Daftar Isi
PERTANYAAN
Bismillah. Ustadz, apakah kesaksian orang fasik dapat diterima? Syukron (+62 878-2863-xxxx)
JAWABAN
Bismillahirrahmanirrahim..
Berita atau kesaksian yang datangnya dari orang fasiq pada prinsipnya tertolak sampai terbukti kebenarannya. Berdasarkan Al Quran:
{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ }
Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.
(QS. Al-Hujurat: 6)
Ini telah ijma’ di antara ulama. Imam Ibnul ‘Arabi mengatakan:
من ثبت فسقه بطل قوله في الأخبار إجماعا؛ لأن الخبر أمانة، والفسق قرينة تبطلها، فأما في الإنسان على نفسه فلا يبطل إجماعا
“Barang siapa telah terbukti kefasikannya, maka gugur (tidak diterima) perkataannya dalam penyampaian berita menurut ijma‘ (kesepakatan ulama); karena berita itu adalah amanah, sedangkan kefasikan merupakan indikator yang membatalkan amanah tersebut. Adapun perkataan seseorang tentang dirinya sendiri, maka tidak gugur (tetap diterima) menurut ijma‘.”
(Ahkamul Qur’an, 4/1715)
Kapan kesaksian fasik diterima?
1. Jika sudah tobat
Ini merupakan pendapat yang telah disepakati kecuali dalam hal qadzaf (menuduh zina kdp wanita baik-baik), jika sdh bertobat menurut mayoritas juga diterima kesaksiannya kecuali mazhab Hanafi.
Syaikh Muhammad Ra’fat Utsman menjelaskan:
اتفق العلماء على أن الفاسق إذا عرفت توبته مما كان سببا في فسقه من أي جريمة تذهب العدالة، كالقتل، والزنا، والسرقة، وأكل الربا، ونحو ذلك، فإنه تقبل شهادته إلا من كان فسقه بسب جريمة القذف، وهي الرمي بالزنا على جهة التعيير أو نفي النسب، لا على جهة الشهادة، فقد اختلف العلماء في القاذف إذا تاب هل تقبل شهادته أما لا؟ ١. فيرى جمهور العلماء قبول شهادته، ويرى أبو حنيفة عدم قبولها.
“Para ulama telah sepakat bahwa seorang fasik, apabila telah diketahui tobatnya dari perbuatan yang menjadi sebab kefasikannya dari jenis kejahatan apa pun yang menghilangkan keadilan, seperti pembunuhan, zina, pencurian, memakan riba, dan semisalnya, maka kesaksiannya diterima. Kecuali orang yang kefasikannya disebabkan oleh kejahatan qadzaf (menuduh zina), yaitu melempar tuduhan zina dalam rangka mencela atau menafikan nasab, bukan dalam rangka memberikan kesaksian. Maka para ulama berbeda pendapat tentang orang yang melakukan qadzaf jika ia bertobat: apakah kesaksiannya diterima atau tidak. Mayoritas ulama berpendapat bahwa kesaksiannya diterima, sedangkan Abu Hanifah berpendapat tidak diterima.”
(An Nizham Al Qadha’i fi Fiqhil Islami, hal. 362)
2. Jika urusan muamalah
Urusan muamalah seperti jual beli, hadiah, dan semisalnya kesaksian orang fasiq bisa diterima.
Imam Abu Bakar Al Jashash menjelaskan:
واتفق أهل العلم على جواز قبول خبر الفاسق في أشياء فمنها:
أمور المعاملات يقبل فيها خبر الفاسق وذلك نحو الهدية إذا قال: إن فلانا أهدى إليك هذا يجوز له قبوله وقبضه.
ونحو قوله : وكلني فلان ببيع عبده هذا فيجوز شراؤه منه.
ونحو الإذن في الدخول إذا قال له قائل : ادخل، لا تعتبر فيه العدالة.
وكذلك جميع أخبار المعاملات ويقبل في جميع ذلك خبر الصبي والعبد والذمي…
يقبل فيها خبر الفاسق وهو مستثنى من جملة قوله تعالى: ( إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا ) لدلائل قد قامت عليه، فثبت أن مراد الآية في الشهادات وإلزام الحقوق أو إثبات أحكام الدين
“Para ahli ilmu juga sepakat tentang bolehnya menerima berita dari orang fasik dalam beberapa perkara. Di antaranya:
Urusan-urusan muamalah (transaksi).
Diterima berita orang fasik dalam hal ini, seperti contoh: seseorang berkata, ‘Si Fulan menghadiahkan ini kepadamu’, maka boleh baginya menerima dan mengambilnya.
Demikian pula seperti ucapannya, ‘Si Fulan telah mewakilkanku untuk menjual budak ini’, maka boleh membeli darinya.
Demikian pula pemberian izin masuk, jika seseorang berkata kepadanya, ‘Masuklah’, maka dalam hal ini tidak disyaratkan keadilan (tidak harus orang yang adil).
Begitu pula seluruh berita dalam urusan muamalah. Dan dalam semua perkara tersebut juga diterima berita dari anak kecil, budak, dan orang dzimmi.
Diterimanya berita orang fasik dalam perkara-perkara ini merupakan pengecualian dari keumuman firman Allah Ta‘ala: “Jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah (tabayyunlah).”
Karena telah ada dalil-dalil yang menunjukkan hal itu. Maka menjadi jelas bahwa yang dimaksud oleh ayat tersebut (ayat larangan menerima berita orang fasik) adalah dalam konteks kesaksian, penetapan dan penuntutan hak-hak, atau penetapan hukum-hukum agama.”
(Ahkamul Qur’an, 5/278-279)
Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:
فيقبل خبر الفاسق عن نفسه وفيما لا تتعلق به حقوق الغير.
“Maka diterima berita orang fasik tentang dirinya sendiri, dan dalam perkara-perkara yang tidak berkaitan dengan hak orang lain.” (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 494842)
Demikian. Wallahu A’lam
Farid Nu’man Hasan


