Mengaku Bisa Lihat Jin

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim…

Orang yang mengaku melihat jin biasanya ada dua keadaan:

1. Seseorg mengaku melihat Jin dalam wujud aslinya, sesuai kemauannya sendiri, kapan pun, di mana pun. Sementara orang lain tidak ada yang bisa melihatnya.

Seperti seorang terapis kesehatan yang dengan enteng mengatakan kepada pasiennya, misalnya, “di samping kamu saya lihat ada Jinnya, di belakang kamu juga ada”. Kepada orang seperti ini hendaknya kita tidak tertipu atas apa yang dilakukannya disaat dia bisa menyembuhkan. Itu bukanlah karamah, ma’unah, tapi adalah istidraj, yaitu kejadian luar biasa yang dialami org kafir atau ahli maksiat.

Maka, pengakuan dapat melihat jin dalam wujud asli ini tidak dibenarkan. Besar kemungkinan orang tersebut juga bersahabat dengan jin atau dalam dirinya ada jin yang dengannya dia melihat jin. Sebab, hanya jin yang bisa melihat jin dalam wujud asli. Kecuali bagi para nabi, menurut sebagian ulama – seperti Imam Asy Syafi’i, Imam Ibnu Hazm, Imam Al Qusyairi- bahwa para nabi diizinkan Allah bisa melihatnya. Oleh karena itu, dalam hadits-hadits shahih Rasulullah ﷺ sering menceritakan tentang wujud syetan dan perilakunya. Seperti hadits-hadits yang menceritakan: syetan itu bertanduk, makan dan minum dengan tangan kiri, mereka lari terbirit birit saat azan, mereka ada di celah shaf yang kosong, mereka keluar di awal terbenam matahari, syetan berlarian ketakutan jika Umar bin Khathab lewat, dan lainnya.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha Rahimahullah mengutip perkataan Imam Asy Syafi’i Rahimahullah:

من زعم أنه يرى الجن أبطلنا شهادته، إلا أن يكون نبياً

Siapa yang mengklaim bahwa dirinya dapat melihat Jin, maka kami tolak syahadah-nya, kecuali bagi seorang nabi.

(Tafsir Al Manar, 7/526)

2. Seseorang melihat jin atas kemauan jin itu sendiri, yang hadir dalam kehidupan sebagian manusia dalam wujud yang berbeda-beda.

Hal ini benar adanya dan dianut oleh mayoritas ulama berdasarkan hadits-hadits shahih yang begitu banyak. Jin berbentuk manusia, ular, kalajengking, anjing hitam, dan lainnya.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha Rahimahullah mengatakan:

واختلفت فرق المسلمين في تشكله في الصور. فالجمهور يثبتونه

Kaum muslimin berselisih pendapat dalam berbagai golongan ttg masalah wujud jin dalam berbagai bentuk. Tapi jumhur (mayoritas) ulama memastikan hal itu. (Tafsir Al Manar, 7/525)

Berikut ini berbagai dalilnya:

– Imam Ibnu Jarir, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, As Sudi, Urwah bin az Zubeir, Ibnu Ishaq, bahwa saat menjelang perang Badr, syetan datang dalam wujud Suraqah bin Malik bin Ju’syum, tokoh Bani Madlaj. (Tafsir Ath Thabari, 5/3869-3870)

– Dalam Shahih Bukhari (no. 2187), Abu Hurairah menangkap laki-laki pencuri zakat, sampai tiga kali. Setiap ditangkap selalu dibebaskan. Sampai yang ketiga kali laki-laki itu mengajarkan Abu Hurairah bacaan pengusir syetan, yaitu ayat Kursi. Lalu, Rasulullah ﷺ mengatakan orang itu adalah syetan.

– Anjing hitam itu syetan. (HR. Muslim no. 510), dalam hadits kain al aswad al bahim (hitam legam) dan memiliki dua titik di atas matanya. (HR. Muslim no. 1572)

– Jin dalam wujud ular. (HR. Muslim no. 2233, 2236)

– dll

Untuk jenis ini diakui dan dibenarkan bahwa jin bisa dilihat dalam wujud bukan aslinya, tapi dalam berbagai bentuk yang diizinkan Allah Ta’ala.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah menjelaskan:

فإن الكلب الأسود شيطان الكلاب، والجن تتصور بصورته كثيرًا، وكذلك بصورة القط الأسود؛ لأن السواد أجمع للقوى الشيطانية من غيره، وفيه قوة الحرارة

“Sesungguhnya anjing hitam adalah syetannya anjing-anjing, dan jin bisa berupa wujud yang banyak rupa, demikian pula kucing hitam, sebab hitam merupakan pusat kumpulan kekuatan syaitaniyah dibanding lainnya, dan terdapat panas yang kuat.” (Majmu’ Fatawa, 19/52)

Ada pun ayat Al Quran yang menceritakan bahwa syetan tidak bisa dilihat, maksudnya adalah dalam wujud aslinya.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

إن الشيطان قد يتصور ببعض الصور، فتمكن رؤيته، وأن قوله تعالى: إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ، مخصوص بما إذا كان على صورته التي خلق عليها

Sesungguhnya syetan tampil dalam berbagai bentuk dan rupa, sehingga dimungkinkan untuk melihatnya. Ada pun firmanNya: “Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” Maksudnya adalah khusus tentang syetan dalam wujud ciptaan aslinya.

(Fathul Bari, 4/489)

Semoga Allah Ta’ala bimbing kita dalam pemahaman yang lurus berdasarkan Al Quran, As Sunnah, dan penjelasan para ulama.

Demikian. Wallahu a’lam

🌺🌿🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top