Memakai Celana Dalam Buat Laki-Laki Saat Ihram

▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN

Assalaamu’alaikum wr wb

Ustadz, Mohon penjelsan ttg hal berikut :

1. Saat Umroh/Haji
Laki2 tdk boleh pake pakaian yg berjahit termasuk CD.
Apakah mutlak spt itu tanpa memakai apapun atau masih bolehkan memakai CD spt yg dijual toko2 Umroh/Haji katanya tanpa jahitan ?

Jazaakallah Khairan Katsiir
Wassalamu’alaium wr wb (+62 813-1112-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Memakai celana dalam atau pakaian berjahit adalah salah satu larangan dalam ihram.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengatakan:

قال المزني : الفقهاء من عصر رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى يومنا وهلم جرّاً استعملوا المقاييس في الفقه في جميع الأحكام في أمر دينهم .
قال :
وأجمعوا بأن نظير الحق حق ، ونظير الباطل باطل ، فلا يجوز لأحد إنكار القياس ، لأنه التشبيه بالأمور والتمثيل عليها … .
ومن ذلك : نهي النبي صلى الله عليه وسلم المُحرم عن لبس القميص والسراويل والعمامة والخفين ، ولا يختص ذلك بهذه الأشياء فقط ، بل يتعدى النهي إلى الجباب والأقبية و الطاقية والجوربين والتبان ، ونحوه

Al Muzani mengatakan, ‘Para ahli fiqih sejak zaman Nabi ﷺ sampai sekarang ini semuanya mempergunakan qiyas (analogi) pada semua hukum dalam masalah agamanya. Beliau meneruskan, ‘Mereka sepakat bahwa persamaan kebenaran adalah benar dan persamaan batil adalah batil. Maka tidak seorangpun diperbolehkan mengingkari qiyas. Karena ia termasuk menyerupai dan menyamai dengan urusan-urasan lain.

Diantaranya adalah, Nabi ﷺ melarang orang berihram memakai gamis, celana, surban dan kaos kaki dari kulit (khuf). Hal ini tidak dikhususkan untuk hal-hal ini saja. Bahkan hal ini melebar larangan untuk jubah, kuba, topi, kaos kaki dan celana dalam (tubban) dan semisalnya.

(I’lamul Muwaqi’in, 1/205-207)

Bahkan Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وكذلك التبان أبلغ من السراويل

Demikian juga Tubban (celana dalam), dia lebih terlarang dibanding celana panjang.

(Majmu’ Al Fatawa, 21/206)

📌 Bagaimana jika darurat?

Jika memang darurat, BOLEH ..

Habib bin Abi Tsabit berkata:

رأيت على عمار بن ياسر تُبَّاناً ، وهو بعرفات

Aku melihat ‘Ammar bin Yasir memakai tubban (celana dalam) dan dia sedang di Arafah.

(Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 6/34)

Apa yang dialami ‘Ammar bin Yasir, adalah kondisi darurat, sebagaimana keterangan lain bahwa ‘Ammar berkata:

فلا يستمسك بولي

Saya tidak bisa menahan kencing saya. (Akhbar Madinah, 3/1100)

Abdu Khair berkata:

رأيت على عمار دقرارة ، وقال : ” إني ممثون “

Aku melihat ‘Ammar memakai Daqrarah. Dia (‘Ammar) berkata: “Saya mumtsuun”

(An Nihayah di Gharibil Atsar, 2/126)

Apa itu Ad Daqrarah :

التبَّان ، وهو السراويل الصغير الذي يستر العورة وحدها ، والممثون : الذي يشتكي مثانته

Yaitu Tubban, celana kecil yang dipakai menutup aurat saja. Al Mumtsuun adalah orang yang mengeluhkan saluran kencingnya.

(Ibid)

Namun, bagi yg mengalami hal ini wajib bayar fidyah. Sesuai ayat:

Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban.’

(QS. Al Baqarah: 196)

Perincian fidyahnya ada di hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْقِلٍ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
فَسَأَلْتُهُ عَنْ الْفِدْيَةِ فَقَالَ نَزَلَتْ فِيَّ خَاصَّةً وَهِيَ لَكُمْ عَامَّةً حُمِلْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقَمْلُ يَتَنَاثَرُ عَلَى وَجْهِي فَقَالَ مَا كُنْتُ أُرَى الْوَجَعَ بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى أَوْ مَا كُنْتُ أُرَى الْجَهْدَ بَلَغَ بِكَ مَا أَرَى تَجِدُ شَاةً فَقُلْتُ لَا فَقَالَ فَصُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ أَطْعِمْ سِتَّةَ مَسَاكِينَ لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ

Dari ‘Abdullah bin Aku mendengar ‘qil berkata; ‘Aku duduk dekat dengan Ka’ab bin ‘Ujrah radliallahu ‘anhu lalu aku bertanya kepadanya tentang fidyah, maka dia menawab: “Ayat itu turun untukku secara khusus dan buat kalian secara umum, yaitu aku pernah dibawa kepada Rasulu

llah ﷺ sementara wajahku banyak dipenuhi kutu, maka Beliau berkata: “Mengapa aku melihat kamu dalam keadaan sakit sedemikian parah yang belum pernah aku lihat sebelumnya? dan mengapa aku melihat kamu dalam keadaan kepayahan sedemikian memuncak yang belum pernah aku lihat sebelumnya? apakah kamu memiliki kambing?”. Aku jawab: “Tidak”. Maka Beliau berkata: “Laksanakanlah shaum tiga hari atau berilah makan enam orang miskin yang untuk setiap satu orang miskin sebanyak setengah sha'”.

(HR. Bukhari no. 1816)

Jadi bayar fidyahnya:
– memberikan makan fakir miskin sebanyak 6 orang, masing-masing 1/2 sha’
– atau puasa tiga hari
– atau kambing

Kesimpulannya, kalau darurat boleh. Kalau tidak darurat maka tidak boleh.

Demikian. Wallahu a’lam

🌻☘🌿🌸🍃🍄🌷💐

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

scroll to top