Syarah Ushul ‘Isyrin no. 6

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

وكل أحد يؤخذ من كلامه ويترك إلا المعصوم صلى الله عليه وسلم، وكل ما جاء عن السلف رضوان الله عليهم موافقا للكتاب والسنة قبلناه، وإلا فكتاب الله وسنة رسوله أولى بالاتباع، ولكنا لا نعرض للأشخاص ـ فيما اختلف فيه ـ بطعن أو تجريح، ونكلهم إلى نياتهم وقد أفضوا إلى ما قدموا

Setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa pula ditinggalkan, kecuali (perkataan) orang yang ma‘shum ﷺ (yakni Nabi Muhammad). Segala hal yang datang dari para salaf radhiyallahu ‘anhum yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kami menerimanya. Namun jika bertentangan, maka Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya lebih utama untuk diikuti.

Akan tetapi, kami tidak mencela atau menjelekkan pribadi-pribadi mereka dalam hal yang mereka perselisihkan. Kami serahkan urusan niat mereka kepada Allah, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka amalkan (yakni telah meninggal dunia dan menerima balasan dari amal mereka).

Penjelasan:

وكل أحد يؤخذ من كلامه ويترك إلا المعصوم صلى الله عليه وسلم

Setiap orang bisa diambil perkataannya dan bisa pula ditinggalkan, kecuali (perkataan) orang yang ma‘shum ﷺ (yakni Nabi Muhammad).

Kalimat ini memiliki kaidah agung bahwa hanya Rasulullah ﷺ yang ucapan dan perbuatannya kita terima seluruhnya. Adapun setelah Rasulullah ﷺ baik sahabat, tabi‘in, imam madzhab, ulama atau siapa pun bisa benar, bisa keliru. Apalagi kita orang awam. Karena, yang maksum (terjaga dari kesalahan dalam penyampaian agama) hanyalah Rasulullah ﷺ.

Apa yang dikatakan oleh Imam Syahid Hasan al Banna ini, sejalan dengan ucapan Imam Mujahid:

ليس أحد إلا يؤخذ من قوله ويترك إلا النبي صلى الله عليه وسلم

“Tidak ada seorang pun yang perkataannya bisa selalu diterima, melainkan bisa diambil dan bisa juga ditinggalkan, kecuali Nabi ﷺ.” (Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, jilid. 3, hal. 300)

Juga ucapan Imam Malik:

كل أحد يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ

Setiap orang bisa diambil dan bisa pula ditolak perkataannya, kecuali penghuni kubur ini ﷺ (yakni Nabi Muhammad ﷺ). (Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, hal. 327)

Tentu sikap ini, hanya bisa dilakukan oleh orang yang telah dianugerahi pandangan yang tajam dan pemikiran yang mendalam terhadap dalil, persoalan, dan penerapannya, sehingga dapat mengetahui mana pendapat kaum salaf yang tepat dan tidak tepat. Ini bukan domainnya orang awam atau yang baru baru sampai tepian pantainya lautan ilmu.

وكل ما جاء عن السلف رضوان الله عليهم موافقا للكتاب والسنة قبلناه

Segala hal yang datang dari para salaf radhiyallahu ‘anhum yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka kami menerimanya.

Salaf secara bahasa artinya terdahulu. Secara istilah, artinya adalah sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Apa pun yang berasal dari mereka yang sejalan dengan Al Quran dan As Sunnah maka kita harus menerimanya.

Ini adalah kaidah agung yang menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai alat ukur kebenaran, bukan semata-mata siapa pengucapnya. Jika tidak sesuai dan bertolak belakang dengan Al Quran dan As Sunnah, maka mesti ditolak walau datangnya dari generasi terdahulu (salaf) yang merupakan generasi terbaik dan terhebat umat ini, walaupun kita sangat mencintai dan menghormati mereka.

Oleh karenanya, kalimat berikutnya Imam Syahid mengatakan:

“وإلا فكتاب الله وسنة رسوله أولى بالاتباع

Jika ada pendapat mereka yang menyelisihi keduanya, maka Al-Qur’an dan Sunnah lebih utama diikuti.

Yaitu jika ada pendapat dan perbuatan mereka yang bertabrakan dengan Al Quran dan As Sunnah, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka Al Quran dan As Sunnah lebih utama diikuti.

ولكنا لا نعرض للأشخاص ـ فيما اختلف فيه ـ بطعن أو تجريح

Akan tetapi, kami tidak mencela atau menjelekkan pribadi-pribadi mereka dalam hal yang mereka perselisihkan.

Menolak pendapat yang dianggap bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah, bukan berarti mencela pemilik pendapat tersebut. Tidak berarti juga halal berlidah tajam kepada mereka, apalagi kepada generasi salaf yang mendahului kita dalam iman, Islam, ilmu, dakwah dan jihad.

Rasulullah ﷺ bersabda:

سباب المسلم فسوف وقتاله كفر

Mencaci maki seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran. (HR. Bukhari)

Yang seharusnya kita lakukan adalah mendoakan mereka:

{ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ }

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

ونكلهم إلى نياتهم وقد أفضوا إلى ما قدموا

Kami serahkan urusan niat mereka kepada Allah, karena mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka amalkan (yakni telah meninggal dunia dan menerima balasan dari amal mereka).

Urusan niat dan hati mereka dibalik pendapat-pendapatnya, kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Wa hisaabuhum ‘alallah (Allah Ta’ala yang akan menghisabnya).

Tidak dibenarkan kita mencurigai hati dan motivasi mereka apalagi mereka sudah wafat belasan abad yang lalu, itu perkara ghaib. Hendaknya berbaik sangka dengan apa yang pernah dilakukan atau diucapkan kaum salaf baik yang kita setujui dan tidak.

Imam Abu Qilabah Rahimahullah berkata:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا فإن لم تجد له عذرا فقل لعل له عذرا لا أعلمه

“Apabila sampai kepadamu berita tentang saudaramu tentang perkara yang engkau membencinya, maka carikanlah ‘udzur (alasan) untuknya. Jika engkau tidak mendapatkan ‘udzur untuknya maka katakanlah, “Mungkin ada ‘udzur baginya yang tidak aku ketahui.”

(Imam Ibnu Hibban, Raudhatul ‘Uqalaa wa Nuzhatul Fudhala, Hal. 184. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut. 1977M-1397H)

Imam Al ‘Aini menyebutkan:

و قيل إِحْسَان الظَّن بِاللَّه عز وَجل وبالمسلمين وَاجِب

Berbaik sangka kepada Allah dan kaum muslimin adalah wajib. (‘Umdatul Qaari, 20/133)

Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top