Sulitnya Menjadi Perekat Umat

💢💢💢💢💢💢

📌 Dihadapan Al Haq dan Al Bathil, maka jangan netral, pilihlah Al Haq

📌 Dihadapan mu’min dan munafiq, maka jangan netral, pilihlah mu’min

📌 Dihadapan muslim dan non muslim, maka pilihlah muslim

📌 Dihadapan saudara seiman yang berbeda dan berselisih pendapat? Maka, jadilah penengah dan perekat

📌 Ini tidak mudah, .. bisa jadi Anda dianggap tidak ada sikap dan pendirian, padahal menjadi perekat itu sikap dan pendirian

📌 Imam Ahmad bin Hambal menjadi penengah perdebatan antara Ali bin Al Madini dengan Yahya bin Ma’in tentang batalkah wudhu jika menyentuh kemaluan ?

📌 Al Hasan Radhiallahu ‘Anhuma memilih resign dari kekhalifahan agar tidak ada pertumpahan darah antara pendukung Ali vs pendukung Muawiyah Radhiallahu ‘Anhuma

📌 Al Qasim bin Muhammad Rahimahullah menengahi perdebatan tentang apakah wajib membaca Al Fatihah saat menjadi ma’mum atau tidak? Menurutnya keduanya itu sama-sama ada contohnya dari para sahabat Nabi Radhiallahu ‘Anhum

📌 Begitulah seharusnya da’i, ulama, muballigh, dihadapan pertikaian saudaranya sesama muslim

📌 Mendekatkan mereka bukan semakin memperuncing keadaan, mendamaikan mereka bukan semakin mamanaskan permusuhan

📌 Ciptakan keharmonisan dan keceriaan sesama pejuang Islam, jangan ciptakan wajah muram dan cemberut masam

📌 Sebab, satu musuh sudah banyak, sedangkan seribu kawan masih sedikit

📚 Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Qs. Al Hujurat: 10)

Ayat lainnya:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang pertengahan dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (Qs. Al Baqarah: 143)

Wallahu A’lam

🌴🌾🌱🍃🌷🌵🌹🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Ghirah Islam Itu Yang Utama

💢💢💢💢💢💢💢

📌 Nahnu Muslim Qabla Kulli Syai’ – Kita adalah muslim sebelum menjadi apa pun, demikian kata para ulama

📌 Di alam ruh, Allah bertanya: “Alastu birabbikum?” – bukankah aku ini Tuhanmu? Saat itu kita menjawab: “Balaa syahidnaa” – Ya, kami bersaksi (bersyahadat). (Qs. Al A’raf: 172)

📌 Dalam hadits Shahih Al Bukhari: Kullu mauludin yuuladu ‘alal fithrah – Semua bayi yang lahir dalam keadaan fithrah.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan:

وَأَشْهَرُ الْأَقْوَال أَن المُرَاد بالفطرة الْإِسْلَام قَالَ بن عَبْدِ الْبَرِّ وَهُوَ الْمَعْرُوفُ عِنْدَ عَامَّةِ السَّلَفِ وَأَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالتَّأْوِيلِ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ تَعَالَى فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا الْإِسْلَامُ

Pendapat yang paling tenar tentang makna “fitrah” adalah Islam. Ibnu Abdil Bar mengatakan: “Ini telah dikenal umumnya kaum salaf.” Ulama telah ijma’ bahwa ta’wil tentang firman Allah Ta’ala: “Tetaplah di atas fitrah Allah yang telah Allah tetapkan atas manusia” adalah Islam. (Fathul Bari, 3/348)

📌 Ini menunjukkan, siapa pun kita, apa pun suku dan kebangsaan kita, apa pun profesi dan pangkat kita, .. kita adalah muslim sebelum menjadi semua itu.

📌 Jika kita mencintai Islam maka Islam mengajarkan untuk membela tanah airnya, negaranya, dan juga mencintai kebaikan, sebab bumi ini Allah Ta’ala wariskan untuk orang-orang beriman

📌 Tapi jika kita mencintai selain Islam di atas cinta kita kepada Islam, entah itu semata mencintai suku, etnis, ras, ormas, ditambah lagi sifat chauvinisme, maka semua itu tidak mampu menolong kita di hari pembalasan kelak; sebab Islamlah yang menyelamatkan kita bukan yang lainnya

📌 Di alam barzakh, kita tidak ditanya: Apa nama negaramu .. Apa suku bangsamu .. Apa ormasmu .., kita ditanya: Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? ..

📌 Maka, Islam memuliakan kita, Islam yang meninggikan kita .. Sayyidina Umar Radhiallahu ‘Anhu berkata:

انا كنا اذل قوم فاعزنا الله بالاسلام فمهما نطلب العز بغير ما اعزنا الله به اذلنا الله

Kita dulu kaum yang hina, lalu Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah turunkan kepada kita maka Allah akan hinakan kita.

(Al Mustadrak ‘Alash Shahihain, Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Disepakati Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya)

📌 Wahai .. Umat Islam .. Kembalilah kepada aqidah kita, ke pangkuan agama, .. Insya Allah akan jaya !

Wallahu A’lam

🌷🍃🌱🌵🍄🌹🌸🌴🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Gigihnya Gangguan Syetan Kepada Orang yang Shalat

💢💢💢💢💢💢

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ بِالْأَذَانِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ لَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ الْأَذَانَ فَإِذَا قُضِيَ الْأَذَانُ أَقْبَلَ فَإِذَا ثُوِّبَ بِهَا أَدْبَرَ فَإِذَا قُضِيَ التَّثْوِيبُ أَقْبَلَ يَخْطُرُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ إِنْ يَدْرِي كَمْ صَلَّى فَإِذَا لَمْ يَدْرِ أَحَدُكُمْ كَمْ صَلَّى فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ

“Apabila adzan dikumandangkan, maka syetan berpaling, dia memiliki kentut hingga dia tidak mendengar adzan tersebut.

Dan apabila adzan tersebut selesai, maka dia maju lagi menghadap. Apabila diiqamatkan shalat, maka dia berpaling lagi.

Dan apabila iqamah selesai dikumandangkan maka dia menghadang lagi, melintas di antara seseorang dan nafsunya.

Di berkata, ‘Ingatlah demikian dan ingatlah demikian’ untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Maka apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dan dia duduk (sekali) ‘.”

📚 Shahih Muslim No. 884

🌴🌱🌷🌾🌵🌹🍃🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Hadits Ikatlah Ilmu dengan Mencatatnya

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamu ‘Alaikum, Wr Wb. Benarkah kalimat ‘Ikatlah Ilmu dengan Tulisan’, apakah ini hadits? (dari Hamba Allah)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa ‘Alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismilla wal Hamdulillah ..

Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim Al Ashbahani. Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

قيدوا العلم بالكتابة

“Kalian Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Abu Nu’aim, Akhbar Ashbahan, No. 1809, Abu Abdillah Al Hakim At Tirmidzi dalam Nawaadir Al Ushuul, 1/169. Dha’if menurut Syaikh Muhammad bin Darwisy Al Huut Al Bairuni, Asnal Marthalib No. 1009)

Ada pula ucapan seperti itu sebagai ucapan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dari Anas bin Malik Radhilallahu ‘Anhu. Berkata Tsumamah:

Anas berkata kepada kami:
“Kalian ikatlah ilmu dengan tulisan.” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir No. 700)

Imam Al Haitsami Rahimahullah dalam Majma’ Az Zawaid mengomentari ucapan Anas ini, katanya: “rijal (periwayat) hadits ini adalah rijal shahih.” (Majma’ Az Zawaid, No. 681).

Sehingga, ucapan seperti ini yang shahih adalah lebih tepat disebut hadits mauquf (terhenti pada sahabat), yakni ucapan Anas.

Oleh karena itu, Imam Al ‘Ajluni Rahimahullah menyebutkan bahwa Al ‘Askari berkata: “Aku kira ini bukanlah ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, melainkan ucapan Anas bin Malik, telah diriwayatkan dari Abdullah bin Al Mutsanna, dari Tsumamah, bahwa dia berkata: “Dahulu Anas bin Malik berkata kepada anaknya: “Wahai anakku, ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Kasyful Khafa, 1/119)

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah juga berkata:

والصواب عن ثمامة ان انسا كان يقول ذلك لبنيه ولا يرفعه

Yang benar adalah dari Tusamaamah bahwa Anas dahulu berkata seperti itu kepada anaknya dan bukan hadits marfu’ (sampai ke Nabi). (Al ‘Ilal Al Mutanahiyah, 1/86)

Al Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:

قَالَ مُوسَى: اتَّفَقَ الْأَنْصَارِيُّ وَمُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَسَعِيدٌ عَلَى هَذَا فِي قَوْلِ أَنَسٍ، وَرَفَعَهُ عَبْدُ الْحَمِيدِ، وَلَا يَصِحُّ رَفْعُهُ

Berkata Musa: Telah sepakat Al Anshari, Muslim bin Ibrahim, dan Sa’id, bahwa ini adalah ucapan Anas dan dimarfu’kan oleh Abdul Humaid, dan tidak shahih pemarfu’an itu. (Al Ilma’, Hal. 147)

Namun, ada yang mirip dengan ini, dan marfu’ (sampai kepada Rasulullah), yaitu riwayat Imam Ath Thabarani:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عُمَرَ ، قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أُقَيِّدُ الْعِلْمَ ؟ ، قَالَ : نَعَمْ ، قُلْتُ : وَمَا تَقْيِيدُهُ ؟ قَالَ : الْكِتَابُ

Dari Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia bertanya: “Ya Rasulullah, apakah ilmu harus ikat?”, Rasulullah menjawab: “Ya.” Aku berkata: “Apa pengikatnya?” Beliau menjawab: “Buku (tulisan).” (HR. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, No. 936, dan Al Awsath No. 5056)

Hadits ini hasan. Imam Al Haitsami mengatakan, dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Al Muammal. Dia dinilai tsiqah (kredibel) oleh Imam Yahya bin Ma’in dan Imam Ibnu Hibban. Imam Ibnu Sa’ad mengatakan, dia tsiqah dan haditsnya sedikit. Namun Imam Ahmad mengatakan, hadits-haditsnya munkar. (Majma’ Az Zawaid, No. 679)

Demikian. Zaman ini mencatat ilmu bisa dilakukan secara digital dan canggih, bisa simpan di email, google drive, dan sebagainya. Semuanya secara esensinya sama sama mengikat ilmu dan menjaganya agar tidak hilang, cara terbaik adalah menghapalkannya, mengajarkannya, dan mengamalkannya.

Wallahu A’lam

🌷🌴🌸🌱🌵🌾🌹🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top