Bacaan Sujud Sahwi

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Sebagian fuqaha menyebutkan dalam kitab-kitab mereka bahwa disunahkan bacaan dalam sujud sahwi adalah:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ

Subhana man laa yashuu wa laa yanaam – Maha Suci Yang tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur.

Doa ini berserakan dalam kitab-kitab fiqih induk madzhab Hanafi dan syafii seperti:

💢Madzhab Hanafi

Imam Ahmad bin Muhamamd bin Ismail Ath Thahawi, Miraqi Al Falah, Hal. 298

💢Madzhab Syafi’i

Imam An Nawawi, Raudhatuth Thalibin, 1/315
Imam Sulaiman bin Muhammad Al Bujairumi, Hasyiyah Al Bujairumi Alal Minhaj, 3/106.
Imam Zakariya Al Anshari, Asna Al Mathalib, 3/156.
Imam Ar Rafii, Syarh Al Kabir, 4/180.
Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Tuhfatul Muhtaj fi Syarhil Minhaj, 7/136.
Imam Sulaiman bin Umar Al Jumal, Hasyiyah Al Jumal, 4/236.
Imam Syihabudin Al Qalyubi dan Imam Ahmad Amirah, Hasyiyah Qalyubi wa Amirah, 3/97
Imam Ibnu Ruslan, Syarh Kitab Ghayah Al Bayan, 1/ 209
Imam Zainuddin Al Malibari, Fathul Muin, 1/97
Imam Muhammad Al Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 3/93
Imam Syihabuddin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 5/233

Namun bacaan ini menurut para imam tidak shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tidak ada keterangan yang sah tentang ucapan yang mesti dibaca dalam sujud sahwi.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah juga telah menjelaskan:

قَوْلُهُ سَمِعْت بَعْضَ الْأَئِمَّةِ يَحْكِي أَنَّهُ يَسْتَحِبُّ أَنْ يَقُولَ فِيهِمَا سُبْحَانَ مَنْ لَا يَنَامُ وَلَا يَسْهُو أَيْ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ قُلْت لَمْ أَجِدْ لَهُ أَصْلًا

Ucapannya (Ar Rafi’i): aku mendengar sebagian imam menceritakan bahwa disunahkan membaca pada dua sujud itu: Subhana man laa yanaam wa laa yashuu, yaitu pada dua sujud sahwi. Aku (Imam Ibnu Hajar) berkata: Saya tidak temukan asal usul ucapan ini.” (Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/14. Cet. 1, 1989M-1419H. Darul Kutub Al Ilmiyah)

Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah mengomentari bacaan di atas:

لا يصح تقييد هذا التسبيح في سجود السهو

Tidak benar mengkaitkan tasbih ini pada sujud sahwi. (Muhadzdzab Mu’jam Al Manahi Al Lafzhiyah, Hal. 89)

Oleh karenanya sebagian ulama seperti Imam Ibnu Qudamah- menyebutkan bahwa bacaan sujud sahwi adalah sama dengan sujud biasa. Inilah yang lebih baik.

Berkata Syaikh Abu Thayyib Ali Hasan faraaj:

والصواب: أن يقول في سجود السهو مثل ما يقول في سجود الصلاة

Yang benar adalah membaca pada sujud sahwi seperti membaca pada sujud shalat. (Tanbih As Saajid , Hal. 10)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وبعض الفقهاء يستحب أن يقول في سجود السهو ( سبحان من لا يسهو ولا ينام ) ، ولكن لا دليل عليه ، فالمشروع هو الاقتصار على ما يذكر في سجود الصلاة، ولا يعتاد ذكرا غيره

Sebagian fuqaha menganjurkan membaca pada sujud sahwi (subhana man laa yashuu wa laa yanaam), tetapi ini tidak ada dalilnya, maka yang disyariatkan adalah bacaan sebagaimana dibaca dalam sujud shalat, dan tidak ada pembiasaan dzikir selain itu. (Fatawa Islamiyah Su’al wa Jawab, No. 77430)

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

قول في سجود السهو كما يقول في سجود الصلاة لعموم قول الرسول صلى الله عليه وسلم في قوله تعالى (سبح اسم ربك الأعلى) قال (اجعلوها في سجودكم) فهو يقول كما يقول في سجود الصلاة وكذلك في الجلسة بين السجدتين يقول فيها كما يقول في الجلسة بين السجدتين في صلب الصلاة ولا ينبغي أن يقول سبحان من لا ينسى سبحان من لا يسهو أو ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم

Ucapan pada sujud sahwi adalah sama seperti sujud shalat, karena keumuman sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta’ala: (sabbihisma rabbikal ala) jadikanlah ia pada sujud kalian. Maka, bacaannya sebagaimana bacaan pada sujud shalat, begitu juga ketika duduk di antara dua sujud, bacaannya adalah sama dengan bacaan duduk di antara dua sujud dalam shalat. Semestinya tidak membaca: subhana man laa yansaa subhana man laa yashuu atau rabbanaa laa tuakhidzna innaa siina aw akhthanaa,karena bacaan ini tidak ada riwayatnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. (Syaikh Ibnul Utsaimin, Fatawa Nur Alad Darb, Bab Shalat No. 1531)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷☘🌴🌺🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Hakikat Orang Berilmu

▪▫▪▫▪▫▪▫

📌 Orang berilmu bukan ditentukan oleh gelarnya, walau gelar menjadi tanda bahwa seseorang pernah belajar dan mencapai hasilnya

📌 Orang berilmu bukan pula dilihat dari berapa banyak karya tulisnya, walau karya tulis menjadi tanda bahwa dia pernah menyampaikan apa yang dimilikinya

📌 Orang berilmu juga tidak dilihat dari pujian dan kedudukan seseorang di tengah masyarakatnya, walau kedudukan adalah hal yang memang alami didapatkan orang yang berilmu

📌 Orang berilmu itu adalah yang menjalankan ilmunya dan mengajarkannya, dan menyebarkannnya. Dan, Ini sangat berat … bisa jadi kita masih sangat jauh dari posisi itu ..

Imam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah mengatakan:

ليس العالم الذي يعرف الخير والشر , إنما العالم الذي يعرف الخير فيتبعه , ويعرف الشر فيجتنبه

Orang berilmu itu bukankah yang (sekedar) mengenal kebaikan dan keburukan, tapi orang berilmu itu adalah orang yang mengenal kebaikan lalu dia mengikutinya, dan mengetahui keburukan lalu dia menjauhinya.

Beliau juga berkata:

أول العلم الاستماع , ثم الإنصات , ثم الحفظ، ثم العمل، ثم النشر

Ilmu itu, pertama kali adalah dengan mendengarkan, lalu diam, menghapalkan, mengamalkan, lalu menyebarkan.

(Imam Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya’, Jilid. 8, Hal. 6. Cet. 1. Dar Ibn Al Jauzi. Kairo. 2017M/1438H)

🌿🍀🌸🌷🌴🌼🌻🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Istri Memberi Zakat Kepada Suami

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak mustahil seorang istri lebih mandiri ekonominya dibanding suaminya. Istri punya tabungan dan kekayaannya sendiri, baik pemberian dari orangtuanya atau memang dari usahanya sendiri, sementara suami pas-pasan.

Dalam keadaan begini, apakah boleh istri berzakat untuk suaminya sendiri?

Zainab Radhiallahu ‘Anha, seorang shahabiyah yg bersuamikan laki-laki yang miskin, yaitu Abu Mas’ud Al Anshari Radhiallahu ‘Anhu.

Zainab bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

أَيَجْزِي عَنِّي أَنْ أُنْفِقَ عَلَى زَوْجِي، وَأَيْتَامٍ لِي فِي حَجْرِي؟

Apakah bisa diterima zakatku untuk suamiku dan anak-anak yatim yang dalam pengasuhanku?

Rasulullah menjawab:

نَعَمْ، لَهَا أَجْرَانِ، أَجْرُ القَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

Ya, bagi dia dua pahala; pahala menguatkan hubungan kekerabatan dan pahala shadaqah.

📚 HR. Al Bukhari No. 1466

Syaikh Mushthafa Al Bugha mengatakan makna “shadaqah” dalam hadits di atas adalah zakat. (Ta’liq Mushthafa Al Bugha)

📖 Pelajaran:

📌 Wanita juga memiliki dan berkuasa atas harta yang dimiliki sendiri

📌 Wanita boleh bersedekah hartanya sendiri tanpa izin suaminya, ada pun yang seizin suami adalah harta bersama atau harta suaminya

📌 Ketika suami sedang susah ekonomi hendaknya dibantu, bukan malah minta cerai

📒📔📙📘📗📕📓

✍ Farid Nu’man Hasan

Aktifitas Yang Menjadi Terwujudnya Perbuatan Haram Maka Aktifitas Itu Haram Juga

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Kaidahnya berbunyi:

وما أدى إلى الحرام فهو حرام

Apa saja yang dapat terlaksananya perbuatan haram, maka itu juga haram. (Imam Izzuddin bin Abdussalam, Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/184. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 114)

Jadi, perbuatan apa pun yang dapat mengantarkan pelakunya kepada perkara haram, maka perbuatan tersebut menjadi haram juga, walaupun pada asalnya perbuatan tersebuat adalah baik.

Syaikh Zakariya bin Ghulam Al Bakistani menjelaskan:

كما لو أدى فعل نافلة إلى ترك فريضة كالذي يصلي بالليل طويلاً وينام عن صلاة الفجر ، فإنه لا يشرع له قيام الليل إذا كان ذلك سببا لتركه صلاة الفجر . أو أدى فعل مباح إلى فعل محرم ، كما لو إذا خلى وحده ارتكب المحرمات ، فإنه لا يشرع له أن يخلوا لوحده إذا كان ذلك سبباً للوقوع في الحرام أو أدى فعلٌ إلى الإحتيال على أمر محرم فهو محرم

Sebagaimana seandainya seorang melakukan shalat sunah yang membuat tertinggalnya shalat wajib. Seperti seorang yang shalat malam begitu lama, namun dia tertidur dari shalat subuhnya. Atau melaksanakan perbuatan mubah yang mengantarkannya kepada perbuatan haram, seperti seseorang yang menyepi sendirian lalu dia melakukan perbuatan yang diharamkan, maka tidak disyariatkan dia menyendiri jika hal itu menjadi sebab terjatuhnya pada perbuatan haram, atau menghayalkan perkara yang haram maka itu juga haram. (Ibid)

Dalil kaidah ini adalah firmanNya Ta’ala:

وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا

Dan janganlah kamu dekati zina karena itu adalah perbuatan keji dan sejelek-jeleknya jalan. (QS. Al Isra (17): 32)

Ayat ini tidak mengatakan: Laa tazni … (jangan kamu berzina), tetapi ayat ini melarang lebih jauh dari itu yakni melarang jalan yang mendekati perzinaan. Jadi, perbuatan apa saja yang mengantarkan seseorang pada perzinaan, seperti bicara, telepon, sms, dan chatting esek-esek, atau interaksi dengan lawan jenis secara bebas, maka ini semua merupakan jalan yang menuju perzinaan yang diharamkan. Awal dan akhirnya adalah haram.

Syahidul Islam, Sayyid Quthb Rahimahullah Ta’ala berkata:

ومن ثم يأخذ الإسلام الطريق على أسبابه الدافعة ، توقياً للوقوع فيه . . يكره الاختلاط في غير ضرورة . ويحرم الخلوة . وينهى عن التبرج بالزينة . ويحض على الزواج لمن استطاع ، ويوصي بالصوم لمن لا يستطيع …

Oleh karena itu, Islam mengambil cara pencegahan terhadap sebab-sebabnya, sebagai penangkal terjatuhnya ke dalam hal tersebut … membenci bercampur (ikhtilath) pada kondisi bukan darurat, dan mengharamkan khalwat, dan melarang tabarruj (wanita bersolek secara tidak patut, pen). Dan, menganjurkan untuk menikah bagi yang mampu, dan mewasiatkan untuk berpuasa bagi yang tidak mampu … (Fi Zhilalil Quran, 5/17. Mawqi’ At Tafasir)

📋 Contoh penerapan kaidah ini:

📌 Seorang laki-laki yang hendak ke pasar atau mall, bertujuan untuk “cuci mata” melihat aurat wanita. Maka, perjalanan ke tempat-tempat ini yang pada dasarnya adalah boleh-boleh saja, akan menjadi terlarang untuk dilakukan sebab itu menjadi jalan bagi orang tersebut mewujudkan keinginannya melihat yang haram-haram.

📌 Membunuh diri adalah haram bahkan salah satu dosa besar. Maka, perilaku apa pun yang mendekatkan seseorang pada kecelakaan bagi jiwanya maka itu juga diharamkan. Dari sinilah di antara sekian banyak alasan diharamkannya rokok, narkoba, dan sejenisnya.

Wallahu A’lam

🌾🌿🌷🌻🌳☘🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top