Hukum Membatalkan Puasa Ramadhan dengan Sengaja

💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum, mau bertanya lagi.

Bagaimana seseorang jika pada masa lalunya pernah membatalkan puasa ramadhan dengan sengaja tanpa uzur? Kemudian juga lupa berapa hari Apakah qadha atau dengan sebenar-benarnya taubat?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam, .. Jika sengaja tanpa uzur dia tidak berpuasa, maka ini buruk sekali.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

عرى الاسلام، وقواعد الدين ثلاثة، عليهن أسس الاسلام، من ترك واحدة منهن، فهو بها كافر حلال الدم: شهادة أن لا إله إلا الله، والصلاة المكتوبة، وصوم رمضان

Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan. (HR. Abu Yaala dan Ad Dailami dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfukan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al Ilmiyah. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya)

Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:

وعند المؤمنين مقرر:  أن من ترك صوم رمضان بلا مرض، أنه شر من الزاني، ومدمن الخمر، بل يشكون في إسلامه، ويظنون به الزندقة، والانحلال

“Bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa meninggalkan puasa Ramadhan padahal tidak sakit adalah lebih buruk dari pezina dan pemabuk, bahkan mereka meragukan keislamannya dan mencurigainya sebagai zindiq dan tanggal agamanya. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/434. Lihat juga Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 4/410. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Kemudian .., apakah bisa diqadha dihari lain? Bisa, hanya saja nilainya tidak bisa menyamainya walau dengan puasa setahun penuh .. Hal itu berdasarkan hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, secara marfu’:

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صِيَامُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ

Barang siapa yang tidak berpuasa pada Ramadhan tanpa adanya uzur, tidak pula sakit, maka tidaklah dia bisa menggantikannya dengan puasa sepanjang tahun, jika dia melakukannya. (HR. Bukhari No. 1934)

Dalam Shahih Al Bukhari:

وَقَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ وَالشَّعْبِيُّ وَابْنُ جُبَيْرٍ وَإِبْرَاهِيمُ وَقَتَادَةُ وَحَمَّادٌ يَقْضِي يَوْمًا مَكَانَهُ

Sa’id bin Al Musayyab, Asy Sya’bi, Ibnu Jubeir, Ibrahim, Qatadah, Hammad, mereka mengatakan BISA diqadha di hari yg sesuai.

Dalam riwayat lain, ada sahabat nabi yg membatalkan puasa secara sengaja yaitu karena jima’ .. Pdhal tidak sakit, tidak uzur, .. Lalu nabi memerintahkan kaffarat yang sudah diketahui bersama (puasa dua bulan berturut-turut, atau membebaakan budak, atau membebaskan fakir miskin sebanyak 60 org). Para fuqaha mngatakan qadha dan kaffarat sekaligus, dan ini mnjadi dalil bagi pihak ygan mengatakan qadha itu tetap bisa menutupi puasa yang ditinggalkan walau sengaja.

Wallahu a’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Puasa Awal Dzulhijjah dan Tarwiyah

💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Apakah dianjurkan puasa di awal Dzulhijjah dan hari Tarwiyah?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah …

Shaum di awal Dzulhijjah tidak ada keterangan khusus, TETAPI ada dalil umum agar kita melakulan ibadah di hari-hari itu, dan shaum adalah ibadah yang bisa dipilih dan anjurkan para ulama.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ الْعَشْرِ . فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، إِلا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada amal shalih yang lebih dicintai Allah dibandingkan amal shalih yang dilakukan pada 10 hari itu.”

Mereka bertanya: “Bagaimana dibandingkan dengan jihad fi sabilillah?”

Beliau bersabda: “Tidak pula jihad, kecuali dia berangkat jihad dengan jiwa dan harta lalu pulang dari jihadnya tidak bawa apa pun dari semua itu. (HR. Bukhari, At Tirmidzi, dll)

Shaum tarwiyah yaitu shaum pd 8 dzulhijjah, hukumnya sunnah menurut kesepakatan semua ulama.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

اتفق الفقهاء على استحباب صوم الأيام الثمانية التي من أول ذي الحجة قبل يوم عرفة

Para ahli fiqih sepakat sunahnya puasa di hari-hari delapan di awal dzulhijjah sebelum hari arafah .. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/91)

Sebagian ulama seperti Malikiyah dan Syafiiyah mengatakan sunnah khusus jamaah haji saja. (Ibid).

Tapi, ulama lain mengatakan sunnah bagi jamaah haji dan bagi selainnya. Sebagaimana keterangan berikut:

ويسن صوم الثمانية أيام قبل يوم عرفة ، كما صرح به في “الروضة” سواء في ذلك الحاج وغيره , أما الحاج فلا يسن له صوم يوم عرفة بل يستحب له فطره ولو كان قويا ، اقتداءً بالرسول صلى الله عليه وسلم , وليقوى على الدعاء

Dianjurkan berpuasa 8 hari sebelum hari Arafah, sebagaimana nikah jelasan dalam kitab Ar Raudh, baik bagi jamaah haji atau selainnya.

Ada pun jamaah haji makruh shaum di hari arafah (9 Dzulhijjah), justru dianjurkan utk tidak puasa walau dia kuat sebab itulah yg dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, supaya lebih kuat untuk berdoa. (Nihayatul Muhtaj, 3/207)

Demikian. Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Imam Sholat Membaca Surat yang Panjang

▫▪▫▪▫▪▫▪

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum…ustad bagmn hukum imam yg sll memanjangkan bacaanny pdhl sdh d ksh masukan dan bahkan bnyk jamaah yg protes tetapi imamnya ttp dg keyakinannya membiasakan sprti Rasul bacaan hrs panjang… (+62 813-3400-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah ..

Ini imam yg justru meninggalkan Sunnah. Jika shalat bersama manusia yang beragam usia dan kemampuan justru sunahnya adalah ringankan bacaan, berbeda dengan jika shalat sendiri atau berjamaah bersama orang-orang yang siap shalat lama, silahkan lama seperti yang Nabi ﷺ lakukan bersama Hudzaifah bin Yaman Radhiyallahu ‘Anhu.

Berikut ini dalilnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Jika seseorang dari kalian memimpin shalat orang banyak, hendaklah dia meringankannya. Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang yang sakit dan orang berusia lanjut. Namun bila dia shalat sendiri silahkan dia panjangkan sesukanya.”

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

Nabi ﷺ pernah memarahi Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu, yg terlalu lama meng-imami shalat, sehingga ada jamaah yg berat dan memisahkan diri. Nabi ﷺ menyebut apa yang dilakukan Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu adalah FITNAH.

Berikut ini riwayatnya:

كَانَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ الْعِشَاءَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى قَوْمِهِ بَنِي سَلَمَةَ فَيُصَلِّيهَا بِهِمْ وَأَنَّ رَسُول اللَّهِ أَخَّرَ الْعِشَاءَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَصَلاَّهَا مُعَاذٌ مَعَهُ ثُمَّ رَجَعَ فَأَمَّ قَوْمَهُ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَتَنَحَّى رَجُلٌ مِنْ خَلْفِهِ فَصَلَّى وَحْدَهُ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالُوا : نَافَقْتَ يَا فُلاَنُ . فَقَال : مَا نَافَقْتُ وَلَكِنِّي آتِي رَسُول اللَّهِ فَأُخْبِرُهُ . فَأَتَى النَّبِيَّ فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ ، إِنَّكَ أَخَّرْتَ الْعِشَاءَ الْبَارِحَةَ ، وَإِنَّ مُعَاذًا صَلاَّهَا مَعَكَ ثُمَّ رَجَعَ فَأَمَّنَا فَافْتَتَحَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَتَنَحَّيْتُ فَصَلَّيْتُ وَحْدِي وَإِنَّمَا نَحْنُ أَهْل نَوَاضِحَ نَعْمَل بِأَيْدِينَا .فَالْتَفَتَ رَسُول اللَّهِ إِلَى مُعَاذٍ فَقَال : أَفَتَّانٌ أَنْتَ يَا مُعَاذُ ؟ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ؟ اقْرَأْ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّك الأْعْلَى وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَاللَّيْل إِذَا يَغْشَى وَنَحْوِهَا

Dahulu, Muadz bin Jabal shalat Isya’ bersama Rasulullah ﷺ kemudian pulang ke kaumnya, Bani Salamah, dan shalat lagi mengimami mereka. Suatu ketika Rasulullah ﷺ mengakhirkan shalat Isya’ dan Muadz ikut shalat berjamaah, kemudian dia pulang untuk mengimami kaumnya.

Mu’adz mulai membaca surat Al Baqarah, sehingga seseorang yang berada di belakang mengundurkan diri lalu shalat sendirian. Usai shalat, orang-orang menuduhnya, “Kamu telah berbuat nifak”. Orang itu menjawab, “Saya bukan munafik, tetapi saya mendatangi Rasulullah ﷺ dan melaporkan kepada beliau”.

Orang itu mendatangi Rasulullah ﷺ untuk mengadu, “Ya Rasulullah, Anda telah mengakhirkan shalat Isya’ tadi malam. Dan Muadz ikut shalat bersama Anda. Kemudian dia kembali dan mengimami kami. Tetapi dia membaca surat Al-Baqarah, sehingga Aku mengundurkan diri dan shalat sendirian. Hal itu karena kami kaum pekerja yang menggunakan kedua tangan kami (maksudnya mereka sangat lelah).

Maka Rasulullah ﷺ pun menoleh kepada Mu’adz sambil bertanya, “Apakah kamu membuat fitnah wahai Muadz? Apakah kamu membuat fitnah? Cukup bagimu sabbihisma rabbikal a’la, wassama’i wath-thariq, wassama’i dzatil buruj, wasy-syamsi wadhuhaha, wallaili idza yaghsya dan semisalnya.

(HR. Muttafaq ‘Alaih)

Menurut Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, batasan “ringan” atau “berat” adalah kebiasaan yang dialami pada sebuah kaum, sebagaimana nasihat Nabi ﷺ kepada Utsman bin Abi Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu:

أَنْتَ إِمَامُ قَوْمِكَ وَاقْدِرِ الْقَوْمَ بِأَضْعَفِهِمْ

Kamu adalah imam kaummu, standarkankah mereka dengan yang paling lemah di antara mereka. (HR. Abu Daud, An Nasa’i).

Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: sanadnya HASAN.

(Fathul Bari, 2/199)

Jadi, hendaknya imam jangan ukur masyarakat dengan dirinya sendiri, tapi hendaknya standarnya dengan yang paling lemah di antara mereka.

Imam Abu Bakar Al Kasaniy Rahimahullah berkata:

وأمّا في زماننا فالأفضل أن يقرأ الإمام على حسب حال القوم،
فيقرأ قدْرَ ما لايُنفرُّهم عن الجماعة،
لأنّ تكثير الجماعة أفضل من تطويل القراءة

Di zaman kita sekarang, lebih utama bagi imam untuk membaca surat dengan memperhatikan kondisi jamaah. Hendaknya dia membaca seukuran yang tidak membuat jamaah lari dari shalat jamaah, karena memperbanyak jamaah lebih utama dibanding sekedar bacaan yang panjang.

(Bada’i Ash Shana’i, 3/150)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Tetaplah Bersama Jamaah, Jangan Berpecah Belah!

▪▫▪▫▪▫▪▫

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

يا أيها الناس عليكم بالطاعة والجماعة ، فإنها حبل الله عز وجل الذي أمر به ، وما تكرهون في الجماعة خير مما تحبون من الفرقة

Wahai Manusia ! Hendaknya kalian tetap taat dan berjamaah, karena tali agama Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan itu. Apa yang kalian benci pada jamaah itu masih lebih baik dibanding apa yang kalian suka tapi pada perpecahan.

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

📚 Atsar SHAHIH, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam (Al Mushannaf no. 37337), Al Hakim dalam (Al Mustadrak no. 8663), Abu Nu’aim dalam (Al Hilyah, 9/249). Al Haitsami mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat Tsabit bin Quthbah, aku tidak mengenalnya, tapi perawi selainnya terpercaya semua.” (Lihat Majma’ Az Zawaid, 5/268)

Al ‘Ijliy mengatakan: “Tsabit bin Quthbah adalah sahabat dr Ibnu Mas’ud, dia tsiqah.” (Ats Tsiqat, no. 192). Ibnu Sa’ad mengatakan: “Dia terpercaya dan banyak haditsnya.” (Ath Thabaqat Al Kubra, 6/179)

Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top