Isu Kepemimpinan, Salah Bicara Bisa Tergelincir

💢💢💢💢💢💢

Imam Asy Syahrustani Rahimahullah mengatakan:

إعلم أن الإمامة ليست من أصول الإعتقاد بحيث يفضي النظر فيها إلي قطع و يقين بالتعين و الخطر على من يخطي فيها يزيد على الخطر على من يجهل أصلها والتعسف الصادر عن الأهواء المضلة مانع من الإنصاف فيها

Ketahuilah, masalah kepemimpinan itu bukanlah kategori aqidah yang pokok, yang dengan mengkajinya memunculkan ilmu yang pasti dan meyakinkan. Justru bahaya yang muncul ketika salah dalam membahasnya lebih parah dibanding orang yang tidak tahu sama sekali masalah ini. Kengawuran yang lahir karena hawa nafsu yang menyesatkan dapat menghalangi dari sikap objektif dalam mengkajinya.

(Nihayatul Iqdam fil ‘Ilmi Kalam, Hal. 168)

Imam Al Ghazali Rahimahullah mengatakan:

النظر في الإمامة أيضا ليس من المهمات وليس أيضا من فن المعقولات فيها من الفقهيات ثم إنها مثار للتعصبات والمعرض عن الخوض فيها أسلم من الخائض بل وإن أصاب فكيف إذا أخطأ؟

Kajian tentang kepemimpinan bukanlah termasuk aqidah, dan bukan pula tema ma’qulat (domain akal). Tepatnya ia adalah masuk pembahasan fiqih. Kemudian, masalah ini dapat menimbulkan fanatisme. Orang yang menjauh dari membahasnya lebih selamat dari orang yang membahasnya walau pembahasannya benar. Maka, apalagi jika dia salah?

(Imam Al Ghazali, Al Iqtishad fil I’tiqad, Hal. 127)

Namun, demikian kepemimpinan adalah hal penting dalam kehidupan masyarakat. Khususnya sebagai pelindung mereka dari kemungkaran.

Khalifah ‘Utsman Radhiallahu ‘Anhu berkata:

إنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

Sesungguhnya, Allah akan benar-benar menghilangkan kemungkaran melalui tangan penguasa, di mana kemungkaran itu tidak bisa dihilangkan oleh Al Quran.

(Imam Ibnu Taimiyah, Al Hisbah, Hal. 326)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, beliau berkata:

يجب أن يعرف أن ولاية أمر الناس من أعظم واجبات الدين بل لا قيام للدين ولا للدنيا إلا بها . فإن بني آدم لا تتم مصلحتهم إلا بالاجتماع لحاجة بعضهم إلى بعض ، ولا بد لهم عند الاجتماع من رأس حتى قال النبي صلى الله عليه وسلم : « إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمّروا أحدهم » . رواه أبو داود ، من حديث أبي سعيد ، وأبي هريرة

“Wajib diketahui, bahwa kekuasaan kepemimpinan yang mengurus urusan manusia termasuk kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama dan dunia tidaklah tegak kecuali dengannya. Segala kemaslahatan manusia tidaklah sempurna kecuali dengan memadukan antara keduanya (agama dan kekuasaan), di mana satu sama lain saling menguatkan. Dalam perkumpulan seperti inilah diwajibkan adanya kepemimpinan, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan: “Jika tiga orang keluar bepergian maka hendaknya salah seorang mereka menjadi pemimpinnya.” Diriwayatkan Abu Daud dari Abu Said dan Abu Hurairah.

(Imam Ibnu Taimiyah, As Siyasah Asy Syar’iyyah, Hal. 169)

Demikian. Wallahu a’lam

🍀🌸🍁🌻🍃🌿🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

Benarkah Sa’ad bin Abi Waqash Wafat dan Dikubur di Cina?

💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Banyak yang percaya bahwa Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu, -salah satu sahabat nabi yang senior dan dikabarkan masuk surga- wafat dan di kubur di Cina. Padahal tidaklah demikian kenyataannya. Itu hanyalah kepalsuan yang entah darimana awalnya bermula.

Lalu, di mana wafat dan kuburnya Sa’ad bin Waqash Radhiyallahu ‘Anhu?

Az Zubeir bin Bakkar berkata:

كان سعد قد إعتزل قي أخر عمره فى قصر بناه بطرف حمراء الأسد

Di masa akhir hidup Sa’ad, Beliau menyendiri di Benteng yang dia bangun di pinggiran Hamra’ al Asad. (Siyar A’lam an Nubala, 4/67)

Hamra’ al Asad adalah tanah luas di tepi Gunung ‘Air, sekitar 16 kilometer dari Masjid Al-Ghamamah sebelah barat daya Madinah.

Anas bin Malik Radhiyallahu’ Anhu mengatakan bahwa lebih dari satu orang yang mengatakan:

إن سعد بن أبي وقاص مات بالعقيق فحمل الى المدينة و دفن بها

Bahwa Sa’ad bin Abi Waqash wafat di ‘Aqiq, lalu di bawa ke Madinah dan dikuburkan di sana.

(Thabaqat Ibnu Sa’ad, 3/147)

Aisyah – putri Sa’ad bin Abi Waqash- bercerita:

مات أبي رحمه الله في قصره بالعقيق علي عشرة أميال من المدينة فحمل الى المدينة على رقاب الرجال و صلي عليه مروان بن الحكم، وهو يومئذ و إلى المدينة، وذلك في سنة خمس و خمسين، وكان يوم مات ابن بضع وسبعين سنة

Ayahku Rahimahullah, wafat di Bentengnya, di ‘Aqiq, 10 Mil dari Madinah, lalu di bawa ke Madinah dengan cara dipikul oleh orang-orang, Marwan bin al Hakam menyalatkannya, saat itu dia sedang menuju Madinah. Peristiwa itu terjadi tahun 55 H, saat itu wafat di usia lebih dari 70 th.

(Ibid, 3/147-148)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌷🍀🌳🌸🌻🍃🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Mengaminkan Doa Dengan Tambahan Allahumma Amin atau Amin Ya Rabb, Bid’ah?

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak masalah menggunakan Ya Rabb, Ya Mujiibas saailin, dan semisalnya. Semua itu sudah berlangsung sejak lama dan dilakukan para ahli ilmu dan mereka tidak ada yang mengingkari.

Syaikh Abdullah al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فألفاظ التأمين متعددة، والأمر فيها واسع، فلو قال الشخص: اللهم آمين، أو آمين يا رب، أو نحو ذلك، فلا بأس، لأنه يؤدي المطلوب، وهو سؤال الله إجابة الدعاء، سواء كان التأمين على دعاء نفسه أو دعاء غيره، ولا نعلم أحدا من أهل العلم قال بخطأ لفظ: اللهم آمين ـ بل هو جار على ألسنتهم

Lafaz amin itu bermacam-macam. Ini adalah masalah yang lapang, seandainya seseorang berkata: Allahumma Aamiin, Aamiin Ya Rabb, atau lainnya, INI TIDAK APA-APA. Sebab ini adalah permintaan, meminta kepada Allah agar mengabulkan doa. Sama saja, baik amin saat doa untuk diri sendiri atau orang lain. TIDAK KAMI KETAHUI SEORANG PUN ULAMA YANG MENGATAKAN SALAH tentang Allahumma Aamiin, bahkan ini meluncur dari lisan-lisan mereka.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 282493)

Sementara Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

والحاصل من ذلك أن هذه الكلمة وضعت لطلب الاستجابة وقبول الدعاء ، فإن زيد قبله ( اللهم ) أو زيد بعده ( يا رب ) ونحو ذلك : فالأمر فيه واسع إن شاء الله ، وقد جرى مثل ذلك على ألسنة كثير من أهل العلم ، ولا نعلم أن أحدا أنكره ، أو بين حجة في ذلك

Kesimpulannya kata ini ada untuk meminta dikabulkannya doa. Jika ada tambahan sebelumnya “Allahumma” dan sesudahnya “Ya Rabb”, dan semisalnya, maka masalah ini adalah hal yang lapang, Insya Allah. Hal seperti ini sudah berlangsung lama dari lisan banyak ulama, dan KAMI TIDAK KETAHUI SEORANG PUN MENGINGKARINYA, atau menjelaskan kritikkan atas hal itu.

على ألا تكون تلك الزيادة في الصلاة ؛ فإن مدار أمرها على الذكر الوارد ، ولم يرد زيادة ذلك في الصلاة

Hanya saja hal itu TIDAK BOLEH TERJADI DALAM SHALAT, sebab itu adalah domain yang mesti menggunakan dzikir yang ada dasarnya, sedangkan dalam shalat tidak ada dasarnya adanya tambahan itu. (maksudnya Aamiin setelah Al Fatihah)

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 213098)

Demikian. Wallahu a’lam

🌺🌿🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

Tidak Berjamaah ke Masjid Karena Sakit

💢💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Orang sdg sakit memang salah satu udzur untuk boleh shalatnya di rumah, tidak ke masjid, yaitu sakit berat yg menyulitkannya berjalan ke masjid. Apalagi jika penyakitnya termasuk menular dan dapat membahayakan orang lain.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa mendengar suara adzan kemudian tidak mendatanginya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur.”

(HR. Ibnu Majah no. 793, shahih)

Apakah UDZUR yang dimaksud? Yaitu RASA TAKUT dan SAKIT.

Hal ini berdasarkan hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنِ اتِّبَاعِهِ عُذْرٌ لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى ” قَالُوا: وَمَا الْعُذْرُ؟ قَالَ: ” خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ “

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma Bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

Siapa yang mendengarkan panggilan muadzin dan tidak ada udzur yang menghalangi untuk mengikuti panggilan itu, maka shalat yang dilakukannya tidak diterima.

Mereka bertanya: “Apakah udzur itu?” Beliau bersabda: “Rasa takut dan sakit”

(HR. Al Baihaqi, dalam As Sunan al Kubra no. 5047. Shahih. Lihat Nashbur Rayah, 2/23)

Tapi, jika dia masih mampu berjalan, dan penyakitnya juga bukan penyakit menular maka sangat tetap dianjurkan ke masjid. Sebagaimana anjuran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada sahabatnya yang buta (Abdullah bin Ummi Maktum Radhiallahu ‘Anhu) yang sulit ke masjid karena tidak ada yang menuntunnya, tetap Beliau memerintahkannya untuk ke masjid.

Demikian. Wallahu a’lam

🌺🌿🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top