Bid’ahkah Menghitung Dzikir Dengan Alat Tasbih?

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamu โ€˜Alaikum …, Ust. Sebenarnya bagaimana hukum berdzikir dengan tasbih, apakah ada dalilnya? (Ikhwan, Alumni LPDI, Kota Sambas)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa โ€˜Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu โ€˜Al Rasulillah wa โ€˜ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa baโ€™d:

Telah terjadi perselisihan ditengah masyarakat tentang berdzikir menggunakan biji tasbih (sub-hah). Sebagian mereka bersikap keras mengingkarinya dan membidโ€™ahkannya. Sebagian lain membolehkan, bahkan menganggapnya sunah. Ini terjadi lantaran para ulama pun tidak ada kata sepakat, tetapi mayoritas mengatakan boleh; seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam As Suyuthi, Imam Asy Syaukani, Imam Ibnu Hajar Al Haitami, Imam Ibnu Abidin, Imam Al Hashfaki, Imam Al Munawi, Imam Abul โ€˜Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri, Syaikh โ€˜Athiyah Shaqr, Syaikh Abdul Aziz bin Abdulah bin Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ali Jumโ€™ah, para ulama di Al Azhar, pakistan, dan lain sebagainya, bahkan Imam As Suyuthi mengatakan tak ada yang mengingkari kebolehannya baik kaum salaf maupun khalaf. Sedangkan, yang mengingkarinya dan menyatakan sebagai bidโ€™ah adalah beberapa ulama sekarang, seperti Syaikh Al Albani, ย Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr, Syaikh Bakr Abu Zaid (Beliau telah menyusun kitab As Subhah Tarikhuha wa Hukmuha), dan lainnya. Tetapi semua sepakat bahwa berdzikir dengan jari tangan adalah lebih afdhal, sebab itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.

Sebelum kami paparkan fatwa para ulama, ada baiknya kami sampaikan beberapa hadits tentang berdzikir menggunakan jari dan biji/kerikil.

📌ย Pertama. Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู†ู‘ูŽ ุจูุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ู„ููŠู„ู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู‚ู’ุฏููŠุณู ูˆูŽุงุนู’ู‚ูุฏู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽู†ูŽุงู…ูู„ู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ูŽุงุชูŒ ู…ูุณู’ุชูŽู†ู’ุทูŽู‚ูŽุงุชูŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุบู’ููู„ู’ู†ูŽ ููŽุชูŽู†ู’ุณูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽุฉ

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berkata kepada kami: โ€œHendaknya kalian bertahlil, bertasbih, dan bertaqdis (mensucikan), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari, karena itu semua akan ditanya dan diajakย  bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat.โ€ (HR. At Tirmidzi No. 3583, Abu Daud No. 1501, Ahmad No. 27089, Ath Thabrani, Al Muโ€™jam Al Kabir No. 180, lihat juga ย Ad Duโ€™a, No. 1662, Musnad Ishaq bin Rahawaih No. 2327, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul โ€˜Ummal No. 2006)

Al Hafizh Zainuddin Al โ€˜Iraqi mengatakan sanadnya Jayyid (baik). (Takhrij Ahadits Al Ihya No. 958). Imam An Nawawi menyatakan hasan. (Al Adzkar No. 27. Darul Fikr, Lihat juga Al Khulashah Al Ahkam, 1/472). Al Hafizh Ibnu Hajar juga menghasankan dalam Nataij Al Afkar. (Raudhatul Muhadditsin No. 4969). ย Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: muhtamal lit tahsin (dimungkinkan hasan). (Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 27089). Syaikh Abu Muhammad Syahatah juga mengatakan hasan. (Al Musyarikat Hal. 16)

Syaikh Al Albani juga menghasankan. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1501. Misykah Al Mashabih No 2316)

📌ย Kedua. Dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash Radhiallahu โ€˜Anhu:

ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู†ูŽูˆู‹ู‰ ุฃูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญูŽุตู‹ู‰ ุชูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู„ูŽุง ุฃูุฎู’ุจูุฑููƒู ุจูู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฎูŽุงู„ูู‚ูŒ ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ

โ€œBahwa dia (Saโ€™ad) bersama Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wanita, dan dihadapan wanita itu terdapat biji-bijian atau kerikil. Lalu Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œMaukah kau aku beritahu dengan yang lebih mudah bagimu dari ini atau lebih utama? (Lalu nabi menyebutkan macam-macam dzikir yang tertulis dalam teks di atas ..) (HR. Abu Daud No. 1500, At Tirmidzi No. 3568, katanya: hasan gharib. Ibnu Hibban No. 837, Al Hakim No. 2009, Al Bazzar No. 1201)

Syaikh Al Albani mendhaifkannya dalam berbagai kitabnya. (Shahih wa Dhaif Sunanย  Abi Daud No. 1500, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3568, Misykah Al Mashabih No. 2311, Dhaif Al Jamiโ€™ Ash Shaghir No. 2155, As Silsilah Adh Dhaifah No.ย  83), juga didhaifkan oleh Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr. (Syarh Sunan Abi Daud, 8/228)

Namun segenap imam muhadditsin dan para huffazh menyatakan maqbul(diterima)-nya hadits ini. Imam An Nawawi ย mengikuti penghasanan Imam At Tirmidzi. (Al Adzkar, Hal. 17 No. 26. Darul Fikr). Hadits ini dimasukkan oleh Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya. Dishahihkan pula oleh Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish-nya,ย  lalu oleh Imam As Suyuthi, dan Imam Asy Syaukani pun menyetujuinya. (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah). Al Hafizh Ibnu Hajar menghasankan dalam Nataij Al Afkar. (Raudhatul Muhadditsin, No. 4966), Al Hafizh Al Mundziri juga menyetujui penghasanan Imam At Tirmidzi. (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/322)

Hadits ini โ€“jika shahih atau minimal hasan- menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam tidak mengingkari yang dilakukan wanita itu, beliau hanya memberikan cara yang lebih mudah atau lebih utama, dibanding apa yang dilakukannya dengan menghitung banyak biji atau kerikil. Dan, yang jelas penghasanan atau penshahihan yang dilakukan oleh sederetan imam seperti: Imam At Tirmidzi, Imam Al Hakim, Imam Ibnu Hibban, Imam An Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam As Suyuthi, dan Imam Asy Syaukani, tidaklah serta merta gugur karena pendhaifan yang dilakukan oleh Syaikh Al Albani.

📌ย Ketiga. Dari Shafiyah binti Huyai Radhiallahu โ€˜Anha, dia berkata:

ุฏุฎู„ ุนู„ูŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุฃุฑุจุนุฉ ุขู„ุงู ู†ูˆุงุฉ ุฃุณุจุญ ุจู‡ุง ูู‚ุงู„ ู„ู‚ุฏ ุณุจุญุช ุจู‡ุฐู‡ ุฃู„ุง ุฃุนู„ู…ูƒ ุจุฃูƒุซุฑ ู…ู…ุง ุณุจุญุช ุจู‡ ูู‚ู„ุช ุจู„ู‰ ุนู„ู…ู†ูŠ ูู‚ุงู„ ู‚ูˆู„ูŠ ุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนุฏุฏ ุฎู„ู‚ู‡

โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk menemui saya, dan dihadapan saya ada 4000 biji yang saya gunakan untuk bertasbih. Beliau bersabda: โ€œEngkau bertasbih dengan ini, maukah kau aku ajarkan dengan sesuatu yang nilainya lebih banyak dari tasbihmu ini?โ€ Aku menjawab: โ€œTentu, ajarkanlah aku.โ€ Beliau bersabda: โ€œUcapkanlah, Subhanallah โ€˜Adada Khalqihi (Maha Suci Allah Sebanyak jumlah makhlukNya).โ€ (HR. At Tirmidzi No. 3554, Al Hakim No. 2008, Abu Yaโ€™la No. 7118)

Imam Al Hakim menshahihkannya, dan menurutnya hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits orang-orang Mesir, yang yang lebih shahih dari ini. (Al Mustadrak No. 2008), Imam Adz Dzahabi menyepakatinya. Imam As Suyuthi juga menshahihkannya. ย (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah) Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar menghasankan dalam Nataij Al Afkar. (Raudhatul Muhadditsin No. 4967). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjadikan hadits ini sebagai dalil kebolehanย  menghitung tasbih dengan subhah. (Lihat fatwanyaย  nanti).

Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan munkar. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmdizi No. 3554), Syaikh Husein Salim Asad mendhaifkan dalam taโ€™liqnya terhadap Musnad Abi Yaโ€™la. (No. 7118)

Hadits ini โ€“seandainya shahih- merupakan dalil bolehnya bertasbihย  menggunakan biji bijian. Seandainya hal itu terlarang, pasti nabi mengingkarinya. Apa yang nabi lakukan hanyalah alternatif yang lebih mudah dibanding menghitung tasbih sebanyak 4000 kali.

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

✅ Pendapat Yang Tidak Menyetujui bahkan Membidโ€™ahkan

Berikut ini beberapa ulama yang tidak membolehkan dzikir dengan menggunakan subhah.

1. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

Beliau menjelaskan tentang hadits di atas:

ูู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุณู†ุฉ ููŠ ุนุฏ ุงู„ุฐูƒุฑ ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ุนุฏู‡ ุŒ ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุจุงู„ูŠุฏ ุŒ ูˆ ุจุงู„ูŠู…ู†ู‰ ูู‚ุท ุŒ ูุงู„ุนุฏ ุจุงู„ูŠุณุฑู‰ ุฃูˆ ุจุงู„ูŠุฏูŠู† ู…ุนุง ุŒ ุฃูˆ ุจุงู„ุญุตู‰ ูƒู„ ุฐู„ูƒ ุฎู„ุงู ุงู„ุณู†ุฉ ุŒ ูˆ ู„ู… ูŠุตุญ ููŠ ุงู„ุนุฏ ุจุงู„ุญุตู‰ ูุถู„ุง ุนู† ุงู„ุณุจุญุฉ ุดูŠุก

โ€œInilah sunah dalam hal menghitung dzikir yang disyariatkan, yaitu hanyalah dengan tangan, bagian kanan saja. Sedangkan menghitung dengan kiri atau dua tangan bersamaan, atau dengan batu-batu kecil, maka semua itu bertentangan dengan sunah. Tidak ada yang shahih satu pun tentang menghitung dzikir dengan batu-batu kecil yang tersusun seperti biji tasbih.โ€ (As Silsilah Adh Dhaifah 3/47, No. 1002)

Demikianlah menurut Syaikh Al Albani, sementara imam lainnya โ€“Imam At Tirmidzi, Imam Al Hakim, Imam Ibnu Hibban,ย  Imam As Suyuthi, Imam Asy Syaukani, Imam Al โ€˜Iraqi, Imam Ibnu Hajar, Imam An Nawawi- mengatakan bahwa hadits-hadits tentang menghitung dzikir dengan kerikil atau biji-bijian adalah antara shahihย  dan hasan. Bahkan Imam Ibnu Taimiyah berhujjah dengan hadits Shafiyah.

2. Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah

Beliau mengomentari kisah Abdullah bin Masโ€™ud Radhiallahu โ€˜Anhu ย yang sedang mengingkari halaqah dzikir yang menghitung dzikir menggunakan batu-batu kecil:

ูˆู„ุง ูŠูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ุจุงู„ุนุฏ ุจุงู„ุญุตู‰ุŒ ูˆู„ุง ุจุบูŠุฑ ุงู„ุญุตู‰ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูŠุนุฏ ู…ุง ูˆุฑุฏ ุนุฏู‡ุŒ ู…ุซู„ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุนุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุซู„ุงุซุงู‹ ูˆุซู„ุงุซูŠู†ุŒ ูˆุงู„ุชุญู…ูŠุฏ ุซู„ุงุซุงู‹ ูˆุซู„ุงุซูŠู†ุŒ ูˆุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ุซู„ุงุซุงู‹ ูˆุซู„ุงุซูŠู†ุŒ ูˆูŠู‚ูˆู„ ุนู†ุฏ ุชู…ุงู… ุงู„ู…ุงุฆุฉ: ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ูˆุญุฏู‡ ู„ุง ุดุฑูŠูƒ ู„ู‡ุŒ ู„ู‡ ุงู„ู…ู„ูƒ ูˆู„ู‡ ุงู„ุญู…ุฏุŒ ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ูƒู„ ุดูŠุก ู‚ุฏูŠุฑุŒ ูู‡ุฐุง ุดูŠุก ุฌุงุกุช ุจู‡ ุงู„ุณู†ุฉุŒ ูˆุงู„ุฅู†ุณุงู† ูŠุนุฏ ุจุฃุตุงุจุนู‡ุŒ ูˆู„ูƒู† ูƒูˆู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูŠุณุจุญ ุจุญุตู‰ ู‡ุฐุง ุดูŠุก ู„ู… ูŠุฃุช ุจู‡ ุงู„ุณู†ุฉ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู…ุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ู…ุง ู‚ุงู„ุŒ ูˆู†ุจู‡ ุฅู„ู‰ ุฃู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ู‡ู… ุงู„ู‚ุฏูˆุฉ ูˆู‡ู… ุงู„ุฃุณูˆุฉ ูˆู‡ู… ุงู„ุณุงุจู‚ูˆู† ุฅู„ู‰ ูƒู„ ุฎูŠุฑุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุฎูŠุฑุงู‹ ู„ุณุจู‚ูˆุง ุฅู„ูŠู‡.

โ€œTidaklah perhitungan dzikir itu menggunakan batu-batu kecil, tidak pula yang lain. Sesungguhnya manusia menghitungnya sebagaimana hitungan yang telah warid (datang) riwayatnya, seperti tasbih setelah shalat 33 kali, tahmid 33 kali, takbir 33 kali, laluย  melengkapinya hingga seratus dengan membaca: Laa Ilaha Illallahu wahdahu laa syarika lahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa โ€˜ala kulli syaiโ€™in qadir. Inilah dzikir yang ada pada sunah, dan manusia menghitungnya dengan jari jemarinya, tetapi perilaku menusia yang menghitungnya dengan batu-batu kecil, maka itu tidak ada dasarnya dari sunah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu berkatalah Abu Abdurrahman (Ibnu Masโ€™ud) sebagaimana yang telah dikatakannya. Seraya mengabarkan mereka bahwa sahabat nabi adalah teladan dan contoh, mereka adalah orang yang awal dalam setiap kebaikan, seandainya hal ini baik niscaya mereka sudah mendahuluinya.โ€ (Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, 8/228)

Beliau juga menjelaskan di halaman lain, ketika mengomentari hadits dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash:

ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุถุนูŠู ุบูŠุฑ ุซุงุจุชุ› ู„ุฃู† ููŠ ุฅุณู†ุงุฏู‡ ู…ุฌู‡ูˆู„ุงู‹ ู„ุง ูŠุนุฑู ูˆู‡ูˆ ุฎุฒูŠู…ุฉ ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑ ููŠ ุงู„ุฅุณู†ุงุฏุŒ ูุงู„ุญุฏูŠุซ ุบูŠุฑ ุตุญูŠุญุŒ ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุนุฏ ูˆุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุญุตู‰ ูˆู„ุง ุจุงู„ู†ูˆู‰ุŒ ูˆูƒุฐู„ูƒ ู„ูŠุณ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ู…ุณุจุญุฉุŒ ูุฃู‚ู„ ุฃุญูˆุงู„ู‡ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุฎู„ุงู ุงู„ุฃูˆู„ู‰ุŒ ูˆุจุนุถ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูŠู‚ูˆู„: ุฅู†ู‡ ุจุฏุนุฉุŒ ูุงู„ุฐูŠ ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ูŠุจุชุนุฏ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุนู†ู‡ ูˆู„ุง ูŠูุนู„ู‡ุŒ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุณุจุญ ุจุงู„ุฃุตุงุจุนุ› ู„ุฃู†ู‡ ูƒู…ุง ุฌุงุก ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ: (ูุฅู†ู‡ู† ู…ุณุฆูˆู„ุงุช ู…ุณุชู†ุทู‚ุงุช) ูƒู…ุง ุณูŠุฃุชูŠุŒ ูˆุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ูŠุณุจุญ ุจุฃุตุงุจุนู‡ุŒ ูŠุนู†ูŠ: ุจุฃู†ุงู…ู„ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูƒู…ุง ุณูŠุฃุชูŠ.

โ€œDan hadits ini dhaif, tidak kuat. Karena dalam sanadnya terdapatย  rawi yang majhul, tidak dikenal, yakni bernama Khuzaimah yang tertera dalam sanadnya. Maka, hadits ini tidak shahih. Oleh karena itu tidak boleh manusia bertasbih dengan batu-batu kecil, bijji-bijian, demikian juga dengan subhah, minimal keadaan ini bertentangan dengan perbuatan yang pertama (yakni dengan jari jemari). Sebagian ulama mengatakan: itu adalah bidโ€™ah. Maka hendaknya manusia dijauhkan darinya dan tidak melakukannya.

Sesungguhnya bertasbih itu hanyalah dengan jari jemari, sebagaimana hadits: (Sesungguhnya jari jemari akan ditanya dan diajak bicara), sebagaimana penjelasan yang akan datang. Dan, Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bertasbih dengan jari-jemarinya, yaitu ujung jari bagian tangan kanan sebagaimana penjelasanย  selanjutnya.โ€ (Ibid, 8/228)

Saya sudah sebutkan di atas (lihat keterangan hadits kedua), bahwa hadits yang didhaifkan Syaikh Abdul Muhsin ini, adalah hadits yang dihasankan oleh Imam At Tirmidzi, Imam An Nawawi, dan Imam Ibnu Hajar, serta dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban, Imam Al Hakim, Imam As Suyuthi, dan disetujui oleh Imam Asy Syaukani.

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

✅ Berikut ini fatwa para ulama โ€“baik terdahulu atau modern- yang menyatakan kebolehan berdzikir dengan untaian biji tasbih.

1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah

Beliau mengatakan bertasbih dengan biji, atau kerikil, atau yang semisalnya adalah perbuatan yang hasan (bagus/baik). Beliau berkata dalam Majmuโ€™ Fatawa-nya:

ูˆูŽุนูŽุฏู‘ู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู’ุฃูŽุตูŽุงุจูุนู ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู : { ุณูŽุจู‘ูุญู’ู†ูŽ ูˆูŽุงุนู’ู‚ูุฏู’ู†ูŽ ุจูุงู„ู’ุฃูŽุตูŽุงุจูุนู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ูŽุงุชูŒ ู…ูุณู’ุชูŽู†ู’ุทูŽู‚ูŽุงุชูŒ } . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุนูŽุฏู‘ูู‡ู ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุตูŽู‰ ูˆูŽู†ูŽุญู’ูˆู ุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุญูŽุณูŽู†ูŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽูู’ุนูŽู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ุฑูŽุฃูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูู…ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ ุชูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูุงู„ู’ุญูŽุตูŽู‰ ูˆูŽุฃูŽู‚ูŽุฑู‘ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุฑููˆููŠูŽ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฃูŽุจูŽุง ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูู‡ู .

ย โ€œMenghitung tasbih dengan jari jemari adalah sunah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam kepada kaum wanita: โ€œBertasbihlah dan menghitunglah dengan jari jemari, karena jari jemari itu akan ditanya dan diajak bicara.โ€

Adapun menghitung tasbih dengan biji-bijian dan batu-batu kecil (semacam kerikil) dan semisalnya, maka hal itu perbuatan baik (hasan). Dan, dahulu sebagian sahabat Radhiallahu โ€˜Anhumi ada yang memakainya, dan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam telah melihat ummul mukminin bertasbih dengan batu-batu kecil, dan beliau mentaqrirkannya (menyetujuinya), dan diriwayatkan pula bahwa Abu Hurairah pernah bertasbih dengannya.โ€ (Majmuโ€™ Fatawa, 5/225. Mawqiโ€™ Al Islam)

Beliau juga mengatakan:

ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุจูุญู ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุฑูู‡ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุฎู‘ูŽุตูŽ ูููŠู‡ู ู„ูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู‚ูู„ู’ ุฃูŽุญูŽุฏูŒ : ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญูŽ ุจูู‡ู ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู’ุฃูŽุตูŽุงุจูุนู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ู…ูุณู’ุชูŽุญูŽุจู‘ู‹ุง ูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ููŽู‚ูŽุตู’ุฏู ุฅุธู’ู‡ูŽุงุฑู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู…ูŽูŠู‘ูุฒู ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ู…ูŽุฐู’ู…ููˆู…ูŒ

โ€œBertasbih dengan menggunakan alat tasbih, diantara manusia ada yang memakruhkannya, dan ada pula yang memberikan keringanan terhadapnya. Tetapi tidak ada satu pun yang mengatakan bahwa bertasbih dengannya itu lebih afdhal dibanding tasbih dengan jari jemari dan selainnya. Dan, jika hal ini dianjurkan untuk menampakkan dengan maksud pamer dan berbeda dengan manusia, maka ini tercela.โ€ (Ibid, 5/134)

2. Imam Asy Syaukani Rahimahullah

Beliau mengomentari ketiga hadits di atas dalam kitabnya, Nailul Authar, sebagai berikut:

ย ุจุฃู† ุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ู…ุณุฆูˆู„ุงุช ู…ุณุชู†ุทู‚ุงุช ูŠุนู†ูŠ ุฃู†ู‡ู† ูŠุดู‡ุฏู† ุจุฐู„ูƒ ููƒุงู† ุนู‚ุฏู‡ู† ุจุงู„ุชุณุจูŠุญ ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญูŠุซูŠุฉ ุฃูˆู„ู‰ ู…ู† ุงู„ุณุจุญุฉ ูˆุงู„ุญุตู‰ . ูˆุงู„ุญุฏูŠุซุงู† ุงู„ุขุฎุฑุงู† ูŠุฏู„ุงู† ุนู„ู‰ ุฌูˆุงุฒ ุนุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ู†ูˆู‰ ูˆุงู„ุญุตู‰ ูˆูƒุฐุง ุจุงู„ุณุจุญุฉ ู„ุนุฏู… ุงู„ูุงุฑู‚ ู„ุชู‚ุฑูŠุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุขู„ู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู„ู…ุฑุฃุชูŠู† ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ . ูˆุนุฏู… ุฅู†ูƒุงุฑู‡ ูˆุงู„ุฅุฑุดุงุฏ ุฅู„ู‰ ู…ุง ู‡ูˆ ุฃูุถู„ ู„ุง ูŠู†ุงููŠ ุงู„ุฌูˆุงุฒ

ย โ€œ … sesungguhnya ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Maka, menghimpun (menghitung) tasbih dengan jari adalah lebih utama dibanding dengan untaian biji tasbih dan kerikil. Dua hadits yang lainnya, menunjukkan bolehnya menghitung tasbih dengan biji, kerikil, dan juga dengan untaian biji tasbih karena tidak ada bedanya, dan ini perbuatan yang ditaqrirkan (didiamkan/disetujui) oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam terhadap dua wanita tersebut atas perbuatan itu. Dan, hal yang menunjukkan dan mengarahkan kepada hukum yang lebih utama tidak berarti menghilangkan hukum boleh.โ€ (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, 2/316-317. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah)

ย Imam Asy Syaukani dalam kitabnya ini banyak membeberkan riwayat para sahabat yang bertasbih menggunakan biji, krikil, atau subhah. Silahkan merujuk.

3. Imam Jalaluddin As Suyuthi Asy Syafiโ€™i Rahimahullah

Disebutkan oleh Imam Asy Syaukani sebagai berikut:

ูˆู‚ุฏ ุณุงู‚ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠ ุขุซุงุฑู‹ุง ููŠ ุงู„ุฌุฒุก ุงู„ุฐูŠ ุณู…ุงู‡ ุงู„ู…ู†ุญุฉ ููŠ ุงู„ุณุจุญุฉ ูˆู‡ูˆ ู…ู† ุฌู…ู„ุฉ ูƒุชุงุจู‡ ุงู„ู…ุฌู…ูˆุน ููŠ ุงู„ูุชุงูˆู‰ ูˆู‚ุงู„ ููŠ ุขุฎุฑู‡ : ูˆู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู† ุฃุญุฏ ู…ู† ุงู„ุณู„ู ูˆู„ุง ู…ู† ุงู„ุฎู„ู ุงู„ู…ู†ุน ู…ู† ุฌูˆุงุฒ ุนุฏ ุงู„ุฐูƒุฑ ุจุงู„ุณุจุญุฉ ุจู„ ูƒุงู† ุฃูƒุซุฑู‡ู… ูŠุนุฏูˆู†ู‡ ุจู‡ุง ูˆู„ุง ูŠุฑูˆู† ููŠ ุฐู„ูƒ ู…ูƒุฑูˆู‡ู‹ุง ุงู†ุชู‡ู‰ .

Imam As Suyuthi telah mengemukakan berbagai atsar dalam juz yang dia namakan Al Minhah fi As Subhah, yang merupakan bagian dari kumpulan fatwa-fatwa, dia berkata pada bagian akhirnya: โ€œTidaklah ada nukilanย ย  seorang pun dari kalangan salaf dan tidak pula khalaf yang melarang kebolehan menghitung dzikir dengan subhah, bahkan justru kebanyakan mereka menghitung dengannya, dan mereka tidak memandangnya sebagai perbuatan yang dibenci. Selesaiโ€ (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar, Hal. 317. Maktabah Ad Daโ€™wah Al Islamiyah)

4. Imam Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami Asy Syafiโ€™i Rahimahullah

Dalam kitab Al Fatawaย  Al Fiqhiyah Al Kubra tertulis demikian:

“ูˆุณุฆู„” ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ู‡ู„ ู„ู„ุณุจุญุฉ ุฃุตู„ ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุฃูˆ ู„ุงุŸ “ูุฃุฌุงุจ” ุจู‚ูˆู„ู‡: ู†ุนู…, ูˆู‚ุฏ ุฃู„ู ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุญุงูุธ ุงู„ุณูŠูˆุทูŠุ› ูู…ู† ุฐู„ูƒ ู…ุง ุตุญ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฑุฃูŠุช ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุนู‚ุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจูŠุฏู‡. ูˆู…ุง ุตุญ ุนู† ุตููŠุฉ: ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฏุฎู„ ุนู„ูŠ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุจูŠู† ูŠุฏูŠ ุฃุฑุจุนุฉ ุขู„ุงู ู†ูˆุงุฉ ุฃุณุจุญ ุจู‡ู†, ูู‚ุงู„: ู…ุง ู‡ุฐุง ูŠุง ุจู†ุช ุญูŠูŠ. ู‚ู„ุช: ุฃุณุจุญ ุจู‡ู†, ู‚ุงู„: ู‚ุฏ ุณุจุญุช ู…ู†ุฐ ู‚ู…ุช ุนู„ู‰ ุฑุฃุณูƒ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ู‡ุฐุง, ู‚ู„ุช: ุนู„ู…ู†ูŠ ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„: ู‚ูˆู„ูŠ ุณุจุญุงู† ุงู„ู„ู‡ ุนุฏุฏ ู…ุง ุฎู„ู‚ ู…ู† ุดูŠุก. ูˆุฃุฎุฑุฌ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: “ุนู„ูŠูƒู† ุจุงู„ุชุณุจูŠุญ ูˆุงู„ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆุงู„ุชู‚ุฏูŠุณ ูˆู„ุง ุชุบูู„ู† ูุชู†ุณูŠู† ุงู„ุชูˆุญูŠุฏ, ูˆุงุนู‚ุฏู† ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ูุฅู†ู‡ู† ู…ุณุฆูˆู„ุงุช ูˆู…ุณุชู†ุทู‚ุงุช”. ูˆุฌุงุก ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุญุตู‰ ูˆุงู„ู†ูˆู‰ ูˆุงู„ุฎูŠุท ุงู„ู…ุนู‚ูˆุฏ ููŠู‡ ุนู‚ุฏ ุนู† ุฌู…ุงุนุฉ ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆู…ู† ุจุนุฏู‡ู… ูˆุฃุฎุฑุฌ ุงู„ุฏูŠู„ู…ูŠ ู…ุฑููˆุนุง: ู†ุนู… ุงู„ู…ุฐูƒุฑ ุงู„ุณุจุญุฉ. ูˆุนู† ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก: ุนู‚ุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ุณุจุญุฉ ู„ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑ. ูˆูุตู„ ุจุนุถู‡ู… ูู‚ุงู„: ุฅู† ุฃู…ู† ุงู„ู…ุณุจุญ ุงู„ุบู„ุท ูƒุงู† ุนู‚ุฏู‡ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ุฃูุถู„ ูˆุฅู„ุง ูุงู„ุณุจุญุฉ ุฃูุถู„ .

โ€œBeliau (Imam Ibnu Hajar Al Haitami), semoga Allah meridhainya, ditanya: โ€œApakah menggunakan sub-hah ada dasarnya dalam sunah atau tidak?โ€

Beliau menjawab: โ€œYa, Al Hafizh As Suyuthi telah menyebutkan hal itu, di antaranya yang shahih dari Ibnu Umar (yang benar adalah Ibnu Amr โ€“pen) Radhiallahu โ€˜Anhuma: โ€œAku melihat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bertasbih menggunakan tangannya.โ€ Juga riwayat shaihh dari Shafiyah (binti Huyay) Radhiallahu โ€˜Anha: โ€œ Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk menemuinya, dan ditangankuย  ada 4000 biji yang aku gunakan untuk bertasbih.ย  Beliau bertanya: โ€œApa ini wahai Binti Huyai?โ€ Aku menjawab: โ€œAku bertasbih dengannya.โ€ Beliau bersabda: โ€œAku telah bertasbih sejak ย aku bersandar di kepalamu lebih banyak dari ini.โ€ Aku berkata: โ€œAjarkanlah aku wahai Rasulullah.โ€ Beliau bersabda: โ€œKatakanlah, Subhanallah โ€˜adada maa khalaqa min syaiโ€™ (Maha Suci Allah sesuatu yang Dia ciptakan).โ€ Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud, dan At Tirmidzi: โ€œHendaknya kalian bertasbih, tahlil, dan taqdis (mensucikan). Janganlah kalian lalai hingga kalian lupa dengan tauhid. Dan, himpunlah (hitunglah) dengan jari-jari karena mereka akan ditanya dan ย diajak bicara (menjadi saksi).โ€

Telah terdapat keterangan tentang bertasbih menggunakan kerikil, biji, dan benang yang diikatย  menjadi beberapaย  himpunan dari jamaah para sahabat dan manusia setelah mereka. Ad Dailami telah mengeluarkan secara marfuโ€™:ย  โ€œYa, berdzikir dengan biji tasbih.โ€ Dan, dari sebagian ulama: โ€œMenghitung tasbih dengan ujung jari adalah lebih afdhal dibanding biji tasbih (sub-hah) karena hadits Ibnu Amr di atas. Sebagian mereka merinci: โ€œJika dia merasa aman dari kekeliruan, maka menggunakan ujung jari adalah lebih utama, jika tidak, maka dengan biji tasbih lebih utama.โ€ (Imam Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami, Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubra, 1/219. Cet. 1. 1417H-1997M. Darul kutub Al โ€˜Ilmiyah. Beirut – Libanon)

5. Imam Ibnu โ€˜Abidin Al Hanafi Rahimahullah

Beliau mengatakan dalam Hasyiah-nya:

( ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ู„ูŽุง ุจูŽุฃู’ุณูŽ ุจูุงูุชู‘ูุฎูŽุงุฐู ุงู„ู’ู…ูุณู’ุจูŽุญูŽุฉู ) ุจููƒูŽุณู’ุฑู ุงู„ู’ู…ููŠู…ู : ุขู„ูŽุฉู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุŒ ูˆูŽุงูŽู„ู‘ูŽุฐููŠ ูููŠ ุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุงู„ู’ุญูู„ู’ูŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽุฒูŽุงุฆูู†ู ุจูุฏููˆู†ู ู…ููŠู…ู . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุตู’ุจูŽุงุญู : ุงู„ุณู‘ูุจู’ุญูŽุฉู ุฎูŽุฑูŽุฒูŽุงุชูŒ ู…ูŽู†ู’ุธููˆู…ูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูู‚ู’ุชูŽุถูŽู‰ ูƒูŽูˆู’ู†ูŽู‡ูŽุง ุนูŽุฑูŽุจููŠู‘ูŽุฉู‹ . ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ู‡ูŽุฑููŠู‘ู : ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉูŒ ู…ููˆูŽู„ู‘ูŽุฏูŽุฉูŒ ุŒ ูˆูŽุฌูŽู…ู’ุนูู‡ูŽุง ู…ูุซู’ู„ู ุบูุฑู’ููŽุฉู ูˆูŽุบูุฑูŽูู . ุง ู‡ู€ . ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุดู’ู‡ููˆุฑู ุดูŽุฑู’ุนู‹ุง ุฅุทู’ู„ูŽุงู‚ู ุงู„ุณู‘ูุจู’ุญูŽุฉู ุจูุงู„ุถู‘ูŽู…ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงููู„ูŽุฉู . ู‚ูŽุงู„ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูุบู’ุฑูุจู : ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูุณูŽุจู‘ูŽุญู ูููŠู‡ูŽุง . ูˆูŽุฏูŽู„ููŠู„ู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ู…ูŽุง ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽุงุฆููŠู‘ู ูˆูŽุงุจู’ู†ู ุญูุจู‘ูŽุงู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุงูƒูู…ู ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุตูŽุญููŠุญูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู†ูŽุงุฏู ุนูŽู†ู’ ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ู‘ูŽุงุตู { ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู†ูŽูˆู‹ู‰ ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุตู‹ู‰ ุชูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูุฎู’ุจูุฑููƒ ุจูู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒ ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงุกู ุŒ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุŒ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽุฏูŽุฏูŽ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฎูŽุงู„ูู‚ูŒ ุ› ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏู ู„ูู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฅู„ูŽู‡ูŽ ุฅู„ู‘ูŽุง ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ู‚ููˆู‘ูŽุฉูŽ ุฅู„ู‘ูŽุง ุจูุงูŽู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ } : ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ู‡ูŽู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุฐูŽู„ููƒูŽ . ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุฃูŽุฑู’ุดูŽุฏูŽู‡ูŽุง ุฅู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฃูŽูŠู’ุณูŽุฑู ูˆูŽุฃูŽูู’ุถูŽู„ู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽูƒู’ุฑููˆู‡ู‹ุง ู„ูŽุจูŽูŠู‘ูŽู†ูŽ ู„ูŽู‡ูŽุง ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฒููŠุฏู ุงู„ุณู‘ูุจู’ุญูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุถู’ู…ููˆู†ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฅู„ู‘ูŽุง ุจูุถูŽู…ู‘ู ุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ ูููŠ ุฎูŽูŠู’ุทู ุŒ ูˆูŽู…ูุซู’ู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูŽุง ูŠูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ุชูŽุฃู’ุซููŠุฑูู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽู†ู’ุนู ุŒ ููŽู„ูŽุง ุฌูŽุฑูŽู…ูŽ ุฃูŽู†ู’ ู†ูู‚ูู„ูŽ ุงุชู‘ูุฎูŽุงุฐูู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุจูู‡ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุฌูŽู…ูŽุงุนูŽุฉู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ููˆูููŠู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ุฃูŽุฎู’ูŠูŽุงุฑู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุ› ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅู„ู‘ูŽุง ุฅุฐูŽุง ุชูŽุฑูŽุชู‘ูŽุจูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑููŠูŽุงุกูŒ ูˆูŽุณูู…ู’ุนูŽุฉูŒ ููŽู„ูŽุง ูƒูŽู„ูŽุงู…ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ูููŠู‡ู ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฃูŽูŠู’ุถู‹ุง ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ู„ูุฃูŽูู’ุถูŽู„ููŠู‘ูŽุฉู ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุฐู‘ููƒู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ุตููˆุตู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐููƒู’ุฑู ู…ูุฌูŽุฑู‘ูŽุฏู ุนูŽู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุตู‘ููŠุบูŽุฉู ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุชูŽูƒูŽุฑู‘ูŽุฑูŽ ูŠูŽุณููŠุฑู‹ุง ูƒูŽุฐูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุญูู„ู’ูŠูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุญู’ุฑู

(Ucapannya: tidak mengapa menggunakan misbahah) dengan huruf mim dikasrahkan adalah alat untuk bertasbih, ada pun yang tertulis dalam Al Bahr, Al Hilyah, dan Al Khazain adalah tanpa mim. Disebutkan dalam Al Mishbah: โ€œSubhah adalah manik-manik yang terangkai, kata ini menuntut bahwa ia adalah asli Arab. Al Azhari berkata: โ€œItu kata yang muwalladah (tidak asli Arab), bentuk jamaknya seperti ghurfah dan ghuraf.

Yang masyhur secara syariat adalah penggunaaan subhah ini terdapat pada shalat sunah. Disebutkan dalam Al Maghrib: โ€œkarena dia bertasbih padanya.โ€

Ada pun dalil kebolehannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasaโ€™i, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, dia berkata: shahih sanadnya. Dari Saโ€™ad bin Abi Waqqash: (Lalu disebutlah hadits sebagaimanaย  tertulis dalam ย jawaban ini pada hadits kedua)

Lalu katanya: โ€œNabi tidak melarangnya. Beliau hanyalah menunjukkan kepadaย  cara yang lebih mudah dan utama, seandainya makruh tentu Beliau akan menjelaskan kepada wanita itu. Dari kandungan hadits ini, kita memahami bahwa subhahย  hanyalah kumpulan bijian yang dirangkai benang. Masalah seperti ini tidak tampak pengaruhnya pada pelarangan. Maka, bukan pula kesalahan jika mengikuti penggunaannya itu sebagaimana sekelompok kaum sufi yang baik dan selain mereka. Kecuali jika didalamnya tercampur muatan riya dan sumโ€™ah, tetapi kami tidak membahas hal ini.

Hadits ini juga menjadi saksi lebih utamanya dzikir khusus dibanding dzikir mutlak yang bebas dari bentuk ungkapan ini, walau pengucapannya banyakย  berulang-ulang. Demikian dalam Al Hilyah dan Al Bahr. (Imam Ibnu โ€˜Abidin, Raddul Muhtar, 5/54. Mawqiโ€™ Al Islam)

6. Imam Muhammad Abdurrauf Al Munawi Rahimahullah

Beliau menjelaskan dalam kitab Faidhul Qadir, ketika menerangkan hadits Yusairah:

ูˆู‡ุฐุง ุฃุตู„ ููŠ ู†ุฏุจ ุงู„ุณุจุญุฉ ุงู„ู…ุนุฑูˆูุฉ ูˆูƒุงู† ุฐู„ูƒ ู…ุนุฑูˆูุง ุจูŠู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูู‚ุฏ ุฃุฎุฑุฌ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุฃู† ุฃุจุง ู‡ุฑูŠุฑุฉ ูƒุงู† ู„ู‡ ุฎูŠุท ููŠู‡ ุฃู„ูุง ุนู‚ุฏุฉ ูู„ุง ูŠู†ุงู… ุญุชู‰ ูŠุณุจุญ ุจู‡ ูˆููŠ ุญุฏูŠุซ ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุฏูŠู„ู…ูŠ ู†ุนู… ุงู„ู…ุฐูƒุฑ ุงู„ุณุจุญุฉ ู„ูƒู† ู†ู‚ู„ ุงู„ู…ุคู„ู ุนู† ุจุนุถ ู…ุนุงุตุฑูŠ ุงู„ุฌู„ุงู„ ุงู„ุจู„ู‚ูŠู†ูŠ ุฃู†ู‡ ู†ู‚ู„ ุนู† ุจุนุถู‡ู… ุฃู† ุนู‚ุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ุฃูุถู„ ู„ุธุงู‡ุฑ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซ

โ€œHadits ini merupakan dasar terhadap sunahnya subhah (untaian biji tasbih) yang sudah dikenal. Hal itu dikenal pada masa sahabat, Abdullah bin Ahmad telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah memiliki benang yang memiliki seribu himpunan, beliau tidaklah tidur sampai dia bertasbih dengannya. Dalam riwayat Ad Dailami: โ€œSebaik-baiknya dzikir adalah subhah.โ€ Tetapi muโ€™allif (yakni Imam As Suyuthi) mengutip dari sebagian ulama belakangan, Al Jalal Al Bulqini, dari sebagian mereka bahwa menghitung tasbih dengan jari jemari adalah lebih utama sesuai zhahir hadits.โ€ (Faidhul Qadir, 4/468. Cet. 1, 1415H-1994M. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah, Beirut – Libanon)

Catatan: riwayat Ad Dailami yang dikutip oleh Imam Al Munawi adalah maudhuโ€™ (palsu). (As Silsilah Adh Dhaโ€™ifah, 1/184, No. 83)ย 

7. Imam Abu Thayyib Abdul โ€˜Azhim Syamsul Haq Abad Rahimahullah

Beliau berkata ketika mengomentari hadits Saโ€™ad bin Abi Waqash Radhiallahu โ€˜Anhu, sebagai berikut:

ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ุฏูŽู„ููŠู„ูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุนูŽุฏู‘ู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุตูŽู‰ ุŒ ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ุจูุงู„ุณู‘ูุจู’ุญูŽุฉู ู„ูุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ู’ููŽุงุฑูู‚ู ุŒ ู„ูุชูŽู‚ู’ุฑููŠุฑูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู„ูู„ู’ู…ูŽุฑู’ุฃูŽุฉู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽุนูŽุฏูŽู…ู ุฅูู†ู’ูƒูŽุงุฑูู‡ู ุŒ ูˆูŽุงู„ุฅู’ุฑู’ุดูŽุงุฏู ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุฃูŽูู’ุถูŽู„ ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ุงูŽ ูŠูู†ูŽุงูููŠ ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒูŽ . ู‚ูŽุงู„ : ูˆูŽู‚ูŽุฏู’ ูˆูŽุฑูŽุฏูŽุชู’ ูููŠ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุขุซูŽุงุฑูŒ ุŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูุจู’ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ ุฅูู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุฏู’ุนูŽุฉูŒ

Hadits ini merupakan dalil bolehnya menghitung tasbih dengan biji-bijian dan kerikil, begitu juga dengan subhah karena tidak ada bedanya, hal ini karena setujunya Rasul Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam terhadap wanita tersebut Beliau tidak mengingkarinya, ย dan petunjuk Beliau kepada sesuatu yang lebih utama tidaklah menghilangkan kebolehannya. Dia (Abu Thayyib) berkata: telah banyak atsar tentang hal itu, dan sama sekali tidak benar bagi yang mengatakan itu adalah bidโ€™ah. (โ€˜Aunul Maโ€™bud, 4/367, sebagaimana dikutip dalam Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 21/259)

8. Syaikh Abu Al โ€˜Ala Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarakfuri Rahimahullah

Beliau menerangkan dalam Tuhfah Al Ahwadzi, ketika menjelaskan hadits Ibnu Amr dan Yusairah binti Yasir, sebagai berikut:

ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซู ู…ูŽุดู’ุฑููˆุนููŠู‘ูŽุฉู ุนูŽู‚ู’ุฏู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู’ุฃูŽู†ูŽุงู…ูู„ู ูˆูŽุนูŽู„ู‘ูŽู„ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูููŠ ุญูŽุฏููŠุซู ูŠูŽุณููŠุฑูŽุฉูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ุงู„ุชู‘ูุฑู’ู…ูุฐููŠู‘ู ุจูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุฃูŽู†ูŽุงู…ูู„ูŽ ู…ูŽุณู’ุฆููˆู„ูŽุงุชูŒ ู…ูุณู’ุชูŽู†ู’ุทูŽู‚ูŽุงุชูŒ ูŠูŽุนู’ู†ููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏู’ู†ูŽ ุจูุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู‚ู’ุฏูู‡ูู†ู‘ูŽ ุจูุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ู…ูู†ู’ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุญูŽูŠู’ุซููŠู‘ูŽุฉู ุฃูŽูˆู’ู„ูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุงู„ุณู‘ูุจู’ุญูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุตูŽู‰ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุฏูู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุนูŽุฏู‘ู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญู ุจูุงู„ู†ู‘ูŽูˆูŽู‰ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุตูŽู‰ ุญูŽุฏููŠุซู ุณูŽุนู’ุฏู ุจู’ู†ู ุฃูŽุจููŠ ูˆูŽู‚ู‘ูŽุงุตู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงูู…ู’ุฑูŽุฃูŽุฉู ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู’ู‡ูŽุง ู†ูŽูˆู‹ู‰ ุฃูŽูˆู’ ุญูŽุตู‹ู‰ ุชูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูู‡ู ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซูŽ ุŒ ูˆูŽุญูŽุฏููŠุซู ุตูŽูููŠู‘ูŽุฉูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽุชู’ ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุจูŽูŠู’ู†ูŽ ูŠูŽุฏูŽูŠู‘ูŽ ุฃูŽุฑู’ุจูŽุนูŽุฉู ุขู„ูŽุงูู ู†ูŽูˆูŽุงุฉู ุฃูุณูŽุจู‘ูุญู ุจูู‡ูŽุง ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซูŽ .

โ€œHadits ini menunjukkan disyariatkannya bertasbih menggunakan ujung jari jemari, alasan hal ini adalah Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam hadits Yusairah yang diisyaratkan oleh At Tirmidzi menyebutkan bahwa ujung jari jemari akan ditanyakan dan diajak bicara, yakni mereka akan menjadi saksi hal itu. Dalam hal ini, menghitung tasbih dengan menggunakan ujung jari adalah lebih utama dibanding dengan subhah (untaian biji tasbih) dan kerikil.ย  Dalil yang menunjukkan kebolehannyaย  menghitung tasbih dengan kerikil dan biji-bijian adalah hadits Saโ€™ad bin Abi Waqqash, bahwa beliau bersama Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk menemui seorang wnaita yang dihadapannya terdapat bijian atau kerikil yang digunakannya ย untuk bertasbih (Al Hadits). Dan juga hadits Shafiyah bin Huyai, dia berkata: โ€œRasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam masuk menemuiku dan dihadapanku ada 4000 biji-bijian yang aku gunakan untuk bertasbih. (Al Hadits).โ€ (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/458. Cet. 2, 1383H-1963M. Al Maktabah As Salafiyah, Madinah. Tahqiq: Abdul Wahhab bin Abdul Lathif)

9. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Al Hambali Rahimahullah

Beliau ditanya tentang seseorang yang berdzikir setelah shalat menggunakan subhah, bidโ€™ahkah? Beliau menjawab:

ุงู„ู…ุณุจุญุฉ ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ูุนู„ู‡ุง ุŒ ุชุฑูƒู‡ุง ุฃูˆู„ู‰ ูˆุฃุญูˆุท ุŒ ูˆุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ุฃูุถู„ ุŒ ู„ูƒู† ูŠุฌูˆุฒ ู„ู‡ ู„ูˆ ุณุจุญ ุจุดูŠุก ูƒุงู„ุญุตู‰ ุฃูˆ ุงู„ู…ุณุจุญุฉ ุฃูˆ ุงู„ู†ูˆู‰ ุŒ ูˆุชุฑูƒู‡ุง ุฐู„ูƒ ููŠ ุจูŠุชู‡ ุŒ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠู‚ู„ุฏู‡ ุงู„ู†ุงุณ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ุจุนุถ ุงู„ุณู„ู ูŠุนู…ู„ู‡ ุŒ ูˆุงู„ุฃู…ุฑ ูˆุงุณุน ู„ูƒู† ุงู„ุฃุตุงุจุน ุฃูุถู„ ููŠ ูƒู„ ู…ูƒุงู† ุŒ ูˆุงู„ุฃูุถู„ ุจุงู„ูŠุฏ ุงู„ูŠู…ู†ู‰ ุŒ ุฃู…ุง ูƒูˆู†ู‡ุง ููŠ ูŠุฏู‡ ูˆููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูู‡ุฐุง ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ุŒ ุฃู‚ู„ ุงู„ุฃุญูˆุงู„ ุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ .

โ€œSeharusnya tidak memakainya, meninggalkannya adalah lebih utama dan lebih hati-hati. Tetapi boleh baginya seandainya bertasbih menggunakan kerikil atau misbahah (alat tasbih) atau biji-bijian dan meninggalkan hal itu dirumahnya,ย  sampai-sampai manusia menggantungkannya dan dahulu para salaf melakukannya. Masalah iniย  lapang, tetapi menggunakan jari adalah lebih utama pada setiap tempat, dan utamanya dengan tangan kanan. Ada pun memeganginyaย  pada tangannya di masjid sebagusnya jangan dilakukan, minimal hal itu makruh.โ€ (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Majmuโ€™ Fatawa wa Maqallat,ย  29/318. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)ย 

10. ย Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin Al Hambali Rahimahullah

Beliau ditanya oleh seorang dari Jeddah bernama Ahmad Shalih, dia terbiasa berdzikir menggunakan biji tasbih baik pagi atau sore, sedangkan jika dengan jari seringkali melakukan kesalahan hitung, bolehkah ini, bidโ€™ah atau tidak?

Syaikh Ibnu โ€˜Utsaimin menjawab:

ุงู„ุณุจุญุฉ ู„ูŠุณุช ุจุฏุนุฉ ู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุฑ ุนู„ู‰ ู†ุณุงุก ูˆู‡ู† ูŠุณุจุญู† ุจุงู„ุญุตู‰ ูู‚ุงู„ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุงุนู‚ุฏู† ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ูุฅู†ู‡ู† ู…ุณุชู†ุทู‚ุงุช ูู‚ุฏ ุจูŠู†ุช ุงู„ุณู†ุฉ ุญูƒู… ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุบูŠุฑ ุงู„ุฃุตุงุจุน ูˆุฃู† ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ูุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃู† ูŠุณุจุญ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ูˆุฅู† ูƒุงู† ู„ุง ูŠุณุชุทูŠุน ุงู„ุฅุญุตุงุก ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ูู„ุง ุญุฑุฌ ุฃู† ูŠุณุจุญ ุจุญุตู‰ ุฃูˆ ุจู…ุณุจุญุฉ ู„ูƒู† ุจุดุฑุท ุฃู† ูŠุจุชุนุฏ ููŠ ุฐู„ูƒ ุนู† ุงู„ุฑูŠุงุก ุจุฃู† ู„ุง ูŠุณุจุญ ุจุฐู„ูƒ ุฃู…ุงู… ุงู„ู†ุงุณ ููŠ ุบูŠุฑ ูˆู‚ุช ุงู„ุชุณุจูŠุญ ููŠุนุฌุจ ุงู„ู†ุงุณ ุจู‡ ูˆูŠุฎุดู‰ ุนู„ูŠู‡ ู…ู† ุงู„ุฑูŠุงุก ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„

โ€œAs Sub-hah (untaian biji tasbih) bukanlah bidโ€™ah, karena Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam pernah melewatiย  para wanita, dan mereka sedang bertasbih menggunakan batu-batu kecil (semacam kerikil). Maka Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œHitunglah bilangannya dengan ujung-ujung jari, karena nanti itu akan diajak bicara (pada hari kiamat).โ€ Saya telah menjelaskan tentang kesunnahan hukum bertasbih dengan selain jari jemari dan lebih utamanyaย  bertasbihย  adalah dengan jari jemari. Lebih utama adalah dengan jari jemari, dan jika dia tidak bisa menghitung dengan jari jemari, maka tidak apa-apa bertasbih dengan kerikil atau misbahah (untaian biji tasbih), tetapi dengan syarat dia menjauhi riyaโ€™, tidak menggunakannya di depan manusia pada selain waktu bertasbih demi mencari decak kagum manusia. Dan, ย ย hendaknya dalam keadaan ini dia takut terhadap riyaโ€™.โ€ (Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin, Fatawa Nur โ€˜alad Darb, Bab Mutafariqah, No. 708. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

11. Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Fauzan Al Hambali Rahimahullah

Dalam Al Mulakhash Al Fiqhi, beliau berkata:

ูˆูŠุจุงุญ ุงุณุชุนู…ุงู„ ุงู„ุณุจุญุฉ ู„ูŠุนุฏ ุจู‡ุง ุงู„ุฃุฐูƒุงุฑ ูˆุงู„ุชุณุจูŠุญุงุชุŒ ู…ู† ุบูŠุฑ ุงุนุชู‚ุงุฏ ุฃู† ููŠู‡ุง ูุถูŠู„ุฉ ุฎุงุตุฉุŒ ูˆูƒุฑู‡ู‡ุง ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุกุŒ ูˆุฅู† ุงุนุชู‚ุฏ ุฃู† ู„ู‡ุง ูุถูŠู„ุฉุ› ูุงุชุฎุงุฐู‡ุง ุจุฏุนุฉุŒ ูˆุฐู„ูƒ ู…ุซู„ ุงู„ุณุจุญ ุงู„ุชูŠ ูŠุชุฎุฐู‡ุง ุงู„ุตูˆููŠุฉุŒ ูˆูŠุนู„ู‚ูˆู†ู‡ุง ููŠ ุฃุนู†ุงู‚ู‡ู…ุŒ ุฃูˆ ูŠุฌุนู„ูˆู†ู‡ุง ูƒุงู„ุฃุณูˆุฑุฉ ููŠ ุฃูŠุฏูŠู‡ู…ุŒ ูˆู‡ุฐุง ู…ุน ูƒูˆู†ู‡ ุจุฏุนุฉุ› ูุฅู† ููŠู‡ ุฑูŠุงุก ูˆุชูƒู„ูุง.

โ€œDibolehkan menggunakan untaian biji tasbih untuk menghitung dzikir dan tasbih, dengan tanpa meyakini adanya keutamaan khusus padanya. Sebagian ulama ada yang memakruhkan. Jika dibarengi keyakinan memiliki keutamaan, maka menggunakannya adalah bidโ€™ah. Itulah bertasbihnya kaum sufi, mereka mengkalungkannya pada leher-leher mereka, atau ย menjadikannya gelang pada tangan-tangan mereka, ini semua bidโ€™ah, di dalamnya terdapat riyaโ€™ dan memaksakan diri.โ€ (Syaikh Shalih Fauzan, Al Mulakhash Al Fiqhi, 1/159. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

12. Syaikh โ€˜Athiyah Shaqr Rahimahullah

Beliau mengatakan, ketika ditanya bidโ€™ahkah menghitung tasbih denganย  sub-hah? Katanya:

ย ย ุฃู† ุงู„ุฃู…ุฑ ุจุงู„ุนุฏ ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ู„ูŠุณ ุนู„ู‰ ุณุจูŠู„ ุงู„ุญุตุฑ ุจุญูŠุซ ูŠู…ู†ุน ุงู„ุนุฏ ุจุบูŠุฑู‡ุง ุŒ ุตุญูŠุญ ุฃู† ุงู„ุนุฏ ุจุงู„ุฃุตุงุจุน ููŠู‡ ุงู‚ุชุฏุงุก ุงู„ู†ุจู‰ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ูƒู†ู‡ ู‡ูˆ ู†ูุณู‡ ู„ู… ูŠู…ู†ุน ุงู„ุนุฏ ุจุบูŠุฑู‡ุง ุŒ ุจู„ ุฃู‚ุฑ ู‡ ุŒ ูˆุฅู‚ุฑุงุฑู‡ ู…ู† ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ .

โ€œSesungguhnya perintah menghitung tasbih dengan jari tidaklah membatasi yang lainnya, yang membuat terlarang menghitung dengan selainnya. Benar bahwa menghitung dengan jari jemari merupakan upaya mengikuti Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, tetapi hal itu sendiri tidaklah ย melarang menggunakan selainnya. Bahkan Beliau menyetujuinya, dan persetujuannya itu merupakan dalil disyariatkannya.โ€ (Lalu Beliau memaparkan berbagai riwayat tentang berdzikir menggunakan biji dan kerikil, baik pada masa Rasulullah, sahabat, dan tabiโ€™in)

Beliau melanjutkan;

ูˆุจู†ุงุก ุนู„ู‰ ู…ุง ุณุจู‚ ุฐูƒุฑู‡ ูŠูƒูˆู† ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุบูŠุฑ ุนู‚ุฏ ุงู„ุฃุตุงุจุน ู…ุดุฑูˆุนุงุŒ ู„ูƒู† ุฃูŠู‡ู…ุง ุฃูุถู„ ุŸ ูŠู‚ูˆู„ ุงู„ุณูŠูˆุทู‰ : ุฑุฃูŠุช ูู‰ ูƒุชุงุจ “ุชุญูู‡ ุงู„ุนุจุงุฏ ” ูˆู…ุตู†ูู‡ ู…ุชุฃุฎุฑ ุนุงุตุฑ ุงู„ุฌู„ุงู„ ุงู„ุจู„ู‚ูŠู†ู‰ ูุตู„ุง ุญุณู†ุง ูู‰ ุงู„ุณุจุญุฉ ู‚ุงู„ ููŠู‡ ู…ุง ู†ุตู‡ : ู‚ุงู„ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก : ุนู‚ุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ุฃูุถู„ ู…ู† ุงู„ุณุจุญุฉ ู„ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนู…ุฑูˆุŒ ู„ูƒู† ูŠู‚ุงู„ : ุฅู† ุงู„ู…ุณุจุญ ุฅู† ุฃู…ู† ุงู„ุบู„ุท ูƒุงู† ุนู‚ุฏู‡ ุจุงู„ุฃู†ุงู…ู„ ุฃู…ูŠู„ ูˆุฅู„ุง ูุงู„ุณุจุญุฉ ุฃูˆู„ู‰ . ูˆุงู„ุณู†ุฉ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุงู„ูŠู…ูŠู† ูƒู…ุง ูุนู„ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฌุงุก ุฐู„ูƒ ูู‰ ุฑูˆุงูŠุฉ ู„ุฃุจู‰ ุฏุงูˆุฏ ูˆุบูŠุฑู‡ .

โ€œPenjelasan yang telah lalu menunjukkan bahwa bertasbih dengan selain jari jemari adalah masyruโ€™ (disyariatkan), tetapi mana yang lebih utama? Berkata Imam As Suyuthi: โ€œAku melihat dalam kitab Tuhfah Al โ€˜Ibad, yang disusun oleh ulama belakangan Al Jalal Al Bulqini, dengan penjelasan yang bagus tentang Sub-hah, dia berkata: โ€œBerkata sebagian ulama: โ€œMenghimpun tasbih dengan ujung jari jemari adalah lebih utama dibanding biji tasbih, lantaran hadits Ibnu Amr. Tetapi disebutkan: โ€œJika merasa aman dari kesalahan menghitung tasbih dengan tangan, maka dengan tangan adalah lebih utama, jika tidak, maka dengan subhah adalah lebih utama.โ€ Sunnahnya menggunakan jari kanan, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, yang telah diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya.โ€ (Fatawa Al Azhar, 9/11)

Demikianlah para ulama yang dengan tegas menyatakan kebolehan bertasbih dengan subhah atau yang semisalnya. Nama-nama mereka sudah menjadi garansi hal ini. Namun mereka sepakat, bahwa menggunakan jari jemari adalah lebih utama dan lebih hati-hati. Bagi seorang muslim yangย  waraโ€™, tentu dia akan menempuh jalan yang lebih utama dan hati-hati itu. Apalagi bagi yang mudah terserang penyakit riya dan sumโ€™ah maka menghindarinya adalah lebih utama lagi.

Dari Abdullah bin Amr Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽุนู’ู‚ูุฏู ุงู„ุชู‘ูŽุณู’ุจููŠุญูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ู‚ูุฏูŽุงู…ูŽุฉูŽ ุจููŠูŽู…ููŠู†ูู‡ู

โ€œAku melihat Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam menghimpunย  tasbih.โ€ Ibnu Qudamah mengatakan: โ€œDengan jari tangan kanannya.โ€ (HR. Abu Daud No. 1502)

Imam An Nawawi mengatakan hasan. (Al Adzkar, Hal. 18, No. 28) Syaikh Al Albani mengatakan shahih. (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 1502)

Demikianlah masalah ini. Kami -walaupun cenderung mengikuti pendapat yang membolehkannya sebab dia hanyalah alat bantu hitung saja, bukan dzikir itu sendiri- tetap berharap agar kita tidak bersikap intoleran dan kasar terhadap saudara-saudara kita yang tidak sepaham. Sudah seharusnya seorang muslim bertoleransi dalam masalah furuโ€™ (cabang) yang dijadikan ajang berdebatan para imam kaum muslimin, khususnya pada masa belakangan.

Wallahu Aโ€™lam

🍃🌸🌾🌻🌴🌺🌷☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top