Hukum Talfiq Dalam Mazhab

Definisi Talfiq

Talfiq adalah:

هو ما كان في المسألة الواحدة بالأخذ بأقوال عدد من الأئمة فيها، أما الأخذ بأقوال الأئمة في مسائل متعددة فليس تلفيقا، وإنما هو تنقل بين المذاهب أو تخير منها

Yaitu mengambil beberapa pendapat para imam dalam satu permasalahan, ada pun mengambil beberapa pendapat imam dalam beberapa permasalahan bukanlah talfiq, itu adalah menukil atau memilih di antara pendapat-pendapat mazhab.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 13/294)

Contoh talfiq:

– Dalam hal akad nikah, seseorang yang nikah tanpa wali dan tanpa saksi, hanya ada penganten, ijab qabul dan mahar. Alasannya, karena menurut Hanafiyah adanya wali bukanlah rukun nikah. Ada pun tanpa saksi, karena menurut Malikiyah saksi bukanlah rukun nikah. Ini adalah tatabbu’ ar rukhash (nyari yang enak-enak) dari perbedaan mazhab, ini tercela dan batil.

– Dalam hal shalat, seseorang meyakini mimisan tidak batal shalat, sebagaimana Syafi’iyah. Dia tidak ikut pendapat Hanafiyah yang menyatakan batal. Tp, saat yang bersamaan dia bersentuhan wanita bukan mahram, dia ambil pendapat Hanafiyah bahwa itu tidak batal wudhunya yang dapat membatalkan shalatnya, dia tidak ambil pendapat Syafi’iyyah yang mengatakan batal.

Hukum Talfiq

Imam Ibnu ‘Abidin mengatakan:

والْحُكْمَ الْمُلَفَّقَ بَاطِلٌ بِالإِْجْمَاعِ

Keputusan hukum berdasarkan talfiq adalah batil berdasarkan ijma’. (Hasyiyah Ibnu ‘Abidin, 4/363)

Adakah talfiq yang diperbolehkan?

– Jika talfiq tersebut adalah mencampur beberapa pendapat mazhab dalam satu masalah, atas dasar hawa nafsu, mencari yang ringan-ringan dan enak-enak, maka ini terlarang dan tidak ada beda pendapat ulama dalam larangannya.

– Jika talfiq terjadi karena adanya situasi haraj (sulit) atau masyaqqah (sempit/payah), maka hal itu diperbolehkan.

Misal, seorang khathib yang ikut Syafi’iyyah meyakini bahwa Shalawat itu salah satu rukun khutbah Jumat, sedangkan menurut Malikiyah dan Hanafiyah bukan rukun. Lalu saat khutbah Jumat, dia kejatuhan tahi burung, dan itu najis menurut Syafi’iyyah. Jika dia keukeuh dengan pendapat itu, maka dia akan mengalami kesulitan, dia mesti ganti pakaian dulu, atau pulang dulu ganti pakaian, tentu ini mengacaukan prosesi khutbah dan shalat Jumat. Dalam kondisi seperti itu, dia boleh ambil pendapat Malikiyah yang mengatakan kotoran burung itu bukan najis, sementara itu menurut Malikiyah Shalawat bukanlah rukun khutbah. Ini boleh dilakukan untuk raf’ul haraj (menghilangkan kesulitan) bagi dirinya dan mendapatkan maslahat bagi jamaah. Kasus-kasus seperti ini juga dilakukan para ulama terdahulu.

– Sebagian ulama membolehkan talfiq jika didasari tarjih, adu kuat dalil, bukan mencari yg enak-enak, di antara yg menyatakan demikian adl Syaikh Ahmad Ad Dusuqi Al Maliki. (Hasyiyah Ad Dusuqi, 1/20). Ini bukan domain org awam.

Ini juga pendapat Imam Ar Ruhaibani Al Hambali:

وَاَلَّذِي أَذْهَبُ إلَيْهِ وَأَخْتَارُهُ : الْقَوْلُ بِجَوَازِ التَّقْلِيدِ فِي التَّلْفِيقِ ، لَا بِقَصْدِ تَتَبُّعِ ذَلِكَ ؛ لِأَنَّ مَنْ تَتَبَّعَ الرُّخَصَ فَسَقَ

Pendapat yang aku ikuti dan aku pilih adalah pendapat yg mengatakan bolehnya taklid dalam talfiq, bukan bermaksud untuk mencari yang ringan-ringan, karena mencari yang ringan-ringan adalah kefasikan.

(Mathalib Ulin Nuha, 1/391)

Yang Bukan Talfiq

Ada pun mengikuti mazhab tertentu dalam satu masalah, lalu dia ikut mazhab lain dalam masalah lain, maka ini bukan talfiq.

Syaikh Walid bin Rasyid As Su’aidan mengutip dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam Rahimahullah, pemuka madzhab Syafi’i yang dijuluki Sulthanul ‘Ulama di masanya:

يجوز تقليد كل واحدٍ من الأئمة الأربعة رضي الله عنهم ، ويجوز لكل واحدٍ أن يقلد واحداً منهم في مسألة ويقلد إماماً آخر منهم في مسألة أخرى ، ولا يجوز تتبع الرخص

Diperbolehkan taklid terhadap salah satu imam madzhab yang empat, dan setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari pendapat mereka dalam satu masalah dan mengikuti pendapat imam lainnya dalam masalah yang lain, namun tidak diperkenankan mencari-cari rukhshah (yang gampang-gampang). (Syaikh Walid bin Rasyid As Su’aidan,

Ta’rif ath Thulab bi Ushul al Fiqh fi Su’al wa Jawab, hal. 102)

Syaikh Abdul Fattah Rawwah Al Makki menjelaskan:

(انه) يجوز تقليد كل واحد من الآئمة الآربعة رضي الله عنهم ويجوز لكل واحد آن يقلد واحدا منهم فى مسالة ويقلد اماما آخر في مسالة آخرى ولا يتعين تقليد واحد بعينه في كل المسائل

Bahwa sesungguh nya diperbolehkan taklid terhadap salah satu imam madzhab yang empat, dan setiap orang boleh saja mengikuti salah satu dari mereka dalam satu masalah dan mengikuti imam lainnya dalam masalah yang lain. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan mengikuti satu mazhab dalam semua masalah.

(Syaikh Abdul Fattah Rawwah Al Makki, Al Ifshah ‘ala Masailil Idhah ‘alal Madzahib al Arba’ah, hal. 219)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Lebih Baik Tahajud Berjamaah Atau Sendiri Aja?

PERTANYAAN:

Mana lebih afdhal shalat tahajjud sendirian dengan baca bacaan ayat yang difahami artinya, ketimbang shalat berjamaah suami dengan bacaan ayat-ayat tidak dipahami artinya bahkan ayat yang kita tidak hafal? (Ustzh A Maemunah DSW Sulbar)

JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Shalat sunnah, umumnya dilakukan sendiri. Itulah yang lebih utama dibanding berjamaah, kecuali shalat sunnah tertentu seperti tarawih, istisqa, khusuf/kusuf, dan shalat di dua hari raya.

Imam An Nawawi menjelaskan:

أَنَّ النَّوَافِلَ لَا تُشْرَعُ الْجَمَاعَةُ فِيهَا إلَّا فِي الْعِيدَيْنِ وَالْكُسُوفَيْنِ وَالِاسْتِسْقَاءِ وَكَذَا التَّرَاوِيحُ وَالْوِتْرُ بَعْدَهَا إذَا قُلْنَا بِالْأَصَحِّ إنَّ الْجَمَاعَةَ فِيهَا أَفْضَلُ وَأَمَّا بَاقِي النَّوَافِلِ كَالسُّنَنِ الرَّاتِبَةِ مَعَ الْفَرَائِضِ وَالضُّحَى وَالنَّوَافِلِ الْمُطْلَقَةِ فَلَا تُشْرَعُ فِيهَا الْجَمَاعَةُ أَيْ لَا تُسْتَحَبُّ لَكِنْ لَوْ صَلَّاهَا جَمَاعَةً جَازَ وَلَا يُقَالُ إنَّهُ مَكْرُوهٌ وَقَدْ نَصَّ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ فِي مُخْتَصَرَيْ الْبُوَيْطِيِّ وَالرَّبِيعِ عَلَى أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِالْجَمَاعَةِ فِي النَّافِلَةِ وَدَلِيلُ جَوَازِهَا جَمَاعَةُ أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ فِي الصَّحِيحِ

ٍShalat nawafil (sunnah) tidaklah disyariatkan secara berjamaah kecuali shalat ‘id, gerhana (matahari dan bulan), istisqa’, demikian juga tarawih dan witir setelahnya. kami katakan dengan yang lebih shahih bahwa berjamaah pada shalat-shalat ini lebih utama. Ada pun shalat-shalat sunnah lainnya, seperti rawatib, dhuha, shalat mutlak, tidaklah disyariatkan berjamaah yaitu tidak mustahab (sunnah), tapi jika dilakukan berjamaah maka itu boleh, dan tidak dikatakan makruh. Imam Asy Syafi’i telah mengatakan dalam Mukhtashar Al Buwaithi dan Ar Rabi’, bahwa tidak apa-apa shalat sunnah berjamaah. Dalil kebolehannya sejumlah hadits yang banyak dalam kitab Shahih. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/55)

Maka, jika seseorang istri memilih sendiri shalat tahajud, maka itu sesuai keumuman keutamaan shalat sunnah yang memang lebih utama sendiri.

Ada pun jika berjamaah tahajud bersama suami, bukan berarti tidak ada keutamaan, itu pun memiliki keutamaan yang luar biasa berdasarkan hadits berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ أَهْلَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا أَوْ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ جَمِيعًا كُتِبَا فِي الذَّاكِرِينَ وَالذَّاكِرَاتِ

“Jika seorang laki-laki bangun tidur pada malam hari, lalu membangunkan isterinya untuk shalat dua rakaat bersama-sama (jami’an), maka mereka berdua dicatat sebagai orang yang banyak berdzikir. ” (HR. Abu Daud no. 1309. Imam An Nawawi menyatakan shahih. Lihat Riyadhushshalihin, hal. 134)

Shalat tahajudnya sendiri adalah sunnah, ada pun berjamaahnya adalah sekedar boleh saja selama tidak dilakukan sebagai kebiasaan.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

مَا لَيْسَ بِسُنَّةِ رَاتِبَةٍ مِثْلَ الِاجْتِمَاعِ لِصَلَاةِ تَطَوُّعٍ مِثْلَ قِيَامِ اللَّيْلِ أَوْ عَلَى قِرَاءَةِ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرِ اللَّهِ أَوْ دُعَاءٍ . فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ إذَا لَمْ يُتَّخَذْ عَادَةً رَاتِبَةً

Hal Sunah yang bukan rawatib, berkumpul untuk melaksanakan tathawwu’ (ibadah sunah), seperti qiyamullail, membaca Al Quran, dzikrullah, atau berdoa. Itu semua tidak apa-apa dilakukan berjamaah, jika tidak dijadikan kebiasaan. (Majmu’ Al Fatawa, 23/132)

Kadang, persoalan ini tidak bisa dipukul rata. Ada orang tertentu merasa lebih nikmat, syahdu, dan khusyu’ shalat malam secara berjamaah dengan imam yang bacaannya bagus dan merdu, dibanding dia shalat sendiri yang surat dibaca itu-itu lagi. Walau pun hukumnya tetap boleh, bisa jadi buat orang seperti ini -saat itu- dia lebih baik berjamaah dengan imam yang bagus itu dibanding dia shalat sendiri dengan bacaan yang tidak terlalu bagus dan tidak mengantarkannya kepada kekhusyukan.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Bid’ah Itu Tercela, Tapi Yang Bagaimana?

Bid’ah dalam agama adalah buruk dan terlarang, semua muslim tahu itu

Itu perbuatan yang sia-sia dan bahkan berdosa

Tapi, persoalannya adalah kriteria “suatu amalan” disebut bid’ah tercela itu seperti apa? Inilah yang menjadi sumber perdebatan manusia

Ada yg menyederhanakan: “Semua urusan agama yang belum ada pada masa Rasul” adalah bid’ah yang tercela.

Definisi seperti ini, efeknya bisa kemana-kemana. Jika semata-mata tidak ada di zaman nabi adalah bid’ah tercela maka: pembukuan Al Quran, ucapan taqabbalallahu minna Wa minkum saat hari raya, pembukuan hadits Nabi, akan menjadi bid’ah tercela sebab semua ini adalah hal baru yang belum terjadi pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Definisi yang bagus adalah yang disampaikan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani sbb:

Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani berkata:

مَا أُحْدِثَ وَلَيْسَ لَهُ أَصْلٌ فِي الشَّرْعِ وَيُسَمَّى فِي عُرْفِ الشَّرْعِ بِدْعَةً وَمَا كَانَ لَهُ أَصْلٌ يَدُلُّ عَلَيْهِ الشَّرْعُ فَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ فَالْبِدْعَةُ فِي عُرْفِ الشَّرْعِ مَذْمُومَةٌ

Hal baru yang diada-adakan yang tidak memiliki dasar dalam syariat, dalam makna syariat disebut dengan bid’ah. Sedangkan apa-apa yang memiliki dasar dalam syariat maka itu bukan bid’ah, dan bid’ah dalam definisi syariat itu tercela. (Fathul Bari, 13/253)

Atau yang didefinisikan oleh Imam Ibnul Jauzi sbb:

والبدعة: عبارة عن فعل ما لم يكن فابتُدع، والأغلب في المبتدعات أنها تصادم الشريعة بالمخالفة، وتوجب التعاطي عليها بزيادة أو نقصان

“Bid’ah adalah unkapan tentang perbuatan yang belum pernah ada lalu dibuat ada, umumnya bid’ah itu bertentangan dengan syariat serta menyelisihinya, yang memunculkan tambahan atau pengurangan kepada syariat.” (Dikutip oleh Syaikh Sa’id bin Nashir al Ghamidi, Haqiqatul Bid’ah wa Ahkamuha, hal. 265)

Jadi, bid’ah yang tercela menurut syariat dan dikecam dalam hadits-hadits shahih adalah bukan semata-mata tidak ada di masa nabi, tapi ajaran dan amalan baru dalam agama yang bertentangan atau menyelisihi dengan sumber hukum Islam baik Al Quran, As Sunnah, ijma’, dan qiyas,

Inilah bid’ah sesat dalam hadits: Kullu bid’atin dhalalah (setiap bid’ah adalah sesat).

Maka, bukanlah termasuk bid’ah sesuatu yang ada dasarnya atau tidak menyelisihi salah satu sumber hukum, misal ada dasar dalam Al-Quran, atau As Sunnah, atau Ijma’, atau Qiyas, apalagi jika memiliki dasar lebih dari satu sumber hukum syariat Islam.

Sedangkan inovasi perkara duniawi apa pun bentuk dan bidangnya adalah bid’ah secara bahasa saja, bukan pula bid’ah yang dimaksud dalam syariat.

Sebagai contoh ilmu tajwid. Ilmu tajwid bukan bid’ah, walau itu hal yg baru dan tidak ada dasar secara khusus, karena dia sejalan dengan ayat Wa rattilil qur’ana tartiila, bacalah Al Quran secara tartil. Dengan mempelajari tajwidlah seseorang dapat membaca Al Quran secara tartil.

Perbedaan dalam memahami dan menetapkan kriteria bid’ah inilah yang dapat memunculkan perbedaan dalam menentukan sebuah perkara itu bid’ah atau bukan. Walau Secara prinsip dasar mereka sama-sama merujuk pada sumber hukum yang sama dan salaf yang sama.

Contohnya:

– Bersedekap ketika i’tidal.

Ini dibid’ahkan oleh Syaikh Al Albani, tapi dinyatakan Sunnah oleh Syaikh Bin Baaz.

– Berdzikir dengan biji tasbih.

Dinyatakan BAGUS (HASAN) oleh Ibnu Taimiyah, dinyatakan boleh oleh Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Utsaimin, bahkan As Suyuthi mengatakan kaum salaf dan khalaf tidak memakruhkannya. Tapi Syaikh Al Albani, Syaikh Bakr Abu Zaid membid’ahkannya.

– Menghadiahkan bacaan Al Quran (AlFatihah, Yasin) kepada mayit.

Syaikh Abdullah Al Bassam mengatakan mayoritas salaf dan Imam Ahmad mengatakan sampai dan bermanfaat. Ini juga pendapat Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah.
Syaikh Bin Baaz dan Syaikh Utsaimin pun mengatakan sampai pahalanya.

– Berkumpul mendoakan mayit dan bersedekah hari ke 7, 40, dll. Dinyatakan sunnah oleh Imam as Suyuthi bahkan Beliau menyebutnya ini perbuatan sudah berlangsung lama sejak masa sahabat di Mekkah berdasarkan atsar-atsar shahih, sebagaimana Beliau jelaskan dalam kitab Al Hawi Lil Fatawi dan ad Dibaj ‘ala Shahih Muslim. Sementara sebagian kalangan membid’ahkannya bahkan menuduhnya perbuatan Hindu.

Dan lain-lain.

Maka dari itu, melihat diskusi ulama tentang bid’ah itu tidak sesederhana yang dibayangkan; dengan mengatakan: pokoknya yang tidak ada di zaman nabi adalah bid’ah!!

Lebih baik adalah silahkan memegang apa yang diyakini, pelajarilah masing-masing dalil dari tiap pemahaman, lalu jangan saling menuduh satu sama lainnya.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq

✍ Farid Nu’man Hasan

Turunnya Nabi Isa di Akhir Zaman, Tahayul?

PERTANYAAN:

Assalaamu’alaykumwrwb

Sehat ya Ustadz…Afwan Ustadz, ada pertanyaan, apakah para ulama satu pendapat ttg keyakinan akan turunnya Nabi Isa as kelak jelang kiamat berdasarkn dalil (tafsir qur’an maupun hadits)? Ataukah ada selisih pendapat/penafsiran di kalangan para ulama? Jika ada selisih pendapat, bagaimana pendapat jumhur ulama? Pertanyaan dilatarbelakangi krn ada yg menganggap bhw kabar turunnya Nabi Isa adl tahayul/kabar israiliyat semata, krn menurutnya tdk ada dalil qur’an yg eksplisit menjelaskannya dan tidak ada hadits mutawattir yg menerangkannya.

JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Turunnya nabi Isa ‘Alaihissalam, dalilnya Al Quran, dan hadits shahih dan mutawatir, yang menolak keyakinan ini memang ada yaitu orang-orang mu’tazilah, golongan yang salah satu prinsipnya adalah mendahulukan akal di atas nash.

Allah Ta’ala Befirman:

{ وَإِنَّهُۥ لَعِلۡمٞ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمۡتَرُنَّ بِهَا وَٱتَّبِعُونِۚ هَٰذَا صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ }

Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya hari Kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (Kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. Az Zukhruf: 61)

Ayat ini menjelaskan turunnya Nabi Isa sebagai salah satu tanda datangnya kiamat. Hal ini dijelaskan oleh para pakar tafsir generasi sahabat nabi dan tabi’in.

Imam Al Qurthubi mengatakan:

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمُجَاهِدٌ وَالضَّحَّاكُ وَالسُّدِّيُّ وَقَتَادَةُ أَيْضًا: إِنَّهُ خُرُوجُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَذَلِكَ مِنْ أَعْلَامِ السَّاعَةِ، لِأَنَّ اللَّهَ يُنَزِّلُهُ مِنَ السَّمَاءِ قُبَيْلَ قِيَامِ السَّاعَةِ، كَمَا أَنَّ خُرُوجَ الدَّجَّالِ مِنْ أَعْلَامِ السَّاعَةِ

Berkata Ibnu Abbas, Mujahid, Adh Dhahhak, As Suddi, dan Qatadah juga: Ini adalah keluarnya Isa ‘Alaihissalam dan itu termasuk tanda datangnya kiamat, karena Allah akan menurunkannya menjelang kiamat, sebagaimana keluarnya Dajjal sebagai salah satu tanda kiamat.

(Tafsir Al Qurthubi, 16/105)

Sangat sombong jika tafsir para sahabat nabi dan tabi’in dikalahkan oleh pemahaman orang yg tidak diketahui keilmuannya.

Dalam hadits:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لَا يَقْبَلَهُ أَحَدٌ

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Az Zuhriy berkata, telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Al Musayyab dia mendengar Abu Hurairah radhiallahu’anhu dari Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat hingga Isa bin Maryam turun sebagai hakim yang adil yang dia menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus pajak dan harta melimpah ruah sampai tidak ada seorang pun yang mau menerimanya”.

(HR. Bukhari no. 2476)

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 155, dengan kata lain, ini muttafaq ‘alaih, yang melupakan keshahihan hadits paling tinggi. Para ulama hadits seperti Syaikh Al Kasymiri, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghudah, dan lainnya mengatakan riwayat tentang turunnya Nabi Isa di akhir zaman itu mutawatir. Sehingga jika keyakinan turunnya Isa ‘Alaihissalam menjelang kiamat dibilang tahayul, maka itu tuduhan yang ngawur.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top