Syarah Ushul ‘Isyrin ke-3

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

والإيمان الصادق والعبادة الصحيحة والمجاهدة نور وحلاوة يقذفهما الله في قلب من يشاء من عباده، ولكن الإلهام والخواطر والكشف والرؤى ليست من أدلة الأحكام الشرعية، ولا تعتبر إلا بشرط عدم اصطدامها بأحكام الدين ونصوصه

Iman yang benar, ibadah yang shahih, dan jihad (bersungguh-sungguh di jalan Allah) adalah cahaya dan kelezatan yang Allah lemparkan ke dalam hati siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun, ilham, lintasan hati, kasyf (tersingkapnya sesuatu secara batin), dan mimpi bukanlah dalil untuk menetapkan hukum-hukum syariat, dan itu tidak bisa dianggap (sebagai hujjah) kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

Penjelasan:

Secara umum, prinsip ini mengandung tiga pelajaran pokok:

– Cahaya iman, manisnya ibadah, dan ketenangan hati adalah pemberian Allah Ta’ala kepada hamba yang berjuang di jalan-Nya.

– Tetapi, dalam perkara hukum syariat, tolak ukurnya hanyalah wahyu (Al-Qur’an & Sunnah), bukan perasaan, mimpi, atau pengalaman spiritual.

– Ilham, mimpi, lintasan hati, dan kasyf (klaim mampu menyingkap yang ghaib) boleh jadi bermanfaat bagi pribadi tertentu, tetapi semua itu tidak boleh dijadikan dalil hukum yang mengikat umat, karena sumber hukum Islam hanyalah Al-Qur’an, Sunnah, Ijma‘, dan Qiyas yang shahih.

الإيمان الصادق

Iman yang benar

Yaitu Iman yang bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi meyakini dalam hati dan dibuktikan dengan amal. Inilah makna iman yg sejati. Jika salah satu dari tiga hal ini tidak ada, maka gugurlah keimanan tersebut menurut umumnya Ahlussunah wal Jamaah. Ada pun Murji’ah, mereka tidak memandang “amal” sebagai elemen penting bagi keimanan, dengan kata lain bagi Murji’ah iman cukup di hati dan pengakuan mulut saja.

Kedudukan amal sebagai elemen penting dalam iman, disebutkan dalam Al Quran seperti ayat “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa”, atau “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu berperang”, atau “wahai orang beriman, diwajibkan atasmu menjalankan hukum qishash dalam pembunuhan”, dll.

Atau dalam hadits-hadits shahih, “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangganya”, atau “siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya”, atau “iman yang paling rendah adalah memindahkan gangguan dari jalan”.

Semua dalil ini menunjukkan bahwa amal shaleh merupakan elemen penting dalam makna keimanan.

العبادة الصحيحة

ibadah yang lurus

Yaitu Ibadah yang didasari keimanan, dijalankan sesuai tuntunan Rasul ﷺ, dan dengan hati yang ikhlas karena Allah, jauh dari penyimpangan dan riya.

Al Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah mengatakan:

إنَّ الْعَمَلَ إذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ . وَإِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا . وَالْخَالِصُ : أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Sesungguhnya amal itu, jika benar tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Dan jika ikhlas tetapi tidak benar, juga tidak diterima. Sampai amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas adalah menjadikan ibadah hanya untuk Allah, dan benar adalah sesuai dengan sunah.” (Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al Fatawa, 6/345)

Sa’id bin Jubair Rahimahullah mengatakan:

لَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ إلَّا بِنِيَّةِ وَلَا يُقْبَلُ قَوْلٌ وَعَمَلٌ وَنِيَّةٌ إلَّا بِمُوَافَقَةِ السُّنَّة

“Tidak akan diterima ucapan dan amal perbuatan, kecuali dengan niat, dan tidak akan diterima ucapan, perbuatan dan niat, kecuali bersesuaian dengan sunah.” (Ibid)

المجاهدة

bersungguh-sungguh

Yaitu berjihad melawan hawa nafsu, syahwat, waswas setan, dan godaan dunia agar tetap di jalan Allah. Sebagaimana firman-Nya:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)

نور وحلاوة

Cahaya dan kelezatan

Yaitu Buah dari tiga hal di atas adalah نور (cahaya), yakni pemahaman, petunjuk, dan keteguhan dalam agama, serta حلاوة (kelezatan), yaitu manisnya iman yang dirasakan dalam hati.

Allah Ta’ala berfirman:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ…

“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tidak tembus, di dalamnya ada pelita besar…” (QS. An-Nur: 35)

Ibnu Abbas menjelaskan makna “Allah adalah cahaya langit dan bumi”:

هادي أهل السماوات والأرض

Allah adalah pemberi petunjuk bagi penduduk langit dan bumi. (Tafsir Ibnu Jarir Ath Thabari, jilid. 19, hal. 177)

Ada pun tentang manisnya iman, Rasulullah ﷺ menceritakan ciri-cirinya:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman:

1⃣  Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya.

2⃣ Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah.

3⃣ Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari no. 16, Muslim no. 43)

يقذفهما الله في قلب من يشاء

Allah Ta’ala curahkan di dalam hati siapapun yang Dia kehendaki

Kalimat ini menunjukkan bahwa cahaya dan manisnya iman adalah karunia Allah, bukan semata usaha manusia. Oleh karena itu, jangan terperdaya oleh amal dan usaha, tapi juga mintalah kepada Allah Ta’ala petunjuk-Nya, mahabbah, dan manisnya iman.

Allah Ta’ala mengajarkan doa:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan karuniakanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu; sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa:

يا مقلب القلوب، ثبت قلبي على دينك

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 3522, hasan)

Doa lainnya:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي

“Ya Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah aku.” (HR. Muslim no. 2725)

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Adab Kepada Allah Ta’ala

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Mukadimah

Adab kepada Allah Ta’ala adalah pondasi seluruh ibadah dan akhlak seorang Muslim. Semakin seseorang mengenal Rabb-nya, semakin besar pula pengagungan, kecintaan, ketundukan, dan rasa malu yang ia miliki kepada-Nya. Adab kepada Allah Ta’ala bukan sekadar ucapan, tetapi tercermin dalam keyakinan, ibadah, perilaku, dan sikap hati dalam seluruh aspek kehidupan.

Allah Ta’ala menciptakan manusia agar beribadah kepada-Nya dan memuliakan-Nya dengan sebenar-benarnya pengagungan.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

1. Mentauhidkan Allah dan Tidak Menyekutukan-Nya

Adab yang paling agung kepada Allah Ta’ala adalah mengesakan-Nya dalam ibadah dan menjauhi segala bentuk syirik baik kecil maupun besar. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
(QS. An-Nisa’: 36)

Tauhid merupakan hak Allah Ta’ala yang paling besar atas hamba-hamba-Nya. Sedangkan syirik adalah seburuk-buruknya kejahatan.

2. Mencintai Allah Ta’ala di Atas Segala Sesuatu

Seorang mukmin wajib menempatkan cinta kepada Allah Ta’ala di atas cinta kepada manusia, harta, jabatan, dan seluruh kenikmatan dunia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Cinta kepada Allah Ta’ala akan mendorong seseorang untuk taat dan menjauhi maksiat.

3. Mengagungkan dan Memuliakan Allah Ta’ala

Seorang Muslim harus mengagungkan Allah Ta’ala dalam hati, ucapan, dan perbuatannya. Allah Ta’ala telah memperingatkan keras perilaku kaum musyrikin yg tidak mengagungkan Allah Ta’ala sebagaimana mestinya, dalam ayat berikut:

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada Hari Kiamat dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. Az-Zumar: 67)

Mengagungkan Allah Ta’ala diwujudkan dengan menghormati syariat-Nya, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.

4. Tunduk dan Patuh syariat- Nya

Adab kepada Allah Ta’ala menuntut sikap menerima dan tunduk terhadap seluruh hukum-Nya tanpa membantah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Sesungguhnya ucapan orang-orang mukmin apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka adalah: ‘Kami mendengar dan kami taat.'”
(QS. An-Nur: 51)

5. Bersyukur atas Nikmat-Nikmat-Nya

Segala nikmat yang kita rasakan baik kecil dan besar, apa pun bentuknya, adalah berasal dari Allah Ta’ala, sehingga seorang hamba wajib mensyukurinya. Sebagaimana perintah dalam ayat berikut:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Syukur dilakukan dengan hati dengan qana’ah (merasa puas), lisan (mengucapkan tahmid), dan anggota badan dengan memanfaatkan nikmat tersebut di jalan kebaikan.

6. Bertawakal dan Berhusnuzan kepada Allah

Seorang mukmin menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala setelah melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat. Allah Ta’ala berfirman:

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan hanya kepada Allah hendaklah kalian bertawakal jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)

Sdgkan dalam hadits:

لو أنكم تتوكلون على الله حقَّ توكُّله ؛ لرزقكم كما يرزق الطيرَ : تغدوا خماصًا وتروح بطانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; pergi di pagi hari dalam keadaan kosong dan pulang dalam keadaan perut yang terisi.”

(HR. At-Tirmidzi no. 2344, shahih)

7. Bersabar dan Ridha terhadap Takdir Allah Ta’ala

Adab kepada Allah juga tampak dalam kesabaran ketika menghadapi ujian dan keridhaan terhadap ketentuan-Nya. Ridha artinya menerima dengan tenang pilihan dan ketentuan Allah Ta’ala kepada kita.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Rasulullah ﷺ bersabda:

عْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَأَنَّكَ إِنْ مِتَّ عَلَى غَيْرِ هَذَا دَخَلْتَ النَّارَ

“Ketahuilah bahwa apa yang telah menimpamu tidak mungkin luput darimu, dan apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu. Dan ketahuilah bahwa jika engkau meninggal dunia di atas keyakinan selain ini, niscaya engkau akan masuk neraka.”

(HR. Ahmad no. 20626)

Penutup

Adab kepada Allah Ta’ala merupakan inti dari kehidupan seorang mukmin. Tauhid, cinta, pengagungan, ketaatan, syukur, tawakal, dan ridha kepada ketentuan-Nya adalah bentuk-bentuk adab yang harus senantiasa dipelihara. Semakin sempurna adab seorang hamba kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada ridha dan rahmat-Nya. Para salaf mengatakan:

مَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ

“Barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan manusia.”

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Syarah Ushul ‘Isyrin Ke-2

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

وَاْلقُرْآنُ اْلكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ اْلمُطَهَّرَةُ مَرْجِعُ كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ تَعَرُّفِ أَحْكَاْمِ اْلإِسْلاَمِ، وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاْعِدِ اللُّغَةِ اْلعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ، وَيُرْجَعُ فِيْ فَهْمِ السُّنَّةِ اْلمُطَهَّرَةِ إِلَىْ رِجَاْلِ اْلحَدِيْثِ الثِّقَاْتِ

Al Quran yang mulia dan Sunah yang suci adalah rujukan bagi setiap muslim dalam memahami hukum-hukum Islam, dan Al Quran dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, tidak dengan takalluf (dibuat-buat) dan tidak ta’assuf (memaksakan), sedangkan dalam memahami sunah rujukannya adalah pemahaman para ulama hadits yang terpercaya.

Penjelasan:

Pada prinsip ini, Imam Syahid Hasan al Banna Rahimahullah menegaskan sebuah prinsip agung, pondasi yang paling kokoh, bahwa Al Quran dan As Sunnah adalah sumber paling utama, dan rujukan paling mulia, bagi semua umat Islam dalam memahami berbagai hukum-hukum Islam.

Memahami keduanya dengan benar adalah keharusan untuk mendapatkan cahaya dan petunjuk yang terkandung di dalamnya. Memahami keduanya tidak boleh sembarang, tapi hendaknya berdasarkan kaidah dan metode yang benar dan bersama para ulama yang kredibel.

وَاْلقُرْآنُ اْلكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ اْلمُطَهَّرَةُ مَرْجِعُ كُلِّ مُسْلِمٍ فِيْ تَعَرُّفِ أَحْكَاْمِ اْلإِسْلاَمِ

“Al-Qur’an yang mulia dan sunnah yang suci adalah rujukan setiap Muslim dalam mengetahui hukum-hukum Islam.”

Ini menegaskan bahwa sumber utama syariat Islam adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah yg shahih. Keduanya merupakan wahyu Allah, Al-Qur’an diturunkan lafaz dan maknanya, sedangkan Sunnah diturunkan maknanya lalu dijelaskan dengan ucapan, perbuatan, atau persetujuan Nabi ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

َمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ (4)

Tidaklah yang diucapkannya berasal dari hawa nafsunya, melainkan itu adalah wahyu yang disampaikan kepadanya. (QS. An Najm: 3-4)

Salah satu tokoh salaf, Hasan bin ‘Athiyah Rahimahullah berkata:

كان جبريل ينزل على النبي صلى الله عليه وسلم بالسنة كما ينزل عليه بالقرآن

Malaikat Jibril menurunkan sunnah kepada Nabi ﷺ sebagaimana ia menurunkan Al Quran kepadanya. (Sunan Ad Darimi no. 588. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: shahih. Fathul Bari, 13/291)

Imam Ibnu Hazm mengatakan:

فأخبر تعالى أن كلام نبيه صلى الله عليه وسلم كله وحي ، والوحي بلا خلاف ذِكْرٌ ، والذكر محفوظ بنصِّ القرآن ، فصح بذلك أن كلامه صلى الله عليه وسلم كله محفوظ بحفظ الله عز وجل ، مضمون لنا أنه لا يضيع منه شيء ، إذ ما حَفِظَ الله تعالى فهو باليقين لا سبيل إلى أن يضيع منه شيء ، فهو منقول إلينا كله ، فلله الحجة علينا أبدا

Maka Allah Ta‘ala memberitakan bahwa seluruh ucapan Nabi ﷺ adalah wahyu. Dan wahyu, tanpa ada perbedaan pendapat, adalah adz-dzikr (peringatan). Sedangkan adz-dzikr itu terjaga berdasarkan nash Al-Qur’an. Dengan demikian, sahihlah bahwa seluruh ucapan beliau ﷺ terjaga dengan penjagaan Allah ‘Azza wa Jalla, dijamin bagi kita bahwa tidak ada sesuatu pun darinya yang akan hilang. Karena apa yang dijaga oleh Allah Ta‘ala, maka dengan keyakinan pasti tidak mungkin ada sesuatu pun yang hilang darinya. Maka seluruhnya telah sampai kepada kita, dan Allah memiliki hujjah atas kita selamanya.” (Al Ihkam fi Ushul Al Ahkam, 1/95)

Seorang Muslim tidak boleh menjadikan hukum selain keduanya sebagai rujukan utama dan tertinggi, meskipun ia boleh menjadikan ijma’ dan  ijtihad ulama (qiyas) sebagai rujukan pula, tetapi semua itu tetap kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar utama.

Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Muadz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu ke Yaman, Beliau bertanya kepada Muadz:

كيفَ تقضي ؟ قال : أقضي بكتابِ اللهِ . قال : فإن لم تجدْ ؟ قال : فبسُنَّةِ رسولِ اللهِ . قال : فإن لم تجدْ ؟ قال : أجتهدُ رأيي لا آلو . قال : فضربَ رسولُ اللهِ صدرَه وقال : الحمدُ للهِ الذي وفَّقَ رسولَ رسولِ اللهِ لما يُرضِي رسولَ اللهِ

“Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu‘adz bin Jabal ke Yaman, beliau bertanya:

‘Dengan apa engkau akan menghukumi?’

Mu‘adz menjawab: ‘Dengan Kitabullah (Al-Qur’an).’

Beliau bertanya lagi: ‘Jika engkau tidak menemukannya (di dalam Al-Qur’an)?’

Mu‘adz menjawab: ‘Maka dengan Sunnah Rasulullah ﷺ.’

Beliau bertanya lagi: ‘Jika engkau tidak menemukannya (dalam Sunnah)?’

Mu‘adz menjawab: ‘Maka aku akan berijtihad dengan pendapatku semampuku.’

Maka Rasulullah ﷺ menepuk dada Mu‘adz dan bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik utusan Rasulullah kepada sesuatu yang diridhai Rasulullah.’”

(HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ahmad, dll. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: hasan)

وَيُفْهَمُ الْقُرْآنُ طِبْقًا لِقَوَاْعِدِ اللُّغَةِ اْلعَرَبِيَّةِ مِنْ غَيْرِ تَكَلُّفٍ وَلاَ تَعَسُّفٍ

“Al-Qur’an dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab tanpa dibuat-buat dan tanpa dipaksakan.”

Karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang fasih, maka pemahaman terhadapnya harus mengikuti kaidah bahasa Arab; baik nahwu, sharaf, balaghah, maupun uslub bahasa yang digunakan oleh bangsa Arab pada masa turunnya wahyu. Tidak boleh menafsirkan ayat dengan makna yang keluar dari kaidah bahasa Arab, apalagi memaksakan tafsir dengan hawa nafsu atau filsafat yang menyimpang. Firman Allah Ta’ala:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf: 2)

Maka tidak boleh seseorang memahami apalagi menafsirkan Al-Qur’an hanya lewat terjemahan dan menganalisis hanya akalnya semata tanpa memahami bahasa aslinya, tidak paham asbabun nuzul, nasikh mansukh, dan penjelasan para ulama pakar, ini tidaklah dibenarkan dan berbahaya.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan tanpa ilmu, maka disediakan baginya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4022, At Tirmidzi berkata: hasan shahih)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

ومن قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berkata tentang (isi) Al Quran dengan akal pikirannya semata, maka disediakan bagianya tempat duduk di neraka.” (HR. At Tirmidzi No. 4023, katanya: hasan)

وَيُرْجَعُ فِيْ فَهْمِ السُّنَّةِ اْلمُطَهَّرَةِ إِلَىْ رِجَاْلِ اْلحَدِيْثِ الثِّقَاْتِ

“Dan dalam memahami sunnah yang suci, rujukannya adalah para ahli hadits yang terpercaya.”

Artinya, sunah Nabi ﷺ tidak bisa dipahami sembarangan. Harus melalui jalur para ahli hadits (muhadditsin) yang terpercaya (‘adl dan dhabith), baik dalam meriwayatkan maupun menjelaskan dan mengurai maknanya.

Para ulama hadits telah memilah mana yang shahih, hasan, dha‘if, bahkan palsu. Karena itu, seorang Muslim wajib merujuk kepada ulama hadits terpercaya seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ahmad, dan juga para pensyarah hadits seperti Ibn Hajar, An-Nawawi, Al ‘Aini, Ibnu Baththal, dll. Ini agar tidak terjerumus pada pemahaman yang salah terhadap sunah. Betapa sering manusia mengutip hadits lalu menyebarkannya atau membuat meme atau poster hadits, tapi tidak memahami keshahihannya dan tidak paham juga makna dan hukum di dalamnya. Dia memahami secara harfiyah atau apa adanya sehingga yg terjadi adalah salah paham bahkan penyimpangan.

Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

Benarkah Tambahan Al ‘AZHIM dalam kalimat ASTAGHFIRULLAH setelah shalat adalah bid’ah?

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

(Pertanyaan dari beberapa orang bid’ahkah tambahan Al ‘Azhim dan Yuhyi wa Yumit pada zikir setelah shalat)

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika kita perhatikan dengan seksama, tidak ada bentuk khusus tentang lafaz istighfar setelah shalat. Yang ada dalam sunah Rasulullah ﷺ adalah diceritakan bahwa Rasulullah ﷺ beristighfar dan membaca Allahumma antas salam.. Dst.

Adapun kalimat istighfarnya adalah Astaghfirullah.. Astaghfirullah.. Astaghfirullah.., merupakan penjelasan dari Imam Al Auza’i seorang ulama Syam, bukan bagian dari hadits itu sendiri.

Perhatikan hadits berikut…

Dari Tsauban:

إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ

“Jika Rasulullah ﷺ selesai shalat, beliau ISTIGHFAR tiga kali dan memanjatkan doa ALLAAHUMMA ANTAS SALAAM WAMINKAS SALAM TABARAKTA DZAL JALALI WAL IKROM (Ya Allah, Engkau adalah Yang memberi keselamatan, dan dari-Mulah segala keselamatan, Mahabesar Engkau wahai Dzat Pemilik kebesaran dan kemuliaan.”

Kata Walid, maka kukatakan kepada AL AUZA’I: “Bagaimana hendak meminta ampunan?”

Jawabnya, ‘Kau ucapkan: Astaghfirullah, Astaghfirullah.” (HR. Muslim no. 591)

Maka, membatasi kalimat istighfar hanya “Astaghfirullah” dan melarang serta membid’ahkan Al ‘Azhim adalah keliru dan sikap berlebihan.

Kita boleh memakai versi istighfar lainnya yang ada dalam Sunnah Rasulullah ﷺ:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ

“Barang siapa yang mengucapkan; ASTAGHFIRULLAAHAL LADZII LAA ILAAHA ILLAA HUWAL HAYYUL QAYYUUMU WA ATUUBU ILAIH (aku memohon ampun kepada Allah Dzat yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, yang Mahahidup dan Yang terus mengurus makhluk-Nya, dan aku bertobat kepada-Nya), maka dia pasti akan diampuni walaupun dia pernah lari dari medan pertempuran.”(HR. Abu Daud no. 1517, shahih)

Maka, ini amrun waasi’ .. perkara yang luwes dan luas, bebas, .. mau dipakai al ‘Azhim, Pakai yuhyi wayumit atau tidak, secara substansi makna zikirnya tidak ada yg berubah.

Contoh nya Rasulullah ﷺ mengajarkan kalimat talbiyah: Labaikallahumma labaik.. labaika laa syarika laka labaik .. Dst.

Tapi Ibnu Umar menambahkan dengan:

لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ بَيْنَ يَدَيْكَ، لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ، وَالْعَمَلُ

Labbaika wa sa‘daika, wal-khayru baina yadaika, labbaika war-raghba’u ilayka, wal-‘amalu.

(Musnad Ahmad, Sunan Kubra an Nasa’i, dll)

Dulu Rifa’ah bin Rafi’, membaca Hamdan Katsiran Thayyiban Mubarakan fiih .. dst saat i’tidal shalat, yg merupakan kalimat susunannya sendiri, bukan dari Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah justru memuji kalimat itu. Ini istilahnya sunah taqririyah.

Oleh karena itu, Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari:

واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه

Hadits ini merupakan dalil kebolehan menciptakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur, dan menunjukkan kebolehan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah, ditanya tentang bacaan dzikir yang disusun oleh manusia yang berbunyi: “Alhamdulillahi Wahdah Wasy Syukru Lahu Wahdah”, bolehkah ini?

Beliau menjawab:

فإنه لا مانع في هذا النوع من الثناء، لأن صيغ الثناء على الله تعالى لا يشترط أن تكون مأثورة، بدليل ما في الصحيحين وغيرهما عن أنس رضي الله عنه أن رجلاً جاء فدخل الصف وقد حفزه النفس، فقال: الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه. فلما قضى رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاته قال: أيكم المتكلم بالكلمات؟… إلى أن قال: لقد رأيت اثني عشر ملكًا يبتدرونها أيهم يرفعها

Sesungguhnya tidak terlarang pujian semacam ini, karena bentuk kata pujian kepada Allah ﷻ tidaklah disyaratkan mesti yang ma’tsur, berdasarkan hadits Shahihain dan selain mereka berdua, dari Anas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki yang datang dan masuk ke shaf shalat dan dia telah mengilhami dirinya dengan membaca: “Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubaarakan fiih …..”, setelah Rasulullah ﷺ usai dari shalatnya, Belau bertanya: “Siapa di antara kalian yang mengucapkan kalimat tadi?” … sampai perkataannya: “Aku telah melihat 12 malaikat berebut siapa di antara mereka yang pantas mengangkat bacaan itu (ke langit).”

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 34622)

Inilah pendapat mayoritas empat mazhab, bahkan diikuti oleh Imam Ibnu Taimiyah.

Maka, jika yang susunan kalimat sendiri saja boleh, maka apalagi tambahan yang ada dalam sunnah… tambahan YUHYI WA YUMIT yg ada di hadits lainnya, atau tambahan Al ‘AZHIM dalam istighfar ba’da shalat yang juga terdapat dalam hadits lainnya.

Sikap sebagian orang yang membid’ahkan tambahan Al ‘AZHIM dalam istighfar setelah shalat adalah sikap berlebihan dan bertabrakan dengan konsep keilmuan umumnya para fuqaha Ahlussunah wal Jama’ah.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸

✍ Farid Nu’man Hasan
🔈 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC
🅿️ Fanpage: https://facebook.com/ustadzfaridnuman
❄️ Kunjungi website resmi: alfahmu.id
🎬IG: Instagram: https://instagram.com/faridnumanhasan
Youtube : Farid Nu’man Hasan Official
https://www.youtube.com/channel/UCrzlgP00c4gIVDClPuj9z8g

scroll to top