Makna Kemaksuman Nabi dan Rasul

▫▪▫

 PERTANYAAN

Bismillah, izin bertanya ust. Terkait kemaksuman para Rosulallah as. Namun dalam Al Qur’an disebutkan ada beberapa rosul yang ‘melanggar’ seperti nabi Adam as. Yang memakan buah, nabi Musa as. Yang ‘membunuh’ dll. Bagaimana penjelasan para ulama mengenai hal2 tersebut. Jazakumullohu 🙏 (+62 821-1209-xxxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Bismillahirrahmanirrahim..

Semua manusia tanpa kecuali pernah berbuat salah.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Semua anak cucu Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. At Tirmidzi no. 2499, shahih)

Ada pun ma’shum, maknanya bukan bebas dari kesalahan, tetapi bebas dari dosa. Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah bebas dari dosa besar dan dosa kecil, ataukah hanya bebas dari dosa besar saja.

Kesalahan tidak selalu bermakna dosa. Seperti kesalahan orang lupa, anak kecil, orang gila, orang tidur, terpaksa, pikun, dan tidak disengaja.

Para nabi yang membuat kesalahan, pun juga demikian. Dilakukan bukan kesengajaan, tapi hal karena faktor manusiawi yang kemudian segera ditegur dengan wahyu.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Seorang yang Tak Fasih Memaksa Menjadi Imam

 

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualaikum ww. Ustadz Farid Nu’man ykc, Bagaimana hukum seorang yang tak fasih alias buruk sekali bacaan qurannya sering memaksa maju jadi imam. Bagaimana Salatnya dan bagaimana pengurus dkm dan kami khususnya yang menjadi makmum. Jazakallah khairan

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Hendaknya orang yang bacaan belum bagus, dalam arti masih banyak kesalahan fatal (Lahnul Jalli) yang mengubah arti, memperbaiki dirinya sampai kesalahan-kesalahan fatal tersebut bisa dihilangkan. Ketika kesalahan fatal tersebut masih selalu terjadi karena dirinya tidak mau belajar, khususnya pada surat Al Fatihah, maka tidak sah ia menjadi imam bahkan tidak sah pula bagi makmumnya.

Imam Ad-Dusuqi Rahimahullah mengatakan:

وحاصل المسألة أن اللاحن إن كان عامداً بطلت صلاته وصلاة من خلفه باتفاق، وإن كان ساهيا صحت باتفاق

Kesimpulannya, kesalahan bacaan jika sengaja maka batal shalatnya (imam) dan shalat makmumnya berdasarkan kesepakatan ulama. Jika kesalahan itu karena lupa (lalai), maka sepakat para ulama tidak batal. (Hasyiyah ‘alasy Syarhil Kabir, 1/329)

Imam Asy Syafi’i dalam Al Umm, juga menegaskan kesalahan pada bacaan Iyyaaka na’budu seharusnya ada tasydid, tetapi dibaca menjadi iyaaka na’budu (tanpa tasydid), ini mengubah arti (kepada matahari kami menyembah) dan batal shalatnya.

Imam Ibnu Qudamah mengatakan, jika sekumpulan manusia semuanya SAMA-SAMA AWAM, dan mereka SULIT untuk memperbaiki bacaan maka tetap sah shalat mereka berimam kepada yang seperti itu. Tapi, jika mereka mampu memperbaiki, namun tetap membacanya secara salah maka tidak sah. Beliau menjelaskan:

وإن كان يقدر على إصلاح شيء من ذلك فلم يفعل، لم تصح صلاته، ولا صلاة من يأتم به

Jika dia mampu memperbaiki kesalahan itu tapi dia tidak melakukannya maka shalatnya tidak sah, begitu juga shalat makmumnya. (Al Mughni, 2/145)

Dengan kata lain, jika dia sudah belajar, tapi mengalami kesulitan, baik pemahaman atau lidahnya, maka kesalahannya dimaafkan. Dia sah jika menjadi imam bersama yang sama-sama seperti dirinya. Ada pun jika ada yang mahir, maka tidak boleh yang mahir bermakmum kepadanya.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah:

وَهَذَا الشَّرْطُ إِنَّمَا يُعْتَبَرُ إِذَا كَانَ بَيْنَ الْمُقْتَدِينَ مَنْ يَقْدِرُ عَلَى الْقِرَاءَةِ، فَلاَ تَصِحُّ إِمَامَةُ الأْمِّيِّ لِلْقَارِئِ، وَلاَ إِمَامَةُ الأْخْرَسِ لِلْقَارِئِ أَوِ الأْمِّيِّ، لأِنَّ الْقِرَاءَةَ رُكْنٌ مَقْصُودٌ فِي الصَّلاَةِ، فَلَمْ يَصِحَّ اقْتِدَاءُ الْقَادِرِ عَلَيْهِ بِالْعَاجِزِ عَنْهُ، وَلأِنَّ الإْمَامَ ضَامِنٌ وَيَتَحَمَّل الْقِرَاءَةَ عَنِ الْمَأْمُومِ، وَلاَ يُمْكِنُ ذَلِكَ فِي الأْمِّيِّ … أَمَّا إِمَامَةُ الأْمِّيِّ لِلأْمِّيِّ وَالأْخْرَسِ فَجَائِزَةٌ، وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ الْفُقَهَاَء

Syarat ini berlaku jika di antara mereka ada yg mampu membaca Al Quran, maka tidak sah keimaman orang buta huruf untuk makmum yang mampu membaca, tidak sah imam yang bisu untuk makmum yang mampu membaca atau buta huruf. Karena membaca Al Quran adalah rukun, maka tidak sah orang yang mampu membaca menjadi makmum orang yang tidak mampu. Imam adalah penjamin dan penanggung bacaan makmum maka itu tidak mungkin dilakoni orang yang buta huruf Orang buta huruf boleh jadi imam bagi sesama buta huruf dan bisu. Ini disepakati kebolehannya oleh para fuqaha. (Al Mausu’ah , 6/204)

Ada pun jika kesalahan pada bacaan Surah maka tidak termasuk pembatal shalat.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Apakah Utang Diwariskan?

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalamualikum wr wb ustadz, ada titipan pertanyaan. Fulan ( memiliki satu orang putri, dan dua orang putra dewasa ) menikah dengan seorang janda ( tanpa anak ). Pernikahan yang dilakukannya itu karena si wanita ini meminjamkan uang sebanyak Rp 90 juta yang digunakan oleh si Fulan untuk melunasi kredit rumahnya. Kemudian, si Fulan ini meninggal. Pertanyaannya :

1. Apakah uang yg dipinjam dari si wanita ( yg menjadi istrinya ) itu wajib dibayar ?

2. Apakah istrinya mendapatkan waris + pembayaran hutang

3. Jika harta yg dimiliki oleh si Fulan hanya berupa rumah tinggal, apakah harus dijual lalu hasil jual rumahnya itu diberikan kepada para ahli warisnya + pembayaran hutang kepada istrinya itu ?
Mohon pencerahannya ustadz 🙏jzkalloh


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

1. Dalam Islam, utang seseorang yang wafat tidaklah diwariskan ke ahli warisnya. Utangnya tetap kewajiban yang harus dibayarnya lewat harta yang ia tinggalkan. Oleh karenanya, dalam pembagian waris belum bisa dilakukan sebelum utang (dan wasiat) si mayit dituntaskan dulu dari harta yang ditinggalkannya.

Adapun ahli waris hanyalah eksekutornya, pihak yang menjalankannya saja. Jika mayit tidak memiliki harta, maka utang tersebut tidak lantas jadi utang ahli waris tetapi ahli waris sangat bagus jika membantu membayarkan sebagai wujud amal shaleh dan bakti kepada ortuanya sesudah wafatnya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

إذا مات الميت وترك مالاً فالواجب على ورثته أن يبدؤوا بتجهيزه وتكفينه من التركة , ثم بعد ذلك يلزمهم إخراج الديون من التركة , ثم إخراج الوصايا من ثلث التركة , إن كان قد أوصى في ماله بشيء ؛ كل ذلك قبل قسمة التركة على من يستحقها من الورثة

Jika seorang wafat dan meninggalkan harta maka wajib bagi ahli warisnya mengurus jenazahnya dan mengkafaninya dengan harta tirkah (peninggalannya), kemudian melunasi hutang dengan tirkah, kemudian mengeluarkan wasiat sebanyak 1/3 dari harta tirkah, itu jika memang dia ada wasiat harta, semua hal ini dilakukan sebelum harta tirkah itu dibagikan sebagai harta waris ke ahli warisnya. (Al Islam Su’aal wa Jawaab no.  200127)

2. Istrinya jika memang masih hidup, termasuk ahli waris, berhak dapat waris jika memang ada harta yang ditinggalkannya. Adapun utangnya, pembahasannya sama dengan no. 1, bahwa tidak lantas menjadi kewajiban istrinya dan ahli waris lainnya. Tetapi itu amal shaleh bagi mereka.

3. Jika memang jalan satu-satunya harus dijual, maka jual-lah untuk bayarkan utang terlebih dahulu, sisanya barulah diwariskan.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Apakah Puasa Tarwiyah Itu Bid’ah?

▫▪▫

 PERTANYAAN

Ustad⁩ mau tanya ttg puasa Tarwiyah. Apakah benar itu bid’ah? Karena Rasulullah saw blm pernah melakukannya (+62 812-8791-xxx)

 JAWABAN

▪▫▪

Keliru jika dikatakan Rasulullah ﷺ belum pernah puasa tanggal 8 Zulhijjah (tarwiyah). Apalagi sampai menuduhnya Bid’ah. Sayangnya kekeliruan ini terlanjur disebarkan, tanpa melihat memuraja’ah dulu pendapatnya.

Perlu diketahui, Keutamaan puasa Tarwiyah secara khusus tidak ada yang shahih bahkan sebagian ada yang palsu. Ini benar. Tetapi bukan hadits-hadits itu dalil puasa Tarwiyah.

Berpuasa tanggal 8 Zulhijjah berdasarkan hadits berikut:

اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

“Bahwa Nabi ﷺ berpuasa pada hari Asyura, SEMBILAN HARI dari bulan Dzulhijjah dan tiga hari setiap bulan, hari Senin pertama tiap bulan dan dua hari Kamis.”

(HR. An Nasa’i no. 2372. Shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan An Nasa’i no. 2372)

Tertulis dalam Al Mausu’ah :

اتفق الفقهاء على استحباب صوم الأيام الثمانية التي من أول ذي الحجة قبل يوم عرفة

Para ahli fiqih sepakat sunahnya puasa di hari-hari delapan di awal dzulhijjah sebelum hari arafah .. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/91)

Artinya, jika sunah berpuasa sejak 1-8 Zulhijjah, maka tentunya tanggal 8 juga termasuk.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ومن المسنون صوم شعبان ومنه صوم الايام التسعة من اول ذى الحجة وجاءت في هذا كله احاديث كثيرة

Di antara shaum yang disunnakan adalah shaum bulan sya’ban, shaum 9 hari di awal Dzulhijjah, dan tentang semua ini haditsnya begitu banyak.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/386)

Apa yang dikatakan Imam An Nawawi 9 hari awal Zulhijjah menunjukkan shaum tanggal 8 Zulhijjah (hari Tarwiyah), juga termasuk sunah. Sedangkan jika seseorang hanya puasa tanggal 8 dan 9 saja, atau 1 dan 2 saja, atau tanggal lainnya di antara itu, sesuai kemampuan dan kesanggupannya tentunya tidak disalahkan. Lebih bagus jika dia 9 hari tersebut.

Syaikh Shalah Muhammad Abul Haj Al Hanafi Hafizhahullah menjelaskan tentang puasa Tarwiyah:

أقول وبالله التوفيق: يوم التروية هو الثامن من ذي الحجة، ويستحب صوم الأيّام الثّمانية الّتي من أوّل ذي الحجّة قبل يوم عرفة ويدخل فيها يوم التروية؛ لحديث ابن عبّاس رضي الله عنهما مرفوعاً: ((ما من أيّام العمل الصّالح فيها أحبّ إلى اللّه من هذه الأيّام – يعني أيّام العشر – قالوا: يا رسول اللّه، ولا الجهاد في سبيل اللّه؟ قال: ولا الجهاد في سبيل اللّه، إلاّ رجل خرج بنفسه وماله، فلم يرجع من ذلك بشيء))، في سنن أبي داوود، 5: 102، وصححه الألباني، والسنن الكبرى، 17: 138. والله أعلم.

Wabillahit Tawfiq.

Hari Tarwiyah adalah hari ke 8 di bulan. Dan disunnahkan berpuasa  selama 8 hari di hari-hari  awal Dzulhijjah sebelum hari Arafah, dan hari Tarwiyah termasuk di dalamnya.

Berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma, secara marfu’:

Tidak ada hari yang lebih dicintai Allah dibandingkan hari-hari ini -yakni 10 hari Zulhijjah.

Mereka bertanya:  “Tidak juga dengan jihad wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Tidak juga dengan jihad, kecuali seorang laki-laki yang keluar membawa harta dan jiwanya, dan dia tidaklah kembali dengan itu semua (maksudnya: mati syahid).” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani).
Wallahu a’lam. (Fatwa Markaz Anwaar Al ‘Ulama Ats Tsaqafiy Ad Dauliy, No. 1323)

Lalu apa keutamaannya?

Keutamaannya adalah mencakup keumuman hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامٍ أَفْضَلَ مِنْهَا فِي هَذِهِ قَالُوا وَلَا الْجِهَادُ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini (10 hr Zulhijjah).”

Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?”

Beliau menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari No. 969)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top