Daftar Isi
Mukadimah
Biasanya hati yang hasad lahir dari hati yang kurang bersyukur. Selalu memandang orang lain lebih dari kita, dan kita melupakan nikmat Allah yang sudah kita miliki. Lalu kita berharap memiliki yang orang lain miliki baik berupa harta, kedudukan, dan jabatan, dan berharap orang lain kalah dengan kita bahkan berharap nikmat dalam hidup mereka lenyap. Ini adalah sifat yang sangat terlarang dalam agama.
Definisi Hasad
Al Jurjani mendefinisikan:
الحَسَدُ تمنِّي زوالِ نِعمةِ المحسودِ إلى الحاسِدِ
Hasad adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang yang didengki agar berpindah kepada orang yang dengki. (At Ta’rifat, hal. 87)
Sdgkan As Suyuthi mengatakan:
الحسد تمنِّي خَيرٍ يَصِلُ إلى غيرِه مع زوالِه عنه
Mengharapkan kebaikan yang sampai kepada orang lain, dengan disertai hilangnya kebaikan itu dari diri org tsb. (Mu’jam Maqalid Al ‘Ulum fil Hudud war Rusum, hal. 207)
Ibnu Hajar al ‘Asqalani menjelaskan:
الحَسَدُ تمنِّي الشَّخصِ زوالَ النِّعمةِ عن مستحِقٍّ لها
Hasad adalah keinginan seseorang agar nikmat hilang dari orang yang memang berhak atas nikmat tersebut. (Fathul Bari, 10/482)
Jadi, menginginkan nikmat (baik itu harta, kedudukan, dan keutamaan) yang ada pada seseorang, disertai harapan agar nikmat itu hilang dari orang tsb.
Larangan Hasad
Allah Ta’ala berfirman:
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)
Nabi ﷺ bersabda:
لَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ
Janganlah saling membenci, saling hasad, saling membelakangi (cuek), dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga hari. (HR. Al Bukhari No. 6065)
Dalam hadits lain:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud no. 4903, dhaif)
Hasad adalah salah satu perangai tercela. Orang yg hasad hatinya selalu tertekan melihat keqdaan orang lain yang lebih darinya. Ileh karena itu ini terlarang karena membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Celaan Penyakit Hasad dalam Al Quran dan As Sunnah
Penyakit ini mendapatkan perhatian khusus dalam Al Quran, dialami banyak manusia dan kasus.
Allah Ta’ala berfirman tentang kedengkian saudara-saudara Nabi Yusuf ‘Alaihissalam kepadanya:
إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَىٰ أَبِينَا مِنَّا…
“Ketika mereka berkata: ‘Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita…’” (QS. Yusuf: 8-9)
Kedengkian Ahli Kitab kepada para sahabat nabi:
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم
“Banyak dari Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman, karena dengki dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Baqarah: 109)
Kedengkian Yahudi Madinah kepada Rasulullah ﷺ:
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
“Apakah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang Allah berikan kepadanya?” (QS. An Nisa: 54)
Adapun dalam hadits:
لا تحاسدوا
Janganlah kalian saling dengki (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Dalam hadits lain:
وعن عبدِ اللهِ بنِ عَمرٍو رَضِيَ اللهُ عنهما قال: ((قيل: يا رَسولَ اللهِ! أيُّ النَّاسِ أفضَلُ؟ قال: كُلُّ مخمومِ القَلبِ، صَدوقِ اللِّسانِ، قالوا: صَدوقُ اللِّسانِ نَعرِفُه، فما مخمومُ القَلبِ؟ قال: هو التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لا إثمَ فيه ولا بَغْيَ، ولا غِلَّ ولا حَسَدَ
Dari Abdullah bin Amr bin al-As radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:
“Dikatakan: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling utama?
Beliau menjawab: Setiap orang yang bersih hatinya (makhmum al-qalb) dan jujur lisannya.
Mereka berkata: ‘Orang yang jujur lisannya kami tahu, lalu apa itu hati yang bersih?’
Beliau menjawab: Yaitu orang yang bertakwa lagi suci (bersih), tidak ada dosa padanya, tidak ada kezaliman, tidak ada ghil (kebencian halus di hati), dan tidak pula hasad.” (HR. Ibnu Majah no. 4216, dinyatakan shahih oleh Al Munziri dalam At Targhib wat Tarhib, 4/33)
Hasad adalah Kejahatan Tertua
Dalam sejarah, Hasad adalah Kejahatan sekaligus penyakit hati tertua yang dialami makhluk Allah Ta’ala baik di langit maupun di bumi.
Pertama, hasadnya Iblis kepada penciptaan dan kedudukan Adam ‘Alaihissalam.
Kedua, hasadnya Qabil terhadap Habil, yang menjadi penyebab ia membunuhnya.
Bahaya Hasad
Hasad memiliki banyak bahaya baik bagi pelakunya dan orang lain, oleh karena itu Allah Ta’ala mengajarkan perlindungan darinya:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan (perlindungan) dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5)
Apa saja bahayanya?
Penghapus kebaikan
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ
“Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud no. 4903, hadits hasan)
Penyakit umat terdahulu
Dari Zubeir bin Awwam Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ
“Penyakit umat-umat sebelum kalian merayap mendatangi kalian; hasad dan kebencian (HR. At Tirmidzi no. 2510, hadits hasan)
Penghancur agama seseorang
Yaitu keberagamaan seseorang rusak karena hasad. Walaupun ia ulama, ahli ibadah, tapi memiliki sifat hasad maka rusaklah keislamannya.
Rasulullah ﷺ bersabda -lanjutan hadits di atas:
هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ
Itu (hasad) memangkas, Aku tidak mengatakan memangkas rambut tapi memangkas agama. (HR. At Tirmidzi no. 2510, hadits hasan)
Maka, hasad itu menghapus pahala, merusak hati, menghancurkan hubungan, bahkan bisa merusak agama. Karena itu, hati yang selamat adalah yang disebut Nabi ﷺ: tidak ada hasad dan tidak ada ghill di dalamnya.
Hasad yang Dibolehkan
Hanya saja tidak semua hasad itu terlarang, Nabi ﷺ menyebutkan beberapa hasad yang diperbolehkan.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌٍ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌٍ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu kepada seseorang yang Allah ﷻ berikan harta dan dia menghabiskan hartanya di atas kebenaran, dan kepada seseorang yang Allah ﷻ berikan hikmah (ilmu) lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya.
(HR. Al Bukhari No. 73, dari Abdullah bin Mas’ud)
Hadits lain:
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَتْلُوهُ (يَقُومُ بِهِ) آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
Tidak boleh hasad kecuali dalam dua hal, yaitu kepada seseorang yang Allah ﷻ berikan Al Quran dan dia membacanya (mengamalkannya) di sepanjang malam dan siang, dan kepada seseorang yang Allah ﷻ berikan harta lalu dia menginfakannya sepanjang siang dan malam. (HR. Al Bukhari No. 7529, dari Abdullah bin Umar)
Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:
قَالَ الْعُلَمَاءُ الْحَسَدُ قِسْمَانِ حَقِيقِيٌّ وَمَجَازِيٌّ فَالْحَقِيقِيُّ تَمَنِّي زَوَالِ النِّعْمَةِ عَنْ صَاحِبِهَا وَهَذَا حَرَامٌ بِإِجْمَاعِ الْأُمَّةِ مَعَ النُّصُوصِ الصَّحِيحَةِ وَأَمَّا الْمَجَازِيُّ فَهُوَ الْغِبْطَةُ وَهُوَ أَنْ يَتَمَنَّى مِثْلَ النِّعْمَةِ الَّتِي عَلَى غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ زَوَالِهَا عَنْ صَاحِبِهَا فَإِنْ كَانَتْ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا كَانَتْ مُبَاحَةً وَإِنْ كَانَتْ طَاعَةً فَهِيَ مُسْتَحَبَّةٌ
Berkata para ulama: Iri hati itu ada dua; hakiki dan majazi. Iri hati yang hakiki adalah berharap lenyapnya nikmat dari seseorang, maka ini haram menurut ijma’ umat dan dalil-dalil yang shahih. Iri hati yang majazi adalah ghibthah, yaitu mengharapkan dapat nikmat yang sama yang ada pada orang lain, tanpa menginginkan nikmat itu lenyap dari orang tersebut. Jika pada urusan dunia maka itu iri yang dibolehkan, jika pada urusan ketaatan maka itu iri yang disukai (sunnah).
(Imam An Nawawi, Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 10/98. Cet. 2, 1392H. Daar Ihya’ At Turats. Beirut)
Kesimpulannya, hasad dibolehkan kepada:
– Orang yang diberikan harta dan ia habiskan harta itu di atas kebenaran
– Orang yang diberikan ilmu lalu ia ajarkan dan amalkan
– Orang yang diberikan kemampuan terhadap Al Quran lalu ia membaca pagi dan siang dan mengamalkan isinya.
Bagaimana obatnya?
Obat dari penyakit ini adalah hendaknya menumbuhkan sikap qana’ah (merasa puas) dan syukur atas apa yang sudah kita miliki, agar hati kita lapang dan luas atas apa yang dimiliki orang lain.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pandanglah orang yang berada dibawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih layak agar membuat kalian tidak mengkufuri nikmat Allah.” (HR. Muslim no. 2963)
Demikian. Wallahu A’lam
🍃🌸 Hasad Atawa Dengki 🌸🍃
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
📌 Warung klontong sebelah bilang, “Jangan beli barang ke warung Anu, barangnya jelek-jelek, mahal lagi.”
📌 Kenyataannya warung si Anu murah dan berkualitas bagus.
📌 Tukang obat bilang, “Jangan beli obat di toko sebelah, sudah banyak expired, bukan sembuh malah mati nanti kamu!”
📌 Kenyataannya toko sebelah, tetap ramai karena resik, harga bersaing, pelayanan cepat, dan obat masih fresh
📌 Jamaah Al Gosipiyah bilang, “Jangan ikut pengajian jamaah A, B, C, D …, karena semuanya Ahlul Bid’ah, dan pemecah belah umat.”
📌 Kenyataannya para ulama memberikan kesaksian positif kepada A, B, C, D, .. di lapangan justru Al Gosipiyah ini yang paling rajin membuat onar dan susah diajak bersatu.
📌 Ust Abu Al Gosipiy mentahdzir, “Jangan ikut kajian si fulan, si Alan, si Zaid, dan semuanya, .. semua manhaj mereka menyimpang. Ya .. pokoknya jaga diri antum semua .. kalau mau ngaji ama kita-kita aja.”
📌 Kenyataannya manhaj mereka begitu destruktif, bengis, lidah mereka tajam, perut mereka penuh daging bangkai para da’i yang menjadi korban mereka. Memproteksi jamaahnya dengan cara menjelek-jelekkan yang lainnya. Jamaahnya ikut mentaatinya.
Begitulah … Hasad adalah di antara penyakit hati paling mematikan pelakunya. Dia bisa dihinggapi oleh siapa pun termasuk para da’i dan ulama. Iri hati dan dengki plus demam melihat yang lainnya disukai banyak orang, kajiannya ramai dan disesaki manusia.
Ya .. Jika memang sudah tidak ada rasa malu, maka lakukan apa pun sesuka hatimu …
Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thariq …
🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻
✍ Farid Nu’man Hasan




