Imam Shalat Tarawih Melihat Mushaf

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum… Ustadz… Ana Saiful (grup Usman)…
Mohon maaf mengganggu… Ana mau tanya, Tadz…
Boleh tidak Imam sholat taraweh memegang mushaf untuk membaca surat setelah alfatihah…?!
Hukumnya bagaimana, Tadz…?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah ..

Shalat dengan membaca mushaf adalah boleh memurut mayoritas ulama, baik Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal, hanya Imam Abu Hanifah yang menyatakan batal. Umumnya, pembolehan ini adalah pada shalat sunah, kecuali bagi yang belum hapal Al Fatihah maka boleh juga pada shalat wajib.

Berikut keterangan dari Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

فإن ذكوان مولى عائشة كان يؤمها في رمضان من المصحف، رواه مالك. وهذا مذهب الشافعية

“Dzakwan, hamba sahayanya ‘Aisyah, kalau jadi imam bagi Aisyah di waktu shalat dalam bulan Ramadhan biasa membaca ayat dari mushhaf (Diriwayatkan oleh Malik). (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

لَوْ قَرَأَ الْقُرْآنَ مِنْ الْمُصْحَفِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ سَوَاءٌ كَانَ يَحْفَظُهُ أَمْ لَا بَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ ذَلِكَ إذَا لَمْ يَحْفَظْ الْفَاتِحَةَ كَمَا سَبَقَ، وَلَوْ قَلَّبَ أَوْرَاقَهُ أَحْيَانًا فِي صَلَاتِهِ لَمْ تَبْطُلْ، وَلَوْ نَظَرَ فِي مَكْتُوبٍ غَيْرِ الْقُرْآنِ وَرَدَّدَ مَا فِيهِ فِي نَفْسِهِ لَمْ تَبْطُلْ صَلَاتُهُ وَإِنْ طَالَ، لَكِنْ يُكْرَهُ، نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْإِمْلَاءِ وَأَطْبَقَ عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ

“Seandainya membaca Al Quran melalui mushaf, tidaklah membatalkan shalatnya. Sama saja, apakah dia sudah hafal Al Quran atau belum, bahkan menjadi wajib melihat mushaf jika dia belum hafal Al Fatihah sebagaimana penjelasan lalu. Walau kadang membolak-balikan halamannya dalam shalat, maka itu tidak membatalkan shalatnya. Juga bagi seorang yang melihat catatan lain selain Al Quran dan diulang-ulang isinya dalam hati walau lama tidaklah batal, tetapi makruh. Demikian pemaparan Asy Syafi’i dalam Al Imla’.”

( Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab_, 1/20. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Ini juga menjadi pendapat Imam Malik, Imam Muhammad bin Hasan, Imam Abu Yusuf, Imam Ahmad bin Hambal, sedangkan Imam Abu Hanifah mengatakan: batal shalatnya. (Ibid)

Wallahu A’lam

🌾🌸🌻🌺🌱🍃🌴☘🌿

✍ Farid Nu’man Hasan

Framing dan Stigma; Lagu Lama Kaum Kuffar dan Munafikun

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Memunculkan opini dengan melakukan “framing” dan “Stigma” bukanlah hal baru dialami Islam dan umat Islam

📌 Dahulu, kaum munafik menyebut orang-orang beriman dengan sebutan “sufaha” (orang-orang bodoh) ..

Allah Ta’ala berfirman: Qaaluu anu’minu kamaa aamanas sufahaa ? – “Orang-orang munafiq berkata: apakah kami harus beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman ?” (Qs. Al Baqarah: 13)

📌 Dahulu, mereka menyebut Al Quran adalah dongeng orang-orang terdahulu.

Allah Ta’ala berfirman: Idza tutla ‘alaihi aayatuna qaala asathiirul awwaliin – jika dibacakan kepadanya ayat Kami, dia mengatakan: ini adalah dongeng orang terdahulu. (Qs. Al Qalam: 15)

📌 Dahulu, mereka telah menyebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Ahli Sihir dan Pendusta

Allah Ta’ala berfirman: Wa ‘ajibuu an jaa’a minhum wa qaalal kaafiruuna haadza saahirun kadzdzaab – Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka. Dan orang-orang kafir berkata, “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta” (Qs. Shaad: 4)

📌 Dahulu, mereka menyebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penyair dan gila

Allah Ta’ala berfirman: Wa yaquuluna ainnaa lataarikuu aalihatinaa lisyaa’irim majnuun – Dan mereka berkata, “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami hanya karena seorang penyair gila?” (Qs. Ash Shaffat: 36)

📌 Semua yang disebutkan oleh kaum kuffar dan munafik terhadap Nabi, Al Quran, dan Islam, tidak lain adalah untuk menjauhkan manusia dari ajarannya, membuat ragu dan distorsi

Maka ….

📷 Jika hari ini Islam dan umat Islam disebut :

🏹 Radikal
🔫 Teroris
✂ Anti Kebhinekaan dan NKRI
💣 Sumbu Pendek

Itu adalah lagu lama .. tuduhan lama .. yang dimainkan oleh wajah-wajah baru kaum kuffar dan munafikun, dengan tujuan menjauhkan umat manusia dari Islam, dan menjauhkan umat Islam sendiri dari agamanya, dari Tuhannya, Kitab sucinya, Nabinya, dan aturan-aturannya.

Wallahul Musta’an !

☘🌸🌺🌴🍃🌷🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Berhutang dalam Jual Beli

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Apa benar kalau belanja itu harus cash atau tunai, tidak boleh berhutang? Di warung dekat rumah ada pemilik toko tidak mau dihutangi, kata ustadzahnya kalau beli-beli itu tidak boleh berhutang harus tunai.

Alasannya hadits ini:

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).

Apakah benar alasannya? Syukran

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Tidak benar berbelanja tidak boleh berhutang. Barang-barang yang disebutkan dalam hadits di atas memang barang ribawi (barang yang harganya berubah-ubah) yg mesti kontan (yadan biyadin) saat membelinya. Hadits ini juga menunjukkan larangan jual beli dengan mengambil barang yang berbeda takaran, maka itu riba yaitu riba fadhl.

Maka, tidak apple to apple, alias tdk nyambung berdalil dgn hadits tersebut. Saya khawatir dia salah paham ucapan ustadzahnya. Wallahu a’lam

Jual beli dgn cara berhutang ada dalam Al Quran dan As Sunnah. Di antaranya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran ditunda dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.”
(HR. Bukhari No. 2096 dan Muslim No. 1603)

Maka, jika seseorang membeli pagi hari, bayarnya sore, atau keesokan harinya, baik cash atau kredit, ini sama sekali tidak masalah dan sudah terjadi di negeri-negeri muslim sepanjang zaman.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan:

أجاز الشافعية والحنفية والمالكية والحنابلة وزيد بن علي والمؤيد بالله والجمهور : بيع الشيء في الحال لأجل أو بالتقسيط بأكثر من ثمنه النقدي

Syafi’iyah, Hanafiyah, Malikiyah, Hanabilah, Zaid bin ‘Ali, dan Al Muayyid billah, serta jumhur (mayoritas ulama) membolehkan jual beli sesuatu secara tunda bayarnya atau kredit yang harganya melebihi harga tunainya. (Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 5/147)

Demikian. Wallahu A’lam

☘🌸🌺🌴🍃🌷🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Istri Melayani Tamu Suaminya

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Tidak mengapa seorang istri melayani suaminya beserta tamu suaminya dalam sebuah jamuan, sebagaimana yang biasa terjadi. Suami sedang berbincang dengan tamunya, lalu istri membuatkan minum atau menyuguhkan makanan kepada mereka. Hal ini tidak masalah selama aman dari fitnah dan tetap menjaga adab Islam ketika berjumpa dengan lawan jenis.

Sahl bin Sa’ad Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu berkata:

لَمَّا عَرَّسَ أَبُو أُسَيْدٍ السَّاعِدِيُّ دَعَا النَّبِيَّ وَأَصْحَابَهُ فَمَا صَنَعَ لَهُمْ طَعَامًا وَلَا قَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ إِلَّا امْرَأَتُهُ أُمُّ أُسَيْدٍ بَلَّتْ تَمَرَاتٍ فِي تَوْرٍ مِنْ حِجَارَةٍ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا فَرَغَ النَّبِيُّ مِنَ الطَّعَامِ أَمَاثَتْهُ لَهُ فَسَقَتْهُ تُتْحِفُهُ (أَتْحَفَتْهُ) بِذَلِكَ

Ketika Abu Usaid As Sa’idi menikah, dia mengundang Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Tidak ada yang membuatkan makanan dan membawakan makanan itu kepada mereka kecuali istrinya, Ummu Usaid. Dia menumbuk kurma pada sebuah wadah yang terbuat dari batu semalaman. Maka, setelah Nabi ﷺ selesai makan, maka dia (Ummu Usaid) sendiri yang menyiapkan dan menuangkan minuman kepada Nabi ﷺ dan memberikan kepadanya.

(HR. Al Bukhari No. 5182, Muslim No. 2006)

Dari kisah ini menunjukkan kebolehan hal itu, oleh karena itu para ulama Islam pun tidak mempermasalahkan dengan memperhatikan syarat yang sudah kami sebutkan.

Asy Syaikh Al ‘Allamah Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah berkata:

وأوضح من ذلك أن للمرأة أن تقوم بخدمة ضيوف زوجها في حضرته ، ما دامت متأدبة بأدب الإسلام في ملبسها وزينتها ، وكلامها ومشيتها ، ومن الطبيعي أن يروها وتراهم في هذه الحال ، ولا جناح في ذلك إذا كانت الفتنة مأمونة من جانبها وجانبهم

Dan yang lebih jelas dari itu adalah bahwa seorang istri boleh melayani tamu-tamu suaminya saat kedatangannya, selama dia menjaga adab-adab Islam baik pakaian, perhiasan, berbicaranya dan juga jalannya. Secara alamiah tamu akan melihatnya dan dia pun melihat mereka dalam keadaan itu. Maka, hal itu tidak mengapa selama aman fitnah dari sisi dia dan juga tamu-tamu tersebut.

(Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, Al Halal wal Haram fil Islam, Hal. 196)

Hal ini juga dikatakan oleh Imam Ibnu Hajar Rahimahullah:

جواز خدمة المرأة زوجها ومن يدعوه . ولا يخفى أن محل ذلك عند أمن الفتنة ، ومراعاة ما يجب عليها من الستر ، وجواز استخدام الرجل امرأته في مثل ذلك

Bolehnya seorang istri melayani suaminya dan orang yang diundangnya … tapi tidak diragukan lagi bahwa hal ini apabila aman dari fitnah, dan terpeliharanya hal-hal yang wajib seperti menutup aurat, dan kebalikannya seorang suami juga boleh melayani istrinya dengan situasi yang sama.

(Fathul Bari, 9/251)

Demikian. Wallahu A’lam

☘🌸🌺🌴🍃🌷🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top