Syarah Ushul ‘Isyrin Ke-5

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

ورأي الإمام ونائبه فيما لا نص فيه، وفيما يحتمل وجوها عدة وفي المصالح المرسلة معمول به ما لم يصطدم بقاعدة شرعية، وقد يتغير بحسب الظروف والعرف والعادات، والأصل في العبادات التعبد دون الالتفات إلى المعاني، وفي العاديات الالتفات إلى الأسرار والحكم والمقاصد

Pendapat imam (pemimpin) dan wakilnya dalam perkara yang tidak ada nashnya, atau dalam perkara yang memiliki beberapa kemungkinan makna, serta dalam masalah masalih mursalah (kemaslahatan yang tidak disebutkan secara tegas dalam nash), dapat dijadikan pegangan selama tidak bertentangan dengan kaidah syar‘iyyah. Pendapat itu pun bisa berubah sesuai dengan kondisi, kebiasaan, dan adat. Adapun hukum asal dalam ibadah adalah bersifat ta‘abbudi (murni penghambaan) tanpa memperhatikan makna-maknanya, sedangkan dalam urusan adat kebiasaan, diperhatikan rahasia, hikmah, dan tujuan-tujuannya.

Penjelasan:

ورأي الإمام ونائبه

Pendapat imam (pemimpin) dan wakilnya

===

Syaikh Abdul Karim Zaidan Rahimahullah menjelaskan:

الإمام: هو الرئيس الذي تختاره جماعة المسلمين فيكون رئيساً للدولة الإسلامية، أو نائبة: أي من ينوب عنه في غيبته أو من يوليه ولاية إقليم أو عمل معين كقيادة الجيش

Al-Imam adalah pemimpin yang dipilih oleh jamaah kaum muslimin, sehingga ia menjadi kepala negara Islam.

Adapun na’ibuhu (wakilnya) ialah orang yang menggantikan kedudukannya ketika ia tidak hadir, atau orang yang diberi kekuasaan untuk memimpin suatu wilayah atau urusan tertentu seperti komando pasukan.

فيما لا نص فيه

dalam perkara yang tidak ada nashnya

===

Yaitu perkara yang belum dibahas secara khusus dalam Al Quran, As Sunnah, dan ijma’,

وفيما يحتمل وجوها عدة

atau dalam perkara yang memiliki beberapa kemungkinan makna

===

Maksudnya, keputusan imam dan wakilnya masih seputar persoalan yang memunculkan ruang untuk diskusi dan berbagai interpretasi. Sehingga memunculkan ijtihad dengan berbagai kesimpulannya.

وفي المصالح المرسلة

serta dalam masalah mashalih mursalah

===

Yaitu pendapat Imam dan wakilnya yang berdasarkan mashlahah mursalah; kemaslahatan (kebaikan/kemanfaatan umum) yang tidak disebut secara jelas dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak ada dalil yang memerintahkannya maupun melarangnya, tetapi selaras dengan tujuan syariat (maqashid al-syari‘ah) seperti menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

معمول به ما لم يصطدم بقاعدة شرعية

dapat dijadikan pegangan selama tidak bertentangan dengan kaidah syar‘iyyah.

===

Yaitu pendapat imam dan wakilnya seperti di atas, bisa diamalkan atau dijalankan oleh jamaah dan anggotanya selama tidak bertentangan dengan syariat. Walau pendapat atau kebijakan itu tidak berasal dari syariat.

Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan:

فإن راي الإمام في هذه الأحوال معتبر ومأخوذ به، إلا إذا خالف قاعدة شرعية أو أصلاً متفقاً عليه أو نصاً صريحاً لأن القاعدة تقول: (لا مساغ للاجتهاد في معرض النص)

Maka pendapat imam dalam hal-hal seperti ini dianggap sah dan diikuti, selama tidak bertentangan dengan kaidah syar’i, prinsip yang disepakati, atau nash yang jelas. Karena kaidahnya mengatakan: “Tidak ada ruang bagi ijtihad ketika sudah ada nash yang tegas.”

Beliau juga mengarahkan bagi anggota jamaah:

وعلى أفراد الجماعة طاعته في اجتهاد، هذا اجتهاد سائغ، أما إذا خرج باجتهاد المباح إلى مصادمة النصوص الشرعية فلا طاعة له في هذا الاجتهاد لأنه (لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق)

Bagi anggota jamaah, wajib menaati pemimpinnya dalam hal ijtihad yang masih dalam batas yang dibenarkan syariat (ijtihad sā’igh). Tetapi jika ijtihad itu menyimpang, sehingga bertentangan dengan nash syar’i yang jelas, maka tidak ada ketaatan kepadanya, karena kaidah menyatakan: “Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Sang Khaliq.”

وقد يتغير بحسب الظروف والعرف والعادات

Keputusan/kebijakan itu bisa berubah sesuai dengan kondisi, kebiasaan, dan adat yang berlaku.

Artinya, di antara faktor yang mempengaruhi hasil akhir sebuah keputusan dan fatwa adalah kondisi, kebiasaan, dan adat. Jika terjadi perbedaan atau perubahan maka bisa berubah pula keputusan dan fatwanya.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, berbunyi:

في تغير الفتوى واختلافها يحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

“Pasal tentang perubahan fatwa dan perbedaannya yang disebabkan perubahan zaman, tempat, kondisi, niat, dan tradisi.”

Lalu Beliau berkata:

هذا فصل عظيم النفع جدا وقع بسبب الجهل به غلط عظيم على الشريعة أوجب من الحرج والمشقة وتكليف ما لا سبيل إليه ….

“Ini adalah pasal yang sangat besar manfaatnya, yang jika bodoh terhadal pasal ini maka akan terjadi kesalahan besar dalam syariat, mewajibkan sesuatu yang sulit dan berat, serta membebankan apa-apa yang tidak pantas dibebankan … “ (I’lamul Muwaqi’in, 3/3)

والأصل في العبادات التعبد دون الالتفات إلى المعاني

Adapun hukum asal dalam ibadah adalah bersifat ta‘abbudi (murni mengikuti perintah tanpa mencari makna rasionalnya)

Artinya, dalam urusan ibadah ritual seperti shalat, haji, umrah, puasa, sikap umat Islam atau anggota jamaah adalah patuh dan tunduk, walau tidak tahu apa hikmah dan rahasia dari ibadah tersebut. Kita tidak dituntut untuk tahu apa hikmahnya dulu sebelum melakukannya.

Syaikh Abdul Karim Zaidan menjelaskan:

والأصل في العبادات: التعبد، أي القاعدة الجامعة في العبادات أن تقوم بها طاعة لله ولمحض العبودية دون توقف على فقه أسرارها وحكمها ومعانيها وإن كنا نؤمن بأن لها معاني وحكمة وأسرار

Adapun hukum asal dalam ibadah adalah ta’abbud, yakni kaidah umum dalam ibadah adalah melaksanakannya semata-mata sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan penghambaan kepada-Nya, tanpa harus memahami rahasia, hikmah, dan maknanya meskipun kita meyakini bahwa ibadah memiliki makna, hikmah, dan rahasia tersendiri.

وفي العاديات الالتفات إلى الأسرار والحكم والمقاصد

sedangkan dalam hal-hal adat (kebiasaan duniawi dan mu‘amalah) diperhatikan hikmah, rahasia, dan tujuan-tujuannya

Artinya, dalam perkara duniawi diperkenankan untuk menguak dan menyingkap hikmah dari sebuah perintah dan larangan dalam urusan duniawi. Jika tahu apa hikmahnya maka Alhamdulillah, jika tidak tahu maka kita tdk berdosa.

Syaikh Abdul Karim Zaidan Rahimahullah menjelaskan:

أما في غير العبادات أي في العاديات أي فيما عدا العبادات كأمور الشرب والأكل واللبس والمعاملات فإن المسلم يلتفت إلى ما فيها من أسرار وينظر إلى مقاصد الشرع الإسلامي وحكمة التشريع والمقاصد العامة له، وما عرف من مسلك الشريعة ومناهجها يمكن أن نعرف حكم العاديات التي لم يرد نص صريح بشأنها

Sedangkan dalam urusan non-ibadah (al-‘adiyyat), yaitu hal-hal selain ibadah seperti makan, minum, berpakaian, dan muamalah, maka seorang muslim hendaknya memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya, memahami maqashid al-syari’ah (tujuan-tujuan syariat), hikmah pensyariatannya, dan tujuan-tujuan umumnya. Berdasarkan apa yang telah diketahui dari pola dan metode syariat, dapatlah diketahui hukum dariperkara-perkara adat (non-ibadah) yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash.

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

Berilmu, Beramal, dan Ikhlas

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Dzun Nun Al Mishri Rahimahullah mengatakan:

الناس كلهم موتى إلا العلماء والعلماء كلهم نيام إلا العاملون، والعاملون كلهم مغترون إلا المخلصون، والمخلصون على خطر عظيم قال الله عز وجلّ: {لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ}

“Semua manusia itu mati (binasa) kecuali para ulama. Para ulama semuanya tertidur (lalai) kecuali orang-orang yang mengamalkan ilmunya. Orang-orang yang beramal semuanya tertipu kecuali orang-orang yang ikhlas. Dan orang-orang yang ikhlas pun berada dalam bahaya yang besar.”

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لِيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَنْ صِدْقِهِمْ﴾

“Agar Dia menanyakan orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8)

(Imam Al Baihaqi, Syu’abul Iman, no. 6455)

Maksud ungkapan tersebut adalah:

– Kebanyakan manusia berada dalam kebinasaan karena kebodohan dan penyimpangan.

– Orang yang berilmu selamat karena ilmunya, namun ilmunya tidak bermanfaat bila tidak diamalkan.

– Orang yang beramal pun belum tentu selamat apabila amalnya tidak disertai keikhlasan.

– Orang yang ikhlas sekalipun tetap harus selalu takut dan waspada agar keikhlasannya tidak rusak oleh riya’, ujub, sum’ah, atau tujuan duniawi lainnya. Oleh karena itu dikatakan bahwa mereka berada “dalam bahaya yang besar”, yakni karena menjaga keikhlasan adalah perkara yang sangat berat dan hati manusia mudah berubah.

Wallahu A’lam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

Siapa Ahlul Quran?

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah:

أهل القرآن هم العالمون به والعاملون بما فيه، وإن لم يحفظوه عن ظهر قلب، وأما من حفظه ولم يفهمه ولم يعمل بما فيه فليس من أهله وإن أقام حروفه إقامة السهم

“Ahlul Qur’an adalah orang-orang yang mengetahui (memahami) Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya, meskipun mereka tidak menghafalnya di luar kepala. Adapun orang yang menghafalnya tetapi tidak memahaminya dan tidak mengamalkan isinya, maka ia bukan termasuk Ahlul Qur’an, meskipun ia membaca huruf-hurufnya dengan sangat baik dan tepat sebagaimana lurusnya anak panah.”

(Dikutip dari Zaadul Ma’ad oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Al ‘Anqari, Al Arba’un Al Qur’aniyah, hal. 26)

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Syarah Ushul ‘Isyrin Ke-4

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

والتمائم والرقى والودع والرمل والمعرفة والكهانة وادعاء معرفة الغيب، وكل ما كان من هذا الباب منكر تجب محاربته إلا ما كان آية من قرآن أو رقية مأثورة

“Adapun tamimah (jimat), ruqyah (mantra), al-wada‘ (kulit kerang untuk ramalan), ar-raml (ilmu nujum dengan pasir), al-ma‘rifah (ilmu perdukunan), al-kahanah (tukang tenung), dan klaim mengetahui perkara gaib, semua yang termasuk dalam bab ini adalah kemungkaran yang wajib diperangi, kecuali bila berupa ayat dari Al-Qur’an atau ruqyah yang bersumber dari sunnah.”

Penjelasan:

التمائم (at-tama’im)

Jimat atau benda-benda yang digantungkan (kalung, rajah, kain, dll.) dengan keyakinan dapat menolak bala, menyembuhkan penyakit, atau mendatangkan keberuntungan.
Dalam Islam, ini termasuk syirik kecil bila diyakini sebagai sebab tanpa dalil syar‘i, dan bisa menjadi syirik besar bila diyakini memberi manfaat secara independen.

الرُّقى(ar-ruqa)

Bacaan jampi atau mantra untuk penyembuhan.

Ini ada dua jenis:

Ruqyah syar‘iyyah: yang berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, doa Nabi ﷺ, atau doa yang baik dan maknanya jelas. Ini boleh.

Ruqyah syirkiyyah: berupa jampi-mantra dengan lafaz syirik, bahasa yang tidak jelas, atau memohon kepada selain Allah. Ini haram.

Larangan jimat dan ruqyah secara umum ada di hadits berikut:

اِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah, jimat, dan tiwalah (guna-guna), adalah syirik.” (HR. Abu Daud No. 3383, shahih)

الوَدَع (‘al-wada‘)

Kulit kerang atau benda sejenis yang dijadikan alat perdukunan atau diyakini bisa menolak bala. Sebagian orang Arab Jahiliyah menggantungkan kulit kerang pada anak-anak sebagai penangkal penyakit.

الرَّمْل (ar-raml)

“Ilmu pasir”, yaitu metode meramal dengan membuat garis-garis di atas pasir/ tanah lalu menafsirkannya untuk mengetahui nasib atau masa depan.

المعرفة (al-ma‘rifah)

Yang dimaksud di sini adalah “ilmu perdukunan” dengan nama ‘ilm al-ma‘rifah, semacam ilmu ramalan dengan melihat tanda-tanda tertentu (misalnya huruf, nama, atau bentuk tubuh) lalu mengklaim dari situ bisa mengetahui hal ghaib.

الكهانة (al-kahanah)

Tenung atau perdukunan, yaitu klaim mengetahui perkara ghaib dengan bantuan jin atau cara-cara batil lainnya. Tukang tenung (kahin) sering mengaku bisa tahu apa yang akan terjadi.

ادعاء معرفة الغيب (idda‘a’ ma‘rifat al-ghaib)

Mengaku mengetahui hal-hal gaib, padahal Allah Ta’ala sudah menegaskan bahwa ghaib hanya milik-Nya, kecuali yang diberitahukan kepada para Rasul melalui wahyu.

Kelima hal di atas substansinya sama yaitu perdukunan dan ramalan, Rasulullah ﷺ menegaskan larangannya secara sangat tegas.

Dari Shafiyah, dari sebagian isteri Nabi, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Barang siapa yang mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam. (HR. Muslim No. 2230)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ أَتَى حَائِضًا أَوْ امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Barang siapa yang mendatangi (berhubungan badan, pen) dengan istrinya yg sedang haid atau dari duburnya, atau mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakannya maka dia telah kafir terhadap apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad*). (HR. Ibnu Majah No. 639, shahih)

Ruqyah (Mantera) Yang Dikecualikan

إلا ما كان آية من قرآن أو رقية مأثورة

Kecuali yang berasal dari ayat Al Quran dan ruqyah yang ma’tsur (dari sunah)

Jenis ini dibolehkan berdasarkan hadits dan ijma’, bahkan bukan hanya boleh tapi juga sunah. Berdasarkan hadits:

Dari ‘Auf bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

كنا نرقي في الجاهلية، فقلنا: يارسول اللّه، كيف ترى في ذلك؟ فقال: “اعرضوا عليَّ رقاكم، لابأس بالرقى ما لم تكن شركاً

“Kami meruqyah pada masa jahiliyah, kami berkata: ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang itu?” Beliau bersabda: “Perlihatkan ruqyahmu padaku, tidak apa-apa selama tidak mengandung kesyirikan.” (HR. Abu Daud No.3886, shahih)

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani Rahimahullah mengatakan:

وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى جَوَاز الرُّقَى عِنْد اِجْتِمَاع ثَلَاثَة شُرُوط : أَنْ يَكُون بِكَلَامِ اللَّه تَعَالَى أَوْ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاته ، وَبِاللِّسَانِ الْعَرَبِيّ أَوْ بِمَا يُعْرَف مَعْنَاهُ مِنْ غَيْره ، وَأَنْ يَعْتَقِد أَنَّ الرُّقْيَة لَا تُؤْثَر بِذَاتِهَا بَلْ بِذَاتِ اللَّه تَعَالَى

“Ulama telah ijma’ bolehnya ruqyah jika memenuhi tiga syarat:

1. Menggunakan firman Allah Ta’ala atau dengan asma dan sifat-sifatNya.

2.Dengan lisan bahasa Arab atau dengan bahasa yang bisa diketahui maknanya selain bahasa Arab.

3. Meyakini bahwa ruqyah tidak mmberikan pengaruh dengan zatnya sendiri, tetapi Allah Ta’ala yang memberikan pengaruhnya.” (Fathul Bari, 10/195. Darul Fikr)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَأَمَّا الرُّقَى بِآيَاتِ الْقُرْآن ، وَبِالْأَذْكَارِ الْمَعْرُوفَة ، فَلَا نَهْي فِيهِ ، بَلْ هُوَ سُنَّة . وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ فِي الْجَمْع بَيْن الْحَدِيثَيْنِ إِنَّ الْمَدْح فِي تَرْك الرُّقَى لِلْأَفْضَلِيَّةِ ، وَبَيَان التَّوَكُّل . وَاَلَّذِي فَعَلَ الرُّقَى ، وَأَذِنَ فِيهَا لِبَيَانِ الْجَوَاز ، مَعَ أَنَّ تَرْكهَا أَفْضَل ، وَبِهَذَا قَالَ اِبْن عَبْد الْبَرّ ، وَحَكَاهُ عَمَّنْ حَكَاهُ . وَالْمُخْتَار الْأَوَّل ، وَقَدْ نَقَلُوا بِالْإِجْمَاعِ عَلَى جَوَاز الرُّقَى بِالْآيَاتِ ، وَأَذْكَار اللَّه تَعَالَى

“Adapun ruqyah (jampi/mantera) dengan ayat-ayat Al Quran, dan dzikir-dzikir yang ma’ruf (dikenal), maka hal itu tidak dilarang, bahkan sunah.

Di antara mereka ada yang mengatakan dalam mengkompromikan dua hadits (yang nampak bertentangan), sesungguhnya pujian untuk meninggalkan ruqyah menunjukkan afdhaliyah (hal yang lebih utama), dan kejelasan tawakkal. Dan, orang yang melakukan ruqyah dan diizinkannya hal itu menunjukkan kebolehannya tetapi itu meninggalkan hal yang lebih utama. Inilah yang dikatakan Ibnu Abdil Bar, dia menceritakan dari orang yang menceritakannya. Sikap yang dipilih adalah yang pertama. Mereka telah menukil tentang ijma bolehnya ruqyah dengan ayat-ayat dan kalimat dzikrullah Ta’ala.” (Syarh Shahih Muslim, 7/325)

Imam Al Maziri Rahimahullah mengatakan:

جَمِيع الرُّقَى جَائِزَة إِذَا كَانَتْ بِكِتَابِ اللَّه ، أَوْ بِذِكْرِهِ

“Semua ruqyah adalah boleh jika berasal dari kitabullah atau dzikir.” (Ibid)

Ruqyah Syar’iyyah Dengan Cara Ditulis Di Kertas atau Di Wadah Lalu Meminum Airnya Atau Di Usap atau Digantungkan di Tubuhnya.

Hal ini dibolehkan menurut jumhur (mayoritas) ulama, sejak zaman sahabat seperti Ibnu Umar, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Abu Qilabah, hingga tabi’in seperti Mujahid. Juga Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, serta Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, dan para imam lainnya.

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُعَلِّمُهُمْ مِنْ الْفَزَعِ كَلِمَاتٍ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ يُعَلِّمُهُنَّ مَنْ عَقَلَ مِنْ بَنِيهِ وَمَنْ لَمْ يَعْقِلْ كَتَبَهُ فَأَعْلَقَهُ عَلَيْهِ

Dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengajari mereka beberapa kalimat karena adanya rasa takut, yaitu: A’UUDZU BIKALIMAATILLAAHIT TAAMMATI MIN GHADHABIHI WA SYARRI ‘IBAADIHI WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA AN YAHDLURUUNA (Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya serta kejahatan para hamba-Nya, dan dari bisikan setan serta kedatangan mereka kepadaku) ‘. Abdullah bin Umar mengajarkan kalimat-kalimat tersebut kepada orang yang telah berakal di antara anak-anaknya serta orang yang belum berakal. Ia MENULISKANNYA DAN MENGGANTUNGKANNYA KEPADANYA.”

(HR. Abu Daud no. 3893, HASAN)

Hadits ini menunjukkan kebolehan menuliskan doa-doa ma’tsur di kertas atau sesuatu, lalu digantungkan kepada yang sakit.

Imam An Nawawi menjelaskan:

يجوز تعليق الحروز التى فيها قرأن على النساء و الصبيان و الرجال

Dibolehkan menggantungkan jimat yang berisikan Al Qur’an kepada kaum wanita, anak-anak, dan kaum laki-laki ..

Kemudian, Imam An Nawawi mengutip dari Imam Ibnu Jarir, tentang perkataan Imam Malik:

لا بأس بما يعلق على النساء الحيض و الصبيان من القران اذا جعل فى كن كقصبة جديد أو جلد يحرز عليه

Tidak apa bagi wanita haid dan anak-anak menggantungkan sesuatu dr ayat Al Qur’an, jika dituliskan di sebatang besi atau kulit yang dituliskan ayat padanya.  (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/83)

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma berkata:

إذا عسر على المرأة ولدها تكتب هاتين الآيتين والكلمتين في صحيفة ثم تغسل وتسقى منها، وهي: بسم الله الرحمن الرحيم لا إله إلا الله العظيم الحليم الكريم، سبحان الله رب السموات ورب الارض ورب العرش العظيم ” كأنهم يوم يرونها لم يلبثوا إلا عشية أو ضحاها ” [ النازعات: 46 ]. ” كأنهم يوم يرون ما يوعدون لم يلبثوا إلا ساعة من نهار بلاغ فهل يهلك إلا القوم الفاسقون “

“Jika seorang wanita kesulitan ketika melahirkan, maka Anda tulis dua ayat berikut secara lengkap di lembaran, kemudian masukkan ke dalam air dan kucurkan kepada dia, yaitu kalimat:

“Laa Ilaha Illallah Al Halimul Karim Subhanallahi Rabbil ‘Arsyil ‘Azhim Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. (Tiada Ilah Kecuali Allah yang Maha Mulia, Maha Suci Allah Rabbnya Arsy Yang Agung, Segala Puji Bagi Allah Rabb Semesta Alam)”

“Ka’annahum yauma yaraunaha lam yalbatsu illa ‘asyiyyatan aw dhuhaha. (pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia), melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi.” (QS. An Nazi’at (79): 46)

“Ka’annahum yauma yarauna maa yu’aduna lam yalbatsuu illa saa’atan min naharin balaagh. (Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup.” (QS. Al Ahqaf (46):35)

(Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/222. Dar Ihya’ At Turats)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

َ وَيَجُوزُ أَنْ يَكْتُبَ لِلْمُصَابِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَرْضَى شَيْئًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَذِكْرُهُ بِالْمِدَادِ الْمُبَاحِ وَيُغْسَلُ وَيُسْقَى كَمَا نَصَّ عَلَى ذَلِكَ أَحْمَد وَغَيْرُهُ

Dibolehkan bagi orang yang sakit atau tertimpa lainnya, untuk dituliskan baginya sesuatu yang berasal dari Kitabullah dan Dzikrullah dengan menggunakan tinta yang dibolehkan (suci) kemudian dibasuhkan tulisan tersebut, lalu airnya diminumkan kepada si sakit, sebagaimana hal ini telah ditulis (dinashkan) oleh Imam Ahmad dan lainnya. (Majmu’ Al Fatawa, 4/187)

Pihak yang memakruhkan,  seperti Abdullah bin Mas’ud, Ibrahim An Nakha’i memakruhkannya semua ruqyah baik Al Quran atau bukan Al Quran, ini juga pendapat Syaikh Yusuf Al Qaradhawi.

Ini berdasarkan riwayat berikut:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكره عقد التمائم

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakruhkan menggantungkan penangkal-penangkal.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 5/427)

Ibrahim An Nakha’i Radhiallahu ‘Anhu mengatakan:

كانوا يكرهون التمائم كلها ، من القرآن وغير القرآن

“Mereka (para sahabat) memakruhkan jimat semuanya, baik yang dari Al Quran dan selain Al Quran.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 5/428)

Pendapat ini, nampak lebih aman dan selamat, untuk menutup semua pintu kemungkinan yg terburuk terhadap Aqidah muslim.

Oleh karena itu, meruqyah dengan cara membaca adalah lebih afdhal dan disepakati, sebab itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan khurujan minal khilaf (keluar dari perbedaan pendapat).

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top