Mandi Bareng Sesama Jenis

▪▫▪▫▪▫▪▫

❓PERTANYAAN:

assalamualaikum wr. wb
pak ustad saya mau nanya bolehkah mandi bareng sesama jenis? dan apa hukumnya? mohon jawabanya (Rizky Dwi)

💡JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Mandi bareng, sesama wanita .. atau sesama laki-laki, sampai terlihat aurat masing-masing, ini terlarang.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ

Tidak boleh seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan perempuan melihat aurat perempuan lain, dan tidak boleh seorang laki-laki bersatu dengan laki-laki lain dalam satu baju. Dan tidaklah (boleh) seorang wanita bersatu dengan wanita lain dalam satu baju.

(HR. Muslim no. 338)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

فَفِيهِ تَحْرِيمُ نَظَرِ الرَّجُلِإِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ والمرأة إلى عورة المرأة وهذالاخلاف فِيهِ وَكَذَلِكَ نَظَرُ الرَّجُلِ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةِ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ حَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ

Pada hadits ini menunjukkan pengharaman atas laki-laki melihat aurat laki-laki, wanita melihat aurat wanita, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Demikian juga laki-laki melihat aurat wanita dan wanita melihat aurat laki-laki, ini haram secara ijma’.

(Syarh Shahih Muslim, 4/30)

Sebagian orang ada yang meremehkan hal ini. Sesudah berenang mereka mandi bareng di shower saling melihat satu sama lain. Hendaknya seorang muslim dan muslimah memiliki rasa malu kepada Allah Ta’ala dan manusia.

Demikian. Wallahu A’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Mengenal Madzhab Syafi’iy

(Disarikan dari Muqadimah kitab Al Muharrar fi Fiqhil Imam Asy Syafi’iy, karya Imam Abul Qasim Ar Rafi’iy, Jilid. 1. Cet. 1. 2013M. Penerbit: Darus Salam. Kairo)

▫▪▫▪▫▪▫▪

1⃣ Kemunculan, Perkembangan, Para Tokoh, dan Karya-Karyanya

Madzhab Syafi’i telah melalui beberapa fase kemunculannya. Sebagian ulama membaginya menjadi empat tahap, sebagian ada menyebutnya lima, dan ada yang enam, begitu terus.

Perbedaan ini muncul karena perbedaan metode mereka dalam membatasi fase dan patokan-patokannya.

Di sini, kami akan membaginya menjadi empat fase, yaitu sebagai berikut:

✅ Fase Pertama. Fase penanaman fondasi dan pembangunan

✅ Fase Kedua. Fase penyampaian dan pengenalan madzhab

✅ Fase ketiga. Fase takhashsush (pembentukan karakter dan ciri khas) dan penyebaran

✅ Fase keempat. Fase istiqrar (pemantapan/stabilisasi)

Berikut ini uraiannya:

✅ Fase Pertama. Fase Penanaman fondasi dan pembangunan

📘 Madzhab Lama (Qaul Qadim)

Imam Asy Syafi’iy Radhiallahu ‘Anhu, telah mengumpulkan berbagai corak madrasah fiqih yang telah ada sebelumnya. Beliau mempelajarinya sejak usia anak-anak, dari imam-nya Mekkah, Muslim bin Khalid Az Zanjiy dan Sufyan bin ‘Uyainah. Beliau bermukazamah dengan para ulama Mekkah sampai usia muda.

Lalu di usia hampir 20 th, dia ke Madinah dan belajar kepada Imam Malik Radhiyallahu ‘Anhu, salah satu imam madzhab terkenal pula. Beliau bersama Imam Malik sampai wafatnya sang imam (179H).

Lalu, Allah Ta’ala taqdirkan dia berjumpa dengan Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibaniy, pewaris ilmunya Imam Abu Hanifah (Ahlu Ar Ra’yi). Beliau berjumpa dalam waktu yang cukup lama dan banyak mengambil ilmu darinya. Setelah itu dia kembali ke Mekkah.

Di Mekkah, Beliau mengajar dan menjadi seorang Syaikh (guru dan tokoh)-nya Mekkah. Banyak penuntut ilmu yang mendatanginya, maka mulailah awal tersebar ilmu Imam Asy Syafi’iy.

Kemudian, Beliau safar ke Baghdad, di sana mengajar dan berfatwa. Hadir dalam majelisnya itu para imam dan ulama, seperti Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahawaih, dan lainnya.

Ijtihad-ijtihad yang ditelurkan di asa ini, oleh para ulama diistilahkan dengan madzhab qadim (qaul qadim/pendapat lama).

📗 Madzhab Baru (Qaul Jadid)

Lalu, Imam Asy Syafi’iy mengembara ke Mesir untuk mengajar penduduknya, serta mempelajari Madzhab nya Imam Al Laits bin Sa’ad, ulamanya Mesir, melalui perantara murid-muridnya.

Beliau ke Mesir tahun 199H, di akhir-akhir tahun kehidupannya. Beliau menjumpai di Mesir pada ulama dan tokoh-tokohnya, serta para imam yang ada.

Di waktu itu, Beliau tela pelajari fiqihny Imam Al Laits, berbagai permasalahan fiqihnya Imam Al Auza’iy dan mengambil faedah darinya. Beliau menulis buku-buku baru yang diistilahkan para ulama dgn Madzhab Jadid (madzhab Baru).

📒📙📘📗📕📔📓

🖋 Farid Nu’man Hasan

Jangan kalah ama Google

💢💢💢💢💢💢

Google adalah search engine (mesin pencari) paling terkenal saat ini. Hampir semua orang yang bergelut dalam dunia Internet menggunakan jasanya.

Ada satu hal menarik, biasanya jika kita salah ketik, google akan meluruskannya. Misal, kita mengetik nama negara tapi ada kekeliruan sedikit, “Bolavia”, biasanya google akan mengatakan “mungkin maksud Anda Bolivia”.

Lihat! Google tidak memaki kita, tidak menyebut kita bodoh.. Tapi dia meluruskan dgn yang seharusnya secara santun.

Demikianlah seharusnya kita. Ketika ada saudara kita keliru, tergelincir, maka bantu dia, luruskan baik-baik, bukan memaki dan mencelanya.

So, jangan kalah ama Google!

🌿🌷🌻🌴🌵🌸🍃🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

Makruhnya Posisi Imam Lebih Tinggi dari Makmum

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

❓PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ust. Farid hafidzahullahu ta’ala..

1. Apa hukum nya posisi lantai imam dalam shalat berjamaah lebih tinggi atau karpet imam lebih tebal (terkadang 1 hingga 3 sajadah ditumpuk) sehingga posisi imam lebih tinggi dari ma’mum nya?

Syukran wa jazakallahu khair ustadz sebelumnya. (+62 813-8335-0890)

💡JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Jika posisi imam lebih tinggi di atas posisi makmum, maka itu makruh. Lebih tinggi dalam arti benar-benar tinggi. Bukan sekedar dilapisi tiga helai sejadah, sebab itu tidak terlalu berpengaruh. Apalagi jika tubuh imamnya pendek, sementara makmumnya bertubuh tinggi. Yang seperti ini tidak apa.

Kemakruhan ini berdasarkan hadits berikut:

(نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يقوم الامام فوق شئ والناس خلفه) يعني أسفل منه، رواه الدارقطني وسكت عنه الحافظ في التلخيص

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang seorang imam berdiri di atas sesuatu sedangkan makmum ada di belakangnya, yakni di bawahnya. (HR. Ad Daruquthni, Al Hafizh mendiamkannya dalam At Talkhish)

Kata “fauqa” (di atas) menunjukkan ketinggian yang begitu tinggi.

Riwayat lain:

وعن همام ابن الحارث أن حذيفة أم الناس بالمدائن على دكان فأخذ أبو مسعود بقميصه فجبذه فلما فرغ من صلاته قال: ألم تعلم أنهم كانوا ينهون عن ذلك؟ قال: بلى، فذكرت حين جذبتني

Dari Hamam bin Al Harits, bahwa Hudzaifah mengimami manusia di daerah Madaain di atas ketinggian, maka Abu Mas’ud menarik gamisnya, dan setelah shalat usai dia berkata: “Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka dilarang seperti ini?” Hudzaifah menjawab: “Ya, aku baru ingat saat setelah kamu menarik gamisku.”

(HR. Abu Daud, Asy Syafi’iy, Al Baihaqiy. Dishahihkan oleh Al Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

يكره أن يقف الامام أعلى من المأموم …

Dimakruhkan bagi imam berdiri lebih tinggi dari makmum .. (selesai)

Tapi jika lebih tinggi ada keperluan yaitu mengajarkan makmum maka itu tidak apa-apa.

Syaikh Sayyid Sabiq melanjutkan:

فإن كان للامام غرض من ارتفاعه على المأموم فإنه لا كراهة حينئذ، فعن سهل بن سعد الساعدي قال: (رأيت النبي صلى الله عليه وسلم جلس على المنبر أول يوم وضع فكبر وهو عليه ثم ركع ثم نزل القهقهري وسجد في أصل المنبر ثم عاد فلما فرغ أقبل عن الناس فقال: (أيها الناس إنما صنعت هذا لتأتموا بي ولتتعلموا صلاتي) رواه أحمد والبخاري ومسلم.

Jika ketinggian imam itu ada maksud tertentu kepada makmum maka saat itu tidak makruhkan.

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idiy dia berkata: “Aku melihat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk di atas mimbar di hari pertama mimbar itu diletakkan. Di atasnya Dia bertakbir lalu ruku’, lalu dia turun dan mundur, kemudian sujud di terasnya mimbar lalu dia kembali (oe mimbar), lalu menghadap ke manusia dan bersabda:

“Wahai manusia, aku lakukan seperti tadi tidak lain hanyalah agar kalian ikuti dan untuk mengajarkan shalatku”. (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)

(Fiqhus Sunnah, 1/240)

Demikian. Wallahu A’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top