Hadits Tentang Lima Malam Di Mana Doa Tidak Tertolak

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Bunyinya:

خمس ليال لا تُرد فيهن الدعوة: أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر

Ada lima malam, tidak akan ditolak doa pada malam-malam tersebut:

1. Malam pertama bulan Rajab
2. Malam nishfu Sya’ban
3. Malam Jumat
4. Malam Idul Fihtri
5. Malam Idul Adha

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Diriwayatkan oleh Imam ad Dailami, dalam Musnad al Firdaus no. 2975, dari Abu Umamah.

📌 Ucapan ini cukup dikenal sebagian masyarakat muslim.

Para ulama mengatakan, kalimat ini tidak sah disebut hadits Rasulullah ﷺ. Dalam Musnad al Firdaus pun disebut sebagai ucapan Abu Umamah.

📌 Al Lajnah Al Ifta, kerajaan Jordan, menulis sebagai berikut:

هذا ليس بحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم؛ إذ لم يروه علماء الحديث مسنداً إليه عليه الصلاة والسلام، إلا رواية الديلمي في “مسند الفردوس” (2/ 196)، وابن عساكر في “تاريخ دمشق” (10/ 408)، وفي إسناده إبراهيم بن أبي يحيى وآخرون متهمون، ولذلك ضعفه الحافظ ابن حجر رحمه الله في “التلخيص الحبير”.

Ini bukanlah hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebab tidak ada ulama hadits yg meriwayatnya secara bersanad, kecuali Ad Dailami dalam Musnad al Firdaus (2/196), dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi (10/408). Dalam sanadnya terdapat Ibrahim bin Abi Yahya dan lainnya, yang muttaham (tertuduh sebagai pendusta). Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar mendhaifkannya dalam At Talkhish al Habir. (Fatwa no. 1903)

📌 Imam Al Munawi mengatakan: Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, Ibnu Hajar mengatakan dalam Takhrij al Adzkar, hadits ini gharib, dan Abdurrahim bin Zaid al’ Amiy adalah salah satu perawi yang matruk (haditsnya ditinggal/tidak terpakai). Ibnul Jauzi berkata: “Tidak shahih, dan Abdurrahim menurut Yahya adakah Pendusta. An Nasa’i mengatakan: matruk (ditinggalkan). (Faidhul Qadir, jilid. 3, hal. 97)

📌 Namun demikian, ini dikenal sebagai ucapan sebagian salaf, di antaranya:

– Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma. (Imam Abdurrazzaq, Al Mushannaf, no. 7927. Imam Al Baihaqi, Syu’abul Iman no 3440)

– Imam asy Syafi’i. (Imam Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra no. 6293. Lihat juga Ma’ rifatus Sunan wal Aatsar no. 7028)

– Semantara ‘Atha al Khurasani Rahimahullah berkata:

خَمْسُ لَيَالٍ مَنْ أَقَامَهُنَّ: أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ يَقُومُهَا , وَيُصْبِحُ صَائمَا، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَقُومُهَا يُصْبِحُ صَائِمًا، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ يَقُومُهَا وَيُصْبِحُ مُفْطِرًا، وَلَيْلَةُ الْأَضْحَى يَقُومُهَا , وَيُصْبِحُ مُفْطِرًا، وَلَيْلَةُ عَاشُورَاءَ يَقُومُهَا , وَيُصْبِحُ صَائِمًا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَجْرَ شَهِيدٍ فِي حَيَاتِهِ , وَبَعْدَ مَمَاتِهِ

Ada lima malam, siapa yang QIYAM pada malam-malam itu:

1. Awal malam Rajab dia qiyam, lalu paginya puasa
2. Malam nishfu sya’ban dia qiyam, lalu paginya puasa
3. Malam Idul Fithri dia qiyam, lalu baginya tidak berpuasa
4. Malam Idul Adha dia qiyam, lalu paginya tidak berpuasa
5. Malam Asyura dia qiyam, lalu paginya puasa

MAKA, dia mendapatkan pahala mati syahid pada kehidupannya dan setelah kematiannya.

(Imam Yahya bin Husein Al Jurjaani, Tartib al Amaliy, no. 1784)

Maka, cukup meyakini sebagai ucapan sebagian salaf saja dan tidak menyandarkannya kepada Rasulullah ﷺ.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Doa Khusus Menyambut Rajab

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Izin bertanya ustadz apakah ada doa khusus memasuki bulan Rajab? jazakillah khayron katsiro. Oni, California,

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak ada yang shahih dari Rasulullah ﷺ tentang hal itu. Hanya saja, dalam kitab Latha’if Al Ma’arif (Hal. 155, Penerbit Dar Ibn al Jauzi, Kairo), Imam Ibnu Rajab al Hambali Rahimahullah, menyebutkan tentang sebuah hadits yg menyebutkan doa yang dibaca saat memasuki bulan Rajab, yaitu: Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ berdoa saat memasuki bulan Rajab:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada Ramadhan.

(HR. Ath Thabarani, Al Awsath, no. 3939. Al Baihaqi, Syu’ab al Iman no. 3534)

Namun, hadits ini dinyatakan dha’if (lemah), oleh para imam pakar hadits seperti:

– Imam an Nawawi (Al Adzkar, hal. 170),

– Imam al Munawi (Faidhul Qadir, jilid. 6, hal. 465),

– Syaikh Syuaib al Arnauth (Tahqiq Musnad Ahmad, jilid. 4, hal. 180)

– dan lainnya, termasuk didha’ifkan pula oleh Imam Ibnu Rajab sendiri.

Mungkin, sebagian manusia bertanya kenapa hadits dha’if dipakai juga oleh para ulama? Ternyata, umumnya ulama memang tidak mempermasalahkan hadits dha’if jika bertemakan fadhailul a’mal, yaitu tentang akhlak, anjuran amal shalih, doa, dan semisal ini. Selama bukan untuk dasar aqidah dan halal haram.

Imam an Nawawi Rahimahullah mengatakan:

قَدَّمْنَا اتِّفَاقَ الْعُلَمَاءِ عَلَى الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ دُونَ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ

Kami telah sampaikan kesepakatan ulama tentang bolehnya beramal dengan hadits dhaif dalam fadhailul a’mal, selain urusan halal haram.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, jilid. 3, hal. 248)

Imam al Hathab al Maliki Rahimahullah mengatakan:

اتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى جَوَازِ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ

Para ulama telah sepakat bolehnya mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhailul a’mal.

(Mawahib al Jalil, jilid. 1, hal. 17)

Sebagian kecil ulama ada yang tetap menolak hadits dha’if dijadikan dasar fadhailul a’mal, seperti Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnul ‘Arabi, Syaiky Ahmad Syakir, Syaikh al Albani, dll.

Ada pun hadits di atas oleh Imam Ibnu Rajab Rahimahullah disebutkan sebagai DALIL, padahal dia juga menyebut kelemahannya. Beliau berkata:

فَإِنَّ هَذَا الْإِسْنَادَ فِيهِ ضَعْفٌ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِحْبَابِ الدُّعَاءِ بِالْبَقَاءِ إِلَى الْأَزْمَانِ الْفَاضِلَةِ لِإِدْرَاكِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ فِيهَا فَإِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَزِيدُهُ عُمُرُهُ إِلَّا خَيْرًا وَخَيْرَ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Pada isnad hadits ini ada kelemahan, dan hadits ini terdapat DALIL bahwa hal yang disukai (sunnah) berdoa menjelang momen-momen yang yang memiliki keutamaan agar bisa mengisinya dengan amal shalih di dalamnya, dan seorang mukmin tidaklah bertambah usianya kecuali dengan berbuat baik, dan manusia terbaik adalah yang panjang usianya dan amalnya semakin baik.”

(Latha’if Al Ma’arif, hal. 155)

Namun demikian, pembolehan pemakaian hadits dha’if untuk fadhailul a’mal terikat oleh syarat, yaitu:

شَرْطُ الْعَمَلِ بِالْحَدِيثِ الضَّعِيفِ فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ أَنْ لَا يَكُونَ شَدِيدَ الضَّعْفِ، وَأَنْ يَدْخُلَ تَحْتَ أَصْلٍ عَامٍّ، وَأَنْ لَا يَعْتَقِدَ سُنِّيَّتَهُ بِذَلِكَ الْحَدِيثِ

Syarat mengamalkan hadits dhaif dalam urusan fadhailul a’mal, adalah:
– kedhaifannya tidak terlalu
– kandungannya masih sesuai cakupan umum prinsip Islam
– tidak meyakini kesunahannya (dari Rasulullah ﷺ ) pada hadits itu.

(Imam Khathib asy Syarbini, Mughni Muhtaj, jilid. 1, hal. 194)

Kesimpulannya, tidak mengapa menurut mayoritas ulama berdoa dengan “meminjam” redaksi doa di atas untuk menyambut Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, walau itu hadits dha’if, dengan syarat: tidak meyakininya sebagai dari sunnah. Di sisi lain hadits tersebut juga bagus isinya dan bukan hadits palsu atau kedha’ifan yang sangat.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Berbaik Sangka Kepada Allah Ta’ala dikala Sakit

💢💢💢💢💢💢💢💢

📌 Seluruh manusia pernah sakit, beriring dengan masa-masa sehatnya

📌 Sakit itu salah satu ujian, sebagaimana ujian lainnya ada yang lulus dan ada yang gagal

📌 Yang lulus ujian, Allah Ta’ala angkat derajatnya menjadi hamba terbaik:

إِنَّا وَجَدۡنَٰهُ صَابِرٗاۚ نِّعۡمَ ٱلۡعَبۡدُ إِنَّهُۥٓ أَوَّابٞ

Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).

(QS. Shad: 44)

📌 Yang gagal atas ujian, dia murka, maka Allah Ta’ala pun murka padanya.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya ketika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya, barang siapa ridha maka ia mendapat keridhaan, dan barang siapa murka, maka ia mendapat kemurkaan”. (HR. At-Tirmidzi no. 2396, hadits hasan)

📌 Oleh krn itu, berbaik sangkalah kepada Allah Ta’ala disaat sakit

Imam Al ‘Aini menyebutkan:

إِحْسَان الظَّن بِاللَّه عز وَجل وبالمسلمين وَاجِب

Berbaik sangka kepada Allah dan kaum muslimin adalah wajib.

(‘Umdatul Qaari, 20/133)

📌 Maka, ingat-ingatlah… barangkali penyakit itu penghapus dosa-dosa kita

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, gelisah, sedih, gangguan, murung, sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan Allah akan jadikan itu sebagai penghapus kesalahannya. (HR. Bukhari no. 5641)

📌 Atau bisa jadi, itu adalah hukuman disegerakan di dunia agar di akhirat dia sudah bebas, maka berbagialah..

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hamba-Nya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari kiamat.

(HR. At Tirmidzi no. 2396, hasan shahih)

📌 Beginilah cara mukmin memandang takdir Allah Ta’ala atas dirinya, walau takdir yang buruk, semua keadaan adalah baik baginya.

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Sungguh mengagumkan orang beriman itu, sesungguhnya semua perihalnya baik baginya, dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.”

(HR. Muslim no. 2999)

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Sucikah Air Banjir?

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Titip pertanyaan tadz Ustadz, Apa air banjir itu masuk kategori najis

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim…

Rasulullah bersabda :

إِنَّ اَلْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ, إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ, وَلَوْنِهِ

Sesungguhnya air itu tidak ada sesuatu yang bisa menjadikannya najis KECUALI, jika sudah berubah aroma, rasa, dan warna.

(HR. Ibnu Majah no 521)

Hadits didha’ifkan para ulama seperti Imam asy Syafi’i, Imam Abu Hatim, Imam an Nawawi mengatakan ulama sepakat atas kedha’ifannya, Imam az Zaila’i, dll. (Khulashah al Badr al Munir, 1/8, Al Majmu’, 1/110, Nashbur Rayah, 1/94)

Namun, walau hadits ini dha’if, para ulama telah ijma’ bahwa jika salah satu dari tiga sifat air tsb berubah maka air sudah tidak lagi suci.

Imam Ibnul Mundzir Rahimahullah berkata:

و أجمعوا على أن الماء القليل والكثير إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت له طعماً، أو لوناً، أو ريحاً أنه نجس مادام كذلك

Para ulama telah ijma’ bahwa air yang sedikit dan BANYAK, jika terkena najis lalu berubah rasa, warna, dan aroma, maka dia menjadi najis, selama memang seperti itu.

(Mausu’ah al Ijma’, hal. 16)

Imam ash Shan’ani mengatakan:

فالإجماع هو الدليل على نجاسة ما تغير أحد أوصافه

Maka, ijma’ adalah merupakan dalil atas kenajisan sesuatu yang telah berubah salah satu sifat-sifatnya.

(Subulus Salam, 1/19)

MAKA, Air banjir tetap tidak dibenarkan untuk bersuci sebab warnanya telah menguning, coklat, bau lumpur,.. Maka sifat dasar air suci sdh berubah, walau air itu jutaan kibik tapi berubah 3 sifat dasar air suci maka tidak boleh utk bersuci.

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah mengatakan:

وقد اجمع العلماء على ان الماء المتغير بأحد الأوصاف الثلاثة متنجس و إن كام قدر البحر

Para ulama telah ijma’ bahwa air yang telah berubah salah satu sifatnya yang tiga itu, maka menjadi najis, walau air itu SEBANYAK LAUTAN.

(Mishbahuzh Zhalam, 1/35)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top