Mukadimah
Adab kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan bukti kecintaan seorang muslim kepada Nabi yang telah menyampaikan risalah Allah, membimbing umat menuju hidayah, serta mengorbankan segala yang dimilikinya demi tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengenal, mengagungkan, mencintai, menaati, dan mengikuti sunnah beliau ﷺ, serta menjaga kehormatan dan kedudukan beliau sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam hadis-hadis yang sahih. Dengan menunaikan adab-adab tersebut, seorang hamba akan memperoleh kecintaan Allah, kesempurnaan iman, dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.
Berikut beberapa adab kepada Rasulullah ﷺ beserta dalil-dalilnya:
Daftar Isi
1. Mencintai Rasulullah ﷺ di atas kecintaan kepada manusia lainnya
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Mencintai Rasulullah ﷺ dan menempatkannya paling dicintai di atas seluruh manusia walau keluarga sendiri adalah adab yang paling tinggi, dan refleksi iman yang paling hakiki. Adalah dusta jika ada yang mengaku iman kepada Rasulullah ﷺ tapi meletakkan Rasulullah ﷺ pasa posisi yang tidak layak dalam hal mahabbah (cinta).
2. Mentaati Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ﴾
“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)
Mentaati Rasulullah ﷺ yaitu dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya, sebagaimana yang tertera dalam Al Quran dan As Sunnah.
3. Mengikuti Sunnah beliau
Allah Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini adalah ujian bagi mereka yang mengaku cinta Allah Ta’ala tapi ternyata tidak mengikuti Rasulullah ﷺ. Maka, syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala adalah mengikuti dan menghidupkan sunah Rasulullah ﷺ.
4. Mengagungkan dan memuliakan beliau
Allah Ta’ala berfirman:
﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ﴾
“Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (membela) dan mengagungkannya.” (QS. Al-Fath: 9)
Mengagungkan dan memuliakannya tidak menyebutnya kecuali selalu dalam kebaikan, tidaklah berprasangka kecuali selalu kebaikan, dan tidak mendahuluinya dalam ketetapan hukum dan keputusan.
5. Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)
Para ulama sepakat sebagaimana yang dikatakan Imam Al Qurthubi bahwa bershalawat kepada Rasulullah ﷺ minimal sekali seumur hidup, itulah yang wajib. Selebihnya adalah sunah, kecuali Imam Asy Syafi’i yang mewajibkan pula dalam bacaan tasyahud akhir. Bershalawat bisa dilakukan secara umum kaoan pun, atau bisa secara khusus pada momen dan waktu yang memang dianjurkan shalawat.
6. Tidak mendahului perkataan dan keputusan Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Hujurat: 1)
Yaitu jika ada perkara atau urusan yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sudah menetapkan, maka tidak pantas seorang muslim melangkahinya dan menjadikan akal dan hawa nafsunya lebih dahulukan dibanding apa kata Allah dan Rasul-Nya.
7. Tidak meninggikan suara di atas suara Nabi ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ﴾
“Janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi.”
(QS. Al-Hujurat: 2)
Meskipun beliau telah wafat, para ulama menjelaskan bahwa adab ini mencakup penghormatan terhadap hadis dan sunnah beliau.
8. Membela kehormatan Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ﴾
“Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membela dan mengagungkannya.” (QS. Al-Fath: 9)
Membela dengan ilmu dan cara yang benar, dikala kepribadiannya dihina, sunahnya direndahkan oleh orang-orang kafir, musyrik, munafik dan liberal.
9. Ridha dengan hukum dan keputusan Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)
Maka, apa yang Rasulullah ﷺ putuskan baik dalam bentuk perkataan dan perbuatan, maka sikap kita adalah menerima dengan hati yang tenang dan lapang.
10. Tidak berbuat ghuluw (berlebihan) terhadap Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Bukhari)
Mengkultuskan adalah awal dari penuhanan, maka sikap ghuluw (berlebihan) adalah terlarang, seperti memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana sifat-sifat Allah Ta’ala. Itulah tersesatnya Nasrani, dan kaum syiah Rafidhah yang telah mengkultuskan para imam mereka dan ahlibait Rasulullah ﷺ.
11. Memuliakan Ahli Bait Rasulullah ﷺ
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى
“Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap kerabat (ku).” (QS. Asy-Syura: 23)
Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan mencintai kerabat Rasulullah ﷺ dan menjaga hak-hak mereka.
Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:
وكذلك أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم : تجب محبتهم ، وموالاتهم ورعاية حقهم ….
Demikian juga ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: wajib mencintai mereka, wala’ kepada mereka, dan menjaga hak-hak mereka.. (Majmu’ Al Fatawa, 28/491)
12. Memuliakan Para Sahabatnya
Allah Ta’ala berkali-kali memuji para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman:
رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Ayat lainnya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)
Rasulullah ﷺ pun memuji para sahabatnya dengan bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, tidak ada tempat sedikitpun di dalam Islam bagi mereka yang memaki-maki orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, yaitu para sahabat nabi.
Demikian. Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam








Farid Nu’man Hasan
Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
Kunjungi website resmi: alfahmu.id
IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g





Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya.
Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.
Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43)