Anggapan Sesat Bulan Muharram Bulan Musibah dan Pembawa Sial

💢💢💢💢💢💢💢💢

Sebagian masyarakat meyakini bulan Muharram adalah bulan banyak musibah dan pembawa sial. Keyakinan ini tentu sama sekali tidak ada dasarnya.

Hal ini perlu dikoreksi pada beberapa sisi:

Pertama. Justru bulan muharram ini bulan mulia dan agung. Bulan yang di dalamnya dianjurkan puasa ‘Asyura, yang dapat menghapuskan dosa setahun lalu. Bulan ini pula Allah Ta’ala selamatkan Nabi Musa’ Alaihissalam dan Bani Israil dari kejaran musuhnya (Fir’aun).

Kedua. Bulan Muharram adalah salah satu dari empat asyhurul hurum (bulan-bulan haram), yang dihormati sejak masa pra Islam.

Bulan Haram, dinamakan demikian karena dahulu haramnya berperang dibulan-bulan itu. Menurut mayoritas ulama larangan tersebut telah mansukh (dihapus hukumnya) oleh ayat: wa qaatiluuhum haitsu tsaqiftumuuhum (dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka). (Imam Ibnu Jarir, Jami’ Al Bayan, 9/478-479. Imam Ibnu Rajab, Lathaif Al Ma’arif, Hal. 116)

Di bulan-bulan haram ini, ditekankan lagi keharaman berbuat zalim. (QS. At Taubah: 36), walau sebenarnya kezaliman itu diharamkan sepanjang waktu.

Imam Ibnu Katsir mengatakan:

أي: في هذه الأشهر المحرمة؛ لأنه آكد وأبلغ في الإثم من غيرها، كما أن المعاصي في البلد الحرام تضاعف

Di bulan-bulan haram ini, berbuat zalim itu lebih berat lagi dosanya, sebagaimana maksiat di tanah haram juga berlipat-lipat dosanya.
(Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/148)

Ketiga. Musibah apa pun yang menimpa manusia sudah Allah Ta’ala tetapkan baginya bukan karena waktu seperti hari, dan bulan.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).

Ayat lainnya:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Yunus : 107).

Keempat. Menuduh Muharram membawa sial dan musibah, adalah thiyarah (merasa sial) dan itu termasuk salah satu jenis syirik.

Berdasarkan hadits:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik -tiga kali-. Tidaklah di antara kita kecuali beranggapan seperti itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal.”

(HR. Abu Daud no. 3910, shahih)

Kelima. Menyebut Muharam bulan pembawa sial sama juga mencela waktu atau zaman, dan itu adalah terlarang.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لا يسب أحدكم الدهر فإن الله هو الدهر

Janganlah salah seorang di antara kamu mencaci maki zaman (Ad Dahr), sesungguhnya Allah adalah Ad Dahr. (HR. Muslim No. 2247)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🍀🌿🌸🌻🍃🌳🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top