Jangan Takut Menyerupai Orang Shalih, Walau Kita Merasa Belum Shalih

💢💢💢💢💢💢💢💢💢

📌 Manusia biasanya suka mengikuti atau meniru apa yang dilihatnya dan disukainya

📌 Maka tirulah orang-orang baik, baik pada penampilan, perbuatan, dan perkataannya

📌 Sering manusia berkata: “Jadilah diri sendiri!” Ini bagus jika memang diri kita baik. Tapi, jika ternyata buruk maka jangan berlama-lama dalam keburukan dgn alasan jadilah diri sendiri.

📌 Maka, tidak usah malu meniru para shalihin, ulama, dan orang-orang baik lainnya walau kita masih jauh seperti mereka.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.

(HR. Abu Daud no. 4031. Dishahihkan oleh Imam Al ‘Iraqi dan Imam Ibnu Hibban. Lihat Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 2/240)

📌 Berdasarkan hadits ini, maka tirulah orang shalih pada kebaikan yang mereka lakukan.

Al ‘Alqami Rahimahullah mengatakan:

أَيْ مَنْ تَشَبَّهَ بِالصَّالِحِينَ يُكْرَمْ كَمَا يُكْرَمُونَ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِالْفُسَّاقِ لَمْ يُكْرَمْ وَمَنْ وُضِعَ عَلَيْهِ عَلَامَةُ الشُّرَفَاءِ أُكْرِمَ وَإِنْ لَمْ يَتَحَقَّقْ شَرَفُهُ

Yaitu siapa yang meniru orang-orang shalih maka dia akan dimuliakan sebagaimana orang-orang shalih dimuliakan. Siapa yang menyerupai orang fasiq maka dia tidak akan dimuliakan. Siapa yang pada dirinya ada tanda orang-orang mulia maka dia akan dimuliakan, walau dia sendiri belum bisa merealisasikan apa yang dilakukan orang-orang mulia tersebut. (Aunul Ma’bud, 7/153)

📌 Maka, janganlah mencela saudara-saudara kita yang kesehariannya memakai pakaian ala ulama, kiayi, dan shalihin, seprti peci, surban, gamis, kain sarung, koko, dan semisalnya. Walau kita kenal orang itu bukan siapa-siapa.

📌 Sebab, apa yang dilakukannya adalah upaya memulai utk meraih kemuliaan sebagaimana orang-orang baik yang diikutinya, dibanding tidak sama sekali.

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🍀🌿🌸🌻🍃🌳🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Doa Minta Miskin

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh…

Afwan ustadz ada yang nitip pertanyaan 🙏. Ana mau tanya ustadz, apakah benar nabi dulu selalu berdoa meminta kemiskinan untuk dirinya….???
Mohon pencerahannya ustad(+62 813-3434-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Haditsnya berbunyi:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مِسْكِينًا ، وَأَمِتْنِي مِسْكِينًا ، وَاحْشُرْنِي فِي زُمْرَةِ الْمَسَاكِينِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Ya Allah hidupkanlah aku sebagai orang miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku di hari mahsyar bersama orang-orang miskin.

(HR. At Tirmidzi no. 2352, Ibnu Majah no. 2146)

📌 Status hadits:

Hanya saja hadits ini DHA’IF (lemah) menurut umumnya ulama.

Imam Ibnu Katsir mengatakan sanad hadits ini dha’if, karena ada perawi yang sangat lemah (dha’if jiddan) yaitu Yazid bin Sinan. (al Bidayah wan Nihayah, 6/75)

Al Hafizh Ibnu Hajar juga mengatakan lemah. (at Talkhish al Habir, 3/109)

Kemudian, Imam Ibnu Taimiyah juga mengatakan lemah. (Majmu’ al Fatawa, 18/357)

📌 Makna Hadits:

Maksud hadits di atas bukan bermakna minta miskin harta, tapi minta tawadhu’ (rendah hati), dan khusyu’.

Imam Ibnu Hajar, mengutip dari Imam al Baihaqi Rahimahullah mengatakan:

وَوَجْهُهُ عِنْدِي أَنَّهُ لَمْ يَسْأَلْ الْمَسْكَنَةَ الَّتِي يَرْجِعُ مَعْنَاهَا إِلَى الْقِلَّةِ , وَإِنَّمَا سَأَلَ الْمَسْكَنَةَ الَّتِي يَرْجِعُ مَعْنَاهَا إِلَى الإِخْبَاتِ وَالتَّوَاضُعِ

Menurutku, maksud minta miskin adalah bukan minta miskin dengan makna sedikitnya harta. Ini maknanya minta ketundukan dan tawadhu’. (at Talkhish al Habir, 3/109)

Syaikh Abul ‘Ala al Mubarkafuri Rahimahullah mengutip dari Ath Thibiy:

اجْمَعْنِي فِي جَمَاعَتِهِمْ بِمَعْنَى اجْعَلْنِي مِنْهُمْ لَكِنْ لَمْ يَسْأَلْ مَسْكَنَةً تَرْجِعُ لِلْقِلَّةِ بَلْ لِلْإِخْبَاتِ وَالتَّوَاضُعِ وَالْخُشُوعِ

Kumpulkanlah aku bersama rombongan mereka, maksudnya jadikanlah aku termasuk golongan mereka. Tapi maksudnya bukan minta sedikit harta, tapi minta ketundukkan, tawadhu’, dan khusyu’. (Tuhfah al Ahwadzi, 7/240)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

ومعناه : أحيني خاشعا متواضعا

Maknanya adalah hidupkanlah aku menjadi org yang khusyu’ dan tawadhu’. (Ibid)

Imam Ibnul Jauzi menjelaskan:

فالمسكين المحمود هو المتواضع الخاشع لله ; ليس المراد بالمسكنة عدم المال

Miskin yang terpuji adalah orang yg tawadhu’ lagi khusyu’ kepada Allah, bukan miskin tidak punya harta. (Dikutip Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ al Fatawa, 18/326)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🍀🌿🌸🌻🍃🌳🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Kirim Al Fatihah Buat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Budaya Jawa?

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum Tadz, saya lihat ceramah seorg Ust yg bilang kirim Alfatihah untuk nabi itu budaya jawa, katanya itu aswaja (asli warisan jawa), bukan asli Ahlussunnah… Itu bener gak ya? Jzkllkhr

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim…

Mengirim Al Fatihah untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah didiskusikan bagaimana hukumnya oleh para ulama Islam sejak berabad-abad lamanya. Tidak satu pun ulama yang pro maupun kontra menyebut itu warisan jawa. Semoga seorang muslim apalagi Ustadz, mengevaluasi lisannya agar tidak mengolok-olok sesama muslim.

Lalu bagaimana dengan mengirim Al Fatihah buat Nabi ?

Imam Syihabuddin Ar Ramliy Rahimahullah -seorang Imam dalam madzhab Syafi’iy dan dia bukan orang jawa- berkata ketika ditanya hukum mengirim Al Fatihah ke Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Beliau menjawab:

نَعَمْ ذَلِكَ جَائِزٌ بَلْ مَنْدُوبٌ قِيَاسًا عَلَى الصَّلَاةِ عَلَيْهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَسُؤَالِ الْوَسِيلَةِ وَالْمَقَامِ الْمَحْمُودِ وَنَحْوِهِ ذَلِكَ بِجَامِعِ الدُّعَاءِ بِزِيَادَةِ تَعْظِيمِهِ وَقَدْ جَوَّزَهُ جَمَاعَاتٌ مِنْ الْمُتَأَخِّرِينَ وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ وَمَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنٌ فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ فَالْمَانِعُ مِنْ ذَلِكَ غَيْرُ مُصِيبٍ

Ya, itu (kirim Al Fatihah kepada nabi) adalah boleh bahkan dianjurkan, diqiyaskan dgn bershalawat kepadanya, mendoakan dan memintakan untuknya wasilah dan kedudukan yang terpuji dan semisalnya, dgn kumpulan doa yang menambah penghormatan kepadanya. Hal ini dibolehkan oleh segolongan ulama muta’akhirin dan diamalkan kaum muslimin. Apa-apa yang yg baik di mata kaum muslimin maka itu di sisi Allah juga baik.

(Fatawa Ar Ramliy, 3/125)

Imam Ibnu ‘Abidin Rahimahullah – juga bukan orang jawa- berkata:

مَطْلَبٌ فِي إهْدَاءِ ثَوَابِالْقِرَاءَةِ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -ذَكَرَ ابْنُ حَجَرٍ فِي الْفَتَاوَى الْفِقْهِيَّةِ أَنَّ الْحَافِظَ ابْنَ تَيْمِيَّةَ زَعَمَ مَنْعَ إهْدَاءِ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لِأَنَّ جَنَابَهُ الرَّفِيعَ لَا يُتَجَرَّأُ عَلَيْهِ إلَّا بِمَا أَذِنَ فِيهِ، وَهُوَ الصَّلَاةُ عَلَيْهِ، وَسُؤَالُ الْوَسِيلَةِ لَهُ قَالَ: وَبَالَغَ السُّبْكِيُّ وَغَيْرُهُ فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ، بِأَنَّ مِثْلَ ذَلِكَ لَا يَحْتَاجُ لِإِذْنٍ خَاصٍّ؛ أَلَا تَرَى أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَعْتَمِرُ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عُمُرًا بَعْدَ مَوْتِهِ مِنْ غَيْرِ وَصِيَّةٍ. وَحَجَّ ابْنُ الْمُوَفَّقِ وَهُوَ فِي طَبَقَةِ الْجُنَيْدِ عَنْهُ سَبْعِينَ حَجَّةً، وَخَتَمَ ابْنُ السِّرَاجِ عَنْهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَكْثَرَ مِنْ عَشَرَةِ آلَافٍ خَتْمَةٍ؛ وَضَحَّى عَنْهُ مِثْلَ ذَلِكَ. اهـ

Mengirimkan hadiah pahala bacaan Al Quran kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam itu dibutuhkan.

Imam Ibnu Hajar menceritakan dalam Al Fiqhiyah Al Kubra bahwa Al Hafizh Ibnu Taimiyah menyangka kirim bacaan Al Quran buat Nabi Shalallahu ‘Alaih wa Sallam terlarang sebab kedudukannya yg tinggi tidaklah membutuhkan itu kecuali dengan izinnya, yaitu bershalawat, dan berdoa meminta kedudukan wasilah baginya.

Dia (Ibnu Hajar) berkata: “Hal ini telah dibantah oleh As Subkiy dan lainnya, bahwasanya masalah ini tidaklah membutuhkan izin khusus dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bukankah Anda lihat bahwa Ibnu Umar umrah untuk Nabi Shalallahu ‘Alaih wa Sallam setelah wafatnya Nabi tanpa diwasiatkan olehnya.

Ibnul Muwaffaq -sezaman dgn Ibnul Junaid- telah menghajikan Nabi sebanyak 70 kali.

Ibnu As Siraj mengkhatamkan Al-Qur’an 10.000 kali untuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam , dan dia berqurban untuknya sebanyak itu juga.”

(Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 2/244)

Ibnu ‘Abidin juga mengatakan bahwa kebolehan ini menjadi pendapat ulama Hanafiyah seperti Imam Syihab bin Ahmad Asy Syalaby, juga ulama Hambaliy seperti Imam Ibnu ‘Aqil Al Hambaliy. (Ibid)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🍀🌿🌸🌻🍃🌳🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Sedekah Jumat

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Secara khusus, tidak ditemukan adanya dalil yang mengkhususkan Jumat atau malam Jumat sebagai hari untuk sedekah, dengan berbagai keutamaannya. Tetapi, mengkhususkannya pun juga tidak terlarang.

Sebab, secara umum hari Jumat memang hari paling utama dalam Islam, sebagaimana tanah haram dibanding tanah yang lain, atau bulan Ramadhan dibanding bulan yang lain. Maka begitulah posisi hari Jumat dibanding hari lainnya.

Bahkan dijuluki Sayyidul Ayyaam (pimpinannya hari), dan lebih agung di sisi Allah dibanding Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Majah no. 1084, hasan)

Oleh karenanya para ulama pun membenarkan keutamaan sedekah di hari Jumat.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا

Bahwasanya bersedekah di hari Jumat ada keistimewaan dibanding hari-hari lainnya selama sepekan. Sebagaimana sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lain.

Aku lihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah sucikan ruhnya- jika keluar rumah hari Jumat dia akan membawa sesuatu dari rumahnya, baik roti atau lainnya, lalu dia sedekahkan di jalan secara diam-diam.

(Zaadul Ma’ad, 1/407)

Imam Al Bujairimi Rahimahullah mengatakan:

ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي. انتهى

Disunnahkan banyak sedekah dan melakukan kebaikan di hari Jumat dan malamnya. Begitu juga disunnahkan banyak shalawat berdasarkan hadits: “Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah shalawat kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

(Tuhfatul Habib, 2/431)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍀🍁🌿🌻🌷🍃🌸🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top