Dalam Hal Seperti Apa Boleh Menceritakan Aib Pasangan?

 PERTANYAAN:

: Assalammu’alaikum ust, Afwan minkum ganggu waktunya 🙏🏻

Dalam dalil Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 187 dikatakan bahwa suami istri itu adalah :

Pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…

Yg tafsiran nya :
Suami istri itu untk menjaga aib nya masing2 atau yg menjadi kekurangan pasangannya…

Pertanyaan nya ust pada hal2 seperti apa menurut ulama seorang istri atau suami dikatakan boleh menceritakan aib pasangannya ?? Batasannya apa ust ??

Mohon pencerahannya ust 🙏🏻(+62 812-9252-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Secara umum, membuka aib sesama muslim adalah terlarang, termasuk aib suami/istri. Dianjurkan untuk menutup aib, sebagaimana hadits:

ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة

Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan tutup aib dia pada hari kiamat. (HR. Muslim)

Namun, ada kondisi diperkenankan membuka aib jika memang mengharuskan seperti itu atau adanya maslahat. Misalnya:

– Dalam rangka konsultasi. Seorang istri menceritakan penyakit suaminya, atau kebalikannya, ke dokter untuk dicari penyembuhannya. Penyakit tersebut adalah aib, misal HIV, atau penyakit kulit dibagian tubuh tertentu, yang biasanya manusia malu jika diketahui org banyak.

– Dalam rangka mengadukan kezaliman. Misal, istri yang mengadukan kezaliman suami, atau kebalikannya, ke ortuanya atau ke hakim untuk dicarikan solusi dan keputusanya.

Jadi, bukan penceritaan yang didasari oleh hawa nafsu atau emosi semata.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Kalimat doa qunut “Allahummah Dini Fiman Hadait .. dst”, tidak ada dalam kitab hadits Kutubus Sittah?

Kutubus Sittah adalah enam kitab-kitab hadits primer:

1. Shahih Al Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan At Tirmidzi
4. Sunan Abu Daud
5. Sunan An Nasa’i
6. Sunan Ibnu Majah

Ada pun pertanyaan apakah benar doa qunut dengan lafaz “Allahummah dini fiman hadait … Dst” tidak ada dalam Kutubus Sittah .. maka itu tidak benar.

Kalimat “Allahummah dini fiman hadait”.. Dst, ada di dalam kitab-kitab Kutubus Sittah, sebagai berikut:

1. Sunan Abi Daud, Kitab Tafri’ ‘Alal Witri, Bab Al Qunut Fil Witri, no. hadits. 1425. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Rasulullah ﷺ mengajarkan Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhuma agar membaca saat qunut witir.

Dengan teks sbb:

١٤٢٥ – حدَّثنا قُتيبة بن سعيدِ وأحمدُ بنُ جواس الحنفي، قالا: حدَّثنا أبو الأحوص، عن أبي إسحاق، عن بُريد بن أبي مريم، عن أبي الحَوْراء قال: قال الحسنُ بنُ عليّ: عَلَّمني رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولُهُنَّ في الوِتر – قال ابن جوَّاس في قنوتِ الوتر -: “اللهُم اهْدِني فيمَنْ هَدَيتَ، وعافِني فيمَنْ عافَيْتَ، وتَوَلني فيمَنْ تَوَلَيتَ، وبارِكْ لي فيما أعطيتَ، وقني شَرَّ ما قَضَيْتَ، إئك تقضي ولا يُقضَى عَليك، وإنه لا يَذلُ مَنْ وَالَيتَ، تبارَكْت رَبَّنا وتَعَالَيتَ”

2. Sunan An Nasa’i, Kitab Qiyamul Lail wa Tathawwu’ fi Nahar, Bab Ad Du’a fil Witri, no hadits. 1745. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi.

Dengan teks sbb:

١٧٤٥ – أَخْبَرَنَا ‌قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ‌أَبُو الْأَحْوَصِ ، عَنْ ‌أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ ‌بُرَيْدٍ ، عَنْ ‌أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ: قَالَ ‌الْحَسَنُ : «عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

3. Sunan At Tirmidzi, Kitab Abwabul Witri, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 464. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

٤٦٤- حدثنا قتيبة حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحق عن بريد بن أبي مريم عن أبي الحوراء السعدي قال: قال الحسن بن علي رضي الله عنهما: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في الوتر: اللهم اهدني فمين هديت وعافني في من عافيتن وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت

4. Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunah fiiha, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 1178. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

١١٧٨- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: عَلَّمَنِي جَدِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: «اللَّهُمَّ عَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَاهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّنَا تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ»

Selain itu, juga ada di Musnad Ahmad bin Hambal, dalam Musnad Ahlil Bait, Hadits Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, no hadits. 1718. Penerbit: Darul Hadits, Kairo.

Dengan teks sbb:

١٧١٨ – حدثنا وكيع حدثنا يونس بن أبي إسحق عن بُرَيْد بن أبي مريم السَّلُولي عن أبي الحَوْراء عن الحسن بن علي: قال: علَّمني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولهن في قنوت الوتر: “اللهم اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن تولَّيت، وبارك لى فيما أَعطيت، وقني شرَّ ما قضيتَ، فإنك تَقْضي ولا يُقْضى عليك، إنه لا يَذلُّ من واليت، تباركتَ ربَّنا وتعاليت”.

Dan beberapa kitab lainnya selain Kutubus Sittah.

Maka, tidak benar bacaan dengan lafaz tersebut tidak ada dalam kitab Kutubus Sittah.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Menjanjikan Hibah, Tapi Keburu Wafat

 PERTANYAAN:

AssalamualaikumWW

Ustadz Farid Numan ykc.

1. Bolehkah seorang Ayah akan memberi hibah kepada isteri dan anak anak kandung masing2 berupa saham di perusahaan pribadinya masing2 5%, yang berlaku misal sejak 1 Januari 2027 (sudah ttd perubahan di hadapan notaris, lengkap)

2. Bagaimana jika ternyata sebelum 1 Januari 2027 si Ayah wafat, apakah hibah saham tetap berlaku di tanggal 1 Jan 2027 ataukah batal dan seluruh saham perusahaan dibagikan seperti hitungan waris?

3. Jika tetap berlaku hibah tersebut di tanggal 1 Jan 2025, bagaimana pembagian hasil usaha sampai 1 Jan 2027, dibagikan kepada ahli waris sesuai hitungan warisan atau bagaimana?

Jazakallah khairan


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Tentang hibah yang berlaku mulai 1 Januari 2027, perlu diingat, hibah (pemberian hidup) dalam syariat hanya sah bila:

– Ada ijab–qabul (akad hibah)

– Ada qabdh (serah terima nyata)

– Dilakukan semasa pemberi hibah masih hidup.

Kalau seorang ayah sudah menandatangani akta di notaris bahwa hibah itu baru berlaku mulai 1 Januari 2027, maka pada hakikatnya itu belum hibah murni, melainkan janji hibah atau wasiat tersembunyi. Karena harta baru akan berpindah pada waktu yang ditentukan (di masa depan), bukan saat akad sekarang.

Lalu, bagaimana jika ayah wafat sebelum 1 Januari 2027?

Kalau wafat sebelum hibah berlaku, maka hibah tersebut batal secara syariat, karena harta masih milik ayah saat ia wafat.

Maka seluruh saham akan masuk ke harta warisan, lalu dibagikan sesuai hukum faraidh (waris).

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Umrah atau Bayar Utang Dulu?

 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum Ustadz Farid Nu’man …ijin bertanya Umroh atau membayar hutang dahulu ?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Untuk utang yang mendesak untuk dibayar, atau yang jatuh tempo, maka jelas dahulukan utang dulu.

Imam Al Bukhari Rahimahullah menjelaskan:

مَنْ تَصَدَّقَ وَهُوَ مُحْتَاجٌ ، أَوْ أَهْلُهُ مُحْتَاجٌ ، أَوْ عَلَيْهِ دَيْنٌ : فَالدَّيْنُ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى مِنْ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَالْهِبَةِ

Barang siapa yang bersedekah, padahal dia sedang butuh, atau keluarganya butuh, atau dia punya hutang, maka hutang itu lebih berhak ditunaikan dulu, dibanding sedekah, memerdekakan budak, dan hibah.

(Shahih Al Bukhari, 2/112)

Untuk utang lunak dan jangka panjang, tidak mendesak dilunaskan saat itu juga, tidak apa-apa umrah dulu khususnya umrah yang wajib (yang pertama) ..

Syaikh Utsaimin menjelaskan:

أما إذا كان الدين مؤجلاً، وإذا حل وعندك ما يوفيه : فتصدق ولا حرج ؛ لأنك قادر

Jika hutangnya bisa ditunda pembayarannya, dan Anda punya apa-apa yang bisa dijadikan pemenuhan hutang itu, maka sedekahlah dan tidak apa-apa, sebab Anda mampu. (selesai dari Asy Syarh Al Kaafiy)

Wallahu A’lam

Baca juga: Bolehkah Utang Untuk Umroh?

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top