Bekerja Itu Untuk Kebutuhan Atau Keberkahan?

▫▪▫

Daftar Isi

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum ust, Afwan 🙏🏻, mohon pencerahannya ust untk pertanyaan dibawah ini 👇🏻

Assalamu’alaikum ust Farid yang In Syaa Allah di Rahmati Allah…

Afwan jiddan ust ganggu istirahat nya 🙏🏻

Ust , ada pertanyaan yg dititip ke ana :

Klo kebutuhan real keluarga sebulan misalnya 8 juta, sedangkan kita bekerja atau berwirausaha tdk sampai 8 juta jadi terkesan bhw nominal lah yg menjadi utama.
Pertanyaan nya :

Dalam Fiqih Islam kita berkerja untk mencapai target nominal kebutuhan keluarga atau target keberkahan harta?

Karena ada ungkapan tidak apa sedikit asal berkah.

Mohon pencerahannya ust 🙏🏻

Jazakallah khaiiran ust (+62 812-9252-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Islam tidak mengajarkan kemiskinan, tapi Islam mengajarkan kecukupan. Di Rukun Islam kita ada 2 rukun yang harus ditopang dengan harta yaitu haji dan zakat.

Maka silahkan mencari harta sebanyak-banyaknya harta, tapi yang halal agar berkah. Agar dapat menjalankan keseluruhan rukun Islam secara sempurna.

Allah Ta’ala memuji orang kaya yang tetap bersyukur dan tdk lupa dengan Allah Ta’ala, sebagaimana pujian kepada Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُودَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ

Dan Kami karuniakan kepada Daud, anak bernama Sulaiman, Dia adalah sebaik- baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhannya). (QS. Shad: 30)

Ini menunjukkan bahwa kekayaan tidaklah menjadi halangan utk tetap menjadi hamba terbaik asalkan tetap taat kepada Allah Ta’ala dan menjauhi laranganNya.

Nabi ﷺ memuji orang yang memiliki sesuatu (harta) lalu dia memberikannya kepada yang tidak punya: Tangan di atas lebih baik dibanding tangan yang di bawah. (HR. Al Bukhari No. 5040)

Sesungguhnya para sahabat nabi yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) hampir semua orang kaya harta, kecuali Ali Radhiallahu ‘Anhu.

Olah raga dan permainan yang dianjurkan Islam juga “berkelas dan elit” seperti berkuda, panah, dan pedang (anggar), hanya renang yang murah meriah.

Nabi ﷺ memerintahkan kita memisahkan tempat tidur (lebih bagus lagi memisahkan kamarnya). (HR. Abu Daud No. 495, Ahmad No. 6689, dll. Imam An Nawawi mengatakan: hasan) artinya, jika bangun rumah mesti banyak kamar agar ideal. Tentunya itu mesti ditopang dengan biaya besar.

Tapi jika kita belum mendapatkan apa yang kita inginkan dalam harta, maka jangan berkecil hati, tetap bersabar, dan positif thinking terhadap keadaan.

Sebab .. Di surga nanti kata Nabi ﷺ, kebanyakan isinya adalah orang-orang miskin dan lemah. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Di surga orang miskin memasukinya lebih dahulu dibanding orang kaya, mereka mahbusun (tertahan) dulu. (HR. Al Bukhari No. 5196)

Pertanyaan dan hisab di akhirat pun tidak sebanyak seperti pertanyaan bagi orang kaya, orang kaya akan ditanya tentang hartanya, dari mana dan buat apa. (HR. At Tirmidzi No. 2517, katanya: hasan shahih. Abu Ya’la No. 7434, Abu Nu’aim, 10/232)

Tidak sedikit orang-orang besar adalah orang yang diuji dengan kemiskinan, seperti Nabi Ayyub ‘Alaihissalam, namun karena kesabarannya Allah Ta’ala memujinya sebagai “ni’mal ‘abdu innahu awwab- hamba terbaik karena dia taat”. (QS. Shaad: 44)

Maka … semua keadaan itu baik bagi orang mu’min, jika dapat kebaikan disyukuri, jika dapat keburukan dia sabar.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top