Hadits Tentang Keruntuhan Persia

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ustadz mohon penjelasan untuk hadits ini: “Jika Raja Persia telah runtuh, maka tidak mungkin ada kerajaan Persia selanjutnya.” (HR Bukhari no 2889, Muslim)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bunyi lengkapnya:

إذا هلك كسرى فلا كسرى بعده، وإذا هلك قيصر فلا قيصر بعده

Jika Kisra binasa maka tidak ada Kisra setelahnya, dan jika Qaisar (Romawi) binasa maka tidak ada lagi Qaisar setelahnya.

Maknanya, setelah Kisra runtuh oleh Islam maka tidak ada lagi kerajaan atau kekuasaan Kisra yang majusi, baik di Persia atau lainnya. Begitu pula Kaisar Romawi. Ini juga menjadi dalil kebenaran kenabian Rasulullah ﷺ.

Imam An Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim:

قال الشافعي وسائر العلماء: معناه لا يكون كسرى بالعراق، ولا قيصر بالشام كما كان في زمنه -صلى الله عليه وسلم- فعلمنا -صلى الله عليه وسلم- بانقطاع ملكهما في هذين الإقليمين، فكان كما قال -صلى الله عليه وسلم-، فأما كسرى فانقطع ملكه، وزال بالكلية من جميع الأرض، وتمزق ملكه كل ممزق، واضمحل بدعوة رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، وأما قيصر فانهزم من الشام، ودخل أقاصي بلاده فافتتح المسلمون بلادهما، واستقرت للمسلمين ولله الحمد، وأنفق المسلمون كنوزهما في سبيل الله؛ كما أخبر -صلى الله عليه وسلم- وهذه معجزات ظاهرة

Imam Asy Syafi’i dan para ulama lainnya berkata: maknanya adalah tidak akan ada lagi Kisra (raja Persia) di Irak, dan tidak pula Kaisar (Romawi) di Syam sebagaimana pada masa beliau ﷺ. Maka Nabi ﷺ telah memberitahukan kepada kita tentang terputusnya kekuasaan keduanya di dua wilayah tersebut, dan terjadilah sebagaimana yang beliau sabdakan.

Adapun Kisra, maka kekuasaannya benar-benar terputus dan lenyap secara total dari seluruh bumi; kerajaannya hancur berkeping-keping dan sirna, sebagai akibat dari doa Rasulullah ﷺ.

Sedangkan Kaisar, ia dikalahkan dari wilayah Syam dan mundur ke pelosok negerinya. Lalu kaum Muslimin menaklukkan negeri-negeri keduanya, dan kekuasaan itu menetap di tangan kaum Muslimin—segala puji bagi Allah. Kaum Muslimin pun membelanjakan harta-harta kekayaan (perbendaharaan) keduanya di jalan Allah, sebagaimana telah diberitakan oleh Rasulullah ﷺ. Dan ini semua merupakan mukjizat yang nyata.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Al Bayan Ash Shahih Liman Badala Din Al Masih:

فصل: إخباره عليه السلام بالكثير من الغيوب الماضية، والمستقبلة، ودلالتها على النبوة- : وهذا أخبر به، وملك كسرى وقيصر أعز ملك في الأرض، فصدق الله خبره في خلافة عمر وعثمان فهلك كسرى، وهو آخر الأكاسرة في خلافة عثمان بأرض فارس، ولم يبق بعده كسرى، ولم يبق للمجوس والفرس ملك، وهلك قيصر الذي بأرض الشام، وغيرها، ولم يبق بعده من هو ملك على الشام، ولا مصر، ولا الجزيرة من النصارى، وهو الذي يدعى قيصر

Pasal: Pemberitaan beliau ﷺ tentang banyak perkara gaib, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta hal itu sebagai dalil kenabian.

Ini termasuk kabar yang beliau sampaikan, padahal kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi) adalah kerajaan yang paling kuat di muka bumi. Maka Allah membenarkan kabar beliau itu pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khattab dan Uthman ibn Affan.

Akhirnya Kisra binasa—dan ia adalah Kisra terakhir—pada masa kekhalifahan Utsman di wilayah Persia. Setelah itu tidak ada lagi Kisra, dan tidak tersisa kekuasaan bagi kaum Majusi dan Persia.

Demikian pula Kaisar yang berkuasa di wilayah Syam dan sekitarnya mengalami kehancuran. Tidak ada lagi setelahnya penguasa Nasrani yang memerintah Syam, Mesir, maupun Jazirah dengan gelar “Kaisar”.

Imam Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah:

قال الشافعي وغيره من العلماء: ولما كانت العرب تأتي الشام والعراق للتجارة، فأسلم من أسلم منهم، شكوا خوفهم من ملكي العراق، والشام إلى رسول الله -صلى الله عليه وسلم-، فقال: إذا هلك كسرى فلا كسرى بعده، وإذا هلك قيصر، فلا قيصر بعده قال: فباد ملك الأكاسرة بالكلية، وزال ملك قيصر عن الشام بالكلية، وإن ثبت لهم ملك في الجملة، ببركة دعاء رسول الله -صلى الله عليه وسلم- لهم حين عظموا كتابه، والله أعلم. قلت: وفي هذا بشارة عظيمة بأن ملك الروم لا يعود أبدا إلى أرض الشام

Imam Asy Syafi’i dan ulama lainnya berkata:

Ketika orang-orang Arab dahulu pergi ke Syam dan Irak untuk berdagang, lalu sebagian dari mereka masuk Islam, mereka mengadukan rasa takut mereka terhadap dua penguasa besar Irak dan Syam kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau bersabda:

“Apabila Kisra telah binasa, maka tidak ada lagi Kisra setelahnya. Dan apabila Kaisar telah binasa, maka tidak ada lagi Kaisar setelahnya.”

Ia (Imam Syafi‘i) berkata: Maka kekuasaan para Kisra benar-benar lenyap seluruhnya, dan kekuasaan Kaisar pun hilang dari wilayah Syam secara total. Meskipun secara umum mereka (Romawi) masih memiliki kekuasaan di tempat lain, hal itu karena berkah doa Rasulullah ﷺ kepada mereka ketika mereka menghormati surat beliau. Wallahu a‘lam.

Aku (penulis) berkata: Dalam hal ini terdapat kabar gembira yang besar, bahwa kekuasaan Romawi tidak akan kembali lagi selamanya ke wilayah Syam.

(Selesai)

Ini menunjukkan bahwa wilayah Kisra dan Qaishar di Syam, setelah keruntuhan mereka akan tetap menjadi wilayah milik kaum muslimin selamanya. Bisa jadi direbut orang kafir di suatu masa, tapi akan kembali ke pangkuan umat Islam.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Benarkah Doa Rabithah Bid’ah?

– Doa adalah bagian dari zikir, tetapi zikir tidak selalu isinya doa

– Zikir dan Doa ada dua macam: Ma’tsur (dari Al Quran dan As Sunnah), dan Ghairul Ma’tsur (susunan manusia, selain Al Quran dan As Sunnah).

– Doa Rabithah termasuk Ghairul Ma’tsur, kalimatnya disusun oleh Imam Hasan Al Banna

– Menyusun doa dan dzikir sendiri, sesuai hajat manusianya, sudah dilakukan sejak masa salaf dan khalaf

– Sehingga itu adalah boleh dan sah menurut mayoritas ulama, selama isinya tidak ada yang melanggar syariat dan tidak dianggap sunnah nabi saat mengamalkannya.

Beberapa contoh zikir dan doanya para sahabat:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi berkata,

“Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya) ‘. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca;

‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) ‘.”

Selesai shalat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?”

Orang itu menjawab, “Saya.”

Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut.”

(HR. Bukhari no. 799)

Hadits ini menunjukkan, sahabat nabi yg menciptakan dzikirnya sendiri di dalam shalat, dan Rasulullah ﷺ menyetujuinya. Istilahnya sunnah taqririyah.

Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه

Hadits ini merupakan dalil BOLEHNYA menciptakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur, dan menunjukkan kebolehan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)

Imam Ibnu ‘Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:

في مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم لفعل هذا الرجل وتعريفه الناس بفضل كلامه وفضل ما صنع من رفع صوته بذلك الذكر أوضح الدلائل على جواز ذلك

Pujian Rasulullah ﷺ terhadap apa yang dilakukan laki-laki tersebut dan manusia mengetahui keutamaan perkataannya dan keutamaan apa yang dilakukannya berupa meninggikan suara dzikirnya, telah menjadi petunjuk bahwa hal itu memang boleh. (At Tamhid, 16/198)

Contoh lain, doanya Umar bin Khathab:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Umar Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:

“Ya Allah, rezekikanlah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu.”

(HR. Bukhari no. 1890)

Dalam riwayat lain:

  وقال منصور سألت مجاهدا فقلت أرأيت دعاء أحدنا يقول اللهم إن كان اسمي في السعداء فأثبته فيهم وإن كان في الأشقياء فامحه عنهم واجعله في السعداء فقال حسن

Manshur berkata: aku bertanya kepada Mujahid: Apa pendapatmu dengan doa salah satu di antara kami:

“Ya Allah jika namaku bersama orang-orang berbahagia maka tetapkanlah bersama mereka, jika bersama orang-orang sengsara maka hapuslah, dan jadikan bersama orang-orang berbahagia.”

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/469)

Malik bin Dinar berdoa:

وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي دَعَا لَهَا: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِي بَطْنِهَا جَارِيَةٌ فَأَبْدِلْهَا غُلَامًا فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ وَتُثْبِتُ وَعِنْدَكَ أُمُّ الْكِتَابِ

Malik bin Dinar mendoakan ibu hamil; “Ya Allah jika diperutnya adalah bayi perempuan, gantilah menjadi bayi laki-laki, karena Engkau maha menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkannya, dan di sisiMulah Ummul Kitab.” (Tafsir Al Qurthubi, 9/330)

Contoh lain kaum salaf:

Imam An Nawawi berkata:

وَقَدْ كَانَ بَعْضُ الْمُتَقَدِّمِينَ إذَا ذَهَبَ إلَى معلمه تصدق بشئ وَقَالَ اللَّهُمَّ اُسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي

Sebagian ulama terdahulu, jika pergi menuju gurunya maka mereka menyedekahkan sesuatu dan berdoa: “Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku dan janganlah Kau lenyapkan keberkahan ilmunya dariku.”

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Jilid. 1, Hal. 157-158)

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

وإني لأدعو للشافعي منذ أربعين سنة في صلاتي

“Dalam shalat saya, sejak 40 tahun yang lalu saya berdoa untuk Asy Syafi’i.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 1/54)

Imam Yahya bin Said Al Qaththan Rahimahullah berkata:

أنا أدعو الله للشافعي، أخصه به

“Saya berdoa kepada Allah untuk Asy Syafi’i, saya khususkan doa baginya.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 2/243)

Semua contoh ini adalah sama-sama doa susunan dari manusia selain Rasulullah ﷺ dan bukan pula dari Al Quran. Tidak ada satu pun ulama yang mengingkarinya, dan ini menunjukkan kebolehannya.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فما صح معناه من الأدعية غير المأثورة يجوز الدعاء به، لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ليتخير أحدكم من الدعاء أعجبه إليه فليدع الله عز وجل. رواه البخاري والنسائي، واللفظ له

Doa-doa yg ghairul ma’tsur (tidak ma’tsur) namun maknanya shahih boleh dipakai berdoa dengannya, hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ: “kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’alah kepada Allah dengan do’a itu.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, dan ini lafaznya An Nasa’i).

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 25798)

Semua ini sudah menunjukkan dalil dalam Sunnah, perilaku sahabat, dan kaum salaf bolehnya menyusun zikir dan doa sendiri, seperti doa Rabithah.

Demikian kebolehan berdoa dengan susunan sendiri, dengan syarat, isinya tidak melanggar syariat dan tidak dianggap sebagai sunnah nabi saat memakainya.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Admin Madrasatuna

Ucapan “Labaika”

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz🙏
Izin bertanya kembali ustadz🙏
Apakah tercela seruan seruan yg sering dilantunkan oleh jama’ah Syi’ah seperti
” Ya husein ”
“Labbaika ya husein”
Labbaika ya Khamainie
Dan yg lainnya?.?


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Labaika artinya “kami sambut panggilanmu”.

Para ulama membagi dua bagian:

– Jika yang memanggil masih hidup.

Misal, seperti Rasulullah ﷺ memanggil sahabatnya lalu sahabat menjawab: “Labaika Ya Rasulullah”, maka sepakat semua ulama atas kebolehannya. Ini bukan hanya berlaku untuk Rasulullah ﷺ, tapi juga untuk yang lain. Seperti guru memanggil muridnya, lalu muridnya menjawab “Labaika ya Ustadzi”.

Bahkan ini sunnah. Imam An Nawawi mengatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:

يستحب إجابة من ناداك بلبيك، وأن يقول للوارد عليه: مرحبا أو نحوه. وأن يقول لمن أحسن إليه أو فعل خيرا: حفظك الله أو جزاك الله خيرا ونحوه، ولا بأس بقوله لرجل جليل في علم أو صلاح ونحوه: جعلني الله فداك. ودلائل هذا كله في الحديث الصحيح مشهور

Disunnahkan menjawab orang yang memanggilmu dengan ucapan “labbaik”. Dan disunnahkan pula mengatakan kepada orang yang datang kepadanya: “marhaban” (selamat datang) atau semisalnya.

Juga dianjurkan mengucapkan kepada orang yang berbuat baik atau memberikan kebaikan: “Hafizhakallaah” (semoga Allah menjagamu) atau “jazaakallaahu khayran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) dan semisalnya.

Tidak mengapa pula mengatakan kepada seorang yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu atau keshalihan dan semisalnya: “ja‘alani Allahu fidaak” (semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu).

Dalil-dalil untuk semua ini terdapat dalam hadits-hadits shahih yang sudah masyhur. (selesai)

– Jika ditujukan kepada yang sudah wafat

Seperti ucapan “Labaika ya Rasulullah”, di zaman ini di saat Rasulullah ﷺ sudah wafat, apalagi kepada selain Rasulullah ﷺ seperti kepada Husein.

Ini diperselisihkan ulama, ssbagian mengatakan tidak boleh, dan masuk kategori kesyirikan karena dianggap meminta-minta pertolongan kepada selain Allah, yakni kepada yang sudah wafat walaupun itu nabi. Jika kepada Rasulullah ﷺ saja terlarang apalagi kepada selainnya.

Al Mu’allimi mengatakan:

يجب صرف العبادة بجميع أنواعها لله وحده لا شريك له؛ فمن صرف منها شيئا لغير الله؛ كمن دعا غير الله، أو ذبح أو نذر لغير الله، أو استعان أو استغاث بميت أو غائب أو بحي حاضر فيما لا يقدر عليه إلا الله؛ فقد أشرك الشرك الأكبر، وأذنب الذنب الذي لا يغفر إلا بالتوبة، سواء صرف هذا النوع من العبادة لصنم أو لشجر أو لحجر أو لنبي من الأنبياء أو ولي من الأولياء حي أو ميت

“Ibadah dengan segala jenisnya wajib dipersembahkan hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barang siapa memalingkan sedikit saja dari ibadah itu kepada selain Allah—seperti berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih atau bernazar untuk selain Allah, atau meminta pertolongan (isti‘anah) atau beristighatsah kepada orang mati, orang yang tidak hadir, atau kepada orang hidup yang hadir dalam hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah—maka ia telah melakukan syirik besar, dan melakukan dosa yang tidak diampuni kecuali dengan taubat. Baik ia memalingkan bentuk ibadah tersebut kepada berhala, pohon, batu, nabi dari para nabi, atau wali dari para wali, baik yang hidup maupun yang telah mati.” (Dikutip oleh Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 156643)

Pendapat kedua mengatakan hal itu diperbolehkan, jika maksudnya meminta pertolongan kepada mereka sesuai haknya dan sebagai doa kepada Allah dengan tawassul kepadanya.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

الاستغاثة بمعنى أن يطلب من الرسول صلى الله عليه وآله وسلم ما هو اللائق بمنصبه لا ينازع فيها مسلم، ومن نازع في هذا المعنى فهو إما كافر إن أنكر ما يكفر به، وإما مخطئ ضال

“Istighatsah (memohon pertolongan) dengan makna meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang sesuai dengan kedudukan beliau, tidak ada seorang Muslim pun yang memperdebatkannya. Dan siapa yang memperdebatkan makna ini, maka ia bisa menjadi kafir jika ia mengingkari sesuatu yang menyebabkan kekafiran, atau ia adalah orang yang keliru lagi sesat.”

(Majmu’ Al Fatawa, 1/112)

Imam Ibnush Shalah menjelaskan:

فإنها ليست محصورة على ما وجد منها في عصره صلى الله عليه وآله وسلم، بل لم تزل تتجدد بعده صلى الله عليه وآله وسلم على تعاقب العصور؛ وذلك أن كرامات الأولياء من أمته صلى الله عليه وآله وسلم وإجابات المتوسلين به في حوائجهم ومغوثاتهم عقيب توسلهم به في شدائدهم براهين له صلى الله عليه وآله وسلم قواطع، ومعجزات له سواطع، ولا يعدها عد ولا يحصرها حد، أعاذنا الله من الزيغ عن ملته، وجعلنا من المهتدين الهادين بهديه وسنته

“Sesungguhnya hal itu tidak terbatas hanya pada apa yang terjadi di masa beliau ﷺ, bahkan terus diperbarui setelah beliau ﷺ seiring pergantian zaman. Hal itu karena karamah para wali dari umatnya ﷺ, serta dikabulkannya permohonan orang-orang yang bertawassul kepada beliau dalam kebutuhan dan permohonan pertolongan mereka setelah bertawassul kepada beliau dalam kesulitan, merupakan bukti-bukti yang tegas bagi beliau ﷺ dan mukjizat-mukjizat yang terang. Tidak dapat dihitung jumlahnya dan tidak dapat dibatasi banyaknya. Semoga Allah melindungi kita dari penyimpangan dari ajaran beliau, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk dengan petunjuk dan sunnah beliau.”

(Adabul Mufti wal Mustafti, hal. 210)

Dalam Darul Ifta Al Mishriyyah:

دعوى أنَّ الاستغاثة بالأنبياء والأولياء والصالحين الأموات أو الغائبين شرك هي دعوى باطلة؛ تردها الأدلة العقلية والنقلية، ويلزم منها تكفير السواد الأعظم من المسلمين سلفًا وخلفًا، والاستدلال عليها بالآيات الواردة في عبادة غير الله غير سديد؛ لأنه عينُ منهج الخوارج الذي يعمد فيه أصحابه للآيات التي وردت في تكفير المشركين بعبادتهم غير الله فينزلونها على المسلمين في توسلهم بالأنبياء والصالحين واستغاثتهم بهم.

“Klaim bahwa istighatsah (memohon pertolongan) kepada para nabi, wali, dan orang-orang saleh—yang telah wafat atau yang tidak hadir—adalah syirik, merupakan klaim yang batil; dibantah oleh dalil-dalil akal dan nash. Konsekuensinya adalah mengkafirkan mayoritas besar kaum Muslimin, baik generasi terdahulu maupun yang belakangan.

Berdalil untuk hal itu dengan ayat-ayat yang berbicara tentang penyembahan kepada selain Allah juga tidak tepat; karena hal tersebut merupakan metode kaum Khawarij, yaitu mereka mengambil ayat-ayat yang turun tentang pengkafiran orang-orang musyrik karena menyembah selain Allah, lalu menerapkannya kepada kaum Muslimin dalam hal tawassul kepada para nabi dan orang-orang saleh serta istighatsah kepada mereka.” (fatwa no. 6976)

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Perawi Bukhari dan Muslim Ada yang Syiah?

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz 🙏🙏
Afwan izin bertanya ustadz🙏🙏
Apakah benar dalam hadist riwayat imam Bukhari dan imam Muslim ada perowi dari Syi’ah?..


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ya, ada.. tapi sangat berbeda dengan Syiah Rafidhah yang dikenal di masa saat ini..

Perawi Syiah di zaman itu hanyalah tasyayu’ (rada-rada Syiah), yaitu mereka sekedar lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dibanding sahabat lain. Mereka tidak melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka masih menghormatinya. Adapun Untuk Rafidhah, yang mencaci maki para sahabat, maka yang seperti ini tidak diterima periwayatannya. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan Rafidhah adalah yang paling banyak bohongnya.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية .
وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة ” انتهى

Syiah dalam istilah ulama terdahulu adalah keyakinan mendahulukan (mengutamakan) Ali atas Utsman, serta meyakini bahwa Ali benar dalam peperangannya dan pihak yang menyelisihinya keliru, namun tetap mendahulukan dan mengutamakan dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Bahkan sebagian mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah makhluk paling utama setelah Rasulullah ﷺ.

Apabila seseorang memiliki keyakinan seperti itu, serta ia seorang yang wara’, beragama, jujur, dan bersungguh-sungguh (dalam berijtihad), maka riwayatnya tidak ditolak karena hal tersebut, terlebih lagi jika ia bukan seorang yang menyeru (kepada bid’ahnya).

Adapun Syiah dalam istilah ulama belakangan adalah rafidhah murni, maka tidak diterima riwayat dari seorang rafidhi yang ekstrim, dan tidak ada kehormatan baginya.”

(Tahdzibut Tahdzib, 1/81)

Imam Adz Dzahabi menjelaskan:

البدعة على ضربين : فبدعة صغرى : كغلو التشيع ، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف ، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق ، فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية ، وهذه مفسدة بينة
ثم بدعة كبرى ، كالرفض الكامل والغلو فيه ، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، والدعاء إلى ذلك ، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة
وأيضا فما أستحضر الآن في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مأمونا ، بل الكذب شعارهم ، والتقية والنفاق دثارهم ، فكيف يقبل نقل من هذا حاله ! حاشا وكلا
فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو مَن تَكَلَّم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضى الله عنه ، وتعرض لسبهم
والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة ، ويتبرأ من الشيخين أيضا ، فهذا ضال معثَّر

“Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam:

Pertama: bid’ah kecil, seperti sikap berlebihan dalam tasyayyu’ (kesyiahan), atau sekadar tasyayyu’ tanpa berlebihan dan tanpa penyimpangan. Ini banyak terdapat pada kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in, bersamaan dengan adanya agama (ketaatan), wara’, dan kejujuran pada mereka. Seandainya hadits mereka ditolak, niscaya akan hilang sejumlah besar atsar (riwayat) Nabi, dan ini merupakan kerusakan yang nyata.

Kedua: bid’ah besar, seperti rafidhah (penolakan) yang sempurna dan sikap berlebihan di dalamnya, serta merendahkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, serta mengajak kepada hal tersebut. Maka jenis ini tidak dijadikan hujjah (riwayatnya tidak dipakai) dan tidak ada kehormatan baginya.”

Dan juga, aku tidak mendapati—setahuku saat ini—pada kelompok ini seorang pun yang jujur dan terpercaya. Bahkan, kedustaan adalah شعار (ciri khas) mereka, dan taqiyyah serta kemunafikan adalah pakaian mereka. Maka bagaimana mungkin diterima riwayat dari orang yang keadaannya seperti ini? Sama sekali tidak, bahkan mustahil.

Syiah yang ekstrem (ghuluw) pada zaman salaf dan menurut istilah mereka adalah orang yang berbicara (buruk) tentang Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Muawiyah bin Abi Sufyan, serta sekelompok sahabat yang memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan mencela mereka.

Adapun yang dianggap ekstrem pada zaman kita dan menurut istilah kita adalah orang yang mengkafirkan para tokoh tersebut, serta berlepas diri juga dari dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Maka orang seperti ini adalah sesat lagi tergelincir.”

(Mizanul I’tidal, 1/5-6

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

 

scroll to top