Salahkah Mengatakan “Saya Puasa” Saat Diajak Makan? Apakah Terhapus Amal Shalehnya?

Bismillahirrahmanirrahim..

Menceritakan amal shaleh jika ada hajat syar’i, tidaklah masalah. Itu bukan pembatal atau penghapus amal shaleh. Yang termasuk pembatal adalah jika seseorang menceritakan amal shalehnya -misal puasa- untuk membanggakan diri.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan mengatakan “Aku sedang puasa” jika ada seseorang yang memancing amarah kita. Ini menunjukkan tidak mengapa seseorang mengatakan dirinya sedang puasa jika memang ada alasan yang dibenarkan; seperti dalam rangka klarifikasi, mengajar, atau memberi contoh kebaikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan laghwu (sia-sia) dan rofats (kotor dan keji). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.”

(HR. Ibnu Khuzaimah no. 1996. Syaikh Muhammad Mushthafa Al-A’zhami mengatakan; shahih)

Contoh lain, Rasulullah ﷺ sendiri pernah menceritakan amal shalehnya yaitu tentang jumlah istighfarnya dalam sehari semalam.

Beliau bersabda:

والله إني لأستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة

Demi Allah, aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali. (HR. Bukhari)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top