Sikap Objektif Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim Terhadap Sufi

Ada dua kelompok ekstrim dalam menyikapi tasawuf dan sufi:

– Kelompok yang memujinya setinggi langit dan mensucikannya

– Kelompok yang membencinya, menuduh sesat, ahlul bid’ah dan zindiq, semuanya.

Menurut Imam Ibnu Taimiyah kedua kelompok ini sama-sama keliru dan tidak ilmiah.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata tentang kaum sufi:

وَلِأَجْلِ مَا وَقَعَ فِي كَثِيرٍ مِنْهُمْ مِنْ الِاجْتِهَادِ وَالتَّنَازُعِ فِيهِ تَنَازَعَ النَّاسُ فِي طَرِيقِهِمْ ؛ فَطَائِفَةٌ ذَمَّتْ ” الصُّوفِيَّةَ وَالتَّصَوُّفَ ” . وَقَالُوا : إنَّهُمْ مُبْتَدِعُونَ خَارِجُونَ عَنْ السُّنَّةِ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ مِنْ الْكَلَامِ مَا هُوَ مَعْرُوفٌ وَتَبِعَهُمْ عَلَى ذَلِكَ طَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالْكَلَامِ . وَطَائِفَةٌ غَلَتْ فِيهِمْ وَادَّعَوْا أَنَّهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَكْمَلُهُمْ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ وَكِلَا طَرَفَيْ هَذِهِ الْأُمُورِ ذَمِيمٌ . وَ ” الصَّوَابُ ” أَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَمَا اجْتَهَدَ غَيْرُهُمْ مِنْ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ فَفِيهِمْ السَّابِقُ الْمُقَرَّبُ بِحَسَبِ اجْتِهَادِهِ وَفِيهِمْ الْمُقْتَصِدُ الَّذِي هُوَ مِنْ أَهْلِ الْيَمِينِ وَفِي كُلٍّ مِنْ الصِّنْفَيْنِ مَنْ قَدْ يَجْتَهِدُ فَيُخْطِئُ وَفِيهِمْ مَنْ يُذْنِبُ فَيَتُوبُ أَوْ لَا يَتُوبُ . وَمِنْ الْمُنْتَسِبِينَ إلَيْهِمْ مَنْ هُوَ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ عَاصٍ لِرَبِّهِ . وَقَدْ انْتَسَبَ إلَيْهِمْ طَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالزَّنْدَقَةِ ؛ وَلَكِنْ عِنْدَ الْمُحَقِّقِينَ مِنْ أَهْلِ التَّصَوُّفِ لَيْسُوا مِنْهُمْ : كَالْحَلَّاجِ مَثَلًا ؛ فَإِنَّ أَكْثَرَ مَشَايِخِ الطَّرِيقِ أَنْكَرُوهُ وَأَخْرَجُوهُ عَنْ الطَّرِيقِ . مِثْلُ : الجنيد بْنِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الطَّائِفَةِ وَغَيْرِهِ

“Oleh karena itu banyak pembicaraan dan pertentangan tentang jalan para ahli tasawwuf, sebagian manusia mencela TASAWWUF dan SUFI, seraya berkata: “Sesungguhnya mereka adalah ahli-ahli bid’ah yang keluar dari sunnah.” Ucapan seperti ini juga didapatkan dari sebagian imam sebagaimana yang sudah diketahui, dan diikuti oleh berbagai kelompok ahli fiqih dan kalam.

Sedangkan golongan lain bersikap berlebihan terhadap ahli tasawwuf dan mengklaim bahwa ahli tasawwuf adalah makhluk paling utama dan paling sempurna setelah para nabi.

Kedua golongan di atas keliru, dan yang benar adalah bahwa ahli tasawwuf berusaha keras dalam mentaati Allah sebagaimana halnya orang lain juga berupaya keras mentaati Allah. Maka di antara mereka ada yang berada di garis depan dan selalu dekat dengan Allah sesuai ijtihad dan usahanya, dan ada pula yang sedang-sedang saja yang tergolong ahlul yamin (golongan kanan). Sementara itu, pada masing-masing dua golongan ada pula yang kadang melakukan ijtihad dan ijtihadnya keliru, dan ada yang berbat dosa, kemudian bertobat, dan ada pula yang tidak bertobat.

Di antara orang yang menisbatkan (menyandarkan) dirinya pada ahli tasawwuf, ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dan bermaksiat kepada Tuhannya.  Dan ada pula kelompok-kelompok ahli bid’ah dan zindik yang menyandarkan diri mereka kepada ahli tasawwuf, oleh para muhaqqiq (peneliti) mereka tidaklah dianggap sebagai ahli tasawwuf, seperti Al Hallaj, sebab kebanyakan para masyayikh telah mengingkarinya dan mengeuarkannya dari jalan tasawwuf, sebagaimana sikap Al Junaid sang pemuka Ath Thaifah dan lainnya.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Juz. 2, Hal. 442)

Imam Ibnul Qayyim, mengutip ucapan kaum sufi sebagai berikut:

قال سيد الطائفة وشيخهم الجنيد بن محمد رحمه الله: الطرق كلها سدودة على الخلق إلا على من اقتفى آثار الرسول وقال: من لم يحفظ القرآن ويكتب الحديث لا يقتدى به في هذا الأمر لأن علمنا مقيد بالكتاب والسنة وقال: مذهبنا هذا مقيد بأصول الكتاب والسنة وقال أبو حفص رحمه الله: من لم يزن أفعاله وأحواله في كل وقت بالكتاب والسنة ولم يتهم خواطره فلا يعد في ديوان الرجال وقال أبو سليمان الداراني رحمه الله: ربما يقع في قلبي النكتة من نكت القوم أياما فلا أقبل منه إلا بشاهدين عدلين: الكتاب والسنة

Berkata pemimpin dan syaikhnya mereka, Al Junaid bin Muhammad Rahimahullah, “Semua jalan tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Dia juga berkata, “Siapa yang tidak menghafal al-Quran dan Hadis, ia tidak boleh diteladani dalam urusan tasawwuf. Karena ilmu kami terikat dengan keduanya.”

Dia juga berkata, “Madzhab kami ini terikat oleh dasar-dasar Al Quran dan As Sunnah.”

Berkata Abu Hafsh Rahimahullah, “Barangsiapa yang tidak menimbang keadaan dan perbuatannya setiap waktu dengan Al Kitab dan As Sunnah serta tidak memperhatikan suara hatinya, ia tidak termasuk dalam golongan kami.”

Abu Sulaiman Ad Darani Rahimahullah berkata, “Kadang-kadang, timbul suatu titik dalam hatiku seperti titik-titik yang terdapat pada suatu kaum selama beberapa hari. Saya tidak dapat memutuskannya kecuali dengan dua saksi yang adil, yaitu al-Quran dan as-Sunnah.” (Imam Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin, Bab Manzilatul ‘Ilmi, 2/434. Cet. 3, 1996M-1416H. Darul Kitab Al ‘Arabi, Beirut)

Abu Hafsh juga berkata:

أحسن ما يتوسل به العبد إلى الله: دوام الافتقار إليه على جميع الأحوال وملازمة السنة في جميع الأفعال

“Sarana terbaik bagi seorang hamba kepada Allah Ta’ala adalah membiasakan sikap butuh kepada-Nya dalam segala keadaan, dan membiasakan diri dengan sunnah dalam semua perbuatan.” (Ibid, 2/412)

Imam Ibnu Taimiyah juga mencatat:

قَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ التستري : كُلُّ وَجْدٍ لَا يَشْهَدُ لَهُ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَهُوَ بَاطِلٌ . وَقَالَ الجنيد بْنُ مُحَمَّدٍ : عِلْمُنَا مُقَيَّدٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ؛ فَمَنْ لَمْ يَقْرَأْ الْقُرْآنَ وَيَكْتُبْ الْحَدِيثَ لَا يَصِحُّ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي عِلْمِنَا

“Berkata Sahl bin Abdillah At Tastari, “Semua intuisi (cinta, suka cita) yang tidak disaksikan (dikuatkan) oleh Al Quran dan As Sunnah, maka itu adalah batil.”

Berkata Al Junaid bin Muhammad, “Ilmu kami terikat dengan Al Quran dan As Sunnah, maka barangsiapa yang tidak membaca Al Quran dan tidak menulis Hadits, maka tidak sah berbicara tentang ilmu kami (yakni tasawwuf, pen).” (Imam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 2/418, Lihat juga Majmu’ Al Fatawa, 10/719)

Kesimpulan:

– Sikap yang benar adalah yang pertengahan, tidak berlebihan dalam membenci dan mencintai.

– Jika ada yang baik dan bagus baik tokoh dan pemikirannya, maka tidak apa mengambilnya dan memujinya seperti para sufi yang sunni yang nasihat mereka bertaburan di kitab-kitab para imam sejak masa dahulu. Seperti nasihat Dzunnun al Mishri, Hatim al ‘Asham, Ibrahim bin Adham, Junaid al-Baghdadi, dan lainnya.

Imam Asy Syafi’i pernah mengkritik keras sufi, tapi Beliau juga pernah memujinya. Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengutip dari Imam asy Syafi’i Rahimahullah yang mengatakan:

صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَمَا انْتَفَعْتُ مِنْهُمْ إِلَّا بِكَلِمَتَيْنِ سَمِعْتُهُمْ يَقُولُونَ: الْوَقْتُ سَيْفٌ. فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ، وَإِلَّا شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

Aku bersahabat dengan golongan sufi, tidaklah aku mendapatkan manfaat dari mereka kecuali dua ucapan yang aku dengar dari mereka. Mereka berkata: “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka dia akan menebasmu. Dirimu jika sedang tidak sibuk dalam kebaikan, maka niscaya dia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.” (Madarij as Salikin, 3/125)

– Jika ada yang buruk dan menyimpang, tentu harus ditinggalkan dan manusia diingatkan darinya agar menjauhinya.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top