Serba-Serbi Puasa 6 Hari Syawal

1⃣ Apa Dalilnya?

Dalilnya hadits shahih, dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian ia menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan ia berpuasa setahun penuh.”  (H.R. Muslim No. 1164)

2⃣ Apa hukumnya?

– Mayoritas ulama mengatakan sunnah, berdasarkan hadits di atas.

Imam An Nawawi mengatakan:

فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة

Dalam hadits ini terdapat petunjuk yang jelas bagi  pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, Daud, dan yang menyepakati mereka tentang sunnahnya berpuasa enam hari tersebut. (Syarh Shahih Muslim, 8/56)

– Sementara Imam Abu Hanifah mengatakan makruh, baik dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut.

– Demikian pula Imam Malik mengatakan makruh.

– Hanafi generasi awal seperti Al Qadhi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah), mengatakan makruh berturut-turut dan tidak makruh jika tidak berturut-turut.

Tapi MAYORITAS ulama Hanafiyah muta’akhirin (generasi akhir) mengatakan puasa enam hari Syawwal tidak apa-apa. (Imam Ibnu Nujaim Al Mashri, Bahrur Raiq, 6/133)

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْمَالِكِيَّةُ ، وَالشَّافِعِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ وَمُتَأَخِّرُو الْحَنَفِيَّةِ – إِلَى أَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بَعْدَ صَوْمِ رَمَضَانَ

Mayoritas fuqaha –Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah muta’akhirin (generasi kemudian)- berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadhan. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/92)

3⃣ Apa alasan pihak yang memakruhkan?

Alasan mereka, misalnya Imam Malik, belum pernah ia saksikan ulama dan orang shalih di negerinya (Madinah) yang melakukannya. Ditambah lagi, khawatir puasa tersebut dianggap satu paket dengan puasa Ramadhan oleh orang awam.

Disebutkan dalam Al Istidzkar:

وذكر مالك في صيام ستة أيام بعد الفطر أنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها

Imam Malik menyebutkan tentang puasa enam hari Syawal, bahwa beliau belum pernah melihat seorang pun dari kalangan ulama dan ahli fiqih yang melakukan puasa itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Al Istidzkar Al Jaami’ Li Madzaahib Fuqahaa Al Amshaar, 3/379)

Alasan lain, khawatir orang-orang awam menganggap itu puasa yang masih satu kesatuan dengan Ramadhan padahal bukan. Namun bagi yang menganggap bukan bagian dari Ramadhan maka itu tidak makruh.

Disebutkan dalam kitab Mawahib Al Jalil – karya Imam Al Hathab Al Maliki:

كَرِهَ مَالِكٌ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – ذَلِكَ مَخَافَةَ أَنْ يَلْحَقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ مِنْ أَهْل الْجَهَالَةِ وَالْجَفَاءِ ، وَأَمَّا الرَّجُل فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ فَلاَ يُكْرَهُ لَهُ صِيَامُهَا

Imam Malik Rahimahullah Ta’ala memakruhkan hal itu, ditakutkan hal tersebut merupakan memasukan kepada Ramadhan dengan sesuatu yang bukan berasal darinya yang dilakukan oleh orang bodoh dan ekstrem. Ada pun seseorang yang mengkhususkannya secara tersendiri, maka puasa tersebut tidak makruh. (Imam Al Hathab, Mawahib Al Jalil Li Syarhi Mukhtashar Al Khalil, 3/329)

Alasan pihak Hanafi generasi awal juga mirip, yaitu makruh bagi yang menganggap itu puasa yang include (termasuk) dengan Ramadhan. Tapi pendapat yang terpilih dalam madzhab Hanafi adalah itu boleh bahkan mustahab (sunnah). (Lihat Imam Al Kasani, Al Bada’i Shana’i, 4/149. Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 8/35)

4⃣ Sanggahan pihak mayoritas

Semua alasan di atas telah disanggah oleh pihak yang menyunnahkan, di antaranya Imam Ash Shan’ani Rahimahullah, katanya:

و الجواب أنه بعد ثبوت النص بذلك لا حكم لهذه التعليلات وما أحسن ما قاله ابن عبد البر: إنه لم يبلغ مالكا هذا الحديث يعني حديث مسلم

Jawabannya adalah: bahwasanya setelah pastinya sebuah nash (dalil) maka tidak ada nilainya bagi alasan-alasan ini. Dan komentar terbaik adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar: “Sesungguhnya hadits ini (tentang puasa Syawal) belum sampai kepada Imam Malik, yakni hadits riwayat Muslim.” (Subulus Salam, 2/167)

5⃣ Untuk siapa puasa Syawal disunnahkan?

Sebagian ulama mengatakan berlaku bagi semua umat Islam baik ia puasa Ramadhan atau tidak, sebagian lain mengatakan khusus bagi yang puasa Ramadhan saja.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : اسْتِحْبَابُ صَوْمِهَا لِكُل أَحَدٍ ، سَوَاءٌ أَصَامَ رَمَضَانَ أَمْ لاَ

Pendapat Syafi’iyah: disunnahkan puasa ini bagi setiap orang, sama saja apakah dia puasa Ramadhan atau tidak. (Al Mausu’ah, 28/93)

Selanjutnya:

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ : لاَ يُسْتَحَبُّ صِيَامُهَا إِلاَّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ

Menurut Hanabilah: tidak disunnahkan berpuasa enam hari Syawal kecuali bagi orang yang berpuasa Ramadhan. (Ibid)

Kedua pendapat ini bisa dikompromikan yaitu pada prinsipnya kesunnahannya berlaku umum, baik bagi mereka yang sudah full puasa Ramadhannya atau yang tidak (karena terhalang oleh haid, nifas, dll), tapi untuk mendapatkan keutamaan bagaikan puasa setahun penuh hanyalah berlaku bagi yang sudah tuntas puasa Ramadhannya.

6⃣ Apa keutamaan puasa 6 hari Syawal?

Sesuai yang tertera dalam hadits bahwa berpuasa Ramadhan lalu diikuti dengan enam hari di bulan Syawal seakan berpuasa setahun penuh.

Bulan Ramadhan ada tiga puluh hari, puasa syawwal enam hari, jadi total puasa adalah 36 hari. Dan masing-masing kebaikan dilipatkan dengan sepuluh kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, jadi ada 360 kebaikan. Maka, karena itulah seakan dia berpuasa setahun penuh.

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah Ta’ala:

لأن رمضان بثلاثين يوماً، فيكون المجموع مع شوال ستة وثلاثين يوماً والحسنة بعشر أمثالها، فإذا صام رمضان وستاً من شوال، وصام ثلاثة أيام من كل شهر يكون بذلك كأنه صام الدهر مرتين

Karena Ramadhan ada 30 hari, maka jika dikumpulkan bersama puasa Syawal menjadi 36 hari, dan satu kebaikan dilipatkan nilainya dengan sepuluh kebaikan semisalnya, jika dia puasa Ramadhan, puasa enam hari Syawal, dan puasa tiga hari setiap bulannya, maka seakan dia berpuasa  sepanjang tahun sebanyak dua kali. (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 13/237)

7⃣ Bagaimana caranya, berturut-turut atau terpisah?

Puasa ini sudah boleh dilakukan sejak awal Syawal (yakni 2 Syawal, haram puasa 1 Syawal), atau pertengahan atau akhirnya.

Puasa ini sah dilakukan baik  secara berturut-turut atau tidak. Hanya saja para ulama berbeda pendapat mana yang lebih utama. Sebagian ulama mengutamakan dilakukan segera di awal Syawal. Ada pula yang mengutamakan berturut-turut dibanding terpisah, ada pula yang menganggap kedua cara ini sama saja.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:

وَاخْتَارَ ابْنُ الْمُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةَ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ

Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

وعند أحمد: أنها تؤدى متتابعة وغير متتابعه، ولا فضل لاحدهما على الاخر. وعند الحنفية، والشافعية، الافضل صومها متتابعة، عقب العيد.

Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)

Untuk pandangan Hanafiyah ada keterangan yang berbeda dalam Al Mausu’ah:

وَلَمْ يُفَرِّقِ الْحَنَابِلَةُ بَيْنَ التَّتَابُعِ وَالتَّفْرِيقِ فِي الأَْفْضَلِيَّةِ .وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ تُسْتَحَبُّ السِّتَّةُ مُتَفَرِّقَةً ، كُل أُسْبُوعٍ يَوْمَانِ

Kalangan Hanabilah tidak membedakan antara berturut-turut atau terpisah dalam hal keutamannya. Menurut Hanafiyah disunnahkan enam hari itu secara terpisah-pisah, setiap pekan dua hari. (Al Mausu’ah, 28/93)

Imam An Nawawi mengatakan:

قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

Berkata sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah), yang lebih utama adalah berpuasa enam hari secara beruntun setelah hari raya, seandainya dipisah atau diakhirkan dari awal-awal Syawal sampai akhir-akhirnya tetap mendapatkan keutamaan makna “mengikuti” sebab dia telah benar (sesuai) dengan “mengikuti puasa enam hari pada bulan Syawal.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/56)

8⃣ Qadha dulu atau dahulukan enam hari Syawwal?

– Lebih utama adalah qadha dulu, barulah enam hari Syawal. Sebab, qadha adalah wajib enam hari Syawal bukan wajib. Tentu mendahulukan wajib lebih utama.

– Namun boleh saja seseorang menunda qadha dan mendahulukan Syawalnya. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa beliau mengqadha di bulan Sya’ban tahun berikutnya, Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu.

– Namun untuk mendapatkan keutamaan “bagaikan puasa setahun penuh” hanyalah bagi yang sudah tuntas kewajiban Ramadhannya.

Dalam Fatawa Nuur ‘Alad Darb:

وهذا الفضل لمن يصومها فى شوال ، سواء أكان الصيام فى أوله أم فى وسطه أمان ثم أتبعه ستاً من شوال وبناء على ذلك فإننا نقول من صام ستة أيام من شوال قبل أن يقضي ما عليه من صيام رمضان فإنه لا ينال ثوابها

“Keutamaan ini berlaku bagi orang yang berpuasa di bulan Syawal, baik puasanya di awal, pertengahan, maupun akhir bulan. Barang siapa telah berpuasa (Ramadhan) kemudian menyusulnya dengan enam hari Syawal. Berdasarkan hal itu, maka kami katakan: siapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal tapi belum mengqadha puasa Ramadhan yang masih menjadi tanggungannya, maka ia tidak mendapatkan pahalanya.”

(Fatawa Nuur ‘Alad Darb, Bab Az Zakah wash Shiyam, No. 191)

9⃣ Bolehkah menggabungkan niat qadha Ramadhan dengan puasa Syawal, atau puasa sunnah lainnya?

Hal ini dibolehkan menurut umumnya ulama, yaitu jika ia niatkan qadha di bulan Syawal, atau di Senin dan Kamis, atau di hari Arafah, maka shaum sunnah itu juga telah tercapai untuknya bersamaan qadhanya. Sebab, yang wajib dapat mencukupi yang sunnah.

Jadi, bukan meniatkan sunnahnya dengan harapan qadha juga, sebab sunnah tidak bisa mencukupi yang wajib.

Imam Khatib Asy Syarbini mengatakan:

ولو صام فيه -أى فى شوال – قضاء عن رمضان أو غيره أو نذرا أو نفلا آخر حصل له ثواب تطوعها

“Seandainya ia berpuasa padanya –yaitu di bulan Syawal- mengqadha Ramadhan atau selainnya, atau nadzar, atau sunnah lainnya maka ia mendapatkan pahala sunnahnya.” (Imam Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 1/49)

Imam As Suyuthi Rahimahullah berkata:

ذكره السنجي في شرح التلخيص صام في يوم عرفة مثلا قضاء أو نذرا أو كفارة ونوى معه الصوم عن عرفة فأفتى البارزي بالصحة والحصول عنهما

“As Sanji menyebutkan dalam Syarh At Talkhish, berpuasa ‘Arafah misalnya, qadha, atau nadzar, atau kafarah, dan diniatkan juga bersamanya puasa ‘Arafah, maka Al Bariziy memfatwakan bahwa hal itu sah dan mendapatkan kedua puasa itu (qadha dan sunnahnya).” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhaair, 1/22)

Dalam fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyyah:

نعم يجوز للمسلم أن ينوي نية صوم النافلة مع نية صوم الفرض، فيقضي ما فاته من رمضان في شهر شوال ويكتفي بكل يوم يقضيه عن صيام يوم من الست من شوال، ويحصل بذلك على الأجرين، والأكمل والأفضل أن يصوم كلًّا منهما على حدة

“Ya, boleh bagi seorang muslim untuk menggabungkan niat puasa sunnah dengan niat puasa wajib. Maka ia mengqadha puasa Ramadhan yang terlewat di bulan Syawal, dan setiap qadha yang ia lakukan sudah mencukupi sebagai satu hari dari enam hari Syawal, sehingga ia mendapatkan dua pahala sekaligus. Namun yang lebih sempurna dan lebih utama adalah masing-masing dilakukan secara terpisah. (Fatwa No. 3572)

Menunda puasa Enam hari Syawal karena masih keliling berkunjung ke famili

Tidak apa-apa, dan tidak masalah. Selama ia melakukan puasa Syawal tersebut masih di lingkup bulan Syawal, tentu ia tetap mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi.

Di sisi lain, menunda puasa sunnah karena memuliakan tamu atau menghormati tuan rumah yang telah repot membuatkan makanan juga bagian dari amal shalih dan ibadah yang dianjurkan dalam Islam.

Demikian. Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.

✍️ Ustadz Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top