Hukum Menangis Ketika Salat

▫▪▫

 PERTANYAAN

Assalaamu’alaikuum ustadz. Izin bertanya. Ketika seorang sholat dan teringat dengan keluarga yang sakit atau keadaan hidup dan menangis dalam sholatnya. Apa sholatnya terhukum batal? Atau menangis dalam sholat itu hanya untuk ketika meresapi makna ayat doa bacaan sholat dan Allah saja?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah

– Menangis dalam shalat pada dasarnya bagus. Rasulullah, para sahabat, dan shalihin terdahulu pun melakukannya.

– Namun para Fuqaha menegaskan ada ketentuannya:

1. Penyebab menangisnya adalah krn urusan akhirat, teringat dosa, teringat ancaman dan peringatan dalam Al Quran.
2. Tidak sampai tangisan yg mengeluarkan kosa kata seperti Haa atau Huu, sebab itu sdh masuk kategori Kalamun Naas (perkataan manusia) yg masuk ke dalam shalat. Karena Haa dan Huu bermakna “dia.”

Para ulama berbeda pendapat jika nangisnya krn faktor duniawi misal: teringat musibah duniawi yg dialami. Sebagian mengatakan batal, sebagian mengatakan sah tetapi makruh.

Berkata Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

أن البكاء في الصلاة إذا كان من خشية الله عز وجل والخوف منه وتذكر الإنسان أمور الآخرة وما يمر به في القرآن الكريم من آيات الوعد والوعيد فإنه لا يبطل الصلاة وأما إذا كان البكاء لتذكر مصيبة نزلت به أو ما أشبه ذلك فإنه يبطل الصلاة لأنه حدث لأمر خارج عن الصلاة وعليه فيحاول علاج نفسه من هذا البكاء حتى لا يتعرض لبطلان صلاته وعليه أيضاً بل يشرع له أن لا يكون في صلاته مهتماً بغير ما يتعلق بها فلا يفكر في الأمور الأخرى لأن التفكير في غير ما يتعلق بالصلاة في حال الصلاة ينقصها كثيرا ًفإن ذلك من عمل الشيطان ومن وساوسه ومن سرقته لصلاة العبد

Sesungguhnya menangis dalam shalat jika disebabkan rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan takut dari azabNya, dan manusia mengingat urusan-urusan akhirat, dan apa-apa yang Al Quran ceritakan tentang akhirat, berupa ayat janji dan ancaman, sesungguhnya itu tidak membatalkan shalat. Sedangkan, jika menangis karena mengingat musibah menimpanya, atau yang semisal itu, sesungguhnya itu membatalkan shalat karena dia mensisipkan hal di luar shalat. Wajib atasnya untuk merubah dirinya dari tangisan seperti ini sehingga shalatnya   tidak menjadi batal.  Wajib baginya juga, bahkan disyariatkan baginya agar dalam shalatnya tidak dipecahkan oleh selain yang terkait dengan shalat. Maka, janganlah dia memikirkan perkara lainnya, sebab memikirkan perkara lain selain shalat dalam keadaan shalat dapat banyak menguranginya, sebab hal itu merupakan perbuatan syetan,  was-was dari syetan, dan bentuk syetan dalam mencuri shalat seorang hamba.(Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Dar, Bab Ash Shalah, No. 378)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Pendapat yang Menyelisihi 4 Madzhab

▫▪▫

 PERTANYAAN

Mohon maaf ustadz… ada yang menyebut bahwa ke-4 imam madzhab menyepakati keharaman perkara tertentu….tapi mengapa ada ulama yang membolehkannya (dengan syarat dan ketentuannya pasti)? apakah mereka dianggap sebagai ulama yang tidak mengikuti 4 imam madzhab ustadz?

 JAWABAN

▪▫▪

Itu tanda bahwa kesepakatan 4 mazhab masih klaim sepihak ulama, sangat mungkin itu terjadi.. Sering dalam beberapa kitab menyebutkan “4 madzhab sepakat.. Begitu begini” ternyata tidak.. Contohnya ya musik, Imam Ibnu Taimiyah menyebut 4 madzhab sepakat haram, ternyata dalam sumber lain seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tidak.. Sebagaimana penelitian ulama Hanafi sendiri, lalu Syaikh Wahbah az Zuhaili, dan lainnya.

Kesepakatan 4 madzhab belum tentu bermakna ijma’, dan bertentangan dengannya bukan berarti bukan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Contoh:

– 4 madzhab berpendapat, talak 3 jika dilakukan sekali ucap, walau talak 1 dan 2 belum, Maka jatuhnya talak 3. Tapi Imam Ibnu Taimiyah, mengatakan tetap itu talak 1.

– 4 madzhab sepakat thawaf itu wajib suci, tapi Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim mengatakan tidak suci juga sah

– 4 madzhab sepakat zakat tijarah itu wajib, tapi Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada zakat tijarah

– 4 madzhab sepakat wajib zakat sayur mayur, bahkan ijma’ menurut sebagian ulama. Tapi Imam asy Syaukani, Imam Al Qunuji, dan Syaikh al Albani mengatakan tidak ada zakat sayur mayur.

– 4 madzhab sepakat cincin/gelang/kalung emas halal buat kaum wanita. Syaikh al Albani mengatakan emas melingkar juga haram bagi wanita.

Dan masih banyak lagi..

Tapi, tidak ada yang mengatakan ulama-ulama yang “berbeda” ini telah sesat. Jika ada yang mengatakan musik itu halal, karena dia ikut pendapat Ibnu Hazm, Ibnul Arabi, Al Fakihani, Asy Syaukani, Al Ghazali, Al Qaradhawi, dll, lalu disebut “sesat,” maka yang menyebut sesat perlu belajar lagi fiqih dan adab-adabnya.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Beda Asuransi Konvensional dan Syariah

Asuransi (ta’min) ada dua macam:

1. Ta’min tijariy /bisnis/ konvensional, sistemnya juga konvensional, biasanya dana nasabah disimpan pada bank konvensional (ribawi) juga, dan premi hangus kalau kita tidak pernah klaim lalu off dari situ. Inilah letak ghararnya.

2. Ta’min Takafuliy ta’awuniy, lebih dikenal dengan ansuransi syariah. Dana disimpan pada bank syariah, lalu premi tidak hangus jika tidak pernah klaim dan akan diberikan akhir tahun istilahnya wadi’ah walau tidak semua, jika klaim maka dana tersebut hasil dari himpunan ta’awun para nasabah, bukan dari bunga yang diperoleh dari bank.

Ini tataran normatif. Ada pun dalam tataran praktek bisa aja adanya penyimpangan. Di situlah letak pentingnya pengawas syariah, dan ini ada di ansuransi syariah saja.

Fatwa:

قد درس مجلس هيئة كبار العلماء موضوع التأمين منذ سنتين تقريبًا وقرر: أن التأمين التجاري محرم لما يشتمل عليه من الغرر والربا، فالتأمين على المستودعات أو على النفس أو على سيارة أو على أي شيء هذا التأمين التجاري الصحيح فيه أنه محرم، وإن أفتى بعض الناس بحله لكن لا وجه لذلك، فإنه عملية مشتملة على الغرر والربا فلا يجوز.

Majelis Hai’ah Kibaril ‘Ulama telah mengkaji masalah ansuransi sejak 2 tahun lalu dan memutuskan, bahwa:

-Ansuransi konvensional diharamkan sebab didalamnya mengandung gharar dan riba. Maka, ansuransi untuk jiwa, mobil, atau apa pun yang melalui jenis ini adalah haram. Walau sebagian org ada yang menghalalkannya, itu bukan alasan. Sebab, di dalamnya mengandung gharar dan riba, maka tidak boleh.

لكن التأمين التعاوني بين الناس لا بأس إذا كان تجمع جماعة واتفقوا على شيء يطرحونه، كل واحد يطرح كذا وكذا لما يقع بينهم من الكوارث يستعينون بهذا الشيء، فهذا تأمين تعاوني ليس فيه ربا ولا غرر، أما التأمين التجاري الذي فيه الغرر وفيه الربا فهذا لا يجوز

Ada pun Ansuransi Ta’awuni (Syariah) di antara manusia, maka itu tidak apa-apa. Di mana sekelompok orang sepakat untuk mengumpulkan dana sekian-sekian, disaat ada yang mengalami sesuatu maka mereka menolongnya dengan dana tersebut. Ini ansuransi yang dasarnya ta’awuni, tidak apa-apa. Tidak ada riba dan gharar. Ada pun ansuransi konvensional yang di dalamnya mengandung riba dan gharar, tidak boleh.

(Syaikh Abdul Aziz bin Baaz)

https://binbaz.org.sa/fatwas/1724/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%A7%D9%85%D9%8A%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D8%AC%D8%A7%D8%B1%D9%8A

Wallahu a’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Berzakat Sebelum Nishab dan Haul, Sah-kah?

🔻🔻🔻🔻🔻🔻🔻

Pertanyaan

Assalamualaikum ustadz

Untuk kehati-hatian. Bolehkah membayar Zakat sebelum Cukup Nisabnya dan belum jatuh Haulnya ?Jazakallah (SA)


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Ada dua persoalan ya..

1. Untuk berzakat “sebelum haul”

Jumhur ulama membolehkan, dalilnya krn Rasulullah ﷺ mengizinkan pamannya sendiri (Abbas bin Abdil Muthalib) untuk zakat sebelum haulnya.

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ الْعَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي تَعْجِيلِ صَدَقَتِهِ قَبْلَ أَنْ تَحِلَّ فَرَخَّصَ لَهُ فِي ذَلِكَ

Bahwasanya Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Rasulullah ﷺ. dalam hal penyegeraan zakatnya sebelum haul, maka Rasulullah ﷺ memberikan keringanan baginya dalam hal itu.

(HR. Abu Daud no. 1624, At Tirmidzi no. 679.  Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam al Hakim (Al Mustadrak no. 5431), dan disepakati Imam adz Dzahabi)

Hadits ini menunjukkan kebolehan mengeluarkan zakat yang sudah nishab walau belum sempurna masa haulnya.

Namun Imam at Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:

وَقَدْ اخْتَلَفَ أَهْلُ العِلْمِ فِي تَعْجِيلِ الزَّكَاةِ قَبْلَ مَحِلِّهَا، فَرَأَى طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ العِلْمِ: أَنْ لاَ يُعَجِّلَهَا، وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ قَالَ: أَحَبُّ إِلَيَّ أَنْ لاَ يُعَجِّلَهَا، وقَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ العِلْمِ: إِنْ عَجَّلَهَا قَبْلَ مَحِلِّهَا أَجْزَأَتْ عَنْهُ، وَبِهِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ، وَأَحْمَدُ، وَإِسْحَاقُ

Para ulama berselisih pendapat tentang menyegerakan zakat sebelum haulnya. Segolongan ulama berpendapat tidak boleh, ini pendapat Sufyan ats Tsauri, katanya: “Aku lebih suka tidak menyegerakannya.” Namun mayoritas ulama mengatakan: “Sesungguhnya menyegerakan zakat sebelum haulnya itu sah.” Inilah pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq.” (Sunan At Tirmidzi, hal. 136. Pernerbit Dar Ibn al jauzi)

Kebolehan ini juga menjadi pendapat Ibnu Umar, Atha, Al Auza’i, Ahmad, dan Ishaq.    (Imam Abul Husein al ‘Imrani, Al Bayan fi Madzhab al Imam asy Syafi’i, 3/378)

Imam Abu Hanifah Rahimahullah berkata:

يجوز تقديم الزكاة قبل الحول، ولا يجوز تقديم الكفارة قبل الحنث

Boleh mendahulukan zakat sebelum haulnya, dan tidak boleh mendahulukan kaffarat sebelum sumpahnya. (Ibid, 3/378)

Imam Ali al Qari al Hanafi Rahimahullah, mengutip dari Ibnu Malak:

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى جَوَازِ تَعْجِيلِ الصَّدَقَةِ بَعْدَ حُصُولِ النِّصَابِ قَبْلَ تَمَامِ الْحَوْلِ

Ini menunjukkan kebolehan menyegerakan sedekah (zakat) setelah mencapai nishab, sebelum sempurnanya haul. (Mirqah al Mafatih, 4/1275)

Untuk pihak yang menolak, Selain Sufyan ats Tsauri, Ada pula Imam Malik, Rabi’ah, Daud, Ibnu Hazm, yang melarang hal sebut. (Syaikh Abu Malik Kamal bin As Sayyid Saalim,  Shahih Fiqh as Sunnah, 2/64)

Syaikh Abu Malik sendiri menilai pendapat mayoritas ulama yaitu boleh, adalah pendapat yang lebih kuat. (Ibid, 2/65)

2. Untuk berzakat “sebelum nishab”

Sepakat semua ulama tidak sah, dan dinilai sedekah sunah saja. Hal ini dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Al Mughni :

ولا يجوز تعجيل الزكاة قبل ملك النصاب بغير خلاف علمناه، والعلة في ذلك أنه تعجيل للحكم قبل سببه

“Tidak boleh menyegerakan (membayar) zakat sebelum memiliki harta yang mencapai nisab, tanpa adanya perselisihan pendapat yang kami ketahui. Alasannya adalah karena hal itu berarti menyegerakan suatu hukum sebelum adanya sebab yang mewajibkannya.”

Maka, untuk kasus yg ditanyakan, walau boleh dikeluarkan sebelum haul, tapi belum memenuhi syarat nishab. Krn zakat hanya sah jika sudah nishab, jika belum maka belum sah, dan itu hanya dihitung sedekah biasa.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam

🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top