Fatwa Para Ulama Tentang Peperangan Syiah Rafidhah VS Kafir, Kita Dukung Mana?

1⃣ Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

مع شدة نقده على بعض الفرق الشيعية (كالرافضة)، إلا أنه أفتى في بعض رسائله بوجوب التعاون معهم على قتال الكفار إذا كانوا في مواجهة عدو مشترك، وقال:

“إذا كان العدو المشترك هو الكفار، فإن قتالهم مقدم على قتال أهل البدع، والمسلمون كلهم متفقون على وجوب جهاد الكفار، وإن اختلفوا في أمور أخرى”

[مجموع الفتاوى (28/ 540)]

Meskipun Beliau keras dalam mengkritik sebagian kelompok Syiah (seperti Rafidhah), namun beliau dalam sebagian risalahnya berfatwa tentang wajibnya bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir jika menghadapi musuh bersama. Beliau berkata:

“Jika musuh bersama adalah orang-orang kafir, maka memerangi mereka didahulukan daripada memerangi ahli bid‘ah. Dan seluruh kaum Muslimin sepakat tentang wajibnya berjihad melawan orang-orang kafir, meskipun mereka berbeda dalam perkara-perkara lainnya.”

(Sumber: Majmu‘ al-Fatawa, 28/540)

2⃣ Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, Arab Saudi:

سئلت اللجنة الدائمة عن حكم قتال الروافض (وهو مصطلح يطلق على بعض الطوائف الشيعية) مع الكفار؟ وهل هم كفار؟

فأجابت:

“إذا قاتل الرافضةُ الكفارَ فإنهم يقاتلون معهم، ويُعانون على قتال الكفار؛ لأنهم مسلمون، ولأن قتال الكفار أهم من قتال أهل البدع، وقد ثبت عن النبي ﷺ أنه قال: «قاتلوا المشركين بجهدكم وأموالكم وألسنتكم»”
[فتاوى اللجنة الدائمة (2/ 199-200)]

Al-Lajnah Ad-Da’imah pernah ditanya tentang hukum memerangi Rafidhah (sebutan untuk sebagian kelompok Syiah) bersama melawan orang kafir. Apakah mereka kafir?

Mereka menjawab:

“Jika kaum Rafidhah memerangi orang kafir, maka mereka (kafir) ikut diperangi bersama dan dibantu dalam memerangi orang kafir; karena mereka adalah kaum muslimin, dan karena memerangi orang kafir lebih penting daripada memerangi ahli bid’ah.

Telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lisan kalian.’”

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 2/199–200)

3⃣ Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah (Mufti Arab Saudi di Masanya)

سئل الشيخ ابن باز عن التعامل مع الشيعة في البلاد الإسلامية إذا اعتدى عليهم كفار، فأفتى بوجوب نصرتهم، وقال:

“إذا كانوا مسلمين، فالواجب مناصرتهم على الكفار، والتعاون معهم في قتال الكفار… أما إذا كانوا روافض غلاة يدعون علياً أو يستغيثون بالأموات، فهم عندنا ضالون، لكننا لا نكفرهم بذلك، ويجب التعاون معهم على قتال الكفار إذا كانوا في بلاد المسلمين، ويكون حكمهم حكم البغاة، والبغاة إذا هجم عليهم الكفار وجب رد الكفار عنهم”

[مجموع فتاوى ابن باز (28/ 287-288)]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum berinteraksi dengan kaum Syiah di negeri-negeri Islam jika mereka diserang oleh orang-orang kafir. Beliau berfatwa bahwa wajib menolong mereka, dan berkata:

“Jika mereka kaum Muslimin, maka wajib menolong mereka melawan orang-orang kafir, serta bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir…

Adapun jika mereka termasuk Rafidhah yang ekstrem, yang berdoa kepada Ali atau meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati, maka menurut kami mereka sesat. Namun kami tidak mengkafirkan mereka karena hal itu. Dan tetap wajib bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir jika mereka berada di negeri kaum Muslimin. Hukum mereka seperti hukum bughat (pemberontak), dan bughat apabila diserang oleh orang-orang kafir, maka wajib menolak serangan orang-orang kafir tersebut dari mereka.”

(Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 28/287-288)

4⃣ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

سئل عن حكم قتال الكفار إلى جانب الشيعة، فأجاب:

“إذا كان هناك عدو مشترك يهاجم بلاد الإسلام، فإن الواجب على جميع المسلمين أن يكونوا يداً واحدة على هذا العدو، ولا عبرة بالخلاف المذهبي عند هجوم العدو الكافر؛ لأن درء الخطر الأكبر يقدم على درء الخطر الأصغر”

[لقاء الباب المفتوح (لقاء رقم 67)]

Beliau (Syaikh Utsaimin) juga pernah ditanya tentang hukum memerangi orang-orang kafir bersama kaum Syiah. Maka beliau menjawab:

“Jika ada musuh bersama yang menyerang negeri-negeri Islam, maka wajib bagi seluruh kaum Muslimin untuk bersatu menghadapi musuh tersebut. Perbedaan mazhab tidak dianggap ketika ada serangan dari musuh kafir, karena menolak bahaya yang lebih besar harus didahulukan daripada menolak bahaya yang lebih kecil.”

(Sumber: Liqo’ al-Bab al-Maftuh, pertemuan ke-67)

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍️ Admin Madrasatuna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top