Adab-Adab Terhadap Sunah Nabi Muhammad ﷺ

Sunnah Nabi Muhammad ﷺ adalah jalan hidup yang menjadi petunjuk bagi setiap Muslim dalam beribadah, berakhlak, dan menjalani kehidupan. Karena itu, berinteraksi dengan Sunnah tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menghafalnya, tetapi harus disertai adab: mencintainya, menghormatinya, membenarkannya, mengamalkannya, serta menjaganya dari penyimpangan. Dengan adab yang benar kepada Sunnah, seorang Muslim akan semakin dekat dengan Rasulullah ﷺ dan semakin sempurna dalam mengikuti petunjuk beliau.

1. Mencintai Sunnah Nabi ﷺ

Mencintai Sunnah merupakan konsekuensi mencintai Rasulullah ﷺ.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”(QS. Ali ‘Imran: 31)

2. Mengikuti dan mengamalkan Sunnah

Sunnah bukan sekadar diketahui, tetapi diamalkan sesuai kemampuan.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

3. Mendahulukan Sunnah daripada hawa nafsu dan pendapat pribadi

Seorang Muslim hendaknya tunduk kepada petunjuk Rasulullah ﷺ, tidak mendahuluinya dengan pendapat pribadinya.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)

4. Membenarkan semua yang shahih dari Nabi ﷺ

Tidak boleh menolak Sunnah hanya karena tidak sesuai dengan akal atau selera kita. Seringkali bukan karena tidak masuk akal tetapi kita salah dalam memahaminya.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian, maka ambillah; dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

5. Mengagungkan dan menghormati Sunnah

Sunnah Nabi ﷺ harus diperlakukan dengan penuh penghormatan, bukan sebagai sesuatu yang diremehkan.

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا

“Janganlah kalian menjadikan panggilan Rasul di antara kalian seperti panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain.” (QS. An-Nur: 63)

6. Membela Sunnah dari penyimpangan dan pendustaan

Ketika Sunnah yang shahih diserang atau diputarbalikkan, dipalsukan, seorang Muslim hendaknya menjelaskannya dengan ilmu, ilmiah, dan hikmah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

 مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini menunjukkan betapa seriusnya menjaga Sunnah dari perkataan yang tidak benar atas nama Rasulullah ﷺ.

7. Menyebarkan Sunnah dengan ilmu dan amanah

Mengajarkan Sunnah kepada orang lain adalah amal yang sangat mulia, tetapi harus berdasarkan ilmu dan memastikan kebenaran riwayat.

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

8. Bersabar dalam mengamalkan Sunnah

Berpegang kepada Sunnah terkadang membutuhkan kesabaran karena tidak selalu sesuai dengan kebiasaan masyarakat atau hawa nafsu. Rasulullah ﷺ bersabda:

 فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

“Sesungguhnya siapa di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk…” (HR. Abu Dawud no. 4607; Tirmidzi no. 2676; Beliau berkata: hasan shahih)

Ringkasnya, 8 adab tersebut adalah:

Cinta, Ikuti, Dahulukan, Benarkan, Agungkan, Bela, Sebarkan, Sabar.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Manaqiban

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamu ‘alaikum wr wb…
Izin bertanya Ustadz tentang kegiatan Manaqiban menurut pandangan Islam tidak menurut pandangam Ormas NU atau Muhammadiyah atau Ormas lain… 🙏🏻🙏🏻🙏🏻

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Manaqib (المناقب) adalah bentuk jamak dari manqabah (المنقبة).

Secara bahasa, manqabah berarti sifat terpuji, keutamaan, kemuliaan, atau kelebihan seseorang.

Sedangkan secara istilah, manaqib adalah kisah atau riwayat yang memuat keutamaan, kemuliaan, akhlak, jasa, perjuangan, dan keistimewaan seseorang, khususnya tokoh yang dianggap memiliki kedudukan atau jasa besar.

Jika manaqiban sekadar berkumpul untuk membaca dan mendengarkan siroh para ulama dan shalihin, agar kita dapat mengambil pelajaran dan meneladani mereka maka tidak apa-apa.

Dalam syariat, dibolehkan mengambil pelajaran dari kisah-kisah, baik kisah-kisah para nabi, orang shaleh, atau kisah-kisah orang zalim. Allah Ta’ala berfirman:

فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (QS. Al A’raf: 176)

Ayat lainnya:

{ نَتۡلُواْ عَلَيۡكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرۡعَوۡنَ بِٱلۡحَقِّ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ }

Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir’aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman. (QS. Al Qashash: 3)

Maka selama diisi seperti ini, tidak mengapa. Hanya saja yang sering terjadi, banyak yang hadir tidak mengerti apa yang dibaca maka sebagusnya manaqib tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia agar dipahami pendengarnya.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Hukum Memakai Sandal di Kuburan

▫▪▫

 PERTANYAAN

Aslm ust apa hukum memakai alas kaki di makam/kuburan (+62 853-8303-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wa Barakatuh

Makruh ke area kubur memakai sendal, kecuali khawatir ada bahaya seperti duri atau tanah yang terlalu panas..

Dalilnya, Nabi ﷺ bersabda:

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

Wahai pemakai sendal! Celaka kamu, lepaskan sendalmu! Maka laki-laki itu memandang dan tahu bahwa itu adalah Rasulullah ﷺ  maka dia melepas kedua sendalnya dan melemparnya. (HR. Abu Daud No. 3230, Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad No. 775. Shahih)

Ada keragaman komentar para ulama kita terhadap hadits ini:

✅ Bahwa berjalan di antara kubur dengan sendal adalah makruh. (‘Aunul Ma’bud, 9/36)

Bahwa berjalan di antara kubur dengan sendal adalah boleh, kecuali sendal sibtiyah. Ini pendapat Imam Ibnu Hazm. Namun pendapat ini dikoreksi, para ulama seperti Imam Ibnu Hajar, yang menurutnya itu merupakan jumud yang parah dari Ibnu Hazm, bagi Imam Ibnu Hajar  larangan tersebut mutlak bagi semua sendal. Ada pun sendal sibtiyah karena memang sendal yang biasa dipakai saat itu. (Fathul Bari, 3/206)

✅ Larangan ini terkait karena kesombongan (khuyala) si pemakainya. Sebagaimana kata Imam Al Khathabi. (‘Aunul Ma’bud, 9/37) Ini juga dikritik oleh Imam Ibnu Hajar, bahwasanya para sahabat terbiasa memakai sendal sibtiyah, bagaimana mungkin itu disebut pakaian khuyala (sombong).  (Fathul Bari, 3/206)

 Perintah melepaskan sendal karena untuk menghormati kuburan dan menghindari kesombongan. Ini dikatakan Imam Al ‘Aini (‘Aunul Ma’bud, Ibid)

✅ Sementara Imam Ath Thahawi mengatakan tidak makruh, sebab larangan Nabi ﷺ kepada laki-laki itu disebabkan adanya kotoran pada sendal laki-laki tersebut. Dalil lain ketidakmakruhannya  adalah hadits shahih   bahwa  mayit mendengarkan suara sendal pengantarnya. Juga hadits shahih bahwa Nabi ﷺ shalat menggunakan sendal di masjid, maka itu menunjukkan jika dimasjid dibolehkan maka di kubur lebih utama untuk dibolehkan.   (‘Aunul Ma’bud, Ibid, Fathul Bari, 3/206  dan 10/309)

Imam Ibnu Hajar mengoreksi Imam Ath Thahawi, bahwa larangan ini untuk menghormati mayit, sebagaimana hadits larangan duduk di kuburan, penyebutan sendal sibtiyah bukan menunjukkan pengkhususan.  Larangan ini sudah disepakati. (Ibid)

Namun jika  melepaskan sendal justru memudharatkan seperti tertusuk duri, panas, terkena najis, atau sulit dan repot membukanya seperti khuf, maka ini tidak apa-apa tetap memakainya. Karena, Adh Dharar Yuzaal – Bahaya mesti dihilangkan. Al Masyaqqat Tajlibut Taysir, kesulitan membawa kemudahan.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Kriteria Imam Salat

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualaikumww. Ustadz Farid Numan, Bagaimanakah kriteria imam salat rawatib di masjid menurut para imam mazhab, khususnya mazhab syafii, dan tertulis di kitab apa? Jazakallah khairan (+62 878-7086-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Yang berhak jadi imam shalat:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ وَلَا تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

Yang berhak mengimami suatu kaum adalah yang paling bagus bacaannya terhadap Kitab Allah dan yang paling lama mempelajari bacaannya. Jika bacaan mereka sama, maka yang lebih dahulu hijrahnya. Jika hijrahnya sama, maka yang paling tua usianya.

Dan janganlah engkau mengimami seorang laki-laki di wilayah kekuasaannya (rumah atau keluarganya), dan jangan duduk di tempat yang dimuliakannya dalam rumahnya, kecuali jika ia mengizinkanmu atau dengan izinnya.

(HR. Muslim no. 673)

Bagaimana menurut mazhab Syafi’i? Imam An Nawawi menjelaskan:

وقال مالك والشافعي وأصحابهما : الأفقه مقدم على الأقرأ ؛ لأن الذي يحتاج إليه من القراءة مضبوط والذي يحتاج إليه من الفقه غير مضبوط ، وقد يعرض في الصلاة أمر لا يقدر على مراعاة الصواب فيه إلا كامل الفقه قالوا ولهذا قدم النبي صلى الله عليه وسلم أبا بكر رضي الله عنه في الصلاة على الباقين مع أنه نص صلى الله عليه و سلم على أن غيره أقرأ منه ، وأجابوا عن الحديث بأن الأقرأ من الصحابة كان هو الأفقه ، لكن في قوله: ” فإن كانوا في القراءة سواء ، فأعلمهم بالسنَّة ” دليل على تقديم الأقرأ مطلقاً

“Malik, asy-Syafi‘i, dan para pengikut keduanya (Malikiyah dan Syafi’iyah) berkata: Yang lebih faqih (lebih dalam pemahamannya) didahulukan daripada yang lebih bagus bacaannya. Sebab, kebutuhan dalam masalah bacaan itu terukur (jelas batasannya), sedangkan kebutuhan dalam masalah fikih tidak terukur; dan mungkin terjadi dalam shalat suatu keadaan yang tidak dapat diketahui cara benarnya kecuali oleh orang yang sempurna pemahamannya dalam fikih.

Mereka (ulama) berkata: Karena itulah Nabi ﷺ mendahulukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu sebagai imam shalat atas para sahabat lainnya, padahal Nabi ﷺ telah menegaskan bahwa ada sahabat lain yang lebih baik bacaannya dibanding beliau.

Mereka menjawab (syubhat tentang) hadits tersebut bahwa para sahabat yang paling baik bacaannya adalah juga yang paling faqih. Namun dalam sabdanya: ‘Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang lebih mengetahui sunnah (yang didahulukan),’ terdapat dalil bahwa yang lebih baik bacaannya (al-aqra’) itu lebih utama secara mutlak.”

(Syarh Shahih Muslim, 5/177)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top