PERTANYAAN
Assalamu’alaikum ust, Afwan jiddan ganggu…
Ada pesan dari teman di mesjid rumah setelah melihat sebuah video:
Teman mesjid bilang video itu bermasalah karena:
1.Ini seperti menggiring yang menonton bahwa Uang seperti segala nya, keluarga klo tidak ditopang dgn uang untk segala2nya maka hubungan suami istri jadi bermasalah. Ana memandang ini adalah fikrah materialistik dalam rumah tangga, jauh dari pemahaman konsep keberkahan harta dalam rumah tangga.
2.Fiqih Islam memandang ini yg ana tahu, adanya fenomena saat ini istri lebih tinggi penghasilan daripada suami justru malah tidak sedikit itu menjadi masalah. Gimana ulama memandang ini ust ?
3.Apakah dalam Islam bhw harga diri itu harus dinilai dgn materi seperti diatas hingga suami harus berpenghasilan tinggi baru ada harga dirinya??
4.Satu lagi ust, sesungguhnya syariah Islam itu memacu umat Islam untk mengejar keberkahan atau nominal uang dalam kehidupannya? Krn ada pernyataan biarin sedikit asal berkah…
Menurut ust gmn? Mhn pencerahannya
JAWABAN
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah
Sebaik-baiknya sikap adalah yang pertengahan, sebagaimana nasihat kaum salaf
خير الأمور اوسطها
Sebaik-baiknya perkara adalah yang pertengahan
Demikian pula dalam menyikapi harta kekayaan. Memposisikan harta, uang, sebagai standar kemuliaan adalah sikap berlebihan dan merupakan warisan ideologi materialisme.
Sebab, dalam Islam harga diri dan kemuliaan seorang manusia bukan pada harta, tapi aqidahnya, keislamannya.
Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu menasihati Abu Ubaidah dengan berkata:
أنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله
Dahulu kita adalah kaum yang hina, lalu Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan selain dari apa yang Allah turunkan (yaitu Islam), maka Allah akan hinakan kita.
(Imam Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shaihain, katanya: shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim. Dan disepakati Adz Dzahabi dalam Talkhisnya)
Runtuhnya peradaban justru ketika kemuliaan diukur dari uang dan materi. Sebagaimana runtuhnya peradaban umat-umat terdahulu baik qarun, hamman, dll. Begitu pula suami yang jadi rendah di mata istri, sehingga membuat suami emosional, berawal dari ideologi dan pandangan hidup istri yang materialistik.
Karenanya, Rasulullah mengajarkan memilih istri karena agamanya yaitu keshalihannya. Sebab, hal itu dapat dapat mereduksi peluang kesombongan istri yang penghasilan lebih besar dr suami, atau kelebihan lainnya dibanding suaminya.
Di sisi lain, Islam tidak memandang remeh peran harta dalam kehidupan dunia, akhirat, dan bahkan perjuangan jihad.
Wallahu A’lam
Farid Nu’man Hasan




