







وَاْلقُرْآنُ اْلكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ اْلمُطَهَّرَةُ مَرْجِعُ كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ تَعَرُّفِ أَحْكَاْمِ اْلإِسْلاَمِ، وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاْعِدِ اللُّغَةِ اْلعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ، وَيُرْجَعُ فِيْ فَهْمِ السُّنَّةِ اْلمُطَهَّرَةِ إِلَىْ رِجَاْلِ اْلحَدِيْثِ الثِّقَاْتِ
Al Quran yang mulia dan Sunah yang suci adalah rujukan bagi setiap muslim dalam memahami hukum-hukum Islam, dan Al Quran dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tidak dengan takalluf (dibuat-buat) dan tidak ta’assuf (memaksakan), sedangkan dalam memahami sunah rujukannya adalah pemahaman para ulama hadits yang terpercaya.
Penjelasan:
Pada prinsip ini, Imam Syahid Hasan al Banna Rahimahullah menegaskan sebuah prinsip agung, pondasi yang paling kokoh, bahwa Al Quran dan As Sunnah adalah sumber paling utama, dan rujukan paling mulia, bagi semua umat Islam dalam memahami berbagai hukum-hukum Islam.
Memahami keduanya dengan benar adalah keharusan untuk mendapatkan cahaya dan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Memahami keduanya tidak boleh sembarang, tapi hendaknya berdasarkan kaidah dan metode yang benar dan bersama para ulama yang kredibel.
وَاْلقُرْآنُ اْلكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ اْلمُطَهَّرَةُ مَرْجِعُ كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ تَعَرُّفِ أَحْكَاْمِ اْلإِسْلاَمِ
“Al-Qur’an yang mulia dan sunnah yang suci adalah rujukan setiap Muslim dalam mengetahui hukum-hukum Islam.”
Ini menegaskan bahwa sumber utama syariat Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yg shahih. Keduanya merupakan wahyu Allah, Al-Qur’an diturunkan lafaz dan maknanya, sedangkan Sunnah diturunkan maknanya lalu dijelaskan dengan ucapan, perbuatan, atau persetujuan Nabi ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
َمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (4)
Tidaklah yang diucapkannya berasal dari hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya. (QS. An Najm: 3-4)
Salah satu tokoh salaf, Hasan bin ‘Athiyah Rahimahullah berkata:
كان جبريل ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بالسنة كما ينزل عليه بالقرآن
Malaikat Jibril menurunkan sunnah kepada Nabi ﷺ sebagaimana ia menurunkan Al Quran kepadanya. (Sunan Ad Darimi no. 588. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: shahih. Fathul Bari, 13/291)
Imam Ibnu Hazm mengatakan:
فأخبر تعالى أن كلام نبيه صلى الله عليه وسلم كله وحي ، والوحي بلا خلاف ذِكْرٌ ، والذكر محفوظ بنصِّ القرآن ، فصح بذلك أن كلامه صلى الله عليه وسلم كله محفوظ بحفظ الله عز وجل ، مضمون لنا أنه لا يضيع منه شيء ، إذ ما حَفِظَ الله تعالى فهو باليقين لا سبيل إلى أن يضيع منه شيء ، فهو منقول إلينا كله ، فلله الحجة علينا أبدا
Maka Allah Ta‘ala memberitakan bahwa seluruh ucapan Nabi ﷺ adalah wahyu. Dan wahyu, tanpa ada perbedaan pendapat, adalah adz-dzikr (peringatan). Sedangkan adz-dzikr itu terjaga berdasarkan nash Al-Qur’an. Dengan demikian, sahihlah bahwa seluruh ucapan beliau ﷺ terjaga dengan penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla, dijamin bagi kita bahwa tidak ada sesuatu pun darinya yang akan hilang. Karena apa yang dijaga oleh Allah Ta‘ala, maka dengan keyakinan pasti tidak mungkin ada sesuatu pun yang hilang darinya. Maka seluruhnya telah sampai kepada kita, dan Allah memiliki hujjah atas kita selamanya.” (Al Ihkam fi Ushul Al Ahkam, 1/95)
Seorang Muslim tidak boleh menjadikan hukum selain keduanya sebagai rujukan utama dan tertinggi, meskipun ia boleh menjadikan ijma’ dan ijtihad ulama (qiyas) sebagai rujukan pula, tetapi semua itu tetap kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar utama.
Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Muadz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu ke Yaman, Beliau bertanya kepada Muadz:
كيفَ تقضي ؟ قال : أقضي بكتابِ اللهِ . قال : فإن لم تجدْ ؟ قال : فبسُنَّةِ رسولِ اللهِ . قال : فإن لم تجدْ ؟ قال : أجتهدُ رأيي لا آلو . قال : فضربَ رسولُ اللهِ صدرَه وقال : الحمدُ للهِ الذي وفَّقَ رسولَ رسولِ اللهِ لما يُرضِي رسولَ اللهِ
“Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya:
‘Dengan apa engkau akan menghukumi?’
Mu‘adz menjawab: ‘Dengan Kitabullah (Al-Qur’an).’
Beliau bertanya lagi: ‘Jika engkau tidak menemukannya (di dalam Al-Qur’an)?’
Mu‘adz menjawab: ‘Maka dengan Sunnah Rasulullah ﷺ.’
Beliau bertanya lagi: ‘Jika engkau tidak menemukannya (dalam Sunnah)?’
Mu‘adz menjawab: ‘Maka aku akan berijtihad dengan pendapatku semampuku.’
Maka Rasulullah ﷺ menepuk dada Mu‘adz dan bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik utusan Rasulullah kepada sesuatu yang diridhai Rasulullah.’”
(HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ahmad, dll. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan)
وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاْعِدِ اللُّغَةِ اْلعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ
“Al-Qur’an dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa dibuat-buat dan tanpa dipaksakan.”
Karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih, maka pemahaman terhadapnya harus mengikuti kaidah bahasa Arab; baik nahwu, sharaf, balaghah, maupun uslub bahasa yang digunakan oleh bangsa Arab pada masa turunnya wahyu. Tidak boleh menafsirkan ayat dengan makna yang keluar dari kaidah bahasa Arab, apalagi memaksakan tafsir dengan hawa nafsu atau filsafat yang menyimpang. Firman Allah Ta’ala:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)
Maka tidak boleh seseorang memahami apalagi menafsirkan Al-Qur’an hanya lewat terjemahan dan menganalisis hanya akalnya semata tanpa memahami bahasa aslinya, tidak paham asbabun nuzul, nasikh mansukh, dan penjelasan para ulama pakar, ini tidaklah dibenarkan dan berbahaya.
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan tanpa ilmu, maka disediakan baginya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4022, At Tirmidzi berkata: hasan shahih)
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
ومن قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan akal pikirannya semata, maka disediakan bagianya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4023, katanya: hasan)
وَيُرْجَعُ فِيْ فَهْمِ السُّنَّةِ اْلمُطَهَّرَةِ إِلَىْ رِجَاْلِ اْلحَدِيْثِ الثِّقَاْتِ
“Dan dalam memahami sunnah yang suci, rujukannya adalah para ahli hadits yang terpercaya.”
Artinya, sunah Nabi ﷺ tidak bisa dipahami sembarangan. Harus melalui jalur para ahli hadits (muhadditsin) yang terpercaya (‘adl dan dhabith), baik dalam meriwayatkan maupun menjelaskan dan mengurai maknanya.
Para ulama hadits telah memilah mana yang shahih, hasan, dha‘if, bahkan palsu. Karena itu, seorang Muslim wajib merujuk kepada ulama hadits terpercaya seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan juga para pensyarah hadits seperti Ibn Hajar, An-Nawawi, Al ‘Aini, Ibnu Baththal, dll. Ini agar tidak terjerumus pada pemahaman yang salah terhadap sunah. Betapa sering manusia mengutip hadits lalu menyebarkannya atau membuat meme atau poster hadits, tapi tidak memahami keshahihannya dan tidak paham juga makna dan hukum di dalamnya. Dia memahami secara harfiyah atau apa adanya sehingga yg terjadi adalah salah paham bahkan penyimpangan.
Wallahu A’lam
Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam








Farid Nu’man Hasan
Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
Kunjungi website resmi: alfahmu.id
IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g


