







Mukadimah
Adab kepada Allah Ta’ala adalah pondasi seluruh ibadah dan akhlak seorang Muslim. Semakin seseorang mengenal Rabb-nya, semakin besar pula pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan rasa malu yang ia miliki kepada-Nya. Adab kepada Allah Ta’ala bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam keyakinan, ibadah, perilaku, dan sikap hati dalam seluruh aspek kehidupan.
Allah Ta’ala menciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya dan memuliakan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Daftar Isi
1. Mentauhidkan Allah dan Tidak Menyekutukan-Nya
Adab yang paling agung kepada Allah Ta’ala adalah mengesakan-Nya dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk syirik baik kecil maupun besar. Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(QS. An-Nisa’: 36)
Tauhid merupakan hak Allah Ta’ala yang paling besar atas hamba-hamba-Nya. Sedangkan syirik adalah seburuk-buruknya kejahatan.
2. Mencintai Allah Ta’ala di Atas Segala Sesuatu
Seorang mukmin wajib menempatkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas cinta kepada manusia, harta, jabatan, dan seluruh kenikmatan dunia.
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)
Cinta kepada Allah Ta’ala akan mendorong seseorang untuk taat dan menjauhi maksiat.
3. Mengagungkan dan Memuliakan Allah Ta’ala
Seorang Muslim harus mengagungkan Allah Ta’ala dalam hati, ucapan, dan perbuatannya. Allah Ta’ala telah memperingatkan keras perilaku kaum musyrikin yg tidak mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana mestinya, dalam ayat berikut:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Az-Zumar: 67)
Mengagungkan Allah Ta’ala diwujudkan dengan menghormati syariat-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
4. Tunduk dan Patuh syariat- Nya
Adab kepada Allah Ta’ala menuntut sikap menerima dan tunduk terhadap seluruh hukum-Nya tanpa membantah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا
“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka adalah: ‘Kami mendengar dan kami taat.'”
(QS. An-Nur: 51)
5. Bersyukur atas Nikmat-Nikmat-Nya
Segala nikmat yang kita rasakan baik kecil dan besar, apa pun bentuknya, adalah berasal dari Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba wajib mensyukurinya. Sebagaimana perintah dalam ayat berikut:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Syukur dilakukan dengan hati dengan qana’ah (merasa puas), lisan (mengucapkan tahmid), dan anggota badan dengan memanfaatkan nikmat tersebut di jalan kebaikan.
6. Bertawakal dan Berhusnuzan kepada Allah
Seorang mukmin menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Allah Ta’ala berfirman:
وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)
Sdgkan dalam hadits:
لو أنكم تتوكلون على الله حقَّ توكُّله ؛ لرزقكم كما يرزق الطيرَ : تغدوا خماصًا وتروح بطانًا
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pergi di pagi hari dalam keadaan kosong dan pulang dalam keadaan perut yang terisi.”
(HR. At-Tirmidzi no. 2344, shahih)
7. Bersabar dan Ridha terhadap Takdir Allah Ta’ala
Adab kepada Allah juga tampak dalam kesabaran ketika menghadapi ujian dan keridhaan terhadap ketentuan-Nya. Ridha artinya menerima dengan tenang pilihan dan ketentuan Allah Ta’ala kepada kita.
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Rasulullah ﷺ bersabda:
عْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ
“Ketahuilah bahwa apa yang telah menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa jika engkau meninggal dunia di atas keyakinan selain ini, niscaya engkau akan masuk neraka.”
(HR. Ahmad no. 20626)
Penutup
Adab kepada Allah Ta’ala merupakan inti dari kehidupan seorang mukmin. Tauhid, cinta, pengagungan, ketaatan, syukur, tawakal, dan ridha kepada ketentuan-Nya adalah bentuk-bentuk adab yang harus senantiasa dipelihara. Semakin sempurna adab seorang hamba kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada ridha dan rahmat-Nya. Para salaf mengatakan:
مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ
“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”
Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam








Farid Nu’man Hasan
Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
Kunjungi website resmi: alfahmu.id
IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g


