Hari Jumat Salah Satu Waktu Utama Untuk Berdoa

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ

Sesungguhnya di hari Jumat ada waktu yang tidaklah seorang hamba Muslim bertepatan dengannya untuk berdoa kepada Allah di waktu itu, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya. Itu adalah setelah Ashar.

(HR. Ahmad No. 7688. Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 5584, Imam Al ‘Iraqi mengatakan: shahih. (Fiqhus Sunnah, 1/296). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 7688)

📌 Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ , Beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Hari Jumat itu ada 12 waktu, tidaklah ditemukan padanya oleh seorang hamba Muslim yang meminta sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkannya. Carilah waktu itu pada akhir waktu setelah Ashar.

(HR. An Nasa’i No. 1389, Abu Daud No. 1048, Al Hakim No. 1032, katanya: Shahih, sesuai standar Imam Muslim. Dihasankan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

🌸 Riwayat ini menunjukkan salah satu waktu mustajab tersebut adalah ba’da Ashar. Imam Muhammad bin Sirin mengatakan: “Dari shalat Ashar sampai terbenam matahari.” (‘Umdatul Qari, 10/189)

🌸 Sementara Imam An Nawawi menyebutkan sejak khathib duduk dari mimbar sampai usai shalat Jumat.

🌸 Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan beragam pendapat, di antaranya saat shalat, yang lain mengatakan setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari, ada yang mengatakan ketika imam keluar untuk khutbah sampai selesai shalat Jumat, yg lain mengatakan sejak khathib duduk dari mimbar sampai usai shalat Jumat, ada yang mengatakan akhir waktu di hari Jumat, dll. (‘Aunul Ma’bud, 3/262)

🌸 Perbedaan ini sudah ada sejaknmasa sahabat nabi dan tabi’in. Saking banyaknya, Imam Az Zarqani merinci sampai ada 42 pendapat. (Syarh Az Zarqani, 1/323-327)

🌸 Hal ini mirip seperti Lailatul Qadar, yang oleh Al Hafizh Ibnu Hajar disebutkan lebih dari 40 pendapat ulama kapan waktunya.

🌸 Tugas kita adalah senantiasa sigap dan berdoa, kapan pun itu, tidak menyia-nyiakan hari Jumat lewat begitu saja.

Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Jangan Lupa Shalat Ba’diyah Jum’at

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Shalat ba’diyah jumat adalah sunah, berdasarkan hadits berikut:

من كان مصليا بعد الجمعة فليصل أربعا

Barang siapa yang shalat setelah shalat Jum’at, maka shalatlah empat rakaat. (HR. Muslim No. 881)

Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

فكان لا يصلي بعد الجمعة حتى ينصرف فيصلي ركعتين في بيته

Beliau ﷺ tidaklah shalat setelah shalat Jum’at sampai dia selesai dan dia shalat dua rakaat di rumahnya. (HR. Muslim No. 882)

📌 Ada yang memahami dua rakaat di masjid, lalu dua rakaat lagi di rumah. Imam Abu Daud menyebutkan dari Ibnu Yunus, dia berkata:

فَقَالَ لِى أَبِى يَا بُنَىَّ فَإِنْ صَلَّيْتَ فِى الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَتَيْتَ الْمَنْزِلَ أَوِ الْبَيْتَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ

Ayahku berkata kepadaku, “Wahai anakku, jika kamu shalatnya di masjid maka dua rakaat, lalu kamu pula ke rumah shalatlah dua rakaat.” (Sunan Abi Daud No. 1133)

📌 Ada yang memaknai dua rakaat lalu emat rakaat. Hal ini disebutkan oleh Imam At Tirmidzi:

روي عن علي بن أبي طالب [ رضي الله عنه ] أنه أمر أن يصلى بعد الجمعة ركعتين ثم أربعا

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwa dia memerintahkan shalat setelah shalat Jum’at sebanyak dua rakaat, kemudian empat rakaat. (Sunan At Tirmidzi No. 523)

‘Atha Rahimahullah berkata:

رأيت ابن عمر صلى بعد الجمعة ركعتين ثم صلى بعد ذلك أربعا

Aku melihat Ibnu Umar shalat setelah shalat Jumat sebanyak dua rakaat, lalu shalat setelah itu empat rakaat. (Ibid)

📌 Ada yang memaknai empat rakaat jika shalat ba’diyahnya di masjid, dan dua rakaat jika shalat ba’diyahnya di rumah.

Berkata Ishaq bin Rahuya Rahimahullah:

إن صلى في المسجد يوم الجمعة صلى أربعا وإن صلى في بيته صلى ركعتين

Jika shalatnya di masjid, maka empat rakaat. Jika shalatnya di rumahnya shalatnya dua rakaat. (Ibid)

Imam Ibnu Taimiyah berkata:

إن صلى في المسجد صلى أربعا وإن صلى في بيته صلى ركعتين

Jika shalatnya di masjid maka shalatnya empat rakaat, jika shalatnya di rumahnya shalatnya dua rakaat. (Fiqhus Sunnah, 1/315)

📌 Ada pula yang mengatakan tidak ada bedanya jumlah rakaat antara di rumah dan di masjid. Boleh-boleh saja di masjid dua rakaat, dan di rumah lebih utama, sebagaimana dalil umum bahwa shalat paling utama adalah di rumah kecuali shalat wajib.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah berkata:

قلت : هذا التفصيل لا أعرف له أصلا في السنة إلا ما سيذكره من حديث ابن عمر ويأتي قريبا بيان ما فيه وقوله في الحديث الصحيح المتقدم : ” من كان منكم مصليا بعد الجمعة فليصل أربعا ” رواه مسلم وغيره وهو في ” الإرواء ” ( 625 ) لا دليل فيه على ان الأربع في المسجد والحديث الصحيح المعروف : ” أفضل صلاة المرء في بيته الا المكتوبة ” فإذا صلى بعد الجمعة ركعتين أو أربعا في المسجد جاز أو في البيت فهو أفضل لهذا الحديث الصحيح

Aku berkata: Perincian ini aku tidak ketahui dasarnya dalam sunnah, kecuali hadits Ibnu Umar yang sedikit lagi akan dijelaskan. Serta hadits shahih terdahulu: “Barang siapa di antara kamu shalat setelah Jumat, shalatlah empat rakaat.” Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya, juga terdapat dalam Al Irwa’ (625), tidak ada petunjuk dalam hadits ini empat rakaat di masjid. Hadits shahih yang terkenal adalah: “Shalat paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib.” Jadi, jika dia shalat setelah shalat Jumat sebanyak dua rakaat atau empat rakaat di masjid maka itu dibolehkan, atau di rumahnya itulah yang lebih utama menurut hadits shahih ini. (Tamamul Minnah, Hal. 342)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌸🌾🌻🌷☘🌺🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Tahun Baru, Artinya Umurmu Berkurang, Kenapa Hura-Hura?

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Malam tahun baru, bagi seorang muslim tidak ada yang istimewa dan keutamaan apa pun, dia sama dengan malam-malam lainnya

📌 Keistimewaan malam diukur dari apa yang diperbuat malam itu; jika diisi kebaikan maka dia baik, jika diisi keburukan maka dia buruk

📌 Justru bergulirnya waktu merupakan tanda jatah umur kita berkurang .., kenapa justru berbahagia? Oh .. Mungkin amal shalihnya sudah banyak ..

📌 Di antara kita, bisa jadi jatah usianya tinggal 30 tahun lagi, atau 20, 10, 2, .. , atau hitungan bulan, bahkan beberapa hari lagi .. kita tidak tahu ..

📌 Bersuka cita dalam keadaan Malaikat Maut mengintai adalah kebodohan dan kegilaan … tapi manusia jenis itu memang ada ..

📌 Banyak manusia bersusah payah untuk kehidupan yang baik, tapi jarang bersusah payah untuk kematian yang baik ..

📌 Tragis, jika sedang niup terompet Malaikat Maut menjemputmu ..

📌 Jingkrak-jingkrak pukul 00:00 pas ruhmu terlepas ..

📌 atau genjrang genjreng dipinggir jalan dengan gitar mu ..

📌 atau saat berduaan dengan orang yang bukan mahrammu

📌 sungguh akhir kehidupan yang tidak enak dilihat, tidak sudi di dengar ..

📌 Keluarga dan handaitaulan malu atas kematian yang tidak membanggakan .. mati meninggalkan aib ..

📌 Karyakan kebaikan, ukir prestasi ilmu dan ibadah .. agar baik dalam hidup, baik saat kematian ..

Ada seorang laki-laki Anshar bertanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَكْيَسُ النَّاسِ ، وَأَكْرَمُ النَّاسِ ؟ قَالَ : ” أَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا لِلْمَوْتِ ، وَأَشَدُّهُمُ اسْتِعْدَادًا لَهُ ، أُولَئِكَ هُمُ الأَكْيَاسُ ، ذَهَبُوا بِشَرَفِ الدُّنْيَا ، وَكَرَامَةِ الآخِرَةِ

“Wahai Rasulullah, siapakah manusia paling cerdas dan paling mulia ?”

Beliau bersabda: “(Yaitu) Manusia yang paling banyak mengingat kematian dan paling serius mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.”

📚 HR. Ibnu Majah No. 4249, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 9845, Ath Thabarani dalam Al Kabir, Al Awsath, dan Ash Shaghir, Ibnu Wahb dalam Al Jaami’ Al Hadits No. 458, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya No. 1140, dll, dengan sanad HASAN

Allahumarzuqnasy syahaadah fi sabiilik … amiin

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Sempit Pandangan dalam Beragama

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Ada orang yang keras terhadap perkara yang hukumnya masih diperselisihkan

📌 Dia menolak pandangan yang berbeda dengannya

📌 Realita perbedaan pendapat di antara ulama mengagetkan dirinya

📌 Selama ini yang dia tahu, pendapat itu hanya pendapat dirinya, gurunya, atau kelompoknya

📌 Dimatanya, siapa pun yang berseberangan pendapat dengannya adalah salah bahkan sesat

📌 Dimatanya, siapa pun yang berbeda dengan pahamnya adalah rendah dan bodoh

📌 Entah apa yang dipelajarinya, atau apa yang diajarkan gurunya, sampai bertingkah seperti itu

📌 Toleransi adalah sikap yang sulit diraihnya, bahkan sangat mahal baginya, sebab memaksakan kehendak adalah budayanya

📌 Jika kita katakan, “dalam hal ini para imam kita berbeda pendapat”, dia menentang adanya kenyataan itu, sebab maunya adalah harus satu pendapat yaitu pendapat dirinya

📌 Padahal satu kitab saja dia tidak pernah membaca tuntas, merujuk kitab hanya mengandalkan catatan kaki buku-buku terjemahan

📌 Diskusi dengan manusia model begini tidaklah bermanfaat, dan mengotorkan hati

📌 Jika keras kepala, sempit pandangan, telah mendarah daging maka meninggalkannya adlh cara terbaik membungkamnya

📌 Sebab, saat itu hawa nafsu dan kibr menjadi imamnya, memandang rendah sudah menjadi perangainya

📌 Kalau Anda pernah mengalami berdiskusi dengan orang seperti ini, ambil-lah sikap seperti ayat berikut:

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”. (Qs. Al Qashash: 55)

Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top