Gambaran Peristiwa Isra’ Mi’raj

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum
Maaf Pak Ustadz..
Apalah ada link Artikel Pak Ustadz yang menjelaskan kejadian Isra’ Mikraj yang rinci ?
Jazakallahu Khoiron sebelumnya

Apakah di bab Isro’ maupun Mikroj, sebelum sampai Baitul Makmur, Rasulullah di tampakkan ciri2 penghuni syurga maupun neraka?

Wassalaamu’alaikum.. (+62 817-733-xxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah..

Kisah globalnya dalam Surah Al-Isra’ ayat 1 dan An Najm: 13-18, serta dijelaskan lebih rinci dalam hadis-hadis shahih. Berikut penjelasan rinci berdasarkan sunnah:

Perjalanan Isra

Dimulai di Masjidil Haram, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berada di dekat Ka’bah saat Malaikat Jibril datang. Jibril membawa Buraq, hewan yang lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal, dengan kecepatan yang luar biasa. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menaiki Buraq menuju Masjidil Aqsa. (Begitulah gambaran Buraq dalam hadits Shahih Muslim, tidak ada rincian lebih jauh. Seperti bersayap, kepalanya berwajah perempuan, berambut panjang, seperti ilustri yang beredar di masyarakat. Itu mitos)

Di Masjidil Aqsa:

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam disambut oleh para nabi terdahulu. Beliau menjadi imam dalam shalat berjamaah dengan mereka. Ini menunjukkan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi.
Rangkaian kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim (No. 162) dan Shahih Bukhari (No. 3207).

Perjalanan Mi’raj

Naik ke Langit: Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam naik bersama Jibril ke langit pertama hingga langit ketujuh. Di setiap langit, beliau bertemu para nabi:

Langit pertama: Bertemu Nabi Adam ‘Alaihissalam

Langit kedua: Bertemu Nabi Isa dan Nabi Yahya ‘Alaihimassalam

Langit ketiga: Bertemu Nabi Yusuf ‘Alaihissalam

Langit keempat: Bertemu Nabi Idris ‘Alaihissalam

Langit kelima: Bertemu Nabi Harun ‘Alaihissalam

Langit keenam: Bertemu Nabi Musa ‘Alaihissalam

Langit ketujuh: Bertemu Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Setiap nabi menyambut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan salam dan doa keberkahan.

Sidratul Muntaha:

Setelah melewati langit ketujuh, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencapai Sidratul Muntaha, sebuah pohon besar yang menjadi batas akhir makhluk.

Diriwayatkan bahwa beliau melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang luar biasa di tempat ini. Selain itu diajak untuk melihat Surga dan Neraka. (Shahih Bukhari No. 3207).

Perintah Salat:

Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam untuk melaksanakan salat 50 waktu sehari. Ketika kembali, Nabi Musa ‘Alaihissalam menyarankan agar Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta keringanan.

Setelah beberapa kali naik turun memohon keringanan, jumlah shalat dikurangi menjadi lima waktu sehari dengan pahala yang tetap setara 50 waktu.

Kisah rangkaian ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (No. 349) dan Shahih Muslim (No. 162).

Kepulangan ke Makkah

Setelah menerima perintah shalat, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali ke Makkah pada malam yang sama. Esoknya, beliau menceritakan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. Sebagian orang menolak untuk percaya, termasuk Abu Jahal. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkannya, sehingga mendapatkan gelar “Ash-Shiddiq” (yang membenarkan). Ini diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak, dengan sanad shahih.

Diperlihatkan Penduduk Surga dan Neraka

Rasulullah SAW diperlihatkan keadaan penghui surga dan neraka, sebelum ia mencapai Baitul Ma’mur dan Sidratul Muntaha. Di antara yang diceritakan dalam sunnah:

“Aku diperlihatkan surga, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir.”
(HR. Muslim No. 2737)

“Aku masuk surga, lalu aku melihat seorang wanita dari penduduk surga sedang berada di sebuah istana milik Umar bin Khattab.”
(HR. Bukhari No. 3242 dan Muslim No. 2394)

“Aku melihat empat sungai di surga. Dua sungai nampak terlihat, dan dua sungai tersembunyi. Sungai yang terlihat adalah Nil dan Eufrat.”
(HR. Bukhari No. 3207)

“Penghuni surga masuk ke dalam surga dalam keadaan muda, wajah mereka bersinar seperti bulan purnama, hati mereka satu, tidak ada permusuhan dan kebencian di antara mereka, serta mereka terus-menerus memuji Allah Ta’ala.”
(HR. Tirmidzi No. 2545)

Wallahu A’lam

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top