:

الرَّجُلُ يُصَلِّي مَعَ الرَّجُلِ أَيْنَ يَكُونُ مِنْهُ ؟ قَالَ : إِلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ . قُلْتُ : أَيُحَاذِي بِهِ حَتَّى يَصُفَّ مَعَهُ لَا يَفُوتُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ ؟ قَالَ : نَعَمْ . قُلْتُ : أَتُحِبُّ أَنْ يُسَاوِيَهُ حَتَّى لَا تَكُونَ بَيْنَهُمَا فُرْجَةٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ

Seorang laki-laki yang shalat bersama seorang laki-laki, di mana posisinya? Beliau menjawab: “Di sisi kanannya.” Aku bertanya lagi: apakah dia mesti berada disampingnya sampai tidak bisa disisipi org lain?” Dia jawab: “Ya.” Aku bertanya: “Apakah kamu suka menyejajarkan mereka sampai tidak ada celah di antara mereka berdua?” Beliau menjawab: “Ya.”
(Ibid)

Tapi …., hadits itu dipahami beda oleh ulama lain. Mereka menganggap tidak berarti sejajar, disamping bukan berarti sejajar persis.

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari:

وَقَدْ قَالَ أَصْحَابُنَا : يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقِفَ الْمَأْمُومُ دُونَهُ قَلِيلًا

“Para sahabat kami (Syafi’iyyah) mengatakan: disunnahkan posisi makmum adalah dibelakang sedikit (dari imam).”

Beliau berkata lagi:

وَفِي الْمُوَطَّأِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِالْهَاجِرَةِ فَوَجَدْتُهُ يُسَبِّحُ فَقُمْتُ وَرَاءَهُ فَقَرَّبَنِي حَتَّى جَعَلَنِي حِذَاءَهُ عَنْ يَمِينِهِ

Dalam Al Muwaththa’, dari Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud, dia berkata: “Aku masuk menemui Umar bin Al Khathab di siang hari, aku temui Beliau sedang bertasbih, lalu aku berdiri di belakangnya, dia menarik aku untuk MENDEKAT sampai berada di samping kanannya.” (Fathul Bari, 3/38)

Imam Asy Syaukani mengomentari pendapat golongan Syafi’iyah yang dibawakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, katanya:

وليس عليه فيما أعلم دليل

Sejauh yang saya ketahui, hal itu tidak ada dalilnya. (Nailul Authar, 3/174)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah berkata:

فذهب جمهور أهل العلم إلى أنه يقوم عن يمين الإمام متأخراً عنه قليلاً، بحيث يقف عند عقبه. قال في المبدع: ويندب تخلفه قليلا خوفاً من التقدم، وقال محمد صاحب أبي حنيفة ينبغي أن تكون أصابعه عند عقب الإمام

Mayoritas ulama mengatakan bahwa posisi makmum adalah di sebalah kanan imam agak sedikit mundur, sehingga dia berada dibelakangnya. Dalam Al Mubdi’ disebutkan: “Disunahkan berada di belakangnya sedikit, sebab dikhawatirkan dia mendahului barisan imam.” Dan berkata Muhammad –kawan Abu Hanifah- : hendaknya dia berada di belakang imam sejarak kumpulan jari jemarinya. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, 11/10864)

Wal hasil, perbedaan ini sudah ada sejak masa salaf, keduanya sah. Maka, bertoleranlah. Ini pun bukan masalah sah atau tidaknya shalat, atau halal dan haram dalam shalat.

Demikian. Wallahu a’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top