Ucapan “Labaika”

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz🙏
Izin bertanya kembali ustadz🙏
Apakah tercela seruan seruan yg sering dilantunkan oleh jama’ah Syi’ah seperti
” Ya husein ”
“Labbaika ya husein”
Labbaika ya Khamainie
Dan yg lainnya?.?


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Labaika artinya “kami sambut panggilanmu”.

Para ulama membagi dua bagian:

– Jika yang memanggil masih hidup.

Misal, seperti Rasulullah ﷺ memanggil sahabatnya lalu sahabat menjawab: “Labaika Ya Rasulullah”, maka sepakat semua ulama atas kebolehannya. Ini bukan hanya berlaku untuk Rasulullah ﷺ, tapi juga untuk yang lain. Seperti guru memanggil muridnya, lalu muridnya menjawab “Labaika ya Ustadzi”.

Bahkan ini sunnah. Imam An Nawawi mengatakan dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab:

يستحب إجابة من ناداك بلبيك، وأن يقول للوارد عليه: مرحبا أو نحوه. وأن يقول لمن أحسن إليه أو فعل خيرا: حفظك الله أو جزاك الله خيرا ونحوه، ولا بأس بقوله لرجل جليل في علم أو صلاح ونحوه: جعلني الله فداك. ودلائل هذا كله في الحديث الصحيح مشهور

Disunnahkan menjawab orang yang memanggilmu dengan ucapan “labbaik”. Dan disunnahkan pula mengatakan kepada orang yang datang kepadanya: “marhaban” (selamat datang) atau semisalnya.

Juga dianjurkan mengucapkan kepada orang yang berbuat baik atau memberikan kebaikan: “Hafizhakallaah” (semoga Allah menjagamu) atau “jazaakallaahu khayran” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan) dan semisalnya.

Tidak mengapa pula mengatakan kepada seorang yang memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu atau keshalihan dan semisalnya: “ja‘alani Allahu fidaak” (semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu).

Dalil-dalil untuk semua ini terdapat dalam hadits-hadits shahih yang sudah masyhur. (selesai)

– Jika ditujukan kepada yang sudah wafat

Seperti ucapan “Labaika ya Rasulullah”, di zaman ini di saat Rasulullah ﷺ sudah wafat, apalagi kepada selain Rasulullah ﷺ seperti kepada Husein.

Ini diperselisihkan ulama, ssbagian mengatakan tidak boleh, dan masuk kategori kesyirikan karena dianggap meminta-minta pertolongan kepada selain Allah, yakni kepada yang sudah wafat walaupun itu nabi. Jika kepada Rasulullah ﷺ saja terlarang apalagi kepada selainnya.

Al Mu’allimi mengatakan:

يجب صرف العبادة بجميع أنواعها لله وحده لا شريك له؛ فمن صرف منها شيئا لغير الله؛ كمن دعا غير الله، أو ذبح أو نذر لغير الله، أو استعان أو استغاث بميت أو غائب أو بحي حاضر فيما لا يقدر عليه إلا الله؛ فقد أشرك الشرك الأكبر، وأذنب الذنب الذي لا يغفر إلا بالتوبة، سواء صرف هذا النوع من العبادة لصنم أو لشجر أو لحجر أو لنبي من الأنبياء أو ولي من الأولياء حي أو ميت

“Ibadah dengan segala jenisnya wajib dipersembahkan hanya kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Barang siapa memalingkan sedikit saja dari ibadah itu kepada selain Allah—seperti berdoa kepada selain Allah, atau menyembelih atau bernazar untuk selain Allah, atau meminta pertolongan (isti‘anah) atau beristighatsah kepada orang mati, orang yang tidak hadir, atau kepada orang hidup yang hadir dalam hal yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah—maka ia telah melakukan syirik besar, dan melakukan dosa yang tidak diampuni kecuali dengan taubat. Baik ia memalingkan bentuk ibadah tersebut kepada berhala, pohon, batu, nabi dari para nabi, atau wali dari para wali, baik yang hidup maupun yang telah mati.” (Dikutip oleh Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 156643)

Pendapat kedua mengatakan hal itu diperbolehkan, jika maksudnya meminta pertolongan kepada mereka sesuai haknya dan sebagai doa kepada Allah dengan tawassul kepadanya.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

الاستغاثة بمعنى أن يطلب من الرسول صلى الله عليه وآله وسلم ما هو اللائق بمنصبه لا ينازع فيها مسلم، ومن نازع في هذا المعنى فهو إما كافر إن أنكر ما يكفر به، وإما مخطئ ضال

“Istighatsah (memohon pertolongan) dengan makna meminta kepada Rasulullah ﷺ sesuatu yang sesuai dengan kedudukan beliau, tidak ada seorang Muslim pun yang memperdebatkannya. Dan siapa yang memperdebatkan makna ini, maka ia bisa menjadi kafir jika ia mengingkari sesuatu yang menyebabkan kekafiran, atau ia adalah orang yang keliru lagi sesat.”

(Majmu’ Al Fatawa, 1/112)

Imam Ibnush Shalah menjelaskan:

فإنها ليست محصورة على ما وجد منها في عصره صلى الله عليه وآله وسلم، بل لم تزل تتجدد بعده صلى الله عليه وآله وسلم على تعاقب العصور؛ وذلك أن كرامات الأولياء من أمته صلى الله عليه وآله وسلم وإجابات المتوسلين به في حوائجهم ومغوثاتهم عقيب توسلهم به في شدائدهم براهين له صلى الله عليه وآله وسلم قواطع، ومعجزات له سواطع، ولا يعدها عد ولا يحصرها حد، أعاذنا الله من الزيغ عن ملته، وجعلنا من المهتدين الهادين بهديه وسنته

“Sesungguhnya hal itu tidak terbatas hanya pada apa yang terjadi di masa beliau ﷺ, bahkan terus diperbarui setelah beliau ﷺ seiring pergantian zaman. Hal itu karena karamah para wali dari umatnya ﷺ, serta dikabulkannya permohonan orang-orang yang bertawassul kepada beliau dalam kebutuhan dan permohonan pertolongan mereka setelah bertawassul kepada beliau dalam kesulitan, merupakan bukti-bukti yang tegas bagi beliau ﷺ dan mukjizat-mukjizat yang terang. Tidak dapat dihitung jumlahnya dan tidak dapat dibatasi banyaknya. Semoga Allah melindungi kita dari penyimpangan dari ajaran beliau, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk dan memberi petunjuk dengan petunjuk dan sunnah beliau.”

(Adabul Mufti wal Mustafti, hal. 210)

Dalam Darul Ifta Al Mishriyyah:

دعوى أنَّ الاستغاثة بالأنبياء والأولياء والصالحين الأموات أو الغائبين شرك هي دعوى باطلة؛ تردها الأدلة العقلية والنقلية، ويلزم منها تكفير السواد الأعظم من المسلمين سلفًا وخلفًا، والاستدلال عليها بالآيات الواردة في عبادة غير الله غير سديد؛ لأنه عينُ منهج الخوارج الذي يعمد فيه أصحابه للآيات التي وردت في تكفير المشركين بعبادتهم غير الله فينزلونها على المسلمين في توسلهم بالأنبياء والصالحين واستغاثتهم بهم.

“Klaim bahwa istighatsah (memohon pertolongan) kepada para nabi, wali, dan orang-orang saleh—yang telah wafat atau yang tidak hadir—adalah syirik, merupakan klaim yang batil; dibantah oleh dalil-dalil akal dan nash. Konsekuensinya adalah mengkafirkan mayoritas besar kaum Muslimin, baik generasi terdahulu maupun yang belakangan.

Berdalil untuk hal itu dengan ayat-ayat yang berbicara tentang penyembahan kepada selain Allah juga tidak tepat; karena hal tersebut merupakan metode kaum Khawarij, yaitu mereka mengambil ayat-ayat yang turun tentang pengkafiran orang-orang musyrik karena menyembah selain Allah, lalu menerapkannya kepada kaum Muslimin dalam hal tawassul kepada para nabi dan orang-orang saleh serta istighatsah kepada mereka.” (fatwa no. 6976)

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Perawi Bukhari dan Muslim Ada yang Syiah?

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz 🙏🙏
Afwan izin bertanya ustadz🙏🙏
Apakah benar dalam hadist riwayat imam Bukhari dan imam Muslim ada perowi dari Syi’ah?..


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ya, ada.. tapi sangat berbeda dengan Syiah Rafidhah yang dikenal di masa saat ini..

Perawi Syiah di zaman itu hanyalah tasyayu’ (rada-rada Syiah), yaitu mereka sekedar lebih mengutamakan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu dibanding sahabat lain. Mereka tidak melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka masih menghormatinya. Adapun Untuk Rafidhah, yang mencaci maki para sahabat, maka yang seperti ini tidak diterima periwayatannya. Bahkan Imam Asy Syafi’i mengatakan Rafidhah adalah yang paling banyak bohongnya.

Imam Ibnu Hajar menjelaskan:

التشيع في عرف المتقدمين هو اعتقاد تفضيل علي على عثمان ، وأن عليا كان مصيبا في حروبه ، وأن مخالفه مخطئ ، مع تقديم الشيخين وتفضيلهما ، وربما اعتقد بعضهم أن عليا أفضل الخلق بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وإذا كان معتقد ذلك ورعا دينا صادقا مجتهدا فلا ترد روايته بهذا ، لا سيما إن كان غير داعية .
وأما التشيع في عرف المتأخرين فهو الرفض المحض ، فلا تقبل رواية الرافضي الغالي ولا كرامة ” انتهى

Syiah dalam istilah ulama terdahulu adalah keyakinan mendahulukan (mengutamakan) Ali atas Utsman, serta meyakini bahwa Ali benar dalam peperangannya dan pihak yang menyelisihinya keliru, namun tetap mendahulukan dan mengutamakan dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Bahkan sebagian mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah makhluk paling utama setelah Rasulullah ﷺ.

Apabila seseorang memiliki keyakinan seperti itu, serta ia seorang yang wara’, beragama, jujur, dan bersungguh-sungguh (dalam berijtihad), maka riwayatnya tidak ditolak karena hal tersebut, terlebih lagi jika ia bukan seorang yang menyeru (kepada bid’ahnya).

Adapun Syiah dalam istilah ulama belakangan adalah rafidhah murni, maka tidak diterima riwayat dari seorang rafidhi yang ekstrim, dan tidak ada kehormatan baginya.”

(Tahdzibut Tahdzib, 1/81)

Imam Adz Dzahabi menjelaskan:

البدعة على ضربين : فبدعة صغرى : كغلو التشيع ، أو كالتشيع بلا غلو ولا تحرف ، فهذا كثير في التابعين وتابعيهم مع الدين والورع والصدق ، فلو رد حديث هؤلاء لذهب جملة من الآثار النبوية ، وهذه مفسدة بينة
ثم بدعة كبرى ، كالرفض الكامل والغلو فيه ، والحط على أبي بكر وعمر رضي الله عنهما ، والدعاء إلى ذلك ، فهذا النوع لا يحتج بهم ولا كرامة
وأيضا فما أستحضر الآن في هذا الضرب رجلا صادقا ولا مأمونا ، بل الكذب شعارهم ، والتقية والنفاق دثارهم ، فكيف يقبل نقل من هذا حاله ! حاشا وكلا
فالشيعي الغالي في زمان السلف وعرفهم هو مَن تَكَلَّم في عثمان والزبير وطلحة ومعاوية وطائفة ممن حارب عليا رضى الله عنه ، وتعرض لسبهم
والغالي في زماننا وعرفنا هو الذي يكفر هؤلاء السادة ، ويتبرأ من الشيخين أيضا ، فهذا ضال معثَّر

“Bid’ah itu terbagi menjadi dua macam:

Pertama: bid’ah kecil, seperti sikap berlebihan dalam tasyayyu’ (kesyiahan), atau sekadar tasyayyu’ tanpa berlebihan dan tanpa penyimpangan. Ini banyak terdapat pada kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in, bersamaan dengan adanya agama (ketaatan), wara’, dan kejujuran pada mereka. Seandainya hadits mereka ditolak, niscaya akan hilang sejumlah besar atsar (riwayat) Nabi, dan ini merupakan kerusakan yang nyata.

Kedua: bid’ah besar, seperti rafidhah (penolakan) yang sempurna dan sikap berlebihan di dalamnya, serta merendahkan Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, serta mengajak kepada hal tersebut. Maka jenis ini tidak dijadikan hujjah (riwayatnya tidak dipakai) dan tidak ada kehormatan baginya.”

Dan juga, aku tidak mendapati—setahuku saat ini—pada kelompok ini seorang pun yang jujur dan terpercaya. Bahkan, kedustaan adalah شعار (ciri khas) mereka, dan taqiyyah serta kemunafikan adalah pakaian mereka. Maka bagaimana mungkin diterima riwayat dari orang yang keadaannya seperti ini? Sama sekali tidak, bahkan mustahil.

Syiah yang ekstrem (ghuluw) pada zaman salaf dan menurut istilah mereka adalah orang yang berbicara (buruk) tentang Utsman bin Affan, Az-Zubair bin Al-Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Muawiyah bin Abi Sufyan, serta sekelompok sahabat yang memerangi Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dan mencela mereka.

Adapun yang dianggap ekstrem pada zaman kita dan menurut istilah kita adalah orang yang mengkafirkan para tokoh tersebut, serta berlepas diri juga dari dua syaikh (Abu Bakar dan Umar). Maka orang seperti ini adalah sesat lagi tergelincir.”

(Mizanul I’tidal, 1/5-6

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

 

Ghoror dalam Jual Beli Hewan Qurban

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum
Ustadz Ijin bertanya tentang pembelian hewan Qurban…
1. Kami rencana membeli hewan Qurban ke pedagang A 10 ekor dengan kesepakatan harga per kg yang sdh disepakati sebelumnya, misal 63rb/kg. Untuk mengikat harga tersebut maka kami diharuskan membayar DP, karena harga biasanya akan naik ketika mendekati hari H
2. Pedagang ini membeli hewan Qurban dari peternak di Bali dan ditimbang di Bali dan diberi tanda bobotnya di kuping sapi tersebut.
3. Pada H-7 kami ke kandang pedagang dan memilih hewan qurban dengan hanya melihat ke bobot sapi yg telah ditimbang dari Bali (tidak ditimbang kembali di pedagang)
Apakah praktik ini diperbolehkan? Atau adakah unsur ghoror didalamnya?


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Jika pedagang tersebut jujur, dan pembeli pun percaya dan tidak mempermasalahkan, maka tidak masalah. Itu gharar qalil, gharar sedikit .. sepakat para ulama mengatakan boleh.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

يشترط في الغرر حتى يكون مؤثراً أن يكون كثيرا , أما إذا كان الغرر يسيرا فإنه لا تأثير له على العقد

Disyaratkan bagi gharar (yang terlarang) adalah jika itu ada dampak yang banyak, sedangkan untuk gharar yang sedikit maka tidak berpengaruh atas terjadinya akad. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 31/151)

Dalam kitab yang sama:

قَال الْقَرَافِيُّ: الْغَرَرُ وَالْجَهَالَةُ – أَيْ فِي الْبَيْعِ – ثَلاَثَةُ أَقْسَامٍ: كَثِيرٌ مُمْتَنِعٌ إِجْمَاعًا، كَالطَّيْرِ فِي الْهَوَاءِ، وَقَلِيلٌ جَائِزٌ إِجْمَاعًا، كَأَسَاسِ الدَّارِ وَقُطْنِ الْجُبَّةِ، وَمُتَوَسِّطٌ اُخْتُلِفَ فِيهِ، هَل يُلْحَقُ بِالأَْوَّل أَمْ بِالثَّانِي؟ وَقَال ابْنُ رُشْدٍ الْحَفِيدُ: الْفُقَهَاءُ مُتَّفِقُونَ عَلَى أَنَّ الْغَرَرَ الْكَثِيرَ فِي الْمَبِيعَاتِ لاَ يَجُوزُ وَأَنَّ الْقَلِيل يَجُوزُ

Al Qarafiy Berkata: Gharar dan jahalah (ketidakpastian) dalam jual beli, ada tiga macam:

1. Gharar banyak, ini terlarang berdasarkan ijma’. Seperti, membeli burung di udara.

2. Gharar yang sedikit, ini BOLEH berdasarkan ijma’. Seperti jual beli pondasi rumah, dan tentang bahan katun (kapas) pada jubah.

3. Gharar yang pertengahan, ini diperselisihkan apakah ini masuk jenis yang pertama atau kedua.

Ibnu Rusyd Al Hafid, mengatakan bahwa para ahli fiqih sepakat gharar yang banyak itu tidak boleh, sedangkan gharar yang sedikit itu boleh. (Ibid, 31/151)

Umumnya orang beli hewan ketika bertanya, “Berapa berat sapi ini?” Biasanya pedagang mengatakan ini beratnya sekian ratus KG. Itu sudah cukup dan biasanya pembeli pun percaya, ini sudah menjadi tradisi. Sangat jarang ditimbang ulang di hadapan pembeli.

Seperti beli rumah, biasanya pembeli tidak sampai memeriksa pondasi rumah, cukup bertanya cakar ayam atau tidak.

Jika kemudian hari terbukti pedagang berbohong atas timbangannya, maka pembeli tidak salah, yang berdosa adalah pedagangnya..

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Hukum Membersihkan Gigi dengan Tusuk Gigi

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum ust…menyela2 gigi dengan tusuk gigi apakah itu terlarang? (+62 858-8179-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Melarang – khususnya dalam urusan duniawi – membutuh dalil yang kuat dan jelas. Jika tidak ada dalilnya, maka kembali ke hukum asal yaitu boleh.

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على التحريم

Hukum asal segala hal adalah boleh sampai ada dalil yang mengharamkannya

Termasuk masalah aktivitas membersihkan gigi dengan tusuk gigi. Tapi hal ini harus memenuhi syarat:

– Tusuk giginya harus suci
– Melakukannya tidak sampai melukai atau membahayakan

Sesuai kaidah:

لا ضرر ولا ضرار

Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top