Perspektif Imam Ibnu Taimiyah dalam Menyikapi Peperangan RAFIDHAH (SYI’AH) VS KOALISI YAHUDI DAN NASRANI

Imam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah (jilid. 6, hal. 375):

“Ahlussunnah tetap tidak akan pernah mendukung pihak yang jelas kafirnya.”

Kalimat selengkapnya:

لو قُدِّرَ أَنَّ الْمُسْلِمِينَ ظَلَمَةٌ فَسَقَةٌ، وَمُظْهِرُونَ لِأَنْوَاعٍ مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي هِيَ أَعْظَمُ مِنْ سَبِّ عَلِيٍّ وَعُثْمَانَ، لَكَانَ الْعَاقِلُ يَنْظُرُ فِي خَيْرِ الْخَيْرَيْنِ وَشَرِّ الشَّرَّيْنِ، أَلَا تَرَى أَنَّ أَهْلَ السُّنَّةِ وَإِنْ كَانُوا يَقُولُونَ فِي الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَغَيْرِهِمَا مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ مَا يَقُولُونَ، لكن لَا يُعَاوِنُونَ الْكُفَّارَ عَلَى دِينِهِمْ، وَلَا يَخْتَارُونَ ظُهُورَ الْكُفْرِ وَأَهْلِهِ عَلَى ظُهُورِ بِدْعَةٍ دُونَ ذَلِكَ.

Seandainya ditakdirkan bahwa kaum Muslimin itu adalah orang-orang yang zalim dan fasik, serta menampakkan berbagai macam bid‘ah yang lebih besar daripada bid’ahnya mencela ‘Ali dan ‘Utsman, niscaya orang yang berakal akan melihat mana di antara dua kebaikan yang lebih baik dan mana di antara dua keburukan yang lebih ringan.

Tidakkah engkau melihat bahwa Ahlus Sunnah, meskipun mereka mengatakan tentang Khawarij, Rafidhah, dan selain keduanya dari kalangan ahli bid‘ah sebagaimana yang mereka katakan, namun mereka tidak membantu orang-orang kafir atas agama mereka, dan tidak memilih pihak yang jelas kekufuran serta para pendukungnya dibandingkan pihak yang tampaknya bid‘ah yang masih di bawah itu.

Sementara dalam Fatawa Al Kubra, jilid. 3, hal. 516, Imam Ibnu Taimiyah:

وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -:
عَنْ رَجُلٍ يُفَضِّلُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى عَلَى الرَّافِضَةِ؟

فَأَجَابَ:

الْحَمْدُ لِلَّهِ، كُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ خَيْرٌ مِنْ كُلِّ مَنْ كَفَرَ بِهِ؛ وَإِنْ كَانَ فِي الْمُؤْمِنِ بِذَلِكَ نَوْعٌ مِنْ الْبِدْعَةِ سَوَاءٌ كَانَتْ بِدْعَةَ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ وَالْمُرْجِئَةِ وَالْقَدَرِيَّةِ أَوْ غَيْرِهِمْ؛ فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى كُفَّارٌ كُفْرًا مَعْلُومًا بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ. وَالْمُبْتَدِعُ إذَا كَانَ يَحْسَبُ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مُخَالِفٌ لَهُ لَمْ يَكُنْ كَافِرًا بِهِ؛ وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ يَكْفُرُ فَلَيْسَ كُفْرُهُ مِثْلَ كُفْرِ مَنْ كَذَّبَ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Imam Ibnu Taimiyah ditanya tentang orang yang lebih mengutamakan Yahudi dan Nasrani dibanding Rafidhah.

Beliau menjawab:

Alhamdulillah. Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ maka ia lebih baik daripada setiap orang yang kafir terhadapnya; meskipun pada diri orang mukmin tersebut terdapat suatu bentuk bid‘ah, baik bid‘ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyah, ataupun selain mereka.

Karena Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir dengan kekafiran yang telah diketahui secara pasti dalam agama Islam.

Adapun ahli bid‘ah, jika ia meyakini bahwa dirinya mengikuti Rasul ﷺ dan bukan menyelisihinya, maka ia tidak dihukumi kafir karenanya. Dan seandainya pun ditakdirkan ia kafir, maka kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang secara terang-terangan mendustakan Rasul ﷺ.

Hukum Memasukan Pasukan Kafir Ke Negeri Muslim Untuk Memerangi Umat Islam

Imam Ibnu Taimiyah berkata (Majmu’ Al Fatawa, jilid. 13, hal. 219):

فإنه ليس فيما يأمر الله به رسوله أن يأتي بالكفار المشركين وأهل الكتاب لقتل المسلمين وسبيهم وأخذ أموالهم لأجل ذنوب فعلوها ويجعل الدار تعبد بها الأوثان ويضرب فيها بالنواقيس ويقتل قراء القرآن وأهل العلم بالشرع ويعظم النجسية علماء المشركين وقساوسة النصارى وأمثال ذلك ؛ فإن هؤلاء أعظم عداوة لمحمد صلى الله عليه وسلم وهم من جنس مشركي العرب الذين قاتلوه يوم أحد وأولئك عصاة من عصاة أمته وإن كان فيهم منافقون كثيرون فالمنافقون يبطنون نفاقهم

Sesungguhnya tidak termasuk dalam apa yang Allah perintahkan kepada Rasul-Nya *adalah mendatangkan orang-orang kafir musyrik dan Ahlul Kitab untuk membunuh kaum Muslimin, menawan mereka, dan mengambil harta mereka karena dosa-dosa yang mereka lakukan;* lalu menjadikan negeri itu sebagai tempat penyembahan berhala, dibunyikan lonceng-lonceng (gereja), dibunuh para pembaca Al-Qur’an dan para ulama syariat, serta diagungkan para pendeta musyrik dan pastor Nasrani, dan semisalnya.

Karena mereka itu adalah musuh yang paling keras terhadap Muhammad ﷺ, dan mereka termasuk jenis musyrikin Arab yang dahulu memerangi beliau pada Perang Uhud. Sedangkan yang (berbuat dosa) itu hanyalah para pelaku maksiat dari umat beliau, walaupun di antara mereka banyak orang munafik. Adapun orang-orang munafik, mereka menyembunyikan kemunafikan mereka.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Mengadakan Mabit di Malam Tahun Baru Apakah Tasyabuh/Bid’ah?

PERTANYAAN

Assalamualaikum ustadz.
Kalau mlm tahun baru Masehi ummat Islam mengadakan doa bersama/istighosah atau mabit, apakah termasuk tasyabuh?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Bid’ah jika acara di malam tersebut dianggap istimewa dan miliki keutamaan khusus jika dilakukan di malam tahun baru.

Tapi jika acara tersebut untuk taqlilul mafasid (meminimalisir kerusakan), nahi munkar, dan tidak menganggap malam spesial, maka tidak apa-apa. Kaidahnya:

الأمور بمقاصدها

Menilai perbuatan trgantung maksudnya

Apalagi jika memang malam itu sudah jadwal rutin pengajian, pas qadarullah bertepatan malam tahun baru, tidak apa-apa. Pengajian jangan libur hanya karena gara-gara bertepatan malam tahun baru.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Mematikan HP yang Berdering Ketika Salat

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamualaikum, Tanya pak ustad, Sudah sering terjadi diwaktu salat berjamaah, ada hp bunyi kenceng, bahkan sampai selesai salat. Hukum mematikan hp dilantai, pas kita posisi berdiri apa boleh kita mematikan hp. Wassalamu’alaikum

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Boleh, matikan saja.. walau harus mengambil HP di bawah. Asalkan posisi badan masih tetap menghadap kiblat. Gerakan seperti itu adalah gerakan untuk menyempurnakan shalat dan mengamankan shalat orang banyak. Sebab suara HP tersebut mengganggu orang lain.

Dalilnya: Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersbada:

(اقتلوا الاسودين   في الصلاة: الحية والعقرب ) رواه أحمد وأصحاب السنن. الحديث حسن صحيح.

“Bunuhlah oleh kalian dua binatang hitam saat kalian shalat: ular dan kala jengking.” (HR. Ahmad No.  7379, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 7379)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

قتل الحية والعقرب والزنابير ونحو ذلك من كل ما يضر وإن أدى قتلها إلى عمل كثير

“(Dibolehkan) Membunuh ular, kalajengking kumbang dan yang semisalnya yang bisa mengganggu shalat, walau pun dengan gerakan yang banyak untuk membunuhnya.” (Fiqhus Sunnah, 1/261)

Hadits lainnya:

عن عائشة قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلي في البيت والباب عليه مغلق فجئت فاستفتحت فمشى ففتح لي ثم رجع الى مصلاه. ووصفت أن الباب في القبلة. رواه أحمد وأبو داود والنسائي والترمذي وحسنه

Dari ‘Aisyah, dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat di rumah dan pintu di depannya tertutup, ketika saya datang saya minta dibukakan pintu. Maka beliau berjalan dan membukakan pintu kemudian kembali shalat.” ‘Aisyah mengatakan bahwa pintu tersebut ada di arah kiblat. (HR. Ahmad No. 24027, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Tahqiq Musnad Ahmad No. 24027)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah menjelaskan:

فدل على أن مثل هذا العمل لا بأس به في الصلاة؛ لأن رسول الله صلى الله عليه وسلم فعله وهو القدوة والأسوة صلوات الله وسلامه وبركاته عليه

Maka, hadits ini menunjukkan bahwasanya hal yang semisal perbuatan ini adalah tidak apa-apa dilakukan saat shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukannya, dan dia adalah teladan dan contoh. (Syarh Sunan Abi Daud, 117. Al Misykat)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Salat Iftitah

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum ustadz. Mohon penjelasan tentang sholat iftitah yang dilaksanakan sebelum sholat tarawih?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Dua rakaat ringan sebagai shalat pembuka sebelum shalat malam, memang ada. Itu adalah “pemanasan” shalat berikutnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذا قَامَ من اللَّيْل ليُصَلِّي افْتتح صلَاته بِرَكْعَتَيْنِ خفيفتين

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila bangun untuk shalat malam, beliau mulai shalatnya dengan dua rakaat ringan.” (HR. Muslim, no.767).

Biasanya di masjid-masjid yang dikelola oleh Muhammadiyah, hal ini dilakukan juga saat sebelum tarawih.

Tapi umumnya para Ahli Fiqih mengatakan itu untuk shalat tahajud di luar Ramadhan. Tapi untuk di dalam Ramadhan, hal itu tidak diperlukan dan tidak pernah ada contohnya. Di dalam Ramadhan, pemanasannya sudah ada yaitu di shalat isya dan ba’diyah. Oleh karena itu, shalat tersebut tidak ditemukan di umumnya masjid kaum muslimin.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top