Sistem Pemilihan Pemimpin dalam Islam

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaykum wrwb. Kalau boleh tahu, sistem pemilihan pemimpin baku yang mana yang ditinggalkan Rasuululaah untuk memimpin Khilafah??? (+62 858-1169-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Tidak ada nash yang lugas tentang tata cara pergantian kepemimpinan; apakah penunjukkan dari pemimpin sebelumnya, syuro, atau pemilihan ..

– Abu Bakar dipilih secara aklamasi karena semua tahu keutamaannya di atas semua sahabat

– Umar dipilih secara aklamasi karena semua tahu keutamaannya setelah Abu Bakar

– Utsman dipilih oleh syuro enam orang ahli syuro yang ditunjuk oleh Umar

– Ali diangkat (dibai’at) oleh mayoritas penduduk secara langsung, kecuali para pengikut Muawiyah

– Al Hasan menggantikan Ali setelah wafat, dengan cara dibai’at oleh pendukungnya Ali

– Al Hasan mengalah mengundurkan diri untuk menghindari pertumpahan darah antara pengikuti Ali dan Muawiyah, lalu Muawiyah diangkat menggantikannya

– Muawiyah menunjuk putranya sebagai penggantinya yaitu Yazid. Sejak saat itu proses pemilihan dengan cara Dinasti. Dinasti pertama adalah Bani Umayyah.

Semua model ini terjadi dan para sahabat Nabi ﷺ masih hidup. Tidak ada penolakan signifikan pada tata caranya kecuali di masa Muawiyah ke Yazid, yang oleh Ibnu Umar disebut cara bid’ah yang mencontek cara Kisra.

Wallahu A’lam


▫▪▫

PERTANYAAN

Kalau pendapat Abu Bakar dipilih berdasarkan penunjukan dari Rasulullah melalui isyarat berbagai riwayat yang menyatakan keutamaannya dan pernah diperintahkan oleh Rasulullah menggantikan memimpin shalat berjamaah apakah cukup kuat, ustadz?

Juga Umar bin Khaththab dipilih berdasarkan penunjukan dari Abu Bakar apakah juga cukup kuat pendapatnya, ustadz?

Jazakallahu khairan katsiran. (+62 838-7358-1716)


 JAWABAN

▪▫▪

Itu semua shahih tapi tidak lugas .. hanya isyarat atau qarinah yang disimpulkan seperti itu oleh para ulama ..

Contoh, Diriwayatkan oleh Jubeir bin Mut’im, dari ayahnya:

أتت امرأة النبي صلى الله عليه وسلم، فأمرها أن ترجع إليه، قالت: أرأيت إن جئت ولم أجدك؟ كأنها تقول: الموت، قال صلى الله عليه وسلم: (إن لم تجديني فأتي أبا بكر).

“Datang seorang wanita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka nabi memerintahkannya untuk kembali lagi kepadanya. Wanita itu berkata: ‘Apa pendapatmu jika aku datang tetapi tidak berjumpa lagi denganmu?’ Seakan wanita itu mengatakan: Sudah wafat. Beliau bersabda: ‘Jika angkau tidak menemui aku, maka datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Bukhari No. 3459, 6927, 6794. Muslim No.2386)

Imam As Suyuthi Rahimahullah telah menulis demikian:

وفي حديث ابن زمعة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرهم بالصلاة وكان أبو بكر غائباً فتقدم عمر فصلى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” لا لا لا يأبى الله والمسلمون إلا أبا بكر يصلي بالناس أبو بكر ” . وفي حديث ابن عمر ” كبر عمر فسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم تكبير فأطلع رأسه مغضباً فقال أين ابن أبي قحافة ” .
قال العلماء: في هذا الحديث أوضح دلالة على أن الصديق أفضل الصحابة على الإطلاق وأحقهم بالخلافة وأولاهم بالإمامة

“Dalam hadits Ibnu Zam’ah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka shalat berjamaah dan saat itu Abu Bakar sedang tidak ada, maka majulah Umar ke depan, Nabi bersabda: “Tidak, tidak, tidak, Allah dan kaum msulimin akan menolak kecuali Abu Bakar, maka Abu Bakar pun shalat (jadi Imam) bersama manusia.”

Dalam riwayat Ibnu Umar: “Umar bin Al Khathab takbir (memimpin shalat berjamaah), maka Rasulullah mendengar takbirnya Umar, lalu dia menampakkan kepalanya dan berkata: “Di mana Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)?”

Berkata para ulama: “Ini merupakan dalil yang jelas bahwa Abu Bakar merupakan sahabat paling utama secara mutlak, yang berhak dengan khilafah, dan paling utama dalam imamah/kepemimpinan.” (Tarikhul Khulafa’ Hal. 24)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top