Adab-Adab Kepada Rasulullah ﷺ

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Mukadimah

Adab kepada Rasulullah ﷺ merupakan bagian dari kesempurnaan iman dan bukti kecintaan seorang muslim kepada Nabi yang telah menyampaikan risalah Allah, membimbing umat menuju hidayah, serta mengorbankan segala yang dimilikinya demi tegaknya agama Islam. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mengenal, mengagungkan, mencintai, menaati, dan mengikuti sunnah beliau ﷺ, serta menjaga kehormatan dan kedudukan beliau sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an dan dijelaskan dalam hadis-hadis yang sahih. Dengan menunaikan adab-adab tersebut, seorang hamba akan memperoleh kecintaan Allah, kesempurnaan iman, dan keberuntungan di dunia maupun di akhirat.

Berikut beberapa adab kepada Rasulullah ﷺ beserta dalil-dalilnya:

1. Mencintai Rasulullah ﷺ di atas kecintaan kepada manusia lainnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Mencintai Rasulullah ﷺ dan menempatkannya paling dicintai di atas seluruh manusia walau keluarga sendiri adalah adab yang paling tinggi, dan refleksi iman yang paling hakiki. Adalah dusta jika ada yang mengaku iman kepada Rasulullah ﷺ tapi meletakkan Rasulullah ﷺ pasa posisi yang tidak layak dalam hal mahabbah (cinta).

2. Mentaati Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ﴾

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa’: 80)

Mentaati Rasulullah ﷺ yaitu dengan mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya, sebagaimana yang tertera dalam Al Quran dan As Sunnah.

3. Mengikuti Sunnah beliau

Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Ayat ini adalah ujian bagi mereka yang mengaku cinta Allah Ta’ala tapi ternyata tidak mengikuti Rasulullah ﷺ. Maka, syarat untuk mendapatkan cinta Allah Ta’ala adalah mengikuti dan menghidupkan sunah Rasulullah ﷺ.

4. Mengagungkan dan memuliakan beliau

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ﴾

“Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (membela) dan mengagungkannya.” (QS. Al-Fath: 9)

Mengagungkan dan memuliakannya tidak menyebutnya kecuali selalu dalam kebaikan, tidaklah berprasangka kecuali selalu kebaikan, dan tidak mendahuluinya dalam ketetapan hukum dan keputusan.

5. Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Para ulama sepakat sebagaimana yang dikatakan Imam Al Qurthubi bahwa bershalawat kepada Rasulullah ﷺ minimal sekali seumur hidup, itulah yang wajib. Selebihnya adalah sunah, kecuali Imam Asy Syafi’i yang mewajibkan pula dalam bacaan tasyahud akhir. Bershalawat bisa dilakukan secara umum kaoan pun, atau bisa secara khusus pada momen dan waktu yang memang dianjurkan shalawat.

6. Tidak mendahului perkataan dan keputusan Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.”
(QS. Al-Hujurat: 1)

Yaitu jika ada perkara atau urusan yang Allah Ta’ala dan Rasul-Nya sudah menetapkan, maka tidak pantas seorang muslim melangkahinya dan menjadikan akal dan hawa nafsunya lebih dahulukan dibanding apa kata Allah dan Rasul-Nya.

7. Tidak meninggikan suara di atas suara Nabi ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ﴾

“Janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi.”
(QS. Al-Hujurat: 2)

Meskipun beliau telah wafat, para ulama menjelaskan bahwa adab ini mencakup penghormatan terhadap hadis dan sunnah beliau.

8. Membela kehormatan Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ﴾

“Agar kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membela dan mengagungkannya.” (QS. Al-Fath: 9)

Membela dengan ilmu dan cara yang benar, dikala kepribadiannya dihina, sunahnya direndahkan oleh orang-orang kafir, musyrik, munafik dan liberal.

9. Ridha dengan hukum dan keputusan Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ﴾

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)

Maka, apa yang Rasulullah ﷺ putuskan baik dalam bentuk perkataan dan perbuatan, maka sikap kita adalah menerima dengan hati yang tenang dan lapang.

10. Tidak berbuat ghuluw (berlebihan) terhadap Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

(HR. Bukhari)

Mengkultuskan adalah awal dari penuhanan, maka sikap ghuluw (berlebihan) adalah terlarang, seperti memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana sifat-sifat Allah Ta’ala. Itulah tersesatnya Nasrani, dan kaum syiah Rafidhah yang telah mengkultuskan para imam mereka dan ahlibait Rasulullah ﷺ.

11. Memuliakan Ahli Bait Rasulullah ﷺ

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى

“Katakanlah (Muhammad), aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang terhadap kerabat (ku).” (QS. Asy-Syura: 23)

Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan mencintai kerabat Rasulullah ﷺ dan menjaga hak-hak mereka.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وكذلك أهل بيت رسول الله صلى الله عليه وسلم : تجب محبتهم ، وموالاتهم ورعاية حقهم ….

Demikian juga ahli bait Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam: wajib mencintai mereka, wala’ kepada mereka, dan menjaga hak-hak mereka.. (Majmu’ Al Fatawa, 28/491)

12. Memuliakan Para Sahabatnya

Allah Ta’ala berkali-kali memuji para sahabat Rasulullah ﷺ. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman:

رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ﴾

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

Ayat lainnya:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ﴾

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” (QS. At-Taubah: 100)

Rasulullah ﷺ pun memuji para sahabatnya dengan bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka, tidak ada tempat sedikitpun di dalam Islam bagi mereka yang memaki-maki orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, yaitu para sahabat nabi.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Say No To LGBT (Lesbian, Gay, Bisex, dan Transgender)

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

– Allah Ta’ala menciptakan gender hanya dua; Laki-laki dan perempuan. Tidak ada yang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

َاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا

Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal … (QS. al-Hujurat: 13)

– Pasangan laki-laki adalah perempuan, bukan laki-laki dengan laki-laki, dan bukan perempuan dengan perempuan. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى ۝ مِنْ نُطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى

Dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan, laki-laki dan perempuan, dari setetes mani apabila dipancarkan.  (QS. An-Najm: 45–46)

– Begitulah fitrahnya manusia, dan tetaplah di atas fitrah tersebut. Allah Ta’ala berfirman:

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.
(QS. Ar Rum: 30)

– Namun, karena hawa nafsu, was was syetan, manusia melanggar fitrahnya.

– Menjadi LGBT adalah kefasikan dan penyimpangan, jangan dinormalisasi, itu sebagaimana penyimpangan moral lainnya. Bahkan penyimpangan yang sdh lama sejak zaman Nabi Luth ‘Alaihissalam.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ۝ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian di dunia ini? Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan kalian adalah kaum yang melampaui batas.

(QS. Al A’raf: 80-81)

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Apakah kalian benar-benar mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan? Sebenarnya kalian adalah kaum yang bodoh. (QS. An Naml: 54-55)

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَنَ اللَّهُ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

“Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Luth.” (HR. Ahmad, shahih)

– Islam adalah agama yang sangat tegas terhadap LGBT. Bahkan menjadi musuh utama bagi mereka. Krn hari ini LGBT bukan hanya penyimpangan, tapi telah menjadi sebuah “gerakan” terstruktur di dunia.

– Al Quran juga menceritakan siksa Allah Ta’ala atas kaum Gay di masa lalu. Allah Ta’ala berfirman:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

Dan Kami hujani mereka dengan suatu hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu. (QS. Al A’raf: 84)

فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ ۝ مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

Maka ketika datang azab Kami, Kami jadikan negeri itu yang di atas ke bawah (dibalikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan azab itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zalim. (QS. Huud: 82-83)

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ ۝ فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

Lalu mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur ketika matahari terbit. Maka Kami jungkirbalikkan negeri itu dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar. (QS. Al Hijr: 73-74)

– Adapun hukuman di dunia, tegas disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Barang siapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya. (HR. At Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah)

– Para pembela LGBT berlindung di balik jubah HAM. Tetapi, kemana suara mereka ketika spilis, raja singa, kencing nanah, HIV, diderita oleh para korban Gay?? Rusaknya mental anak-anak yang menjadi korban keganasan Gay.. Mereka diam.

– Maka buat para penderita LGBT dan pendukungnya. Masih ada waktu berubah dan bertobat. Kembalilah kepada fitrahnya, kembali kepada jalan Allah, meninggalkan secara sungguh-sungguh, menyesali, dan bertekad tidak kembali lagi.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Syarah Ushul ‘Isyrin ke-3

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

والإيمان الصادق والعبادة الصحيحة والمجاهدة نور وحلاوة يقذفهما الله في قلب من يشاء من عباده، ولكن الإلهام والخواطر والكشف والرؤى ليست من أدلة الأحكام الشرعية، ولا تعتبر إلا بشرط عدم اصطدامها بأحكام الدين ونصوصه

Iman yang benar, ibadah yang shahih, dan jihad (bersungguh-sungguh di jalan Allah) adalah cahaya dan kelezatan yang Allah lemparkan ke dalam hati siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun, ilham, lintasan hati, kasyf (tersingkapnya sesuatu secara batin), dan mimpi bukanlah dalil untuk menetapkan hukum-hukum syariat, dan itu tidak bisa dianggap (sebagai hujjah) kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

Penjelasan:

Secara umum, prinsip ini mengandung tiga pelajaran pokok:

– Cahaya iman, manisnya ibadah, dan ketenangan hati adalah pemberian Allah Ta’ala kepada hamba yang berjuang di jalan-Nya.

– Tetapi, dalam perkara hukum syariat, tolak ukurnya hanyalah wahyu (Al-Qur’an & Sunnah), bukan perasaan, mimpi, atau pengalaman spiritual.

– Ilham, mimpi, lintasan hati, dan kasyf (klaim mampu menyingkap yang ghaib) boleh jadi bermanfaat bagi pribadi tertentu, tetapi semua itu tidak boleh dijadikan dalil hukum yang mengikat umat, karena sumber hukum Islam hanyalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma‘, dan Qiyas yang shahih.

الإيمان الصادق

Iman yang benar

Yaitu Iman yang bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi meyakini dalam hati dan dibuktikan dengan amal. Inilah makna iman yg sejati. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka gugurlah keimanan tersebut menurut umumnya Ahlussunah wal Jamaah. Ada pun Murji’ah, mereka tidak memandang “amal” sebagai elemen penting bagi keimanan, dengan kata lain bagi Murji’ah iman cukup di hati dan pengakuan mulut saja.

Kedudukan amal sebagai elemen penting dalam iman, disebutkan dalam Al Quran seperti ayat “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa”, atau “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu berperang”, atau “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu menjalankan hukum qishash dalam pembunuhan”, dll.

Atau dalam hadits-hadits shahih, “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya”, atau “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya”, atau “iman yang paling rendah adalah memindahkan gangguan dari jalan”.

Semua dalil ini menunjukkan bahwa amal shaleh merupakan elemen penting dalam makna keimanan.

العبادة الصحيحة

ibadah yang lurus

Yaitu Ibadah yang didasari keimanan, dijalankan sesuai tuntunan Rasul ﷺ, dan dengan hati yang ikhlas karena Allah, jauh dari penyimpangan dan riya.

Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan:

إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ . وَإِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا . وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Sesungguhnya amal itu, jika benar tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Dan jika ikhlas tetapi tidak benar, juga tidak diterima. Sampai amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas adalah menjadikan ibadah hanya untuk Allah, dan benar adalah sesuai dengan sunah.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 6/345)

Sa’id bin Jubair Rahimahullah mengatakan:

لَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ إلَّا بِنِيَّةِ وَلَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ إلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّة

“Tidak akan diterima ucapan dan amal perbuatan, kecuali dengan niat, dan tidak akan diterima ucapan, perbuatan dan niat, kecuali bersesuaian dengan sunah.” (Ibid)

المجاهدة

bersungguh-sungguh

Yaitu berjihad melawan hawa nafsu, syahwat, waswas setan, dan godaan dunia agar tetap di jalan Allah. Sebagaimana firman-Nya:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)

نور وحلاوة

Cahaya dan kelezatan

Yaitu Buah dari tiga hal di atas adalah نور (cahaya), yakni pemahaman, petunjuk, dan keteguhan dalam agama, serta حلاوة (kelezatan), yaitu manisnya iman yang dirasakan dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ…

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, di dalamnya ada pelita besar…” (QS. An-Nur: 35)

Ibnu Abbas menjelaskan makna “Allah adalah cahaya langit dan bumi”:

هادي أهل السماوات والأرض

Allah adalah pemberi petunjuk bagi penduduk langit dan bumi. (Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari, jilid. 19, hal. 177)

Ada pun tentang manisnya iman, Rasulullah ﷺ menceritakan ciri-cirinya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:

1⃣  Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya.

2⃣ Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.

3⃣ Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43)

يقذفهما الله في قلب من يشاء

Allah Ta’ala curahkan di dalam hati siapapun yang Dia kehendaki

Kalimat ini menunjukkan bahwa cahaya dan manisnya iman adalah karunia Allah, bukan semata usaha manusia. Oleh karena itu, jangan terperdaya oleh amal dan usaha, tapi juga mintalah kepada Allah Ta’ala petunjuk-Nya, mahabbah, dan manisnya iman.

Allah Ta’ala mengajarkan doa:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa:

يا مقلب القلوب، ثبت قلبي على دينك

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 3522, hasan)

Doa lainnya:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah aku.” (HR. Muslim no. 2725)


🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

ولكن الإلهام والخواطر والكشف والرؤى ليست من أدلة الأحكام الشرعية، ولا تعتبر إلا بشرط عدم اصطدامها بأحكام الدين ونصوصه

Namun, ilham, lintasan hati, kasyf (tersingkapnya sesuatu secara batin), dan mimpi bukanlah dalil untuk menetapkan hukum-hukum syariat, dan itu tidak bisa dianggap (sebagai hujjah) kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

Penjelasan:

Ilham (الإلهام) adalah:

عبارة عن إلقاء معنى، أو فكرة، أو خبر، أو حقيقة في النفس، أو القلب، أو الروع، بطريق الفيض،بمعنى: أن يخلق الله -تعالى- فيه علمًا ضرورًّيا، لا يملك المكلَّفُ دفعه بحالٍ من الأحوال

Yakni sebuah ungkapan tentang penyampaian suatu makna, atau gagasan, atau berita, atau suatu kebenaran ke dalam jiwa, hati, atau nurani, dengan cara dilimpahkan. Maksudnya: bahwa Allah Ta‘ala menciptakan dalam diri seseorang suatu pengetahuan yang bersifat pasti (daruriy), yang sama sekali tidak dapat ditolak oleh seorang sudah mukallaf dalam keadaan apa pun. (Ushul Bilaa Ushul, hal. 170-171)

– Khawatir (الخواطر): bisikan hati yang bisa dari Allah, malaikat, diri sendiri, atau syetan.

– Kasyf (الكشف): penyingkapan hakikat ghaib yang kadang dialami sebagian orang shaleh.

– Ru’ya (الرؤيا): mimpi, oleh Rasulullah ﷺ dikatakan bahwa mimpi ada dari Allah dan syetan. Dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الرُّؤْيَا مِنَ اللهِ وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفِثْ حِينَ يَسْتَيْقِظُ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَيَتَعَوَّذْ مِنْ شَرِّهَا فَإِنَّهَا لَا تَضُرُّهُ

“Mimpi yang baik berasal dari Allah dan hulm (mimpi buruk) berasal dari syetan, maka jika salah seorang kalian melihat ada hal buruk dalam mimpinya, maka meludahlah tiga kali saat bangun dan berlindunglah kepada Allah dari keburukannya, karena sesungguhya itu tidak mengganggunya.”
(HR. Al Bukhari No. 5747)

– Semua ini (ilham, kasyf, lintasan hati, dan mimpi) bisa benar dan bisa salah, sehingga tidak boleh dijadikan dasar penetapan hukum syariat.

– Semua itu hanya bisa dianggap bernilai bila tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan hukum syariat.

– Misalnya, seorang hamba mendapat mimpi yang mendorongnya untuk rajin shalat malam – itu baik karena sesuai syariat. Tapi bila mimpi atau ilham menyuruh meninggalkan kewajiban syariat, itu ditolak.

– Kaedah penting, bahwa sumber hukum dalam Islam hanyalah: Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, dan Qiyas (serta cabang ushul fikih lainnya).

– Adapun mimpi, ilham, atau kasyf hanyalah pengalaman pribadi, bukan dalil syar‘i yang mengikat orang lain.
– Kecuali jika semua itu dialami oleh ilhamnya para Nabi dan Rasul-Nya, begitu pula mimpi dan kasyfnya, maka itu adalah kebenaran.

Wallahu A’lam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Adab Kepada Allah Ta’ala

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Mukadimah

Adab kepada Allah Ta’ala adalah pondasi seluruh ibadah dan akhlak seorang Muslim. Semakin seseorang mengenal Rabb-nya, semakin besar pula pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan rasa malu yang ia miliki kepada-Nya. Adab kepada Allah Ta’ala bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam keyakinan, ibadah, perilaku, dan sikap hati dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Ta’ala menciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya dan memuliakan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

1. Mentauhidkan Allah dan Tidak Menyekutukan-Nya

Adab yang paling agung kepada Allah Ta’ala adalah mengesakan-Nya dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk syirik baik kecil maupun besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(QS. An-Nisa’: 36)

Tauhid merupakan hak Allah Ta’ala yang paling besar atas hamba-hamba-Nya. Sedangkan syirik adalah seburuk-buruknya kejahatan.

2. Mencintai Allah Ta’ala di Atas Segala Sesuatu

Seorang mukmin wajib menempatkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas cinta kepada manusia, harta, jabatan, dan seluruh kenikmatan dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Cinta kepada Allah Ta’ala akan mendorong seseorang untuk taat dan menjauhi maksiat.

3. Mengagungkan dan Memuliakan Allah Ta’ala

Seorang Muslim harus mengagungkan Allah Ta’ala dalam hati, ucapan, dan perbuatannya. Allah Ta’ala telah memperingatkan keras perilaku kaum musyrikin yg tidak mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana mestinya, dalam ayat berikut:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Az-Zumar: 67)

Mengagungkan Allah Ta’ala diwujudkan dengan menghormati syariat-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

4. Tunduk dan Patuh syariat- Nya

Adab kepada Allah Ta’ala menuntut sikap menerima dan tunduk terhadap seluruh hukum-Nya tanpa membantah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka adalah: ‘Kami mendengar dan kami taat.'”
(QS. An-Nur: 51)

5. Bersyukur atas Nikmat-Nikmat-Nya

Segala nikmat yang kita rasakan baik kecil dan besar, apa pun bentuknya, adalah berasal dari Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba wajib mensyukurinya. Sebagaimana perintah dalam ayat berikut:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Syukur dilakukan dengan hati dengan qana’ah (merasa puas), lisan (mengucapkan tahmid), dan anggota badan dengan memanfaatkan nikmat tersebut di jalan kebaikan.

6. Bertawakal dan Berhusnuzan kepada Allah

Seorang mukmin menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Sdgkan dalam hadits:

لو أنكم تتوكلون على الله حقَّ توكُّله ؛ لرزقكم كما يرزق الطيرَ : تغدوا خماصًا وتروح بطانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pergi di pagi hari dalam keadaan kosong dan pulang dalam keadaan perut yang terisi.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2344, shahih)

7. Bersabar dan Ridha terhadap Takdir Allah Ta’ala

Adab kepada Allah juga tampak dalam kesabaran ketika menghadapi ujian dan keridhaan terhadap ketentuan-Nya. Ridha artinya menerima dengan tenang pilihan dan ketentuan Allah Ta’ala kepada kita.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Rasulullah ﷺ bersabda:

عْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Ketahuilah bahwa apa yang telah menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa jika engkau meninggal dunia di atas keyakinan selain ini, niscaya engkau akan masuk neraka.”

(HR. Ahmad no. 20626)

Penutup

Adab kepada Allah Ta’ala merupakan inti dari kehidupan seorang mukmin. Tauhid, cinta, pengagungan, ketaatan, syukur, tawakal, dan ridha kepada ketentuan-Nya adalah bentuk-bentuk adab yang harus senantiasa dipelihara. Semakin sempurna adab seorang hamba kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada ridha dan rahmat-Nya. Para salaf mengatakan:

مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ

“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

scroll to top