







ورأي الإمام ونائبه فيما لا نص فيه، وفيما يحتمل وجوها عدة وفي المصالح المرسلة معمول به ما لم يصطدم بقاعدة شرعية، وقد يتغير بحسب الظروف والعرف والعادات، والأصل في العبادات التعبد دون الالتفات إلى المعاني، وفي العاديات الالتفات إلى الأسرار والحكم والمقاصد
Pendapat imam (pemimpin) dan wakilnya dalam perkara yang tidak ada nashnya, atau dalam perkara yang memiliki beberapa kemungkinan makna, serta dalam masalah masalih mursalah (kemaslahatan yang tidak disebutkan secara tegas dalam nash), dapat dijadikan pegangan selama tidak bertentangan dengan kaidah syar‘iyyah. Pendapat itu pun bisa berubah sesuai dengan kondisi, kebiasaan, dan adat. Adapun hukum asal dalam ibadah adalah bersifat ta‘abbudi (murni penghambaan) tanpa memperhatikan makna-maknanya, sedangkan dalam urusan adat kebiasaan, diperhatikan rahasia, hikmah, dan tujuan-tujuannya.
Penjelasan:
ورأي الإمام ونائبه
Pendapat imam (pemimpin) dan wakilnya
===
Syaikh Abdul Karim Zaidan Rahimahullah menjelaskan:
الإمام: هو الرئيس الذي تختاره جماعة المسلمين فيكون رئيساً للدولة الإسلامية، أو نائبة: أي من ينوب عنه في غيبته أو من يوليه ولاية إقليم أو عمل معين كقيادة الجيش
Al-Imam adalah pemimpin yang dipilih oleh jamaah kaum muslimin, sehingga ia menjadi kepala negara Islam.
Adapun na’ibuhu (wakilnya) ialah orang yang menggantikan kedudukannya ketika ia tidak hadir, atau orang yang diberi kekuasaan untuk memimpin suatu wilayah atau urusan tertentu seperti komando pasukan.
فيما لا نص فيه
dalam perkara yang tidak ada nashnya
===
Yaitu perkara yang belum dibahas secara khusus dalam Al Quran, As Sunnah, dan ijma’,
وفيما يحتمل وجوها عدة
atau dalam perkara yang memiliki beberapa kemungkinan makna
===
Maksudnya, keputusan imam dan wakilnya masih seputar persoalan yang memunculkan ruang untuk diskusi dan berbagai interpretasi. Sehingga memunculkan ijtihad dengan berbagai kesimpulannya.
وفي المصالح المرسلة
serta dalam masalah mashalih mursalah
===
Yaitu pendapat Imam dan wakilnya yang berdasarkan mashlahah mursalah; kemaslahatan (kebaikan/kemanfaatan umum) yang tidak disebut secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak ada dalil yang memerintahkannya maupun melarangnya, tetapi selaras dengan tujuan syariat (maqashid al-syari‘ah) seperti menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
معمول به ما لم يصطدم بقاعدة شرعية
dapat dijadikan pegangan selama tidak bertentangan dengan kaidah syar‘iyyah.
===
Yaitu pendapat imam dan wakilnya seperti di atas, bisa diamalkan atau dijalankan oleh jamaah dan anggotanya selama tidak bertentangan dengan syariat. Walau pendapat atau kebijakan itu tidak berasal dari syariat.
Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan:
فإن راي الإمام في هذه الأحوال معتبر ومأخوذ به، إلا إذا خالف قاعدة شرعية أو أصلاً متفقاً عليه أو نصاً صريحاً لأن القاعدة تقول: (لا مساغ للاجتهاد في معرض النص)
Maka pendapat imam dalam hal-hal seperti ini dianggap sah dan diikuti, selama tidak bertentangan dengan kaidah syar’i, prinsip yang disepakati, atau nash yang jelas. Karena kaidahnya mengatakan: “Tidak ada ruang bagi ijtihad ketika sudah ada nash yang tegas.”
Beliau juga mengarahkan bagi anggota jamaah:
وعلى أفراد الجماعة طاعته في اجتهاد، هذا اجتهاد سائغ، أما إذا خرج باجتهاد المباح إلى مصادمة النصوص الشرعية فلا طاعة له في هذا الاجتهاد لأنه (لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق)
Bagi anggota jamaah, wajib menaati pemimpinnya dalam hal ijtihad yang masih dalam batas yang dibenarkan syariat (ijtihad sā’igh). Tetapi jika ijtihad itu menyimpang, sehingga bertentangan dengan nash syar’i yang jelas, maka tidak ada ketaatan kepadanya, karena kaidah menyatakan: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Khaliq.”
وقد يتغير بحسب الظروف والعرف والعادات
Keputusan/kebijakan itu bisa berubah sesuai dengan kondisi, kebiasaan, dan adat yang berlaku.
Artinya, di antara faktor yang mempengaruhi hasil akhir sebuah keputusan dan fatwa adalah kondisi, kebiasaan, dan adat. Jika terjadi perbedaan atau perubahan maka bisa berubah pula keputusan dan fatwanya.
Imam Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, berbunyi:
في تغير الفتوى واختلافها يحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد
“Pasal tentang perubahan fatwa dan perbedaannya yang disebabkan perubahan zaman, tempat, kondisi, niat, dan tradisi.”
Lalu Beliau berkata:
هذا فصل عظيم النفع جدا وقع بسبب الجهل به غلط عظيم على الشريعة أوجب من الحرج والمشقة وتكليف ما لا سبيل إليه ….
“Ini adalah pasal yang sangat besar manfaatnya, yang jika bodoh terhadal pasal ini maka akan terjadi kesalahan besar dalam syariat, mewajibkan sesuatu yang sulit dan berat, serta membebankan apa-apa yang tidak pantas dibebankan … “ (I’lamul Muwaqi’in, 3/3)
والأصل في العبادات التعبد دون الالتفات إلى المعاني
Adapun hukum asal dalam ibadah adalah bersifat ta‘abbudi (murni mengikuti perintah tanpa mencari makna rasionalnya)
Artinya, dalam urusan ibadah ritual seperti shalat, haji, umrah, puasa, sikap umat Islam atau anggota jamaah adalah patuh dan tunduk, walau tidak tahu apa hikmah dan rahasia dari ibadah tersebut. Kita tidak dituntut untuk tahu apa hikmahnya dulu sebelum melakukannya.
Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan:
والأصل في العبادات: التعبد، أي القاعدة الجامعة في العبادات أن تقوم بها طاعة لله ولمحض العبودية دون توقف على فقه أسرارها وحكمها ومعانيها وإن كنا نؤمن بأن لها معاني وحكمة وأسرار
Adapun hukum asal dalam ibadah adalah ta’abbud, yakni kaidah umum dalam ibadah adalah melaksanakannya semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan penghambaan kepada-Nya, tanpa harus memahami rahasia, hikmah, dan maknanya meskipun kita meyakini bahwa ibadah memiliki makna, hikmah, dan rahasia tersendiri.
وفي العاديات الالتفات إلى الأسرار والحكم والمقاصد
sedangkan dalam hal-hal adat (kebiasaan duniawi dan mu‘amalah) diperhatikan hikmah, rahasia, dan tujuan-tujuannya
Artinya, dalam perkara duniawi diperkenankan untuk menguak dan menyingkap hikmah dari sebuah perintah dan larangan dalam urusan duniawi. Jika tahu apa hikmahnya maka Alhamdulillah, jika tidak tahu maka kita tdk berdosa.
Syaikh Abdul Karim Zaidan Rahimahullah menjelaskan:
أما في غير العبادات أي في العاديات أي فيما عدا العبادات كأمور الشرب والأكل واللبس والمعاملات فإن المسلم يلتفت إلى ما فيها من أسرار وينظر إلى مقاصد الشرع الإسلامي وحكمة التشريع والمقاصد العامة له، وما عرف من مسلك الشريعة ومناهجها يمكن أن نعرف حكم العاديات التي لم يرد نص صريح بشأنها
Sedangkan dalam urusan non-ibadah (al-‘adiyyat), yaitu hal-hal selain ibadah seperti makan, minum, berpakaian, dan muamalah, maka seorang muslim hendaknya memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya, memahami maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan syariat), hikmah pensyariatannya, dan tujuan-tujuan umumnya. Berdasarkan apa yang telah diketahui dari pola dan metode syariat, dapatlah diketahui hukum dariperkara-perkara adat (non-ibadah) yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash.








Farid Nu’man Hasan




