[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

💢💢💢💢💢💢💢

Ini termasuk SUNNAH menurut mayoritas ulama, kecuali Malikiyah yang mengatakan justru makruh, kecuali shalat sunnah. Menurut Malikiyah hendaknya tangan tetap lurus disamping tubuh (irsaal). Bisa jadi ada yang menyangka ini shalatnya syiah, padahal Sunni yang Maliki juga melakukannya.

Kami akan ambil dari dua sumber.

Pertama. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 38/369

Berikut ini kutipannya:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ مِنْ سُنَنِ الصَّلاَةِ الْقَبْضَ وَهُوَ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَخَالَفَهُمْ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّةُ فَقَالُوا : يُنْدَبُ الإِْرْسَال وَيُكْرَهُ الْقَبْضُ فِي صَلاَةِ الْفَرْضِ وَجَوَّزُوهُ فِي النَّفْل وَهَذَا فِي الْجُمْلَةِ .
وَمَكَانُ وَضْعِ الْيَدَيْنِ بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ هُوَ تَحْتَ الصَّدْرِ وَفَوْقَ السُّرَّةِ ، وَهَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَرِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ قَوْل سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ لِمَا رَوَى وَائِل بْنُ حُجْرٍ قَال : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُول اللَّهِ ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ
وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَفِي الرِّوَايَةِ الأُْخْرَى عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ يَضَعُ يَدَيْهِ تَحْتَ سُرَّتِهِ وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي مِجْلَزٍ وَالنَّخَعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ وَإِسْحَاقَ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَال : مِنَ السُّنَّةِ وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ

Mayoritas ahli fiqih seperti Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, berpendapat bahwa di antara SUNNAH-SUNNAH shalat adalah Al Qabdh (bersedekap), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Sementara Malikiyah menyelisihi mereka dalam hal ini, mereka mengatakan: “Dianjurkan irsaal (meluruskan tangan) dan dimakruhkan sedekap di dalam shalat wajib namun boleh di shalat sunnah.” Inilah gambaran secara umum.

Ada pun tempat meletakkan tangannya adalah di bawah dada dan di atas pusar, ini menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan sebuah riwayat dari Hanabilah. Ini juga pendapat Sa’id bin Jubeir. Berdasarkan hadits Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.”

Sedangkan menurut Hanafiyah, dan sebuah riwayat lain dari Hanabilah, bahwa diletakkan kedua tangan itu di bawah pusar. Cara seperti ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abu Mijlaz, An Nakha’i, Ats Tsauri, dan Ishaq. Berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib: “Diantara sunah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan, di bawah pusar.” (selesai)

Kedua. Fiqhus Sunnah, 1/146

Berikut ini uraian Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

قال الكمال بن الهمام. ولم يثبت حديث صحيح يوجب العمل في كون الوضع تحت الصدر، وفي كونه تحت السرة، والمعهود عند الحنفية هو كونه تحت السرة وعند الشافعية تحت الصدر.
وعن أحمد قولان كالمذهبين، والتحقيق المساواة بينهما.
وقال الترمذي: أن أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم والتابعين ومن بعدهم يرون أن يضع الرجل يمينه على شماله في الصلاة، ورأى بعضهم فوق السرة، ورأى بعضهم أن يضعها تحت السرة، وكل ذلك واقع عندهم. انتهى.
ولكن قد جاءت روايات تفيد أنه صلى الله عليه وسلم، كان يضع يديه على صدره، فعن هلب الطائي قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يضع اليمنى على اليسرى على صدره فوق المفصل، رواه أحمد، وحسنه الترمذي.
وعن وائل بن حجر قال: (صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فوضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره) رواه ابن خزيمة وصححه ورواه أبو داود والنسائي بلفظ: ثم وضع يده اليمنى على ظهر كفه اليسرى والرسغ والساعد.أي أنه وضع يده اليمنى على ظهر اليسرى ورصغها وساعدها.

Berkata Al Kamal bin Al Hummam: “Tidak ada hadits shahih yang menunjukkan aktifitas posisi meletakkan tangan di bawah dada, dan di bawah pusar. Dan, yang dianut oleh Hanafiyah adalah posisinya di bawah pusar, dan bagi Syafi’iyah di bawah dada.”

Sedangkan Ahmad ada dua riwayat, sebagaimana dua madzhab tersebut.

At Tirmidzi berkata: “Para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan generasi setelah mereka, berpendapat bahwa seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, sebagian mereka berpendapat meletakkan di atas pusar, sebagian lain berpendapat di bawah pusar. Semua ini ada dalam pendapat mereka.” Selesai

Tetapi terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya di atas dadanya. Dari Halab Ath Tha’iy, dia berkata: “Aku melihat Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, di dadanya, di atas mufashshal (batas antara dada dan perut).”

Diriwayatkan oleh Ahmad, dan dihasankan oleh At Tirmidzi. Dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dia menshahihkannya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dengan lafaz: “Kemudian Beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya dan pergelangan tangannya serta tulang hastanya.” Maksudnya Beliau meletakkan tangan kanannya di punggung tangan kirinya, pergelangannya dan bagian hastanya.

💢 Kesimpulan:

✅ Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah (Hambaliyah), berpendapat SUNNAHnya bersedekap

✅ Sementara Malikiyah -pengikut Imam Malik- memakruhkan sedekap pada shalat wajib, tapi boleh pada shalat sunah.

✅ Tempatnya sedekap adalah di bawah dada tapi di atas pusar (antara dada dan pusar). Ini pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, juga Imam Ahmad dalam satu riwayat, berdasarkan riwayat Wail bin Hujr.

✅ Hanafiyah dan sebagian Hanabilah, meletakkan tangan di bawah pusar. Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lainnya. Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

✅ Para ulama masa sahabat nabi, tabi’in, dan generasi setelah mereka mempraktekan keduanya, baik di antara dada dan pusar, dan di bawah pusar.

✅ Ada pun pas di dada berdasarkan riwayat Halab bin Tha’iy, disebutkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, dengan sanad hasan.

✅ Jadi, mau di bawah pusar, antara dada dan pusar, atau di dada, semuanya ada. Ada pun TANPA SEDEKAP, tangan lurus saja, dianggap pendapat lemah oleh Syaikh Wahbah Az Zuhailiy. Pendapat yang rajih/kuat adalah pendapat mayoritas ulama. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/63)

✅ Imam Malik sendiri berbeda dengan pengikutnya, Beliau sampai akhir hayatnya tetap bersedekap, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Abdil Bar. (Fiqhus Sunnah, 1/146)

Bersambung..

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

[Tata Cara Shalat] – Takbiratul Ihram

Sebelumnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

💢💢💢💢💢💢💢

Yaitu ucapan takbir Allahu Akbar, sebagai pembuka shalat sesaat setelah niat. Ini salah satu rukun shalat, tanpanya shalat menjadi batal.

Secara bahasa takbiratul ihram artinya takbir untuk mengharamkan. Maksudnya dengan takbir tersebut maka diharamkan aktifitas lain kecuali hanya bacaan dan gerakan shalat.

Hal ini berdasarkan hadits:

مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم

Kuncinya Shalat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir, dan penghalalannya adalah salam.

(HR. Abu Daud, Ahmad, Al Hakim, kata Al Hakim: sanadnya Shahih)

Caranya adalah dengan mengucapkan Allahu Akbar, sambil mengangkat tangan, dan mengangkat tangan hukumnya sunnah berdasarkan ijma’.

Dari Abu Humaid:

أن النبي
صلى الله عليه وسلم كان إذا قام إلى الصلاة اعتدل قائما ورفع يديه ثم قال: (الله أكبر) ، رواه ابن ماجه، وصححه ابن خزيمة وابن حبان

Bahwa Nabi ﷺ jika dia berdiri untuk shalat, maka dia diri tegak lurus, dan mengangkat kedua tangannya dan membaca: Allahu Akbar.

(HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Bagaimana tata cara mengangkat tangannya? Yaitu boleh sejajar pundak (bahu) dan boleh sejajar telinga.

Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “

“Aku melihat jika Rasulullah ﷺ berdiri shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan PUNDAKNYA. Beliau melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk dan bangkit dari rukuk dengan mengangkat kepalanya sambil mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ‘. Namun beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.”

(HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390)

Malik bin Huwairits Radhiallahu ‘Anhu berkata:

” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ ” فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ “

Bahwa Rasulullah ﷺ apabila bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya. Apabila rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua TELINGANYA, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk seraya mengucapkan; ‘Sami’allahu liman hamidah (semoga Allah mendengarkan orang yang memujiNya)’, beliau melakukan seperti itu juga.

(HR. Muslim no. 391)

Dari keterangan di atas, menunjukkan ada beberapa keadaan disunnahkan mengangkat kedua tangan.

– Saat takbiratul ihram
– Saat akan ruku’
– Saat bangun dari ruku’

Utk shalat yang empat rakaat dianjurkan angkat tangan pula saat bangun dari duduk tasyahud awal.

Dalam Syarhul Mumti’, tertulis:

مواضع رَفْع اليدين أربعة : عند تكبيرة الإحرام ، وعند الرُّكوعِ ، وعند الرَّفْعِ منه ، وإذا قام من التشهُّدِ الأول

Ada 4 posisi mengangkat kedua tangan:

– saat takbiratul Ihram
– hendak ruku’
– bangun ruku’
– dan bangun dari tasyahhud awal.

(Syarhul Mumti’, 3/214)

Demikian. Wallahu A’lam

Bersambung..

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Selanjutnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

 

[Tata Cara Shalat] – Niat

💢💢💢💢💢💢💢

Rasulullah bersabda:

انما الاعمال بالنيات

Amal itu hanyalah dengan niat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya tidak SAH sebuah amal ibadah tanpa niat, dan shalat termasuk di dalamnya. Tanpa niat maka shalat batal atau tidak sah.

Niat artinya ‘azmul qalbi (tekad di hati), dan al qashdu (maksud).

Maka, tempatnya niat adalah di hati. Semua ulama sepakat ini. Jika seseorang dihatinya sdh ada kehendak dan tekad, ingin shalat secara spesifik (misal subuh, zuhur, dll), maka itu sudah cukup dan sah dikatakan niat.

Ada pun mengucapkan niat di lisan, adalah perselisihan ulama. Sebagian ulama mengatakan sunnah (dianjurkan), ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan (makruh/dibenci), bahkan bid’ah (mengada-ngada). Sikap kita adalah lapang dada atas perbedaan pendapat ini. Namun, yang jelas semua sepakat niat di hati saja sudah cukup dan itu sah. Keluar dari perselisihan adalah lebih baik.

Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi mengatakan:

النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ فَرْضٌ ، وَذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ سُنَّةٌ ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَفْضَل

“Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.”

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah menyebutkan:

ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة

“Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi DISUNNAHKAN menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat.”

(Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Bersambung..

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Selanjutnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

 

Peran Ikhwanul Muslimin dan Tokoh-Tokohnya Terhadap Dunia Islam

💢💢💢💢💢💢💢💢💢

1⃣ Syaikh Manna’ Khalil al Qaththan Rahimahullah: “Gerakan Islam terbesar yang membangkitkan kesadaran Islam di Dunia Islam”

Beliau adalah Mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Riyadh dan dosen paska sarjana di Universitas Muhammad bin Su’ud, Saudi Arabia. Pakar Tafsir dan Hadits.

Beliau berkata:

تعتبر حركة الإخوان المسلمين التي قام بها الشهيد حسن البنا كبرى الحركات الإسلامية المعاصرة بلا مراء، ولا يستطيع أحد من خصومها أن ينكر فضلها فيما أحدثته من وعى فى العالم الإسلامى كافة، فجر طاقات الشباب المسلم لخدمة الإسلام وإعزاز شريعته وإعلاء كلمته وبناء مجده وإستعادة سلطانه. و مهما قيل فى الأحداث التى وقعت على هذه الجماعة فإن أثرها الفكرى لا يجحده إنسان

“Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Asy Syahid Hasan Al Banna dipandang sebagai gerakan keislaman terbesar masa kini tanpa diragukan. Tidak seorang pun dari lawan-lawannya dapat mengingkari jasa gerakan ini dalam membangkitkan kesadaran di seluruh dunia Islam. Maka dengan gerakan ini ditumpahkan segala potensi pemuda Islam untuk berkhidmat kepada Islam, menjunjung syariatnya, meninggikan kalimahnya, membangun kejayaannya, dan mengembalikan kekuasaannya. Apa pun yang dikatakan mengenai peristiwa¬peristiwa yang terjadi atas jamaah ini namun pengaruh intelektualitasnya tidak dapat diingkari oleh siapa pun juga.”

(Mabahits Fi ‘Ulumil Quran, Hal. 362. Dar al’ Ilmi wa al Iman)

2⃣ Syaikh Abdullah bin Hasan al Qu’ud Rahimahullah: “Jangan lupakan jasa Ikhwan dan Al Banna”

Beliau adalah anggota Al Lajnah Ad Daimah, Beliau berkata:

رأي العلامة ابن قعود رحمه الله في حسن البنا
قال العلامة عبد الله بن قعود رحمه الله :
وأنا عندي أن البنا رحمه الله تعالى قام بدور أرجو الله أن يغفر له وأن يضاعف أجره ، والحقيقة أنه حرَّك الدعوة في مصر وانتشرت منه إلى غير مصر على ما له فيه من نقص لكن له السبق ، له السبق في تربية الشباب وفي تـحريك الشباب والناس
إذا ربنا أكرمهم أكثر مما كانوا فالشباب الآن أصبحوا شباب سنة أكثر من ذي قبل وشباب التزام أكثر من ذي قبل والخير فيهم أكثر مما كان في بدايات ( الإخوان ) بلا شك لكن هناك بدؤوا في وقت تكاد تكون لا شيء ، فلا ينسى للناس فضلهم .
المرجع : شريط ( وصايا للدعاة – الجزء الثاني ) للشيخ العلامة عبد الله بن حسن ابن قعود رحمه الله

Berkata Al ‘Allamah Abdullah bin Qu’ud Rahimahullah:

“Bagi saya, sesungguhnya Al Banna Rahimahullah Ta’ala telah menjalankan tugasnya, saya harap semoga Allah mengampuninya dan melipatgandakan pahala baginya.

Pada kenyataannya, dialah yang menggerakan dakwah di Mesir dan menyebarkannya ke luar Mesir di atas sesuatu yang masih ada kekurangan, tetapi dia telah mendahului. Dia telah mendahului dalam mentarbiyah para pemuda dan dalam menggerakan para pemuda dan manusia.

Rabb kita telah memuliakan mereka lebih banyak dari sebelumnya. Lalu pemuda sekarang menjadi pemuda sunah yang lebih banyak daripada sebelumnya, dan pemuda yang memiliki komitmen lebih banyak daripada sebelumnya, dan kebaikan pada mereka lebih banyak daripada permulaan masa (Al Ikhwan), tanpa diragukan lagi. Tapi mereka (Al Ikhwan) memulai pada saat hampir belum ada apa-apa, maka janganlah manusia melupakan keutamaan yang mereka miliki …” sumber: kaset Washaya Lid Du’ah, Juz. 2. (Mudzakarah Al Watsaiq Al Jaliyah, Hal. 53)

Masa-masa Syaikh Al Banna sampai tahun 80an awal adalah masa hubungan mesra antara Ikhwan dan Kerajaan Arab Saudi. Universitas Islam Madinah, yang sejak perang teluk begitu resisten terhadap Ikhwan sampai sekarang, dulunya juga dibidani oleh para ulama Ikhwan seperti Syaikh Ahmad ‘Assal. Bahkan Syaikh al Qaradhawi menjadi salah satu anggota kehormatan dan majelis tingginya.

3⃣ Peran Ikhwanul Muslimin dalam jihad

– Ikut andil dalam perang melawan Inggris dalam mempertahankan terusan Suez

– Ikut andil bahkan menjadi kontingen terpenting dalam Jihad melawan Zionis di Palestina tahun 1948. Bahkan sampai kini tetap memiliki peran penting dalam mempertahankan Palestina, melalui lahirnya gerakan HAMAS, dengan batalyonnya: ‘Izzuddin al Qassam.

– Berperan penting bersama mujahidin Afganistan dalam mengusir Uni Soveit. Dengan diutusnya tokoh-tokoh Ikhwan seperti Syaikh Kamaluddin as Sananiri, dan Syaikh Abdullah ‘Azzam beserta ribuan pemuda Ikhwan ke Afganistan.

– Peran penting mereka pada masa lalu dalam Jihad di Bosnia, Moro, dan lainnya.

4⃣ Peran Ikhwanul Muslimin dalam kemerdekaan Indonesia

Hal ini sudah terkenal dan terdokumentasikan dengan baik. Ikhwan membentuk panitia kecil untuk kemerdekaan Indonesia, serta mendorong pemerintah Mesir dan timur tengah mengakui kemerdekaan Indonesia. Sehingga Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ikhwanul Muslimin yang saat itu jaringannya telah tersebar, juga menggalang dukungan-dukungan negara Arab lainnya untuk mendukung ke merdekaan Indonesia. Dan, setelah Mesir, negara-negara Timur Tengah lain pun mendukung kemerdekaan Indonesia.

Selengkapnya silahkan:

https://republika.co.id/berita/m79azo/peran-ikhwanul-muslimin-untuk-kemerdekaan-indonesia

https://m.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2013/08/19/5931/hasan-al-banna-dan-kemerdekaan-indonesia.html

https://historia.id/politik/articles/mesir-dan-kemerdekaan-indonesia-DAxe6

5⃣ Peran Ikhwanul Muslimin dalam dunia intelektualitas

Ini salah satu peran yang tidak terbantahkan. Walau ilmuwan mereka banyak yang disiksa, tiarap, diusir, dizalimi di negerinya dengan fitnah dan tuduhan, tapi karya-karya tokoh mereka tetap mengisi perpustakaan dunia Islam.

– Syaikh Hasan al Banna, dengan kumpulan risalahnya. Bahkan kitab Al Aqaid-nya dipakai di pesantren ternama di Jawa.

– Syaikh Sayyid Quthb, dengan tafsir Fi Zhilalil Quran dan Ma’alim Fith Thariq, yang oleh Syaikh Abdullah Al Qu’ud sebagai kitab yang telah dibayar mahal oleh penulisnya dengan darah dan nyawanya. Belum karyanya yang lain dalam mengkritik Komunis dan Sosialis seperti al ‘Adalah al Ijtima’iyah fil Islam.

– Syaikh Sayyid Sabiq, ulama al Azhar dengan kitab monumentalnya yang tersebar diseluruh dunia Islam, Fiqhus Sunnah, juga Aqidah Islamiyah.

– Syaikh Yusuf al Qaradhawi, seorang ulama al Azhar, faqihul Islam, dengan berbagai kitabnya dalam bidang fiqih, Fatwa-Fatwa, hadits, al Quran, dakwah, sejarah, akhlak, sosial kemasyarakatan, dan lainnya.

– Syaikh Mushthafa as Siba’i, penanggung jawab Ikhwan pertama di Siria, seorang ahli hadits, mujahid, dan pemikir ulung.

– Syaikh Abdul Fatah Abu Ghudah, seorang ahli hadits ternama, pemimpin Ikhwan di Siria setelah Mushthafa as Siba’i.

– Syaikh Muhammad al Ghazali, seorang ulama al Azhar, pemikir, orator, dan pejuang. Banyak kitab-kitabnya tersebar di Indonesia seperti Jaddid Hayatak, dll.

– Sebelum mereka, ada Al Muhaddits Muhibbudin al Khathib, Syaikh Mutawalli asy Sya’rawi (kemudian menyatakan diri mundur dari Ikhwan), Abdul Halim Hamid, yang rata-rata adalah ulama al Azhar.

6⃣ Peran Ikhwanul Muslimin dalam memperkenalkan Syumuliyatul Islam (kesempurnaan Islam)

Saat lahirnya tahun 1928M, banyak kaum muslimin dan kelompok-kelompok Islam yang menampilkan Islam dalam hal tertentu saja. Ada yg hanya menggarap pemuda saja, atau urusan ibadah saja, urusan pelayanan masyakarat saja, urusan sunnah dan bid’ah saja, dan lainnya. Menampakkan Islam dalam wujud serpihan bagian tertentu saja, dinilai tidak tepat sebab Islam itu agama sempurna yang meliputi semua bagian dan fenomena kehidupan.

Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah:

الإسلام نظام شامل يتناول مظاهر الحياة جميعا فهو دولة ووطن أو حكومة وأمة ، وهو خلق وقوة أو رحمة وعدالة ، وهو ثقافة وقانون أو علم وقضاء ، وهو مادة أو كسب وغنى ، وهو جهاد ودعوة أو جيش وفكرة ، كما هو عقيدة صادقة وعبادة صحيحة سواء بسواء

“Islam adalah nizham (tatanan) sempurna yang mencakup seluruh sisi kehidupan. Dia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, rahmat dan keadilan, wawasan dan undang-undang, ilmu dan ketetapan, materi dan kekayaan alam, atau penghasilan dan kekayaan, jihad dan da’wah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana dia adalah aqidah yang benar serta ibadah yang sahih, tidak lebih tidak kurang.”

(Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, hal. 305. Ushul ‘Isyrin No. 1. Maktabah At Taufiqiyah, Kairo. tanpa tahun)

7⃣ Peran Ikhwanul Muslimin dalam memperkenalkan Islam yang moderat (wasathiy)

Tokoh-tokoh Ikhwan, seperti Syaikh Yusuf al Qaradhawi yang juga mufti Qatar, sering menggaungkan ini dalam berbagai karyanya, fatwa, ceramah-ceramahnya. Bahwa Islam itu agama pertengahan, baik konsep dan prakteknya. Tidak seperti paham komunisme, sosialisme, juga tidak seperti kapitalisme, tidak seperti orang kebatinan yg berlebihan dlm perhatiannya terhadap spiritualitas, dan tidak pula seperti kaum materialisme yang melupakan sisi ruhani dan tenggelam dalam materi, dst.

Semoga bisa mengingatkan para pejuang Islam dimasa lalu. Sebagaimana Syaikh Manna al Qaththan, butuh satu jilid sendiri untuk menceritakan sepak terjang dan peran besar Ikhwanul Muslimin di masa kebangkitan Islam modern.

Namun, bagi yang dengki, hasad, pengrajin fitnah, hal-hal seperti ini sama sekali tidak dinilai apa-apa. Sebab, ‘ainus sukhthi (mata kebencian) membuat buta terhadap kebaikan.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top