Kapan Makmum Mengucapkan Salam

💥💦💥💦💥💦

📨 PERTANYAAN:

Ijin bertanya Ustadz Farid,saat salam akhir sholat berjama’ah,apakah makmum mengucapkan salam saat imam selesai mengucapkan salam pertama atau menunggu sampai imam mengucapkan salam ke dua? (+62 812-1086-xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Jika Imam salam pertama selesai, maka makmum masbuq sudah boleh berdiri, itu pendapat mayoritas ulama. Sebab salam kedua adalah sunnah, salam pertamalah yang rukun menurut mayoritas, kecuali Hambali yang mengatakan salam satu dan dua adalah rukun.

Artinya, menurut mayoritas Jika sudah salam pertama maka shalat telah tuntas, dan boleh makmum berdiri.

Ada pun dalam Mazhab Hanafi, selesainya bacaan tasyahud maka selesailah shalat, salam pertama dan kedua adalah sunah bagi Hanafi.

Imam Ibnul Mundzir mengatakan:

أجمع كل من نحفظ عنه من أهل العلم على أن صلاة من اقتصر على تسليمة واحدة جائزة

Telah sepakat (berijma’) semua ulama yang kami riwayatkan dari mereka, bahwa shalat seseorang yang mencukupkan diri dengan satu salam adalah sah.

Sebenarnya tidak ijma’, karena dalam mazhab Hambali salam kedua juga rukun.

Wallahu A’lam

🌸🌿☘🌺🌻🍃🌼

🖋 Farid Nu’man Hasan

Berdzikir Saat Khotib Menyampaikan Khutbah

💥💦💥💦💥💦

📨 PERTANYAAN:

Mohon bertanya ustadz, bolehkah berzikir saat khatib sedang menyampaikan kotbah? (+62 878-7858-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika khutbahnya khatib terdengar maka hendaknya dengarkan khutbah, sebab khutbah tersebut bagian dari zikir. Salah satu makna atau tafsir ayat: fas’au ila dzikrillah .. (maka segeralah berzikir kepada Allah), adalah mendengarkan khutbah..

Adapun jika suara khatib tidak terdengar, atau dia khutbah dengan bahasa yang tidak dimengerti, maka boleh berzikir di dalam hati menurut sebagian imam.

Imam Ibnul Mundzir mengatakan:

وكان الشافعي، وأحمد، وإسحاق لا يرون بالقراءة والذكر بأسا إذا لم يسمع الخطبة

Asy Syafi’i, Ahmad, Ishaq, berpendapat tidak masalah membaca Al Quran dan zikir, jika tidak terdengar khutbahnya imam. (Al Awsath, 4/71)

Imam Asy Syafi’i berkata:

وإذا كان لا يسمع من الخطبة شيئا : فلا أكره أن يقرأ في نفسه ويذكر الله تبارك اسمه ولا يكلم الآدميين

Jika tidak terdengar khutbah sama sekali, maka tidak apa-apa membaca dalam hati dan berzikir memuji asma-Nya, dan tidak ngobrol dengan manusia. (Al Umm, 1/234)

Sementara dalam mazhab Maliki dan Hanafi, tidak boleh. Sebab, diam (inshat) saat khutbah berlangsung adalah wajib.

Wallahu A’lam

🌸🌿☘🌺🌻🍃🌼

🖋 Farid Nu’man Hasan

Hukum Laki-Laki Menggunakan Emas

💥💦💥💦💥💦

📨 PERTANYAAN:

Ustadz⁩ izin bertanya

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى إِبَاحَةِ خَاتَمِ الذَّهَبِ لِلنِّسَاءِ وَأَجْمَعُوا عَلَى تَحْرِيمِهِ عَلَى الرِّجَالِ اِلَّا مَا حُكِىَ عَنْ أَبِى بَكْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بنِ عُمَرَ بنِ مُحَمَّدِ بنِ حَزْمٍ أَنَّهُ أَبَاحَهُ وَعَنْ بَعْضٍ أَنَّهُ مَكْرُوهٌ لَاحَرَامٍ

Artinya: “Kaum Muslim sepakat atas kebolehan perempuan untuk memakai cincin emas dan mengharamkannya untuk laki-laki kecuali pendapat yang diriwayatkan dari Abi Bakr Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Hazm yang membolehkannya dan dari sebagian ulama yang menganggap makruh bukan haram,” (An-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim)

Penjelasan hadist terkait emas untuk perempuan dan laki laki.

Apakah benar ada pendapat laki laki boleh gunakan perhiasan emas?

Bagaimana rinciannya

Jazakallahu

(+62 882-4283-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Ya, para ulama umumnya mengatakan haramnya laki-laki memakai emas adalah ijma’. Imam An Nawawi menerangkan:

أجمع العلماء على تحريم استعمال حلي الذهب على الرجال

Para ulama ijma’ atas haramnya memakai perhiasan emas bagi laki-laki. (Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab)

Ada pun kutipan di atas bahwa Imam Ibnu Hazm dan sebagian ulama hanya memakruhkan, di komentari oleh Imam An Nawawi:

وهذان النقلان باطلان فقائلهما محجوج بهذه الأحاديث التي ذكرها

Kedua pendapat yang dinukil ini batil, dan orang yang mengatakannya telah dipatahkan hujjahnya oleh hadits-hadits yang telah disebutkan ini. (Syarh Shahih Muslim)

Wallahu A’lam

🌸🌿☘🌺🌻🍃🌼

🖋 Farid Nu’man Hasan

Ketika Para Masyayikh Semakin Sepuh

Ada masa ketika kita begitu mudah menemui para masyayikh, ulama, dan guru-guru kita. Kita bisa duduk di majelis mereka, bertanya langsung tentang berbagai persoalan, mendengar nasihat mereka, dan mengambil ilmu dari lisan mereka, serta menimba pengalaman dari dakwah dan perjuangan mereka. Namun waktu terus berjalan. Usia mereka semakin senja, tubuh semakin lemah, dan satu per satu kemampuan mereka berkurang.
Ketika para masyayikh sudah semakin sepuh, sesungguhnya ada beberapa hal penting yang perlu kita sadari.

1. Manfaatkan kesempatan sebelum kehilangan

Jangan menunggu sampai mereka  sudah tidak mampu lagi membina,  mengajar, sulit ditemui, atau bahkan telah wafat. Ilmu yang berada di hadapan kita hari ini adalah nikmat yang belum tentu kita dapatkan esok hari.
Dahulu para salaf sangat menghargai kesempatan bertemu dan belajar kepada ulama. Maka selama guru kita masih sehat dan mampu memberikan ilmu, dekatilah, hadiri majelisnya, dan ambillah manfaat sebanyak-banyaknya.

2. Jangan hanya mengambil ilmunya, tetapi ambillah adabnya

Ketika seorang guru semakin sepuh, mungkin kemampuan menyampaikan materi tidak lagi seperti dahulu. Suaranya melemah, hafalannya tidak sekuat sebelumnya, atau majelisnya tidak lagi panjang.
Namun jangan sampai kita menganggap beliau sudah tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Justru dari ketekunan, kesabaran, kezuhudan, dan perjalanan panjangnya dalam menuntut serta mengajarkan ilmu, kita dapat belajar sesuatu yang tidak selalu tertulis dalam kitab.
Ilmu bukan hanya apa yang keluar dari lisan seorang guru, tetapi juga apa yang terlihat dari perilakunya.

3. Hormati dan muliakan mereka

Usia yang semakin tua bukan alasan untuk mengurangi penghormatan. Justru semakin sepuh seorang guru, semakin besar penghargaan kita terhadap perjuangan yang telah ia lalui.
Allah Ta’ala berfirman:
«وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا»
“Dan ucapkanlah: Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidikku ketika kecil.”
(QS. Al-Isra: 24)
Jika orang tua saja diperintahkan untuk dimuliakan karena jasa mereka dalam mendidik kita, maka guru yang telah mengajarkan agama, menunjukkan jalan kebaikan, mengajarkan bagaimana dakwah dan berjamaah, juga layak mendapatkan penghormatan dan doa.

4. Segera dokumentasikan ilmu mereka

Ketika seorang ulama semakin sepuh, ada kekhawatiran ilmu yang ada dalam ingatan dan pengalaman mereka ikut pergi bersama wafatnya mereka.
Karena itu, selama memungkinkan, ilmu mereka perlu dicatat, direkam, ditulis, dibukukan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Kajian-kajian lama, fatwa, pengalaman dakwah, biografi, dan nasihat mereka adalah bagian dari khazanah umat yang sangat berharga.
Jangan sampai kita baru menyadari nilai sebuah ilmu setelah orang yang menyampaikannya telah tiada.
Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
 إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.
(HR. Bukhari no. 100)
Telah shahih dari Anas bin Malik bahwan Rasulullah ﷺ  bersabda:
قَيَّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
Ikatlah ilmu dengan buku (menulis)
 (HR. Khathib Al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqi, Ibnu Abdil Bar dalam Jaami’ Al Bayan Al ‘Ilmi wa Fadhlih, Ramahurmuzi dalam Al Muhaddits Al Fashil, dll)

5. Doakan mereka dan siapkan generasi penerus

Pada akhirnya, setiap ulama, masyayikh, para ustadz, akan kembali kepada Allah Ta’ala. Tidak ada manusia yang hidup selamanya. Rasulullah ﷺ wafat, para sahabat wafat, para imam telah wafat. Keabadian hanya milik Allah Ta’ala.
Maka tugas kita jangan hanya menangisi kepergian mereka, tetapi juga meneruskan ilmu dan perjuangan mereka. Doakan kesehatan dan keberkahan usia mereka, bantu kebutuhan mereka jika mampu, dan siapkan generasi yang dapat melanjutkan estafet ilmu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641, At Tirmidzi, no. 2682)
Jangan sampai sebuah generasi hanya pandai mengenang para ulama setelah mereka wafat, tetapi lalai belajar dan mengambil manfaat ketika mereka masih hidup.
Ketika para masyayikh semakin sepuh, sesungguhnya mereka sedang mengingatkan kita bahwa waktu juga sedang berjalan untuk kita. Maka sebelum kesempatan itu benar-benar berakhir, mari kita kembali mendekat kepada guru-guru kita, mengambil ilmu mereka, memuliakan mereka, dan meneruskan warisan kebaikan yang telah mereka tinggalkan.
Doa kami untuk mereka:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَهَا، وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَعُلَمَائِنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِهِمْ وَعِلْمِهِمْ، وَارْحَمْ مَنْ سَبَقَنَا مِنْهُمْ، وَاجْزِهِمْ عَنَّا وَعَنِ الْمُسْلِمِينَ خَيْرَ الْجَزَاءِ. آمِينَ
Ya Allah, perbaikilah hati kami, satukanlah hati kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ampunilah kami, para masyayikh kami, dan para ulama kami. Berkahilah usia dan ilmu mereka, rahmatilah orang-orang di antara mereka yang telah mendahului kami, dan balaslah mereka atas jasa mereka kepada kami dan kaum Muslimin dengan sebaik-baik balasan. Aamiin.
Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam
✍️ Farid Nu’man Hasan
scroll to top