Sunnah Taqririyah

▫▪▫

 PERTANYAAN

Ustad, mau tanya mengenai kisah Bilal bin Rabah yg semasa beliau hidup terompahnya sdh terdengar oleh Rasulullah saw di Surga. Ketika ditanya kepada Bilal Bin Rabah langsung oleh para sahabat, amalan apa yg menyebabkan masuk? Beliau menjawab: Saya melakukan shalat sunah 2 rakaat setiap setelah wudhu. Dan hal itu tidak dilakukan oleh Rasulullah saw namun tidak dilarang oleh Rasulullah saw. Yang menjadi pertanyaan ana Ustad: Kira2 kenapa Rasulullah saw tidak melarangnya? atau apa yg dilakukan oleh Bilal bin Rabah itu tidak dilakukan oleh Rasulullah saw (bukan sunah). Namun Rasulullah saw tetap takjub dg amalan beliau. Apakah ini menjadi bid’ah yg dibenarkan krn Rasulullah tidak melarangnya? Allahu A’lam (+62 812-8791-xxx)


 JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

 

Apa yang dilakukan oleh Bilal Radhiallahu ‘Anhu, dalam konfigurasi sunnah, itu istilahnya “Sunnah Taqririyah” yaitu perbuatan orang lain yang didiamkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Beliau tidak menyontohkan tetapi juga tidak melarang, justru memujinya. Sehingga ini termasuk sunah nabi yaitu Sunnah Taqririyah. Bukan bid’ah, walau awalnya bukan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

 

Sehingga para ahli hadits mendefinisikan hadits, atsar, dan khabar adalah:

 

ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلم قولا أو فعلا أو تقريرا أو صفة خلقية أو خلقية أو أضيف إلى الصحابي أو التابعي.

 

(Segala sesuatu) yang disandarkan kepada Nabi ﷺ berupa ucapan, perbuatan, persetujuan (taqrir), sifat fisik (khalqiyyah) atau sifat akhlak (khuluqiyyah), atau yang disandarkan kepada seorang sahabat atau tabi’in.

 

(Syaikh Nuruddin ‘Itr, Manhajut Naqd Fi ‘Ulumil Hadits, hal. 29)

 

Contoh lain Sunnah Taqririyah adalah:

 

– Bacaan Hamdan Katsiran Mubarakan Fiih…, saat i’tidal yang dibaca oleh Rifa’ah bin Rafi’ Radhiallahu ‘Anhu, bukan bacaan dari nabi. Rasulullah menyetujuinya bahkan memujinya.

– Seorang sahabat yang shalat 2 rakaat setelah subuh, selesai shalat Rasulullah bertanya shalat apa, ia menjawab: Aku tidak mau kehilangan dunia dan isinya. Rasulullah mendiamkannya. Para ulama mengatakan ini dalil bolehnya qadha shalat sunah fajar.

– Rasulullah mendiamkan Khalid bin Walid memakan dhobb (kadal gurun).

 

Jadi, itu bukan bid’ah, bid’ah itu jika hal baru dalam ibadah atau agama yang menyelisihi/bertentangan dengan Sunnah. Jika tidak dilakukan nabi tapi tidak bertentangan dengan sunah, malah sejalan dengan sunah, maka itu bukan bid’ah.

 

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Makna Kemaksuman Nabi dan Rasul

▫▪▫

 PERTANYAAN

Bismillah, izin bertanya ust. Terkait kemaksuman para Rosulallah as. Namun dalam Al Qur’an disebutkan ada beberapa rosul yang ‘melanggar’ seperti nabi Adam as. Yang memakan buah, nabi Musa as. Yang ‘membunuh’ dll. Bagaimana penjelasan para ulama mengenai hal2 tersebut. Jazakumullohu 🙏 (+62 821-1209-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Bismillahirrahmanirrahim..

Semua manusia tanpa kecuali pernah berbuat salah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak cucu Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. At Tirmidzi no. 2499, shahih)

Ada pun ma’shum, maknanya bukan bebas dari kesalahan, tetapi bebas dari dosa. Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah bebas dari dosa besar dan dosa kecil, ataukah hanya bebas dari dosa besar saja.

Kesalahan tidak selalu bermakna dosa. Seperti kesalahan orang lupa, anak kecil, orang gila, orang tidur, terpaksa, pikun, dan tidak disengaja.

Para nabi yang membuat kesalahan, pun juga demikian. Dilakukan bukan kesengajaan, tapi hal karena faktor manusiawi yang kemudian segera ditegur dengan wahyu.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Seorang yang Tak Fasih Memaksa Menjadi Imam

 

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualaikum ww. Ustadz Farid Nu’man ykc, Bagaimana hukum seorang yang tak fasih alias buruk sekali bacaan qurannya sering memaksa maju jadi imam. Bagaimana Salatnya dan bagaimana pengurus dkm dan kami khususnya yang menjadi makmum. Jazakallah khairan

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Hendaknya orang yang bacaan belum bagus, dalam arti masih banyak kesalahan fatal (Lahnul Jalli) yang mengubah arti, memperbaiki dirinya sampai kesalahan-kesalahan fatal tersebut bisa dihilangkan. Ketika kesalahan fatal tersebut masih selalu terjadi karena dirinya tidak mau belajar, khususnya pada surat Al Fatihah, maka tidak sah ia menjadi imam bahkan tidak sah pula bagi makmumnya.

Imam Ad-Dusuqi Rahimahullah mengatakan:

وحاصل المسألة أن اللاحن إن كان عامداً بطلت صلاته وصلاة من خلفه باتفاق، وإن كان ساهيا صحت باتفاق

Kesimpulannya, kesalahan bacaan jika sengaja maka batal shalatnya (imam) dan shalat makmumnya berdasarkan kesepakatan ulama. Jika kesalahan itu karena lupa (lalai), maka sepakat para ulama tidak batal. (Hasyiyah ‘alasy Syarhil Kabir, 1/329)

Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm, juga menegaskan kesalahan pada bacaan Iyyaaka na’budu seharusnya ada tasydid, tetapi dibaca menjadi iyaaka na’budu (tanpa tasydid), ini mengubah arti (kepada matahari kami menyembah) dan batal shalatnya.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, jika sekumpulan manusia semuanya SAMA-SAMA AWAM, dan mereka SULIT untuk memperbaiki bacaan maka tetap sah shalat mereka berimam kepada yang seperti itu. Tapi, jika mereka mampu memperbaiki, namun tetap membacanya secara salah maka tidak sah. Beliau menjelaskan:

وإن كان يقدر على إصلاح شيء من ذلك فلم يفعل، لم تصح صلاته، ولا صلاة من يأتم به

Jika dia mampu memperbaiki kesalahan itu tapi dia tidak melakukannya maka shalatnya tidak sah, begitu juga shalat makmumnya. (Al Mughni, 2/145)

Dengan kata lain, jika dia sudah belajar, tapi mengalami kesulitan, baik pemahaman atau lidahnya, maka kesalahannya dimaafkan. Dia sah jika menjadi imam bersama yang sama-sama seperti dirinya. Ada pun jika ada yang mahir, maka tidak boleh yang mahir bermakmum kepadanya.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah:

وَهَذَا الشَّرْطُ إِنَّمَا يُعْتَبَرُ إِذَا كَانَ بَيْنَ الْمُقْتَدِينَ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى الْقِرَاءَةِ، فَلاَ تَصِحُّ إِمَامَةُ الأْمِّيِّ لِلْقَارِئِ، وَلاَ إِمَامَةُ الأْخْرَسِ لِلْقَارِئِ أَوِ الأْمِّيِّ، لأِنَّ الْقِرَاءَةَ رُكْنٌ مَقْصُودٌ فِي الصَّلاَةِ، فَلَمْ يَصِحَّ اقْتِدَاءُ الْقَادِرِ عَلَيْهِ بِالْعَاجِزِ عَنْهُ، وَلأِنَّ الإْمَامَ ضَامِنٌ وَيَتَحَمَّل الْقِرَاءَةَ عَنِ الْمَأْمُومِ، وَلاَ يُمْكِنُ ذَلِكَ فِي الأْمِّيِّ … أَمَّا إِمَامَةُ الأْمِّيِّ لِلأْمِّيِّ وَالأْخْرَسِ فَجَائِزَةٌ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْفُقَهَاَء

Syarat ini berlaku jika di antara mereka ada yg mampu membaca Al Quran, maka tidak sah keimaman orang buta huruf untuk makmum yang mampu membaca, tidak sah imam yang bisu untuk makmum yang mampu membaca atau buta huruf. Karena membaca Al Quran adalah rukun, maka tidak sah orang yang mampu membaca menjadi makmum orang yang tidak mampu. Imam adalah penjamin dan penanggung bacaan makmum maka itu tidak mungkin dilakoni orang yang buta huruf Orang buta huruf boleh jadi imam bagi sesama buta huruf dan bisu. Ini disepakati kebolehannya oleh para fuqaha. (Al Mausu’ah , 6/204)

Ada pun jika kesalahan pada bacaan Surah maka tidak termasuk pembatal shalat.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Apakah Utang Diwariskan?

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualikum wr wb ustadz, ada titipan pertanyaan. Fulan ( memiliki satu orang putri, dan dua orang putra dewasa ) menikah dengan seorang janda ( tanpa anak ). Pernikahan yang dilakukannya itu karena si wanita ini meminjamkan uang sebanyak Rp 90 juta yang digunakan oleh si Fulan untuk melunasi kredit rumahnya. Kemudian, si Fulan ini meninggal. Pertanyaannya :

1. Apakah uang yg dipinjam dari si wanita ( yg menjadi istrinya ) itu wajib dibayar ?

2. Apakah istrinya mendapatkan waris + pembayaran hutang

3. Jika harta yg dimiliki oleh si Fulan hanya berupa rumah tinggal, apakah harus dijual lalu hasil jual rumahnya itu diberikan kepada para ahli warisnya + pembayaran hutang kepada istrinya itu ?
Mohon pencerahannya ustadz 🙏jzkalloh


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Dalam Islam, utang seseorang yang wafat tidaklah diwariskan ke ahli warisnya. Utangnya tetap kewajiban yang harus dibayarnya lewat harta yang ia tinggalkan. Oleh karenanya, dalam pembagian waris belum bisa dilakukan sebelum utang (dan wasiat) si mayit dituntaskan dulu dari harta yang ditinggalkannya.

Adapun ahli waris hanyalah eksekutornya, pihak yang menjalankannya saja. Jika mayit tidak memiliki harta, maka utang tersebut tidak lantas jadi utang ahli waris tetapi ahli waris sangat bagus jika membantu membayarkan sebagai wujud amal shaleh dan bakti kepada ortuanya sesudah wafatnya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

إذا مات الميت وترك مالاً فالواجب على ورثته أن يبدؤوا بتجهيزه وتكفينه من التركة , ثم بعد ذلك يلزمهم إخراج الديون من التركة , ثم إخراج الوصايا من ثلث التركة , إن كان قد أوصى في ماله بشيء ؛ كل ذلك قبل قسمة التركة على من يستحقها من الورثة

Jika seorang wafat dan meninggalkan harta maka wajib bagi ahli warisnya mengurus jenazahnya dan mengkafaninya dengan harta tirkah (peninggalannya), kemudian melunasi hutang dengan tirkah, kemudian mengeluarkan wasiat sebanyak 1/3 dari harta tirkah, itu jika memang dia ada wasiat harta, semua hal ini dilakukan sebelum harta tirkah itu dibagikan sebagai harta waris ke ahli warisnya. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no.  200127)

2. Istrinya jika memang masih hidup, termasuk ahli waris, berhak dapat waris jika memang ada harta yang ditinggalkannya. Adapun utangnya, pembahasannya sama dengan no. 1, bahwa tidak lantas menjadi kewajiban istrinya dan ahli waris lainnya. Tetapi itu amal shaleh bagi mereka.

3. Jika memang jalan satu-satunya harus dijual, maka jual-lah untuk bayarkan utang terlebih dahulu, sisanya barulah diwariskan.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top