Hikmah Tentang Kisah Orang yang Tak Jadi Berangkat Haji Demi Menolong Orang

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum, Mau bertanya kaitan sebuah kisah ada seorang mau berangkat haji tapi tidak jadi berangkat karena uangnya untuk menolong tetangganya yang miskin dalam keadaan sakit karena kelaparan. Tapi orang tersebut diriwayatkan hajinya diterima walau belum berangkat. Ini hadist, atsar atau hanya cerita dari ulama untuk memotivasi bahwa menolong sesama itu mulia. Besar harapan saya untuk jawaban ini. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum 🙏


 JAWABAN

▪▫▪

Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh

Itu adalah kisah kaum salaf yaitu Imam Abdullah bin Al Mubarak. Dia dan rombongannya tidak jadi melaksanakan haji karena melihat seorang wanita yang sedang mengais-ngais sampah untuk mencari makanan keluarganya yang kelaparan. Akhirnya dia pun mengumpulkan semua perbekalan untuk kehidupan wanita tersebut dan keluarganya, dia tidak jadi haji.

Hal itu dia lakukan karena haji yang akan dia lakukan adalah haji yang kedua atau seterusnya, bukan haji yang wajib (yang pertama) Karena dia sudah pernah Haji sebelumnya. Artinya yang dia lakukan adalah sunnah, sementara menolong wanita tersebut adalah kewajiban itulah kenapa dia lebih mementingkan yang wajib dibanding yang sunnah.

Dengan demikian dia mendapatkan dua pahala itu pahala menolong orang dan pahala niat haji itu sendiri walaupun tidak jadi dia laksanakan.

Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ

Barang siapa yang berhasrat melakukan kebaikan lalu dia belum mengerjakannya maka dicatat baginya satu kebaikan. (HR. Bukhari no. 6491, Muslim no. 130)

Hadits lainnya:

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

“Niat seorang mu’min lebih baik dari pada amalnya”.

(HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir, 6/185-186, dari Sahl bin Sa’ad as Saidi. Imam Al Haitsami mengatakan: “ Rijal hadits ini mautsuqun (terpercaya), kecuali Hatim bin ‘Ibad bin Dinar Al Jursyi, saya belum melihat ada yang menyebutkan biografinya.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 1/61)

Oleh karenanya, Imam Al Ghazali Rahimahullah berkata:

فَالنِّيَّةُ فِي نَفْسِهَا خَيْرٌ وَإِنْ تَعَذَّرَ الْعَمَل بِعَائِقٍ

Maka, niat itu sendiri pada dasarnya sudah merupakan kebaikan, walau pun dia dihalangi uzur untuk melaksanakannya. (Ihya ‘Ulumuddin, 4/352)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Sistem Pemilihan Pemimpin dalam Islam

▫▪▫

PERTANYAAN

Assalamu’alaykum wrwb. Kalau boleh tahu, sistem pemilihan pemimpin baku yang mana yang ditinggalkan Rasuululaah untuk memimpin Khilafah??? (+62 858-1169-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Tidak ada nash yang lugas tentang tata cara pergantian kepemimpinan; apakah penunjukkan dari pemimpin sebelumnya, syuro, atau pemilihan ..

– Abu Bakar dipilih secara aklamasi karena semua tahu keutamaannya di atas semua sahabat

– Umar dipilih secara aklamasi karena semua tahu keutamaannya setelah Abu Bakar

– Utsman dipilih oleh syuro enam orang ahli syuro yang ditunjuk oleh Umar

– Ali diangkat (dibai’at) oleh mayoritas penduduk secara langsung, kecuali para pengikut Muawiyah

– Al Hasan menggantikan Ali setelah wafat, dengan cara dibai’at oleh pendukungnya Ali

– Al Hasan mengalah mengundurkan diri untuk menghindari pertumpahan darah antara pengikuti Ali dan Muawiyah, lalu Muawiyah diangkat menggantikannya

– Muawiyah menunjuk putranya sebagai penggantinya yaitu Yazid. Sejak saat itu proses pemilihan dengan cara Dinasti. Dinasti pertama adalah Bani Umayyah.

Semua model ini terjadi dan para sahabat Nabi ﷺ masih hidup. Tidak ada penolakan signifikan pada tata caranya kecuali di masa Muawiyah ke Yazid, yang oleh Ibnu Umar disebut cara bid’ah yang mencontek cara Kisra.

Wallahu A’lam


▫▪▫

PERTANYAAN

Kalau pendapat Abu Bakar dipilih berdasarkan penunjukan dari Rasulullah melalui isyarat berbagai riwayat yang menyatakan keutamaannya dan pernah diperintahkan oleh Rasulullah menggantikan memimpin shalat berjamaah apakah cukup kuat, ustadz?

Juga Umar bin Khaththab dipilih berdasarkan penunjukan dari Abu Bakar apakah juga cukup kuat pendapatnya, ustadz?

Jazakallahu khairan katsiran. (+62 838-7358-1716)


 JAWABAN

▪▫▪

Itu semua shahih tapi tidak lugas .. hanya isyarat atau qarinah yang disimpulkan seperti itu oleh para ulama ..

Contoh, Diriwayatkan oleh Jubeir bin Mut’im, dari ayahnya:

أتت امرأة النبي صلى الله عليه وسلم، فأمرها أن ترجع إليه، قالت: أرأيت إن جئت ولم أجدك؟ كأنها تقول: الموت، قال صلى الله عليه وسلم: (إن لم تجديني فأتي أبا بكر).

“Datang seorang wanita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka nabi memerintahkannya untuk kembali lagi kepadanya. Wanita itu berkata: ‘Apa pendapatmu jika aku datang tetapi tidak berjumpa lagi denganmu?’ Seakan wanita itu mengatakan: Sudah wafat. Beliau bersabda: ‘Jika angkau tidak menemui aku, maka datanglah kepada Abu Bakar.” (HR. Bukhari No. 3459, 6927, 6794. Muslim No.2386)

Imam As Suyuthi Rahimahullah telah menulis demikian:

وفي حديث ابن زمعة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرهم بالصلاة وكان أبو بكر غائباً فتقدم عمر فصلى فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” لا لا لا يأبى الله والمسلمون إلا أبا بكر يصلي بالناس أبو بكر ” . وفي حديث ابن عمر ” كبر عمر فسمع رسول الله صلى الله عليه وسلم تكبير فأطلع رأسه مغضباً فقال أين ابن أبي قحافة ” .
قال العلماء: في هذا الحديث أوضح دلالة على أن الصديق أفضل الصحابة على الإطلاق وأحقهم بالخلافة وأولاهم بالإمامة

“Dalam hadits Ibnu Zam’ah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan mereka shalat berjamaah dan saat itu Abu Bakar sedang tidak ada, maka majulah Umar ke depan, Nabi bersabda: “Tidak, tidak, tidak, Allah dan kaum msulimin akan menolak kecuali Abu Bakar, maka Abu Bakar pun shalat (jadi Imam) bersama manusia.”

Dalam riwayat Ibnu Umar: “Umar bin Al Khathab takbir (memimpin shalat berjamaah), maka Rasulullah mendengar takbirnya Umar, lalu dia menampakkan kepalanya dan berkata: “Di mana Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar)?”

Berkata para ulama: “Ini merupakan dalil yang jelas bahwa Abu Bakar merupakan sahabat paling utama secara mutlak, yang berhak dengan khilafah, dan paling utama dalam imamah/kepemimpinan.” (Tarikhul Khulafa’ Hal. 24)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Fatwa Para Ulama Tentang Peperangan Syiah Rafidhah VS Kafir, Kita Dukung Mana?

1⃣ Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

مع شدة نقده على بعض الفرق الشيعية (كالرافضة)، إلا أنه أفتى في بعض رسائله بوجوب التعاون معهم على قتال الكفار إذا كانوا في مواجهة عدو مشترك، وقال:

“إذا كان العدو المشترك هو الكفار، فإن قتالهم مقدم على قتال أهل البدع، والمسلمون كلهم متفقون على وجوب جهاد الكفار، وإن اختلفوا في أمور أخرى”

[مجموع الفتاوى (28/ 540)]

Meskipun Beliau keras dalam mengkritik sebagian kelompok Syiah (seperti Rafidhah), namun beliau dalam sebagian risalahnya berfatwa tentang wajibnya bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir jika menghadapi musuh bersama. Beliau berkata:

“Jika musuh bersama adalah orang-orang kafir, maka memerangi mereka didahulukan daripada memerangi ahli bid‘ah. Dan seluruh kaum Muslimin sepakat tentang wajibnya berjihad melawan orang-orang kafir, meskipun mereka berbeda dalam perkara-perkara lainnya.”

(Sumber: Majmu‘ al-Fatawa, 28/540)

2⃣ Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, Arab Saudi:

سئلت اللجنة الدائمة عن حكم قتال الروافض (وهو مصطلح يطلق على بعض الطوائف الشيعية) مع الكفار؟ وهل هم كفار؟

فأجابت:

“إذا قاتل الرافضةُ الكفارَ فإنهم يقاتلون معهم، ويُعانون على قتال الكفار؛ لأنهم مسلمون، ولأن قتال الكفار أهم من قتال أهل البدع، وقد ثبت عن النبي ﷺ أنه قال: «قاتلوا المشركين بجهدكم وأموالكم وألسنتكم»”
[فتاوى اللجنة الدائمة (2/ 199-200)]

Al-Lajnah Ad-Da’imah pernah ditanya tentang hukum memerangi Rafidhah (sebutan untuk sebagian kelompok Syiah) bersama melawan orang kafir. Apakah mereka kafir?

Mereka menjawab:

“Jika kaum Rafidhah memerangi orang kafir, maka mereka (kafir) ikut diperangi bersama dan dibantu dalam memerangi orang kafir; karena mereka adalah kaum muslimin, dan karena memerangi orang kafir lebih penting daripada memerangi ahli bid’ah.

Telah tetap dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: ‘Perangilah orang-orang musyrik dengan harta kalian, jiwa kalian, dan lisan kalian.’”

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah, 2/199–200)

3⃣ Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah (Mufti Arab Saudi di Masanya)

سئل الشيخ ابن باز عن التعامل مع الشيعة في البلاد الإسلامية إذا اعتدى عليهم كفار، فأفتى بوجوب نصرتهم، وقال:

“إذا كانوا مسلمين، فالواجب مناصرتهم على الكفار، والتعاون معهم في قتال الكفار… أما إذا كانوا روافض غلاة يدعون علياً أو يستغيثون بالأموات، فهم عندنا ضالون، لكننا لا نكفرهم بذلك، ويجب التعاون معهم على قتال الكفار إذا كانوا في بلاد المسلمين، ويكون حكمهم حكم البغاة، والبغاة إذا هجم عليهم الكفار وجب رد الكفار عنهم”

[مجموع فتاوى ابن باز (28/ 287-288)]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya tentang hukum berinteraksi dengan kaum Syiah di negeri-negeri Islam jika mereka diserang oleh orang-orang kafir. Beliau berfatwa bahwa wajib menolong mereka, dan berkata:

“Jika mereka kaum Muslimin, maka wajib menolong mereka melawan orang-orang kafir, serta bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir…

Adapun jika mereka termasuk Rafidhah yang ekstrem, yang berdoa kepada Ali atau meminta pertolongan kepada orang-orang yang sudah mati, maka menurut kami mereka sesat. Namun kami tidak mengkafirkan mereka karena hal itu. Dan tetap wajib bekerja sama dengan mereka dalam memerangi orang-orang kafir jika mereka berada di negeri kaum Muslimin. Hukum mereka seperti hukum bughat (pemberontak), dan bughat apabila diserang oleh orang-orang kafir, maka wajib menolak serangan orang-orang kafir tersebut dari mereka.”

(Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 28/287-288)

4⃣ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

سئل عن حكم قتال الكفار إلى جانب الشيعة، فأجاب:

“إذا كان هناك عدو مشترك يهاجم بلاد الإسلام، فإن الواجب على جميع المسلمين أن يكونوا يداً واحدة على هذا العدو، ولا عبرة بالخلاف المذهبي عند هجوم العدو الكافر؛ لأن درء الخطر الأكبر يقدم على درء الخطر الأصغر”

[لقاء الباب المفتوح (لقاء رقم 67)]

Beliau (Syaikh Utsaimin) juga pernah ditanya tentang hukum memerangi orang-orang kafir bersama kaum Syiah. Maka beliau menjawab:

“Jika ada musuh bersama yang menyerang negeri-negeri Islam, maka wajib bagi seluruh kaum Muslimin untuk bersatu menghadapi musuh tersebut. Perbedaan mazhab tidak dianggap ketika ada serangan dari musuh kafir, karena menolak bahaya yang lebih besar harus didahulukan daripada menolak bahaya yang lebih kecil.”

(Sumber: Liqo’ al-Bab al-Maftuh, pertemuan ke-67)

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍️ Admin Madrasatuna

Serba-Serbi Puasa 6 Hari Syawal

1⃣ Apa Dalilnya?

Dalilnya hadits shahih, dari Abu Ayyub Al Anshari Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah ﷺ  bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian ia menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan ia berpuasa setahun penuh.”  (H.R. Muslim No. 1164)

2⃣ Apa hukumnya?

– Mayoritas ulama mengatakan sunnah, berdasarkan hadits di atas.

Imam An Nawawi mengatakan:

فيه دلالة صريحة لمذهب الشافعى وأحمد وداود وموافقيهم في استحباب صوم هذه الستة

Dalam hadits ini terdapat petunjuk yang jelas bagi  pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, Daud, dan yang menyepakati mereka tentang sunnahnya berpuasa enam hari tersebut. (Syarh Shahih Muslim, 8/56)

– Sementara Imam Abu Hanifah mengatakan makruh, baik dilakukan berturut-turut atau tidak berturut-turut.

– Demikian pula Imam Malik mengatakan makruh.

– Hanafi generasi awal seperti Al Qadhi Abu Yusuf (murid Abu Hanifah), mengatakan makruh berturut-turut dan tidak makruh jika tidak berturut-turut.

Tapi MAYORITAS ulama Hanafiyah muta’akhirin (generasi akhir) mengatakan puasa enam hari Syawwal tidak apa-apa. (Imam Ibnu Nujaim Al Mashri, Bahrur Raiq, 6/133)

Disebutkan dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ – الْمَالِكِيَّةُ ، وَالشَّافِعِيَّةُ ، وَالْحَنَابِلَةُ وَمُتَأَخِّرُو الْحَنَفِيَّةِ – إِلَى أَنَّهُ يُسَنُّ صَوْمُ سِتَّةِ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ بَعْدَ صَوْمِ رَمَضَانَ

Mayoritas fuqaha –Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah muta’akhirin (generasi kemudian)- berpendapat bahwa disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah puasa Ramadhan. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/92)

3⃣ Apa alasan pihak yang memakruhkan?

Alasan mereka, misalnya Imam Malik, belum pernah ia saksikan ulama dan orang shalih di negerinya (Madinah) yang melakukannya. Ditambah lagi, khawatir puasa tersebut dianggap satu paket dengan puasa Ramadhan oleh orang awam.

Disebutkan dalam Al Istidzkar:

وذكر مالك في صيام ستة أيام بعد الفطر أنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها

Imam Malik menyebutkan tentang puasa enam hari Syawal, bahwa beliau belum pernah melihat seorang pun dari kalangan ulama dan ahli fiqih yang melakukan puasa itu. (Imam Ibnu Abdil Bar, Al Istidzkar Al Jaami’ Li Madzaahib Fuqahaa Al Amshaar, 3/379)

Alasan lain, khawatir orang-orang awam menganggap itu puasa yang masih satu kesatuan dengan Ramadhan padahal bukan. Namun bagi yang menganggap bukan bagian dari Ramadhan maka itu tidak makruh.

Disebutkan dalam kitab Mawahib Al Jalil – karya Imam Al Hathab Al Maliki:

كَرِهَ مَالِكٌ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – ذَلِكَ مَخَافَةَ أَنْ يَلْحَقَ بِرَمَضَانَ مَا لَيْسَ مِنْهُ مِنْ أَهْل الْجَهَالَةِ وَالْجَفَاءِ ، وَأَمَّا الرَّجُل فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ فَلاَ يُكْرَهُ لَهُ صِيَامُهَا

Imam Malik Rahimahullah Ta’ala memakruhkan hal itu, ditakutkan hal tersebut merupakan memasukan kepada Ramadhan dengan sesuatu yang bukan berasal darinya yang dilakukan oleh orang bodoh dan ekstrem. Ada pun seseorang yang mengkhususkannya secara tersendiri, maka puasa tersebut tidak makruh. (Imam Al Hathab, Mawahib Al Jalil Li Syarhi Mukhtashar Al Khalil, 3/329)

Alasan pihak Hanafi generasi awal juga mirip, yaitu makruh bagi yang menganggap itu puasa yang include (termasuk) dengan Ramadhan. Tapi pendapat yang terpilih dalam madzhab Hanafi adalah itu boleh bahkan mustahab (sunnah). (Lihat Imam Al Kasani, Al Bada’i Shana’i, 4/149. Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 8/35)

4⃣ Sanggahan pihak mayoritas

Semua alasan di atas telah disanggah oleh pihak yang menyunnahkan, di antaranya Imam Ash Shan’ani Rahimahullah, katanya:

و الجواب أنه بعد ثبوت النص بذلك لا حكم لهذه التعليلات وما أحسن ما قاله ابن عبد البر: إنه لم يبلغ مالكا هذا الحديث يعني حديث مسلم

Jawabannya adalah: bahwasanya setelah pastinya sebuah nash (dalil) maka tidak ada nilainya bagi alasan-alasan ini. Dan komentar terbaik adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Bar: “Sesungguhnya hadits ini (tentang puasa Syawal) belum sampai kepada Imam Malik, yakni hadits riwayat Muslim.” (Subulus Salam, 2/167)

5⃣ Untuk siapa puasa Syawal disunnahkan?

Sebagian ulama mengatakan berlaku bagi semua umat Islam baik ia puasa Ramadhan atau tidak, sebagian lain mengatakan khusus bagi yang puasa Ramadhan saja.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

وَمَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ : اسْتِحْبَابُ صَوْمِهَا لِكُل أَحَدٍ ، سَوَاءٌ أَصَامَ رَمَضَانَ أَمْ لاَ

Pendapat Syafi’iyah: disunnahkan puasa ini bagi setiap orang, sama saja apakah dia puasa Ramadhan atau tidak. (Al Mausu’ah, 28/93)

Selanjutnya:

وَعِنْدَ الْحَنَابِلَةِ : لاَ يُسْتَحَبُّ صِيَامُهَا إِلاَّ لِمَنْ صَامَ رَمَضَانَ

Menurut Hanabilah: tidak disunnahkan berpuasa enam hari Syawal kecuali bagi orang yang berpuasa Ramadhan. (Ibid)

Kedua pendapat ini bisa dikompromikan yaitu pada prinsipnya kesunnahannya berlaku umum, baik bagi mereka yang sudah full puasa Ramadhannya atau yang tidak (karena terhalang oleh haid, nifas, dll), tapi untuk mendapatkan keutamaan bagaikan puasa setahun penuh hanyalah berlaku bagi yang sudah tuntas puasa Ramadhannya.

6⃣ Apa keutamaan puasa 6 hari Syawal?

Sesuai yang tertera dalam hadits bahwa berpuasa Ramadhan lalu diikuti dengan enam hari di bulan Syawal seakan berpuasa setahun penuh.

Bulan Ramadhan ada tiga puluh hari, puasa syawwal enam hari, jadi total puasa adalah 36 hari. Dan masing-masing kebaikan dilipatkan dengan sepuluh kebaikan sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, jadi ada 360 kebaikan. Maka, karena itulah seakan dia berpuasa setahun penuh.

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah Ta’ala:

لأن رمضان بثلاثين يوماً، فيكون المجموع مع شوال ستة وثلاثين يوماً والحسنة بعشر أمثالها، فإذا صام رمضان وستاً من شوال، وصام ثلاثة أيام من كل شهر يكون بذلك كأنه صام الدهر مرتين

Karena Ramadhan ada 30 hari, maka jika dikumpulkan bersama puasa Syawal menjadi 36 hari, dan satu kebaikan dilipatkan nilainya dengan sepuluh kebaikan semisalnya, jika dia puasa Ramadhan, puasa enam hari Syawal, dan puasa tiga hari setiap bulannya, maka seakan dia berpuasa  sepanjang tahun sebanyak dua kali. (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 13/237)

7⃣ Bagaimana caranya, berturut-turut atau terpisah?

Puasa ini sudah boleh dilakukan sejak awal Syawal (yakni 2 Syawal, haram puasa 1 Syawal), atau pertengahan atau akhirnya.

Puasa ini sah dilakukan baik  secara berturut-turut atau tidak. Hanya saja para ulama berbeda pendapat mana yang lebih utama. Sebagian ulama mengutamakan dilakukan segera di awal Syawal. Ada pula yang mengutamakan berturut-turut dibanding terpisah, ada pula yang menganggap kedua cara ini sama saja.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:

وَاخْتَارَ ابْنُ الْمُبَارَكِ أَنْ تَكُونَ سِتَّةَ أَيَّامٍ فِي أَوَّلِ الشَّهْرِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ ابْنِ الْمُبَارَكِ أَنَّهُ قَالَ إِنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ مِنْ شَوَّالٍ مُتَفَرِّقًا فَهُوَ جَائِزٌ

Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)

Syaikh Sayyid Sabiq berkata:

وعند أحمد: أنها تؤدى متتابعة وغير متتابعه، ولا فضل لاحدهما على الاخر. وعند الحنفية، والشافعية، الافضل صومها متتابعة، عقب العيد.

Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)

Untuk pandangan Hanafiyah ada keterangan yang berbeda dalam Al Mausu’ah:

وَلَمْ يُفَرِّقِ الْحَنَابِلَةُ بَيْنَ التَّتَابُعِ وَالتَّفْرِيقِ فِي الأَْفْضَلِيَّةِ .وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ تُسْتَحَبُّ السِّتَّةُ مُتَفَرِّقَةً ، كُل أُسْبُوعٍ يَوْمَانِ

Kalangan Hanabilah tidak membedakan antara berturut-turut atau terpisah dalam hal keutamannya. Menurut Hanafiyah disunnahkan enam hari itu secara terpisah-pisah, setiap pekan dua hari. (Al Mausu’ah, 28/93)

Imam An Nawawi mengatakan:

قال أصحابنا والأفضل أن تصام الستة متوالية عقب يوم الفطر فان فرقها أو أخرها عن أوائل شوال إلى اواخره حصلت فضيلة المتابعة لأنه يصدق أنه أتبعه ستا من شوال

Berkata sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah), yang lebih utama adalah berpuasa enam hari secara beruntun setelah hari raya, seandainya dipisah atau diakhirkan dari awal-awal Syawal sampai akhir-akhirnya tetap mendapatkan keutamaan makna “mengikuti” sebab dia telah benar (sesuai) dengan “mengikuti puasa enam hari pada bulan Syawal.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/56)

8⃣ Qadha dulu atau dahulukan enam hari Syawwal?

– Lebih utama adalah qadha dulu, barulah enam hari Syawal. Sebab, qadha adalah wajib enam hari Syawal bukan wajib. Tentu mendahulukan wajib lebih utama.

– Namun boleh saja seseorang menunda qadha dan mendahulukan Syawalnya. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, bahwa beliau mengqadha di bulan Sya’ban tahun berikutnya, Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu.

– Namun untuk mendapatkan keutamaan “bagaikan puasa setahun penuh” hanyalah bagi yang sudah tuntas kewajiban Ramadhannya.

Dalam Fatawa Nuur ‘Alad Darb:

وهذا الفضل لمن يصومها فى شوال ، سواء أكان الصيام فى أوله أم فى وسطه أمان ثم أتبعه ستاً من شوال وبناء على ذلك فإننا نقول من صام ستة أيام من شوال قبل أن يقضي ما عليه من صيام رمضان فإنه لا ينال ثوابها

“Keutamaan ini berlaku bagi orang yang berpuasa di bulan Syawal, baik puasanya di awal, pertengahan, maupun akhir bulan. Barang siapa telah berpuasa (Ramadhan) kemudian menyusulnya dengan enam hari Syawal. Berdasarkan hal itu, maka kami katakan: siapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal tapi belum mengqadha puasa Ramadhan yang masih menjadi tanggungannya, maka ia tidak mendapatkan pahalanya.”

(Fatawa Nuur ‘Alad Darb, Bab Az Zakah wash Shiyam, No. 191)

9⃣ Bolehkah menggabungkan niat qadha Ramadhan dengan puasa Syawal, atau puasa sunnah lainnya?

Hal ini dibolehkan menurut umumnya ulama, yaitu jika ia niatkan qadha di bulan Syawal, atau di Senin dan Kamis, atau di hari Arafah, maka shaum sunnah itu juga telah tercapai untuknya bersamaan qadhanya. Sebab, yang wajib dapat mencukupi yang sunnah.

Jadi, bukan meniatkan sunnahnya dengan harapan qadha juga, sebab sunnah tidak bisa mencukupi yang wajib.

Imam Khatib Asy Syarbini mengatakan:

ولو صام فيه -أى فى شوال – قضاء عن رمضان أو غيره أو نذرا أو نفلا آخر حصل له ثواب تطوعها

“Seandainya ia berpuasa padanya –yaitu di bulan Syawal- mengqadha Ramadhan atau selainnya, atau nadzar, atau sunnah lainnya maka ia mendapatkan pahala sunnahnya.” (Imam Khathib Asy Syarbini, Mughni Muhtaj, 1/49)

Imam As Suyuthi Rahimahullah berkata:

ذكره السنجي في شرح التلخيص صام في يوم عرفة مثلا قضاء أو نذرا أو كفارة ونوى معه الصوم عن عرفة فأفتى البارزي بالصحة والحصول عنهما

“As Sanji menyebutkan dalam Syarh At Talkhish, berpuasa ‘Arafah misalnya, qadha, atau nadzar, atau kafarah, dan diniatkan juga bersamanya puasa ‘Arafah, maka Al Bariziy memfatwakan bahwa hal itu sah dan mendapatkan kedua puasa itu (qadha dan sunnahnya).” (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhaair, 1/22)

Dalam fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyyah:

نعم يجوز للمسلم أن ينوي نية صوم النافلة مع نية صوم الفرض، فيقضي ما فاته من رمضان في شهر شوال ويكتفي بكل يوم يقضيه عن صيام يوم من الست من شوال، ويحصل بذلك على الأجرين، والأكمل والأفضل أن يصوم كلًّا منهما على حدة

“Ya, boleh bagi seorang muslim untuk menggabungkan niat puasa sunnah dengan niat puasa wajib. Maka ia mengqadha puasa Ramadhan yang terlewat di bulan Syawal, dan setiap qadha yang ia lakukan sudah mencukupi sebagai satu hari dari enam hari Syawal, sehingga ia mendapatkan dua pahala sekaligus. Namun yang lebih sempurna dan lebih utama adalah masing-masing dilakukan secara terpisah. (Fatwa No. 3572)

Menunda puasa Enam hari Syawal karena masih keliling berkunjung ke famili

Tidak apa-apa, dan tidak masalah. Selama ia melakukan puasa Syawal tersebut masih di lingkup bulan Syawal, tentu ia tetap mendapatkan keutamaannya sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi.

Di sisi lain, menunda puasa sunnah karena memuliakan tamu atau menghormati tuan rumah yang telah repot membuatkan makanan juga bagian dari amal shalih dan ibadah yang dianjurkan dalam Islam.

Demikian. Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.

✍️ Ustadz Farid Nu’man Hasan

scroll to top