Benarkah Tambahan Al ‘AZHIM dalam kalimat ASTAGHFIRULLAH setelah shalat adalah bid’ah?

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

(Pertanyaan dari beberapa orang bid’ahkah tambahan Al ‘Azhim dan Yuhyi wa Yumit pada zikir setelah shalat)

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika kita perhatikan dengan seksama, tidak ada bentuk khusus tentang lafaz istighfar setelah shalat. Yang ada dalam sunah Rasulullah ﷺ adalah diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ beristighfar dan membaca Allahumma antas salam.. Dst.

Adapun kalimat istighfarnya adalah Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.., merupakan penjelasan dari Imam Al Auza’i seorang ulama Syam, bukan bagian dari hadits itu sendiri.

Perhatikan hadits berikut…

Dari Tsauban:

إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Jika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau ISTIGHFAR tiga kali dan memanjatkan doa ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAM TABARAKTA DZAL JALALI WAL IKROM (Ya Allah, Engkau adalah Yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Mahabesar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”

Kata Walid, maka kukatakan kepada AL AUZA’I: “Bagaimana hendak meminta ampunan?”

Jawabnya, ‘Kau ucapkan: Astaghfirullah, Astaghfirullah.” (HR. Muslim no. 591)

Maka, membatasi kalimat istighfar hanya “Astaghfirullah” dan melarang serta membid’ahkan Al ‘Azhim adalah keliru dan sikap berlebihan.

Kita boleh memakai versi istighfar lainnya yang ada dalam Sunnah Rasulullah ﷺ:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

“Barang siapa yang mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH (aku memohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang Mahahidup dan Yang terus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya), maka dia pasti akan diampuni walaupun dia pernah lari dari medan pertempuran.”(HR. Abu Daud no. 1517, shahih)

Maka, ini amrun waasi’ .. perkara yang luwes dan luas, bebas, .. mau dipakai al ‘Azhim, Pakai yuhyi wayumit atau tidak, secara substansi makna zikirnya tidak ada yg berubah.

Contoh nya Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat talbiyah: Labaikallahumma labaik.. labaika laa syarika laka labaik .. Dst.

Tapi Ibnu Umar menambahkan dengan:

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ بَيْنَ يَدَيْكَ، لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ، وَالْعَمَلُ

Labbaika wa sa‘daika, wal-khayru baina yadaika, labbaika war-raghba’u ilayka, wal-‘amalu.

(Musnad Ahmad, Sunan Kubra an Nasa’i, dll)

Dulu Rifa’ah bin Rafi’, membaca Hamdan Katsiran Thayyiban Mubarakan fiih .. dst saat i’tidal shalat, yg merupakan kalimat susunannya sendiri, bukan dari Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah justru memuji kalimat itu. Ini istilahnya sunah taqririyah.

Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه

Hadits ini merupakan dalil kebolehan menciptakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur, dan menunjukkan kebolehan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah, ditanya tentang bacaan dzikir yang disusun oleh manusia yang berbunyi: “Alhamdulillahi Wahdah Wasy Syukru Lahu Wahdah”, bolehkah ini?

Beliau menjawab:

فإنه لا مانع في هذا النوع من الثناء، لأن صيغ الثناء على الله تعالى لا يشترط أن تكون مأثورة، بدليل ما في الصحيحين وغيرهما عن أنس رضي الله عنه أن رجلاً جاء فدخل الصف وقد حفزه النفس، فقال: الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه. فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاته قال: أيكم المتكلم بالكلمات؟… إلى أن قال: لقد رأيت اثني عشر ملكًا يبتدرونها أيهم يرفعها

Sesungguhnya tidak terlarang pujian semacam ini, karena bentuk kata pujian kepada Allah ﷻ tidaklah disyaratkan mesti yang ma’tsur, berdasarkan hadits Shahihain dan selain mereka berdua, dari Anas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang datang dan masuk ke shaf shalat dan dia telah mengilhami dirinya dengan membaca: “Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih …..”, setelah Rasulullah ﷺ usai dari shalatnya, Belau bertanya: “Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” … sampai perkataannya: “Aku telah melihat 12 malaikat berebut siapa di antara mereka yang pantas mengangkat bacaan itu (ke langit).”

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 34622)

Inilah pendapat mayoritas empat mazhab, bahkan diikuti oleh Imam Ibnu Taimiyah.

Maka, jika yang susunan kalimat sendiri saja boleh, maka apalagi tambahan yang ada dalam sunnah… tambahan YUHYI WA YUMIT yg ada di hadits lainnya, atau tambahan Al ‘AZHIM dalam istighfar ba’da shalat yang juga terdapat dalam hadits lainnya.

Sikap sebagian orang yang membid’ahkan tambahan Al ‘AZHIM dalam istighfar setelah shalat adalah sikap berlebihan dan bertabrakan dengan konsep keilmuan umumnya para fuqaha Ahlussunah wal Jama’ah.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top