Macam-macam Takbir Dalam Shalat

💢💢💢💢💢💢

1⃣ Takbiratul Ihram

Yaitu takbir pembuka shalat. Disebut ihram karena mulai saat itu diharamkan semua aktifitas selain shalat, yg jika dilakukan maka batal shalatnya.

Hal ini berdasarkan hadits:

مِفْتَاحُ الصَّلاةِ الطُّهُورُ ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ

Pembuka shalat ada bersuci, pengharamnya adalah TAKBIR, dan penghalalnya adalah salam.

(HR. Ahmad No. 1009, Abu Dawud No. 618, At Tirmidzi No. 238, kata Imam An Nawawi: isnadnya SHAHIH)

Maksud “pengharamnya adalah takbir” yaitu takbiratul ihram.

Takbiratul Ihram adalah RUKUN, dan tidak sah shalat tanpanya, baik meninggalkannya secara sengaja atau lalai/lupa. (Al Mughni, 2/128)

Hal ini berdasarkan:

إنه لا تتم صلاة لأحد من الناس حتى يتوضأ ، فيضع الوضوء مواضعه ، ثم يقول: الله أكبر

Tidak sempurna shalat seseorang sampai dia berwudhu, dia berwudhu pada bagian-bagian wudhu, lalu dia berkata; Allahu Akbar.
(HR. Ath Thabarani, shahih)

Oleh karena ini, Umumnya ulama dahulu dan sekarang menegaskan bahwa tidak sah shalat tanpa takbiratul ihram. (Al Mughni, 2/126, Al Majmu’, 3/175)

Catatan tambahan:

– Mengangkat kedua tangan saat Takbiratul Ihram, adalah SUNNAH menurut Ijma’.

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

ورفع اليدين في تكبيرة الإحرام سنة وليس واجباً وقد أجمعت الأمة على استحبابه نقل ذلك الإجماع النووي

Mengangkat kedua tangan saat Takbiratul Ihram adalah SUNNAH bukan wajib. Para ulama telah Ijma’ atas hal ini, sebagaimana dikutip oleh Imam An Nawawi.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 50201)

2⃣ Takbir Intiqaal

Yaitu takbir perpindahan antar gerakan atau posisi shalat. Mayoritas ulama mengatakan hukumnya SUNNAH, dan tidak batal jika tidak melakukannya baik lupa atau sengaja.

Disebutkan dalam Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah:

أنه مستحب لا تبطل الصلاة بتركه عمدا ولا سهوا, وهو قول الجمهور من الشافعية والمالكية والحنفية, وقال ابن المنذر : وبهذا قال أبو بكر الصديق وعمر وابن مسعود وابن عمر وابن جابر وقيس بن عباد وشعيب والأوزاعي وسعيد بن عبدالعزيز وعوام أهل العلم . واحتج أصحاب هذا القول بأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يأمر المسيء في صلاته إلا بتكبيرة الإحرام

Bahwasanya itu disunnahkan, dan tidak batal meninggalkannya baik lupa atau sengaja. Inilah pendapat mayoritas ulama baik Syafi’iyyah, Malikiyah, dan Hanafiyah.

Ibnul Mundzir mengatakan: Ini juga pendapat Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Ibnu Jabir, Qais bin ‘Ibaad, Syu’aib, Al Awza’iy, Sa’id bin Abdul Aziz, dan Mayoritas ulama. Alasan kelompok ini adalah bahwasanya Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkan orang yg buruk shalatnya kecuali takbiratul ihram. (Selesai)

Sebagian ulama lain mengatakan wajib, jika ditinggalkan secara sengaja maka batal, kalau lupa tidak apa-apa.

Berikut ini keterangannya:

وذهب أحمد واسحاق إلى أن من ترك تكبيرة من تكبيرات الصلاة عمدا فعليه الاعادة , وإن كان سهوا فلا إعادة عليه في غير تكبيرة الاحرام. وسمى أصحاب أحمد هذه التكبيرات التي في الصلاة بعد تكبيرة الإحرام واجبات , لأن الصلاة تبطل بتركها عمدا عندهم

Ada pun Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa meninggalkan takbir-takbir dalam shalat secara sengaja adalah wajib mengulangi shalatnya, jika lupa maka tidak usah mengulanginya, kecuali jika meninggalkan Takbiratul Ihram.

Bagi Hambaliyah mereka mengategorikan ini sebagai kewajiban setelah Takbiratul Ihram, sebab shalat batal jika meninggalkan hal ini secara sengaja.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 144847)

Ada pun mengangkat kedua tangan saat takbir intiqaal juga sunnah, saat ruku’ dan bangun dari ruku’.

Dalilnya:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلاةَ ، وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ

Dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangannya sejajar pundaknya jika memulai shalat, saat takbir ruku’, dan saat mengangkat kepala dari ruku’ juga mengangkat kedua tangannya. (HR. Bukhari No. 735, Muslim No. 390)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

وقد عمل جمهور العلماء بهذا الحديث ، فقالوا باستحباب رفع المصلي يده في هذه المواضع المذكورة في الحديث

Mayoritas ulama telah mempraktekkan hadits ini, mereka mengatakan sunnahnya bagi org shalat mengangkat kedua tangannya pada tempat-tempat yang disebutkan dalam hadits.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 21439)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

scroll to top