Alternatif Ibadah Saat Menstruasi

Haidh sering diistilahkan dengan “halangan”. Maksudnya adalah orang yang mendapat haidh berhalangan untuk melakukan sholat dan beberapa ibadah lain. Istilah halangan ini harusnya dipahami hanya untuk ibadah yang jelas larangannya dikerjakan saat haid, dan bukan berarti menghalangi untuk tetap mendulang pahala amal sholeh sebanyak-banyaknya. Diperlukan kreatifitas untuk bisa mendulang pahala ketika beberapa ibadah terhalang untuk dilakukan.

Meski “menghalangi”, tapi haidh punya hikmah karena apa yang telah diatur oleh Allah swt tidak ada yang sia-sia. Di antara hikmah tamu bulanan yang menghampiri kaum wanita ini, seperti yang ditulis oleh Syaikh Utsaimin dalam Fid Dimaa’ Ath-Thabii’iyah Lin Nisaa’ adalah:

Adapun hikmahnya, bahwa karena janin yang ada didalam kandungan ibu tidak dapat memakan sebagaimana yang dimakan oleh anak yang berada di luar kandungan, dan tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya, maka Allah Ta’ala telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dimakan dan dicerna, yang sampai kepada tubuh janin melalui tali pusar, dimana darah tersebut merasuk melalui urat dan menjadi zat makanannya. Maha Mulia Allah, Dialah sebaik-baik Pencipta.

Agar bisa mendulang pahala selagi haid, maka harus kita ketahui dulu apa saja yang ibadah yang terhalang dilakukan semasa haid. Setelah itu kita bisa maksimalkan ibadah yang tidak terlarang untuk dikerjakan.

Ibadah yang terlarang dilakukan saat haidh:

1. Sholat.

Dari Aisyah ra berkata, Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, Darah haid itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu, janganlah shalat. Bila sudah selesai, maka berwudhu’lah dan lakukan shalat. .

Dari Aisyah ra. berkata, Di zaman Rasulullah SAW dahulu kami mendapat haid, lalu kami diperintahkan untuk mengqada` puasa dan tidak diperintah untuk mengqada` salat. .

Selain itu juga ada hadis lainnya:

`Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan salat.

2. Puasa

Wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang menjalankan puasa dan untuk itu ia diwajibkannya untuk menggantikannya dihari yang lain.

Dari Abi Said Al-Khudhri ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bukankah bila wanita mendapat hatdh, dia tidak boleh shalat dan puasa?

3. Mandi dan Berwudhu’

As Syafi`iyah dan al-Hanabilah mengatakan bahwa `wanita yang sedang mendapatkan haid diharamkan berwudu`dan mandi janabah. Maksudnya adalah bahwa seorang yang sedang mendapatkan haid dan darah masih mengalir, lalu berniat untuk bersuci dari hadats besarnya itu dengan cara berwudhu’ atau mandi janabah, seolah-olah darah haidnya sudah selesai, padahal belum selesai.

Berbeda dengan mandi yang tidak diniatkan untuk bersuci dari hadats besar atau kecil, itu bukan halangan.

4. Tawaf

Seorang wanita yang sedang mendapatkan haid dilarang melakukan tawaf. Sedangkan semua praktek ibadah haji tetap boleh dilakukan. Sebab tawaf itu mensyaratkan seseorang suci dari hadas besar.

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Bila kamu mendapat haid, lakukan semua praktek ibadah haji kecuali bertawaf di sekeliling ka`bah hingga kamu suci. (HR Muslim)

5. Berhubungan Suami Istri

“Oleh sebab itu, hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kalian mendekati mereka sebelum mereka suci “(Al-Baqoroh: 222)

Itu adalah amalan-amalan yang disepakati ulama bahwa terlarang dilakukan saat haid.

6. Menyentuh Mushaf

Allah SWT berfirman di dalam Al-Quran Al-Kariem tentang menyentuh Al-Quran: “Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci “(QS. Al Waqi’ah: 79)

Tetapi untuk membaca Qur’an, para ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)

Dari daftar amalan yang dilarang di atas, maka tampak jelas sebenarnya ada banyak amalan yang tidak terlarang untuk dilakukan. Seperti antara lain:

Amalan yang Tak Terlarang Saat Haidh:

1. Berdzikir.

Hakikat sholat adalah untuk berdzikir kepada Allah. Tapi larangan sholat tidak berarti terlarang untuk berdzikir kepada Allah. Berdzikir bisa menjadi amalan pengganti sholat agar kita bisa mendulang pahala sebanyak-banyaknya saat haid.

Berdzikir sendiri diperlukan oleh wanita haid karena wanita yang sedang berhalangan biasanya memiliki mood yang tidak stabil. Dengan dzikir, maka hati akan tenang. Sehingga ketidak-stabilan mood bisa diredam.

2. Bersedekah dan Memberi Makan Orang Miskin.

Haid menghalangi muslimah untuk berpuasa. Penggantinya, bisa saja kita membatalkan “puasa” orang miskin yang lapar karena ketidak-punyaannya. Hikmah puasa salah satunya adalah agar kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang yang tidak punya. Dengan begitu, akan memicu diri kita untuk bersimpati dan mencoba berbagi dengan mereka. Bila kita terbiasa berpuasa sunnah, maka saat haid kita bisa mengaplikasikan hikmah puasa tersebut.

3. Menjaga Kebersihan

Karena hadits yang sudah kita hafal, bahwa kebersihan itu sebagian dari iman, maka tidak ada alasan untuk tetap menjaga kebersihan saat mandi wajib dan berwudhu’ terlarang. Mandi biasa yang tidak diniatkan untuk membersihkan hadats besar tentu tidak terlarang dilakukannya. Dan mandi yang asal hukumnya mubah itu tentu bisa menjadi berpahala manakala kita niatkan untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, menjaga niat menjadi penting. Selalu hadirkan niat kebaikan pada amalan-amalan mubah sekalipun, agar kita selalu mendulang pahala.

4. Ihram

Memang tawaf terlarang melakukannya saat haid, tapi ihram tidak. Nabi shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan Aisyah untuk mandi saat hendak ihram untuk haji padahal saat itu dia sedang haid. Diriwayatkan oleh Muslim.

5. Melayani Suami

Berhubungan suami istri memang mendapatkan pahala. Rasulullah bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

Tapi walau terhalang untuk melakukan hubungan suami istri, masih bisa meraih pahala dengan melayani suami dengan optimal. Karena pelayanan kepada suami pun terhitung sedekah.

6. Berinteraksi dengan Qur’an dengan cara mengulang hafalan, mendengar bacaan Qur’an, dan mentadaburinya.

Cara membaca Qur’an tanpa menyentuhnya salah satunya adalah dengan cara muroja’ah hafalan Qur’an. Mintalah suami untuk memeriksa hafalan anda. Selama sepekan waktu haid bisa dimaksimalkan dengan mengulang hafalan-hafalan qur’an.

Selain itu, tidak ada larangan untuk mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Hafalan bisa bertambah, dan bacaan pun bisa diperbaiki.

Selain itu tidak ada larangan juga untuk mentadaburi ayat-ayat Al-Qur’an.

Jadi, ada banyak jalan untuk mendulang pahala saat haid.

Pertarungan di Langit Antara Doa dan Bala

💢💢💢💢💢💢💢💢

📌 Kata orang atheis, doa hanyalah omong kosong dan hiburan orang-orang lemah

📌 Kata orang pesimis, doa itu tidak ada manfaatnya

📌 Kata orang sombong, yang penting usaha nyata, doa itu gak ngefek

📌 Sementara itu, kata Allah Ta’ala dalam Al Quran: “Berdoalah kepadaKu niscaya aku kabulkan.” (QS. Ghafir: 60)

📌 Kata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits: Doa itu senjata orang beriman – ad du’a silaahul mu’min.

(HR. Al Hakim no. 1812, katanya: shahih. Imam Asy Syaukani: Dihasankan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Wilayatullah wath Thariq Ilaiha, hal. 483)

📌 Tentunya tidak lupa dengan berusaha dan berikhtiar, karena doa dan usaha adalah sebab syar’i yang yang mesti dilakukan manusia.

📌 Maka, ikhtiarlah sebaik-baiknya dan berdoalah sebanyak-banyaknya agar doa dan usaha itu menjadi pemenang dalam “Pertarungan antara doa dan bala”.

📌 Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

وَإِنَّ الدُّعَاءَ لَيَلْقَى الْبَلَاءَ، فَيَعْتَلِجَانِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya doa berjumpa dengan bala (musibah), mereka berdua bertarung sengit sampai hari kiamat.

(HR. Ath Thabarani dalam Al Awsath, no. 2498. Al Hakim berkata: shahih. Lihat Al Mustadrak no. 1813. Sementara Syaikh Al Albani menyatakan hasan. Lihat Shahihul Jaami’ no. 7739)

📌 Maka menangkanlah pertarungan itu dengan berdoa sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya, jangan pernah bosan, dan penuhilah adab-adab berdoa.

📌 Sebab, kata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sesungguhnya qadha tidaklah bisa ditolak kecuali dengan doa. (HR. At Tirmidzi, dishahihkan oleh Al Hakim dan Ibnu Hibban. Al Badrul Munir, 9/174)

Wallahu A’lam wal Musta’an

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Uniknya Perbuatan Generasi Salaf

1. Ali Zainal Abidin Shalat 1000 rekaat sehari semalam

Imam Adz-Zahabi menyebutkan dalam Siyar A’lam An-Nubala:

أنه كان يصلي في كل يوم وليلة ألف ركعة إلى أن مات. وكان يسمى زين العابدين لعبادته

“Ali Zainal Abidin, ia melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak seribu rakaat hingga ia wafat. Ia disebut Zain al-‘Abidin (perhiasan para ahli ibadah), karena ibadahnya.[1]

Siapakah Ali Zainal Abidin?

Adz-Zahabi menjelaskan:

علي بن الحسين بن الامام علي بن أبي طالب بن عبدالمطلب بن هاشم بن عبد مناف، السيد الامام، زين العابدين، الهاشمي العلوي، المدني. يكنى أبا الحسين ويقال: أبو الحسن، ويقال: أبو محمد، ويقال: أبو عبد الله. وأمه أم ولد، اسمها سلامة سلافة بنت ملك العرس يزدجرد، وقيل: غزالة. ولد في سنة ثمان وثلاثين ظنا. وحدث عن أبيه الحسين الشهيد، وكان معه يوم كائنة كربلاء وله ثلاث وعشرون سنة

“Beliau adalah Ali bin al -Husain bin Imam Ali bin Abi Thalib bin Abdil Muththalib bin Hasyim  bin ‘Abdi Manaf. Bergelar Zain al-‘Abidin, al-Hasyimi (keturunan Bani Hasyim), al-‘Alawy (keturunan Ali), al-Madani (lahir dan besar di Madinah). Kunyah (panggilannya) Abu al-Husain. Juga disebut Abu al-Hasan. Juga disebut Abu Muhamad. Juga disebut Abu Abdillah. Ibunya adalah sahaya bernama Salamah binti Sulafah puteri Raja Persia bernama Yazdajard. Ada juga menyebut namanya Ghazzalah. Ia lahir pada tahun 38 Hijrah, perkiraan. Ia meriwayatkan hadits dari al-Husain ayahnya yang mati syahid. Ia bersama dengan al-Husain pada peristiwa Karbala’, saat itu ia berusia 23 tahun[2]

2. Ali bin Abdillah bin Abbas (Anak Abdullah bin Abbas): 1000 Kali Sujud Dalam Sehari.

عن الاوزاعي وغيره أنه كان يصلي في اليوم ألف سجدة

“Diriwayatkan dari Imam al-Auza’i dan ulama lainnya bahwa Ali bin Abdillah bin Abbas shalat satu hari 1000 kali sujud.[3]

Siapa Ali bin Abdillah bin Abbas?

Imam Adz-Dzahabi menyebutkan:

علي بن عبد الله ابن عباس بن عبدالمطلب بن هاشم بن عبد مناف الامام القانت أبو محمد الهاشمي المدني السجاد. ولد عام قتل الامام علي، فسمي باسمه حدث عن أبيه ابن عباس، وأبي هريرة، وابن عمر، وأبي سعيد وجماعة

“Beliau adalah Imam Ali bin Abdillah bin Abbas bin Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf. Seorang imam. Ahli ibadah. Disebut Abu Muhammad. Al-Hasyimi (keturunan Bani Hasyim). Al-Madani (berasal dari Madinah). As-Sajjad (ahli sujud/ibadah). Dilahirkan pada tahun terbunuhnya Imam Ali bin Abi Thalib, lalu ia diberi nama dengan nama Imam Ali. Ia meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abbas ayah kandungnya. Ia juga meriwayatkan hadits
dari Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abu Sa’id al-Khudri dan para shahabat lainnya.[4]

3. Amir bin ‘Abd Qais, Shalat Dari Terbit Matahari Sampai ‘Ashar.

كان عامر لا يزال يصلي من طلوع الشمس إلى العصر، فينصرف وقد انتعخت ساقاه فيقول: يا أمارة بالسوء، إنما خلقت للعبادة

‘Amir bin ‘Abd Qais selalu melaksanakan shalat dari sejak terbit matahari hingga waktu ‘Ashar. Kemudian setelah itu ia berhenti, hingga kedua kakinya bengkak. Ia berkata, “Wahai nafsu yang selalu menyuruh kepada keburukan, sesungguhnya engkau diciptakan hanya untuk beribadah!”[5]

Siapa ‘Amir bin ‘Abd Qais?

Imam adz-Dzahabi menjelaskan siapa ‘Amir bin ‘Abd Qais:

عامر بن عبد قيس القدوة الولي الزاهد أبو عبد الله، ويقال: أبو عمرو التميمي، العنبري، البصري. روى عن عمر وسلمان. وعنه: الحسن، ومحمد بن سيرين، وأبو عبد الرحمن الحبلي وغيرهم، وقلما روى. قال العجلي: كان ثقة من عباد التابعين، رآه كعب الاحبار فقال: هذا راهب هذه الامة.وقال أبو عبيد في ” القراءات :” كان عامر بن عبد الله الذي يعرف بابن عبد قيس يقرئ الناس

‘Amir bin ‘Abd Qais, seorang suri tauladan, penolong agama Allah, seorang yang zuhud. Dipanggil Abu Abdillah. Ada juga yang mengatakan ia dipanggil Abu ‘Amr. Berasal dari Tamim. Orang ‘Anbar. Menetap di Bashrah (Irak). Meriwayatkan hadits dari Umar bin al-Khattab dan Salman al-Farisi. Para perawi yang meriwayatkan hadits darinya adalah Imam al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, Abu Abdirrahman al-Habli dan selain mereka. Ia jarang meriwayatkan. Imam al-‘Ijli berkata, “Ia seorang yang tsiqah (terpercaya). Ahli ibadah dari kalangan Tabi’in. suatu ketika Ka’b al-Ahbar melihatnya, maka Ka’b al-Ahbar berkata, “Inilah rahib ummat ini”. Abu ‘Ubaid berkata dalam al-Qira’at, “’Amir bin Abdillah yang dikenal dengan Ibnu ‘Abd Qais membacakan qira’at kepada manusia (ia ahli qira’at)[6]

4. Baqi bin Makhlad, Khatam al-Qur’an Setiap Malam, Shalat Siang 100 Rakaat, Puasa Setiap Hari.

كان بقي يختم القرآن كل ليلة، في ثلاث عشرة ركعة، وكان يصلي بالنهار مئة ركعة، ويصوم الدهر

 “Baqi bin Makhlad mengkhatamkan al-Qur’an setiap malam dalam shalat 13 rakaat. Shalat 100 rekaat di siang hari dan puasa sepanjang tahun.[7]

Siapa Baqi bin Makhlad? Imam adz-Dzahabi menjelaskan:

بقي بن مخلد . ابن يزيد: الامام، القدوة، شيخ الاسلام، أبو عبد الرحمن الاندلسي القرطبي، الحافظ، صاحب ” التعسير ” والمسند ” اللذين لا نظير لهما. ولد في حدود سنة مئتين، أو قبلها بقليل.

“Baqi bin Makhlad. Ibnu Yazid, seorang imam, seorang tauladan, bergelar Syaikhul Islam. Abu Abdirrahman, orang Andalusia, dari Cordova. Seorang al-Hafizh. Penulis kitab Tafsir dan alMusnad (kitab hadits) yang tidak ada tandingannya. Lahir pada batas tahun dua ratus, atau sedikit sebelum itu94. Ini menunjukkan bahwa Imam Baqi bin Makhlad masih tergolong kalangan Salaf (tiga abad pertama Hijrah).

وكان إماما مجتهدا صالحا، ربانيا صادقا مخلصا، رأسا في العلم والعمل، عديم المثل، منقطا القرين، يعتي بالاثر، ولا يقلد أحدا.

Imam Baqi bin Makhlad seorang imam mujtahid, shaleh, rabbani, jujur, ikhlas, induk dalam ilmu dan amal, tidak ada bandingannya, tidak banyak bergaul (karena ibadah), berfatwa berdasarkan atsar, tidak bertaqlid kepada seorang pun.[8]

5. Imam Ahmad bin Hambal Shalat 300 Rakaat Sehari Semalam.

قال عبد الله بن أحمد: كان أبي يصلي في كل يوم وليلة ثلاث مئة ركعة. فلما مرض من تلك الاسواط، أضععته، فكان يصلي كل يوم وليلة مئة وخمسين ركعة

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal berkata, “Ayah saya melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak tiga ratus rakaat. Ketika ia sakit disebabkan cambukan (karena fitnah khalq al-Qur’an), membuatnya lemah, ia shalat sehari semalam sebanyak seratus lima puluh rakaat”.(Adz-Zahabi (784H),Siyar A’lam Nubala: 212)

6. Imam Ahmad bin Hambal Berdoa Untuk Imam Syafi’i Dalam Shalat Selama 40 Tahun.

أحمد بن حنبل يقول إنى لأدعو الله للشافعى فى صلاتى منذ أربعين سنة يقول اللهم اغفرلى ولوالدى ولمحمد بن إدريس الشافعى

 “Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku mendoakan Imam Syafi’i dalam shalatku sejak empat puluh tahun”. Imam Ahmad bin Hanbal mengucapkan doa, “Ya Allah, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan Muhammad bin Idris asy-Syafi’i”.[9]

=====

والله أعلم

Fauzan Sugiono Lc MA


[1] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.392

[2] Imam adz-Dzahabi, siyar A’lam An-Nubala juz.IV, hal.387

[3] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.284

[4] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.284

[5] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.18

[6] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.15

[7] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.292

[8] Imam adz-Dzahabi, Siyar A’lam An-Nubala, juz.IV, hal.286

[9] Imam Tajuddin as-Subki, Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, juz.III (Hajar li ath-Thiba’ah wa an-Nasyr
wa at-Tauzi’, 1413H), hal.300; al-Baihaqi, Manaqib asy-Syafi’i, juz.II, hal.254.

Berikan Jeda Antara Shalat Wajib dan Sunnah Rawatib

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Apakah untuk melaksanakan shalat sunah setelah shalat wajib, harus ada jeda (dari salam mengakhiri shalat wajib tidak langsung lanjut takbiratul ikram shalat sunnah) dan harus pindah posisi meskipun sedikit?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Ya, menyambung dari salam shalat wajib langsung ke shalat ba’diyah itu makruh, hendaknya ada jeda baik dzikir, pembicaraan, atau pindah tempat.

Saib Radhiallahu ‘Anhu
berkata:

صَلَّيْتُ مَعَهُ الْجُمُعَةَ فِي الْمَقْصُورَةِ فَلَمَّا سَلَّمَ الْإِمَامُ قُمْتُ فِي مَقَامِي فَصَلَّيْتُ فَلَمَّا دَخَلَ أَرْسَلَ إِلَيَّ فَقَالَ لَا تَعُدْ لِمَا فَعَلْتَ إِذَا صَلَّيْتَ الْجُمُعَةَ فَلَا تَصِلْهَا بِصَلَاةٍ حَتَّى تَكَلَّمَ أَوْ تَخْرُجَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لَا تُوصَلَ صَلَاةٌ بِصَلَاةٍ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ

Aku pernah shalat Jumat bersama Mu’awiyah di dalam Maqshurah (suatu ruangan yang dibangun di dalam masjid). Setelah imam salam aku berdiri di tempatku kemudian aku menunaikan shalat sunnah. Ketika Mu’awiyah masuk, ia mengutus seseorang kepadaku dan utusan itu mengatakan, ‘Jangan kamu ulangi perbuatanmu tadi. Jika kamu telah selesai mengerjakan shalat Jumat, janganlah kamu sambung dengan shalat sunnah sebelum kamu berbincang-bincang atau sebelum kamu keluar dari masjid. Karena Rasulullah ﷺ memerintahkan hal itu kepada kita yaitu ‘Janganlah suatu shalat disambung dengan shalat lain, kecuali setelah kita mengucapkan kata-kata atau keluar dari Masjid.'” (HR. Muslim no. 883)

Hadits ini menunjukkan larangan menyambungkan shalat wajib dan sunnah tanpa jeda. Namun larangan ini tidak bermakna haram, melainkan makruh krn meninggalkan anjuran melakukan jeda.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

فيه دليل لما قاله أصحابنا أن النافلة الراتبة وغيرها يستحب أن يتحول لها عن موضع الفريضة إلى موضع آخر، وأفضله التحول إلى البيت، وإلا فموضع آخر من المسجد أو غيره ليكثر مواضع سجوده، ولتنفصل صورة النافلة عن صورة الفريضة. وقوله “حتى نتكلم” دليل على أن الفصل بينهما يحصل بالكلام أيضاً ولكن بالانتقال أفضل لما ذكرناه. والله أعلم

Ini adalah dalil apa yang dikatakan para sahabat kami (Syafi’iyyah) bahwa shalat sunah rawatib dan lainnya disunnahkan untuk berpindah tempat dari tempat shalat wajib ke tempat lain, paling afdhal adalah pindah ke rumah, paling tidak pindah ke tempat lain di masjid tersebut atau lainnya untuk meperbanyak tempat sujudnya, dan untuk memisahkan antara gambaran aktivitas shalat sunnah dari aktivitas shalat wajib. “Sampai kami berbicara” adalah dalil bahwa memisahkan antara keduanya dengan berbicara juga, tetapi berpindah itu lebih utama seperti yang telah kami sebutkan. Wallahu A’lam. (Syarh Shahih Muslim, 6/170)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

والسنة أن يفصل بين الفرض والنفل في الجمعة وغيرها، كما ثبت عنه في الصحيح أنه صلى الله عليه وسلم نهى أن توصل صلاة بصلاة حتى يفصل بينهما بقيام أو كلام، فلا يفعل ما يفعله كثير من الناس يصل السلام بركعتي السنة، فإن هذا ركوب لنهي النبي صلى الله عليه وسلم، وفي هذا من الحكمة التمييز بين الفرض وغير الفرض، كما يميز بين العبادة وغير العبادة

Sunnahnya adalah memisahkan antara shalat fardhu dan sunnah pada shalat Jumat dan selainnya, sebagaimana telah shahih bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang menyambung shalat yang satu ke shalat lagi sampai dia memisahkannya dengan berdiri atau bicara, maka janganlah melakukan seperti kebanyakan orang menyambung setelah salam dengan dua rakaat sunnah, sebab itu telah menjalankan larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hikmah dari hal ini adalah untuk membedakan antara ibadah wajib dan selain wajib, sebagaimana membedakan antara ibadah dan bukan ibadah. (Fatawa Al Kubra, 2/359)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌷🌺🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top