Aktifitas Yang Boleh Terjadi di Dalam Shalat

💢💢💢💢💢💢💢💢

Maksudnya, perbuatan-perbuatan ini tidaklah membatalkan shalat, tidak pula haram atau makruh jika terjadi di dalam shalat. Apa sajakah itu?

1⃣ย Menangis, baik karena takut kepada Allah, teringat akhirat, dosa, atau semisalnya.

Dalil-Dalil:

Allah Taโ€™ala berfirman:

ุฅูุฐูŽุง ุชูุชู’ู„ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุขูŠูŽุงุชู ุงู„ุฑู‘ูŽุญู’ู…ูŽู†ู ุฎูŽุฑู‘ููˆุง ุณูุฌู‘ูŽุฏู‹ุง ูˆูŽุจููƒููŠู‘ู‹ุง

โ€œJika dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, maka mereka tersungkur sambil sujud dan menangis.โ€ย (QS. Maryam: 58)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ูˆุงู„ุงูŠุฉ ุชุดู…ู„ ุงู„ู…ุตู„ูŠ ูˆุบูŠุฑู‡

โ€œAyat ini juga mencakup bagi orang shalat dan selainnya.โ€ย  (Fiqhus Sunnah, 1/259)

Dari Abdullah bin Syikhir, dia berkata:

ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชู ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽูููŠ ุตูŽุฏู’ุฑูู‡ู ุฃูŽุฒููŠุฒูŒ ูƒูŽุฃูŽุฒููŠุฒู ุงู„ุฑู‘ูŽุญูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุจููƒูŽุงุกู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ

โ€œAku melihat Rasulullahย ๏ทบ
shalat dan di dadanya ada suara seperti air mendidih karena tangisan beliauย ๏ทบ.โ€

(HR. Abu Daud No. 904, Shahih. Lihatย Misykah Al Mashabihย No. 1000)

Dan masih banyak riwayat yang menceritakan menangisnya Rasulullah ๏ทบ, Abu Bakar, Umar, dan lainnya ketika shalat.

Tetapi ini hanya berlaku bagi tangisan disebabkan takut kepada Allah Taโ€™ala, AzabNya, neraka, azab kubur, dan hal-hal yang terkait dengan akhirat. Ada pun menangisi musibah pribadi yang terkait keduniaan adalah tidak boleh bahkan membatalkan shalat; menangis karena rumah kebanjiran, tidak bisa membayar hutang, ditinggal suami/istri, dan perkara dunia lainnya.

Begitu pula tangisan yang sampai tersedu sedu, sehingga mengeluarkan dua huruf. Seperti hu atau ha.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

ูŠุฑู‰ ุงู„ุญู†ููŠุฉ ุฃู† ุงู„ุจูƒุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅู† ูƒุงู† ุณุจุจู‡ ุฃู„ู…ุง ุฃูˆ ู…ุตูŠุจุฉ ูุฅู†ู‡ ูŠูุณุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุนุชุจุฑ ู…ู† ูƒู„ุงู… ุงู„ู†ุงุณุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุณุจุจู‡ ุฐูƒุฑ ุงู„ุฌู†ุฉ ุฃูˆ ุงู„ู†ุงุฑ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠูุณุฏู‡ุงุŒ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฒูŠุงุฏุฉ ุงู„ุฎุดูˆุน …

Hanafiyah berpendapat bahwa menangis dalam shalat jika sebabnya karena rasa sakit atau musibah, maka itu membatalkan shalat, karena itu dinilai sebagai kalamun naas (perkataan manusia). Namun jika sebabnya krn mengingat surga dan neraka maka itu tidak membatalkan shalat. Karena itu menunjukkan bertambahnya khusyu’, dan khusyu’ adalah target dari shalat.

ูˆุญุงุตู„ ู…ุฐู‡ุจ ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ููŠ ู‡ุฐุง: ุฃู† ุงู„ุจูƒุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅู…ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุตูˆุชุŒ ูˆุฅู…ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจู„ุง ุตูˆุชุŒ ูุฅู† ูƒุงู† ุงู„ุจูƒุงุก ุจู„ุง ุตูˆุช ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ุณูˆุงุก ุฃูƒุงู† ุจุบูŠุฑ ุงุฎุชูŠุงุฑุŒ ุจุฃู† ุบู„ุจู‡ ุงู„ุจูƒุงุก ุชุฎุดุนุง ุฃูˆ ู„ู…ุตูŠุจุฉุŒ ุฃู… ูƒุงู† ุงุฎุชูŠุงุฑูŠุง ู…ุง ู„ู… ูŠูƒุซุฑ ุฐู„ูƒ ููŠ ุงู„ุงุฎุชูŠุงุฑูŠุŒ ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุจูƒุงุก ุจุตูˆุชุŒ ูุฅู† ูƒุงู† ุงุฎุชูŠุงุฑูŠุง ูุฅู†ู‡ ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ุณูˆุงุก ูƒุงู† ู„ู…ุตูŠุจุฉ ุฃู… ู„ุชุฎุดุนุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุจุบูŠุฑ ุงุฎุชูŠุงุฑู‡ุŒ ุจุฃู† ุบู„ุจู‡ ุงู„ุจูƒุงุก ุชุฎุดุนุง ู„ู… ูŠุจุทู„ุŒ ูˆุฅู† ูƒุซุฑุŒ ูˆุฅู† ุบู„ุจู‡ ุงู„ุจูƒุงุก ุจุบูŠุฑ ุชุฎุดุน ุฃุจุทู„ุŒ ู‡ุฐุง ูˆู‚ุฏ ุฐูƒุฑ ุงู„ุฏุณูˆู‚ูŠ ุฃู† ุงู„ุจูƒุงุก ุจุตูˆุชุŒ ุฅู† ูƒุงู† ู„ู…ุตูŠุจุฉ ุฃูˆ ู„ูˆุฌุน ู…ู† ุบูŠุฑ ุบู„ุจุฉ ุฃูˆ ู„ุฎุดูˆุน ูู‡ูˆ ุญูŠู†ุฆุฐ ูƒุงู„ูƒู„ุงู…ุŒ ูŠูุฑู‚ ุจูŠู† ุนู…ุฏู‡ ูˆุณู‡ูˆู‡ุŒ ุฃูŠ ูุงู„ุนู…ุฏ ู…ุจุทู„ ู…ุทู„ู‚ุงู‹ุŒ ู‚ู„ ุฃูˆ ูƒุซุฑุŒ ูˆุงู„ุณู‡ูˆ ูŠุจุทู„ ุฅู† ูƒุงู† ูƒุซูŠุฑุงู‹ุŒ ูˆูŠุณุฌุฏ ู„ู‡ ุฅู† ู‚ู„

Sedangkan kesimpulan dari madzhab Malikiyah, bahwa tangisan itu ada tangisan yang bersuara dan tidak. Ada pun tangisan yang tidak bersuara maka itu tidak membatalkan shalat. Baik tangisan yg dia tidak bisa hindari bisa karena dia dikalahkan oleh khusyu atau musibah, atau tangisan yg dia mampu kendalikan selama hal itu terjadinya tidak banyak.

Ada pun tangisan dengan suara, padahal dia bisa kendalikan, maka itu membatalkan shalat, baik karena musibah atau karena khusyu. Tapi jika dia tidak bisa kendalikan karena dikuasai oleh khusyu maka itu tidak batal, walaupun banyak. Jika dia dikuasai tangisan bukan karena khusyu maka itu membatalkan shalat.

Hal ini telah disebutkan oleh Ad Dasuqi bahwa tangisan yang bersuara jika karena musibah, rasa sakit yang tidak sampai mengalahkannya, atau karena khusyu, maka itu sama seperti “perkataan”. Jika sengaja maka itu batal shalat baik sedikit atau banyak, jika karena lupa (lalai) maka itu batal jika banyak, dan tidak batal jika sedikit tapi hendaknya dia sujud (sahwi).

ูˆุฃู…ุง ุนู†ุฏ ุงู„ุดุงูุนูŠุฉุŒ ูุฅู† ุงู„ุจูƒุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ูˆุฌู‡ ุงู„ุฃุตุญ ุฅู† ุธู‡ุฑย ุจู‡ย ุญุฑูุงู† ูุฅู†ู‡ ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ู„ูˆุฌูˆุฏ ู…ุง ูŠู†ุงููŠู‡ุงุŒ ุญุชู‰ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุงู„ุจูƒุงุกย ู…ู† ุฎูˆู ุงู„ุขุฎุฑุฉุŒ ูˆุนู„ู‰ ู…ู‚ุงุจู„ ุงู„ุฃุตุญ: ู„ุง ูŠุจุทู„ ู„ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุณู…ู‰ ูƒู„ุง

ู…ุง ููŠ ุงู„ู„ุบุฉุŒ ูˆู„ุง ูŠูู‡ู… ู…ู†ู‡ ุดูŠุกุŒ ููƒุงู† ุฃุดุจู‡ ุจุงู„ุตูˆุช ุงู„ู…ุฌุฑุฏ

Sedangkan bagi Syafiโ€™iyah menurut pendapat yang paling shahih, tangisan dalam shalat jika sampai jelas keluar dua huruf maka itu membatalkan shalat, karena adanya hal yang menafikan hal itu, walau pun tangisan karena mengingat akhirat. Ada pun pendapat kebalikan dari yang shahih itu (dikalangan Syafiโ€™iyah), bahwa itu tidak membatalkan shalat sebab secara bahasa itu bukan “perkataan”, dan tidak ada yang bisa dipahami darinya, itu hanyalah semisal suara saja.

ูˆุฃู…ุง ุงู„ุญู†ุงุจู„ุฉ ูุฅู†ู‡ู… ูŠุฑูˆู† ุฃู†ู‡ ุฅู† ุจุงู† ุญุฑูุงู† ู…ู† ุจูƒุงุกุŒ ุฃูˆ ุชุฃูˆู‡ ุฎุดูŠุฉุŒ ุฃูˆ ุฃู†ูŠู† ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ู… ุชุจุทู„ุŒ ู„ุฃู†ู‡ ูŠุฌุฑูŠ ู…ุฌุฑู‰ ุงู„ุฐูƒุฑุŒ ูˆู‚ูŠู„: ุฅู† ุบู„ุจู‡ ูˆุฅู„ุง ุจุทู„ุชุŒ ูƒู…ุง ู„ูˆ ู„ู… ูŠูƒู† ุฎุดูŠุฉุŒ ู„ุฃู†ู‡ ูŠู‚ุน ุนู„ู‰ ุงู„ู‡ุฌุงุกุŒ ูˆูŠุฏู„ ุจู†ูุณู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุนู†ู‰ ูƒุงู„ูƒู„ุงู…ุŒ ู‚ุงู„ ุฃุญู…ุฏ ููŠ ุงู„ุฃู†ูŠู†: ุฅุฐุง ูƒุงู† ุบุงู„ุจุง ุฃูƒุฑู‡ู‡ุŒ ุฃูŠ ู…ู† ูˆุฌุนุŒ ูˆุฅู† ุงุณุชุฏุนู‰ ุงู„ุจูƒุงุก ููŠู‡ุง ูƒุฑู‡ ูƒุงู„ุถุญูƒ ูˆุฅู„ุข ูู„ุง

Ada pun menurut Hanabilah (Hambaliyah), jika jelas dua huruf saat menangis, mengerang karena rasa takut, atau merintih dalam shalat, itu tidak membatalkan shalat. Karena hal itu terjadi dalam proses dzikir. Dikatakan: Hal itu jika dia dikalahkan olehnya, tapi jika tidak, maka batal shalatnya. Sebagaimana seandainya dia tidak ada perasaan takut, karena itu hanyalah sendirian saja, maka itu bagi dirinya bermakna seperti kalam (perkataan).

Imam Ahmad berkata tentang merintih, “Jika itu terjadi secara dominan maka aku membencinya,” yaitu yg disebabkan rasa sakit, dan jika itu memancing tangisan maka itu makruh sebagaimana tertawa.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah)

Ada pun Hambaliyah zaman ini, seperti Syaikh Ibnu Al โ€˜Utsaimin Rahimahullah, dia berkata:

ุฃู† ุงู„ุจูƒุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฅุฐุง ูƒุงู† ู…ู† ุฎุดูŠุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนุฒ ูˆุฌู„ ูˆุงู„ุฎูˆู ู…ู†ู‡ ูˆุชุฐูƒุฑ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู…ูˆุฑ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ูˆู…ุง ูŠู…ุฑ ุจู‡ ููŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ู…ู† ุขูŠุงุช ุงู„ูˆุนุฏ ูˆุงู„ูˆุนูŠุฏ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฃู…ุง ุฅุฐุง ูƒุงู† ุงู„ุจูƒุงุก ู„ุชุฐูƒุฑ ู…ุตูŠุจุฉ ู†ุฒู„ุช ุจู‡ ุฃูˆ ู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ ูุฅู†ู‡ ูŠุจุทู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู„ุฃู†ู‡ ุญุฏุซ ู„ุฃู…ุฑ ุฎุงุฑุฌ ุนู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุนู„ูŠู‡ ููŠุญุงูˆู„ ุนู„ุงุฌ ู†ูุณู‡ ู…ู† ู‡ุฐุง ุงู„ุจูƒุงุก ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุชุนุฑุถ ู„ุจุทู„ุงู† ุตู„ุงุชู‡

Sesungguhnya menangis dalam shalat jika disebabkan rasa takut kepada Allahย โ€˜Azza wa Jalla,ย dan takut dari azabNya, dan manusia mengingat urusan-urusan akhirat, dan apa-apa yang Al Quran ceritakan tentang akhirat, berupa ayat janji dan ancaman, sesungguhnya itu tidak membatalkan shalat. Sedangkan, jika menangis karena mengingat musibah menimpanya, atau yang semisal itu, sesungguhnya itu membatalkan shalat karena dia mensisipkan hal di luar shalat. Wajib atasnya untuk merubah dirinya dari tangisan seperti ini sehingga shalatnyaย ย  tidak menjadi batal.

(Syaikh Muhammad bin Shalih Al โ€˜Utsaimin,ย Fatawa Nur โ€˜Alad Dar,ย Bab Ash Shalah, No. 378)

2⃣ Menoleh Jika Ada Keperluan

Hal ini dibolehkan jika ada keperluan yang dibenarkan.

Sahl bin Hanzhalahย Radhiallahu โ€˜Anhu, berkata:

ูุฌุนู„ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‘ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‘ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุตู„ูŠ ูˆู‡ูˆ ูŠู„ุชูุช ุฅู„ู‰ ุงู„ุดู‘ูุนุจ

โ€œMaka Rasulullah menoleh pandangan dalam shalatnya menuju celah bukit.โ€

(HR. Abu Daud 2501, Al Hazimi mengatakan:ย hasan. Lihatย Tahqiq Musnad Ahmad, 4/289)

Dari Ibnu Abbasย Radhiallahu โ€˜Anhuma, katanya:

ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠู„ุชูุช ููŠ ุตู„ุงุชู‡ ูŠู…ูŠู†ุง ูˆุดู…ุงู„ุง ูˆู„ุง ูŠู„ูˆูŠ ุนู†ู‚ู‡ ุฎู„ู ุธู‡ุฑู‡

โ€œDahulu Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallammenoleh dalam shalatnya ke kanan dan kiri dan tidak sampai memutarkan lehernya kebelakang.โ€

(HR. At Tirmidzi no. 587, Al Hakim dalamย Al Mustadrakย No. 864, katanya shahih sesuai syarat Bukhari, dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dll)

Tetapi jika tidak keperluan, maka itu makruh.

Dari Al Harts Al Asyโ€™ari, bahwa Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ูุฅุฐุง ุตู„ูŠุชู… ูู„ุง ุชู„ุชูุชูˆุง ูุฅู† ุงู„ุนุจุฏ ุฅุฐุง ู„ู… ูŠู„ุชูุช ุงุณุชู‚ุจู„ู‡ ุฌู„ ูˆุนู„ุง ุจูˆุฌู‡ู‡

โ€œJika kalian shalat janganlah menoleh, sesungguhnya Allahย Jalla wa โ€˜Alaย akan memandang hambaNya selama dia tidak menoleh.”

(HR. Ahmad No. 17170, At Tirmidzi No. 2863, 2864, katanya:ย hasan shahih. Al Hakim dalamย Al Mustadrak, 1/118, 421, juga 11/17, katanya:shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, dan ย Adz Dzahabi menyepakatinya)

Dari โ€˜Aisyahย Radhiallahu โ€˜Anha, katanya:

ุณุฃู„ุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‘ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู† ุงู„ุชูุงุช ุงู„ุฑุฌู„ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉุŒ ูู‚ุงู„: “ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ุงุฎุชู„ุงุณูŒ ูŠุฎุชู„ุณู‡ ุงู„ุดูŠุทุงู† ู…ู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนุจุฏ”.

โ€œAku bertanya kepada Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย tentang seseorang yang menoleh dalam shalat, beliau menjawab: โ€œItu adalah curian syetan terhadap shalat seorang hamba.โ€

(HR. Bukhari No. 751,3291)

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุฑูŽุงู‡ูŽุฉู ู…ูู‚ูŽูŠู‘ูŽุฏูŽุฉูŒ ุจูุนูŽุฏูŽู…ู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ุฃูŽูˆู ุงู„ู’ุนูุฐู’ุฑู ุŒ ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ู‡ูู†ูŽุงูƒูŽ ุญูŽุงุฌูŽุฉูŒ : ูƒูŽุฎูŽูˆู’ูู ุนูŽู„ูŽู‰ ู†ูŽูู’ุณูู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู…ูŽุงู„ูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠููƒู’ุฑูŽู‡ู’ ” ุงู†ุชู‡ู‰

Makruhnya menoleh itu terikat jika tidak ada keperluan atau udzur, ada pun jika ada keperluan seperti takut sesuatu menimpa jiwanya, atau hartanya, maka itu tidak makruh.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/109)

Ada pun jika menoleh dibarengi berputarnya leher dan/atau punggung sehingga meninggalkan arah kiblat baik ke kiri, kanan, atau belakang, maka ini batal shalatnya.

3⃣ Membunuh hewan yang membahayakan atau mengganggu saat shalat

Membunuh Ular, Kalajengking Kumbang, dan binatang membahayakan lainnya yang mengganggu shalat adalah dibolehkan.

Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullahย mengatakan:

ู‚ุชู„ ุงู„ุญูŠุฉ ูˆุงู„ุนู‚ุฑุจ ูˆุงู„ุฒู†ุงุจูŠุฑ ูˆู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ ู…ู† ูƒู„ ู…ุง ูŠุถุฑ ูˆุฅู† ุฃุฏู‰ ู‚ุชู„ู‡ุง ุฅู„ู‰ ุนู…ู„ ูƒุซูŠุฑ

โ€œMembunuh ular, kalajengking kumbang dan yang semisalnya yang bisa mengganggu shalat, walau pun dnegan gerakan yang banyak untuk membunuhnya.โ€
(Fiqhus Sunnah, 1/261)

Dalilnya, dari Abu Hurairahย Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersbada:

(ุงู‚ุชู„ูˆุง ุงู„ุงุณูˆุฏูŠู†ย ย  ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ: ุงู„ุญูŠุฉ ูˆุงู„ุนู‚ุฑุจ ) ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุตุญุงุจ ุงู„ุณู†ู†. ุงู„ุญุฏูŠุซ ุญุณู† ุตุญูŠุญ

โ€œBunuhlah oleh kalian dua binatang hitam dalam shalat: ular dan kala jengking.โ€

(HR. Ahmad No. ย 7379, Ibnu Majah No. 1245, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan:ย isnadnya shahih. Lihatย Ta’liq Musnad Ahmadย No. 7379)

Demikian. Wallahu Aโ€™lam

4⃣ย Berjalan Sedikit Karena Ada Keperluan

Dalilnya:

ุนู† ุนุงุฆุดุฉ ู‚ุงู„ุช: ูƒุงู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุตู„ูŠ ููŠ ุงู„ุจูŠุช ูˆุงู„ุจุงุจ ุนู„ูŠู‡ ู…ุบู„ู‚ ูุฌุฆุช ูุงุณุชูุชุญุช ูู…ุดู‰ ููุชุญ ู„ูŠ ุซู… ุฑุฌุน ุงู„ู‰ ู…ุตู„ุงู‡. ูˆูˆุตูุช ุฃู† ุงู„ุจุงุจ ููŠ ุงู„ู‚ุจู„ุฉ. ุฑูˆุงู‡ ุฃุญู…ุฏ ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุงู„ู†ุณุงุฆูŠ ูˆุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆุญุณู†ู‡

Dari โ€˜Aisyah, dia berkata: โ€œNabi ๏ทบ ย shalat di rumah dan pintu di depannya tertutup, ketika saya datang saya minta dibukakan pintu. Maka beliau berjalan dan membukakan pintu kemudian kembali shalat.โ€ โ€˜Aisyah mengatakan bahwa pintu tersebut ada di arah kiblat.

(HR. Ahmad No. 24027, Abu Daud No. 922, An Nasaโ€™i, At Tirmidzi No. 601, ย dia menghasankannya, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Ta’liq Musnad Ahmadย No. 24027)

Tapi pembolehan ini hanya berlaku jika berjalannya masih kearah kiblat baik depan, kanan, dan kiri, tetapi tidak berlaku ke arah membelakangi kiblat. Semua ahli fiqih sepakat berjalan dengan jumlah langkah yang banyak dan beturut turut dalam shalat fardhuย  adalah membatalkan shalat.

Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullahย menjelaskan:

ูุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ู…ุซู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุนู…ู„ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉุ› ู„ุฃู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูุนู„ู‡ ูˆู‡ูˆ ุงู„ู‚ุฏูˆุฉ ูˆุงู„ุฃุณูˆุฉ ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู„ู‡ ูˆุณู„ุงู…ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡ ุนู„ูŠู‡

Maka, hadits ini menunjukkan bahwasanya hal yang semisal perbuatan ini adalah tidak apa-apa dilakukan saat shalat, karena Rasulullah ๏ทบ melakukannya, dan dia adalah teladan dan contohย  -semoga shalawat, salam, dan keberkahanNya tercurah kepadanya.

(Syarh Sunan Abi Daud, 117)

5⃣ Menggendong Anak Kecil

Dalilnya:

ุนูŽู†ู’ ุนูŽู…ู’ุฑููˆ ุจู’ู†ู ุณูู„ูŽูŠู’ู…ู ุงู„ุฒู‘ูุฑูŽู‚ููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู: ุณูŽู…ูุนูŽ ุฃูŽุจูŽุง ู‚ูŽุชูŽุงุฏูŽุฉูŽ ูŠูŽู‚ููˆู„ู: ” ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ย ูˆุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉู ุงุจู’ู†ูŽุฉู ุฒูŽูŠู’ู†ูŽุจูŽ ุงุจู’ู†ูŽุฉู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽุŒ ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุงุจู’ู†ูŽุฉู ุฃูŽุจููŠ ุงู„ู’ุนูŽุงุตู ุจู’ู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุจููŠุนู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู’ุนูุฒู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽู‚ูŽุจูŽุชูู‡ูุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽูƒูŽุนูŽ ูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุงุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ู…ูู†ู’ ุณูุฌููˆุฏูู‡ู ุฃูŽุฎูŽุฐูŽู‡ูŽุง ููŽุฃูŽุนูŽุงุฏูŽู‡ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฑูŽู‚ูŽุจูŽุชูู‡ู “

Dari Amru bin Sulaim Az Zuraqiy, bahwa dia mendengar Abuย  Qatadah berkata: bahwa Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย sedang shalat sedangkan Umamah โ€“anak puteri dari Zainab puteri Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย dan juga puteri dari Abu Al โ€˜Ash bin Ar Rabiโ€™ bin Abdul โ€˜Uzza – berada di pundaknya, jika Beliau ruku anak itu diletakkan, dan jika bangun dari sujud diambil lagi dan diletakkan di atas pundaknya.

(HR. Ahmad No. 22589, An Nasaโ€™i No. 827, Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth juga menshahihkannya dalamTa’liq Musnad Ahmadย No. 22589, dan Amru bin Sulaim mengatakan bahwa ini terjadi ketika shalat subuh)

Apa Hikmahnya?

ู‚ุงู„ ุงู„ูุงูƒู‡ุงู†ูŠ: ูˆูƒุฃู† ุงู„ุณุฑ ููŠ ุญู…ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู…ุงู…ุฉ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฏูุนุง ู„ู…ุง ูƒุงู†ุช ุงู„ุนุฑุจ ุชุงู„ูู‡ ู…ู† ูƒุฑุงู‡ุฉ ุงู„ุจู†ุงุช ุจุงู„ูุนู„ ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู† ุฃู‚ูˆู‰ ู…ู† ุงู„ู‚ูˆู„

โ€œBerkata Al Fakihani: โ€œRahasia dari hal ini adalah sebagai peringatan (sanggahan) bagi bangsa Arab yang biasanya kurang menyukai anak perempuan. Maka nabi memberikan pelajaran halus kepada mereka supaya kebiasaan itu ditinggalkan, sampai-sampai beliau mencontohkan bagaimana mencintai anak perempuan, sampai-sampai dilakukan di shalatnya. Dan ini lebih kuat pengaruhnya dibanding ucapan.โ€ย  (Fiqhus Sunah, 1/262)

Berkata Imam An Nawawiย Rahimahullah:

ู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฏูู„ู‘ ู„ูู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ – ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ – ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูˆูŽุงููŽู‚ูŽู‡ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฌููˆุฒ ุญูŽู…ู’ู„ ุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ ูˆูŽุงู„ุตู‘ูŽุจููŠู‘ูŽุฉ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡ู…ูŽุง ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุญูŽูŠูŽูˆูŽุงู† ุงู„ุทู‘ูŽุงู‡ูุฑ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุฉ ุงู„ู’ููŽุฑู’ุถ ูˆูŽุตูŽู„ูŽุงุฉ ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ู„ ุŒ ูˆูŽูŠูŽุฌููˆุฒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ู„ูู„ู’ุฅูู…ูŽุงู…ู ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฃู’ู…ููˆู… ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูู†ู’ููŽุฑูุฏ ุŒ ูˆูŽุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจ ู…ูŽุงู„ููƒ – ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู†ู’ู‡ู – ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงููู„ูŽุฉ ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ูŽุนููˆุง ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ูููŠ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉ ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุชู‘ูŽุฃู’ูˆููŠู„ ููŽุงุณูุฏ ุŒ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ : ูŠูŽุคูู…ู‘ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณ ุตูŽุฑููŠุญ ุฃูŽูˆู’ ูƒูŽุงู„ุตู‘ูŽุฑููŠุญู ูููŠ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ููŽุฑููŠุถูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุงุฏู‘ูŽุนูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถ ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ููƒููŠู‘ูŽุฉ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽู†ู’ุณููˆุฎ ุŒ ูˆูŽุจูŽุนู’ุถู‡ู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุฎูŽุงุตู‘ ุจูุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ูˆูŽุจูŽุนู’ุถู‡ู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูุถูŽุฑููˆุฑูŽุฉู ุŒ ูˆูŽูƒูู„ู‘ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ุฏู‘ูŽุนูŽุงูˆููŠ ุจูŽุงุทูู„ูŽุฉ ูˆูŽู…ูŽุฑู’ุฏููˆุฏูŽุฉ ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽุง ุฏูŽู„ููŠู„ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ุถูŽุฑููˆุฑูŽุฉ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุŒ ุจูŽู„ู’ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ุตูŽุญููŠุญ ุตูŽุฑููŠุญ ูููŠ ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠู‡ู ู…ูŽุง ูŠูุฎูŽุงู„ูู ู‚ูŽูˆูŽุงุนูุฏ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุน ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุขุฏูŽู…ููŠู‘ูŽ ุทูŽุงู‡ูุฑ ุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ูููŠ ุฌูŽูˆู’ูู‡ ู…ูู†ู’ ุงู„ู†ู‘ูŽุฌูŽุงุณูŽุฉ ู…ูŽุนู’ูููˆู‘ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู„ููƒูŽูˆู’ู†ูู‡ู ูููŠ ู…ูŽุนูุฏูŽุชู‡ ุŒ ูˆูŽุซููŠูŽุงุจ ุงู„ู’ุฃูŽุทู’ููŽุงู„ ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุณูŽุงุฏู‡ู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุทู‘ูŽู‡ูŽุงุฑูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุฏูŽู„ูŽุงุฆูู„ ุงู„ุดู‘ูŽุฑู’ุน ู…ูุชูŽุธูŽุงู‡ูุฑูŽุฉ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง . ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽูู’ุนูŽุงู„ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉ ู„ูŽุง ุชูุจู’ุทูู„ู‡ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽู„ู‘ูŽุชู’ ุฃูŽูˆู’ ุชูŽููŽุฑู‘ูŽู‚ูŽุชู’ ุŒ ูˆูŽููŽุนูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ – ู‡ูŽุฐูŽุง – ุจูŽูŠูŽุงู†ู‹ุง ู„ูู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒู ุŒ ูˆูŽุชูŽู†ู’ุจููŠู‡ู‹ุง ุจูู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆูŽุงุนูุฏ ุงู„ู‘ูŽุชููŠ ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชู‡ูŽุง ุŒ ูˆูŽู‡ูŽุฐูŽุง ูŠูŽุฑูุฏู‘ู ู…ูŽุง ุงูุฏู‘ูŽุนูŽุงู‡ู ุงู„ู’ุฅูู…ูŽุงู… ุฃูŽุจููˆ ุณูู„ูŽูŠู’ู…ูŽุงู† ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ู’ููุนู’ู„ ูŠูุดู’ุจูู‡ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู† ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑ ุชูŽุนูŽู…ู‘ูุฏ ุŒ ููŽุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉ ู„ููƒูŽูˆู’ู†ูู‡ูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุชูŽุชูŽุนูŽู„ู‘ูŽู‚ ุจูู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุŒ ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฏู’ููŽุนู‡ูŽุง ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุจูŽู‚ููŠูŽุชู’ ู…ูŽุนูŽู‡ู ุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูุชูŽูˆูŽู‡ู‘ูŽู… ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูŽุถูŽุนูŽู‡ูŽุง ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉ ุจูŽุนู’ุฏ ุฃูุฎู’ุฑูŽู‰ ุนูŽู…ู’ุฏู‹ุง ุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ ูƒูŽุซููŠุฑ ูˆูŽูŠูŽุดู’ุบูŽู„ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจ ุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุงู„ู’ุฎูŽู…ููŠุตูŽุฉ ุดูŽุบูŽู„ูŽุชู’ู‡ู ููŽูƒูŽูŠู’ู ู„ูŽุง ูŠูŽุดู’ุบูŽู„ู‡ู ู‡ูŽุฐูŽุง ุŸ ู‡ูŽุฐูŽุง ูƒูŽู„ูŽุงู… ุงู„ู’ุฎูŽุทู‘ูŽุงุจููŠู‘ – ุฑูŽุญูู…ูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ – ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุจูŽุงุทูู„ ุŒ ูˆูŽุฏูŽุนู’ูˆูŽู‰ ู…ูุฌูŽุฑู‘ูŽุฏูŽุฉ ุŒ ูˆูŽู…ูู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุฑูุฏู‘ู‡ูŽุง ู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ ูููŠ ุตูŽุญููŠุญ ู…ูุณู’ู„ูู… ููŽุฅูุฐูŽุง ู‚ูŽุงู…ูŽ ุญูŽู…ูŽู„ูŽู‡ูŽุง .

ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ : ( ููŽุฅูุฐูŽุง ุฑูŽููŽุนูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุณู‘ูุฌููˆุฏ ุฃูŽุนูŽุงุฏูŽู‡ูŽุง )ย ุŒ ูˆูŽู‚ูŽูˆู’ู„ู‡ ูููŠ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉ ู…ูุณู’ู„ูู… : ( ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู†ูŽุง ุญูŽุงู…ูู„ู‹ุง ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ููŽุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ) ููŽุฐูŽูƒูŽุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ . ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู‚ูŽุถููŠู‘ูŽุฉ ุงู„ู’ุฎูŽู…ููŠุตูŽุฉ ููŽู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุชูŽุดู’ุบูŽู„ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจ ุจูู„ูŽุง ููŽุงุฆูุฏูŽุฉ ุŒ ูˆูŽุญูŽู…ู’ู„ ุฃูู…ูŽุงู…ูŽุฉูŽ ู„ูŽุง ู†ูุณูŽู„ู‘ูู… ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุดู’ุบูŽู„ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจ ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽุบูŽู„ูŽู‡ู ููŽูŠูŽุชูŽุฑูŽุชู‘ูŽุจ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽูˆูŽุงุฆูุฏ ุŒ ูˆูŽุจูŽูŠูŽุงู† ู‚ูŽูˆูŽุงุนูุฏ ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฐูŽูƒูŽุฑู’ู†ูŽุง

ู‡ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑู‡ ุŒ ููŽุฃูุญูู„ู‘ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุบู’ู„ ู„ูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ููŽูˆูŽุงุฆูุฏ ุŒ ุจูุฎูู„ูŽุงูู ุงู„ู’ุฎูŽู…ููŠุตูŽุฉ . ููŽุงู„ุตู‘ูŽูˆูŽุงุจ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู„ูŽุง ู…ูŽุนู’ุฏูู„ ุนูŽู†ู’ู‡ู : ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฏููŠุซ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูุจูŽูŠูŽุงู†ู ุงู„ู’ุฌูŽูˆูŽุงุฒ ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽู†ู’ุจููŠู‡ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ููŽูˆูŽุงุฆูุฏ ุŒ ููŽู‡ููˆูŽ ุฌูŽุงุฆูุฒ ู„ูŽู†ูŽุง ุŒ ูˆูŽุดูŽุฑู’ุน ู…ูุณู’ุชูŽู…ูุฑู‘ ู„ูู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ ุฅูู„ูŽู‰ ูŠูŽูˆู’ู… ุงู„ุฏู‘ููŠู† . ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุนู’ู„ูŽู…

โ€œHadits ini menjadi dalil bagi madzhab Syafiโ€™i dan yang sepakat dengannya, bahwa bolehnya shalat sambil menggendong anak kecil, laki atau perempuan, begitu pula yang lainnya seperti hewan yang suci, baik shalat fardhu atau sunah, baik jadi imam atau makmum.

Kalangan Malikiyah mengatakan bahwa hal itu hanya untuk shalat sunah, tidak dalam shalat fardhu. Pendapat ini tidak bisa diterima, sebab sangat jelas disebutkan bahwa Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย memimpin orang banyak untuk menjadi imam, peristiwa ini adalah pada shalat fardhu, apalagi jelas disebutkan itu terjadi pada shalat shubuh.

Sebagian kalangan Malikiyah menganggap hadits ini mansukhย (dihapus hukumnya) dan sebagian lagi mengatakan ini adalah kekhususan bagi Nabi saja, dan sebagian lain mengatakan bahwa Beliau melakukannya karena darurat. Semua pendapat ini tidak dapat diterima dan mesti ditolak, sebab tidak keterangan adanyaย nasakh (penghapusan), khusus bai Nabi atau karena darurat, tetapi justru tegas membolehkannya dan sama sekali tidak menyalahi aturan syaraโ€™. Bukankah Anak Adam atau manusia itu suci, dan apa yang dalam rongga perutnya dimaafkan karena berada dalam perut besar, begiru pula mengenai pakaiannya. Dalil-dalil syaraโ€™ menguatkan hal ini, karena perbuatan-perbuatan yang dilakukan ketika itu hanya sedikit atau terputus-putus. Maka, perbuatan NabiShallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamย itu menjadi keterangan tentang bolehnya berdasarkan norma-norma tersebut. Dalil ini juga merupakan koreksi atas apa yang dikatakan oleh Imam Al Khathabi bahwa seakan-akan itu terjadi tanpa sengaja, karena anak itu bergelantungan padanya, jadi bukan diangkat oleh Nabi. Namun, bagaimana dengan keterangan bahwa Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallamketika hendak berdiri yang kedua kalinya, anak itu diambilnya pula. Bukankah ini perbuatan sengaja dari Beliau? Apalagi terdapat keterangan dalam ย Shahih Muslim: โ€œJika Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallambangkit dari sujud, maka dinaikkannya anak itu di atas pundaknya.โ€ Kemudian keterangan Al Khathabi bahwa memikul anak itu mengganggu kekhusyuโ€™an sebagaimana menggunakan sajadah yang bergambar, dikemukakan jawaban bahwa memang hal itu mengganggu dan tidak ada manfaat sama sekali. Beda halnya dengan menggendong anak yang selain mengandung manfaat, juga sengaja dilakukan oleh Nabi untuk menyatakan kebolehannya. Dengan demikian, jelaslah bahwa yang benar dan tidak dapat disangkal lagi, hadits itu menyatakan hukum boleh, yang tetap berlaku bagi kaum muslimin sampai hari kemudian.โ€ Wallahu Aโ€™lam

(Imam An Nawawi,ย Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/307. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

Bagaimana jika anak itu memakai pampers?

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

ู…ู† ุดุฑูˆุท ุตุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ : ุงุฌุชู†ุงุจ ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ููŠ ุงู„ุจุฏู† ูˆุงู„ุซูˆุจ ูˆุงู„ู…ูƒุงู† ุŒ ูู…ู† ุตู„ู‰ ูˆุนู„ู‰ ุซูˆุจู‡ ุฃูˆ ุจุฏู†ู‡ ู†ุฌุงุณุฉ ุฃูˆ ุญู…ู„ ุทูู„ุงู‹ ู…ุชู†ุฌุณุงู‹ ุฃูˆ ุญู…ู„ ู‚ุงุฑูˆุฑุฉ ููŠู‡ุง ู†ุฌุงุณุฉ…ุŒ ุจุทู„ุช ุตู„ุงุชู‡ ุนู†ุฏ ุฌู…ู‡ูˆุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุŒ ูˆู„ุง ูŠุจุทู„ ูˆุถูˆุคู‡

Di antara syarat sahnya shalat adalah menjauh dari najis baik pada badan, pakaian, dan tempat.

Maka, brg siapa yang shalat namun di pakaiannya atau badannya ada najis, atau dia menggendong anak yang ada najisnya, atau membawa botol kecil yg ada najisnya, maka shalatnya BATAL menurut mayoritas ulama, tapi tidak batal wudhunya.

(Al Islam Su’aal wa Jawab no. 136524)

Bagaimana jika LUPA atau TIDAK TAHU kalau di Pampersnya ada najisnya?

Syaikh ‘Utsaimin Rahimahullah menjawab:

ุฅุฐู† ุงุฌุชู†ุงุจ ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ููŠ ุงู„ุจุฏู† ุŒ ูˆุงู„ุซูˆุจ ุŒ ูˆุงู„ุจู‚ุนุฉ ุดุฑุท ู„ุตุญุฉ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุŒ ู„ูƒู† ุฅุฐุง ู„ู… ูŠุชุฌู†ุจ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุงู„ู†ุฌุงุณุฉ ุฌุงู‡ู„ุงู‹ ุŒ ุฃูˆ ู†ุงุณูŠุงู‹ ูุฅู† ุตู„ุงุชู‡ ุตุญูŠุญุฉ ุŒ ุณูˆุงุก ุนู„ู… ุจู‡ุง ู‚ุจู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุซู… ู†ุณูŠ ุฃู† ูŠุบู„ุณู‡ุง ุŒ ุฃูˆ ู„ู… ูŠุนู„ู… ุจู‡ุง ุฅู„ุง ุจุนุฏ ุงู„ุตู„ุงุฉ

Jadi, menjauh dr najis dari badan, pakaian, dan tempat, adalah syarat sahnya shalat. Tapi jika manusia tidak menjauhinya karena tidak tahu atau lupa, shalatnya tetap SAH, baik dia sebenarnya sudah tahu sebelum shalat tapi pas shalat dia lupa membersihkannya, atau dia baru tahu setelah selesai shalatnya.

(Majmu’ Fatawa, 12/390)

Demikian. Wallahu a’lam

6⃣ Mengucapkan Salam dan Mengajak Berbicara Orang Shalat

Dalilnya:

ุนูŽู†ู’ ุฌูŽุงุจูุฑูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ูŽู†ููŠ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู…ูู†ู’ุทูŽู„ูู‚ูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุจูŽู†ููŠ ุงู„ู’ู…ูุตู’ุทูŽู„ูู‚ูุŒ ููŽุฃูŽุชูŽูŠู’ุชูู‡ู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนููŠุฑูู‡ู ุŒ ููŽูƒูŽู„ู‘ูŽู…ู’ุชูู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ุซูู…ู‘ูŽ ูƒูŽู„ู‘ูŽู…ู’ุชูู‡ูุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุจููŠูŽุฏูู‡ู ู‡ูŽูƒูŽุฐูŽุงุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ุฃูŽุณู’ู…ูŽุนูู‡ู ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุฃูุŒ ูˆูŽูŠููˆู…ูุฆู ุจูุฑูŽุฃู’ุณูู‡ูุŒ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ููŽุฑูŽุบูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ” ู…ูŽุง ููŽุนูŽู„ู’ุชูŽ ูููŠ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ุฃูŽุฑู’ุณูŽู„ู’ุชููƒูŽุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู…ู’ู†ูŽุนู’ู†ููŠ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ููŠ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูุตูŽู„ู‘ููŠ

Dari Jabir bin Abdullah katanya: โ€œSaya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: โ€œBagaimana tugasmu yang saya minta untuk diselesaikan? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya membalas ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat.โ€

(HR. Muslim No. 540)

Dari Ibnu Umar: โ€œAku bertanya kepada Bilal:

ูƒูŠู ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุฑุฏ ุนู„ูŠู‡ู… ุญูŠู† ูƒุงู†ูˆุง ูŠุณู„ู…ูˆู† ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉุŸ ู‚ุงู„: ูƒุงู† ูŠุดูŠุฑ ุจูŠุฏู‡.

โ€œBagaimana Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallammenjawab salam kepada mereka ketika beliau sedang shalat?โ€ Bilal menjawab: โ€œMemberikan isyarat dengan tangannya.โ€

(HR. Ibnu Majah No. 1017, At Tirmidzi No. 368, katanya:ย hasan shahih)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullah:

ูˆูŠุณุชูˆูŠ ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุงุดุงุฑุฉ ุจุงู„ุงุตุจุน ุฃูˆ ุจุงู„ูŠุฏ ุฌู…ูŠุนู‡ุง ุฃูˆ ุจุงู„ุงูŠู…ุงุก ุจุงู„ุฑุฃุณ ููƒู„ ุฐู„ูƒ ูˆุงุฑุฏ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู….

โ€œDalam hal ini sama saja, baik isyarat dengan jari, tangan atau anggukkan kepala, semua ini adalah boleh karena memiliki dasar dari Rasulullahย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.โ€ (Fiqhus Sunah, 1/264)

Syaikh Abul โ€˜Ala Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuriย Rahimahullahย mengatakan:

ููŽูŠูŽุฌููˆุฒู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุฃูŽุดูŽุงุฑูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ุจูุฃูุตู’ุจูุนูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุฑู‘ูŽุฉู‹ ุจููŠูŽุฏูู‡ู

โ€œMaka, dibolehkan memberikan isyarat, sekali dengan jari dan sekali dengan tangannya.โ€ย  (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/365. Cet. 2, Al Maktabah As Salafiyah, Madinah)

Kebolehan hal ini bukan berarti kita seenaknya saja mengajak ngobrol orang shalat sebab hal itu menganggunya. Ini terjadi jika memang sulit dihindari. Misal, seorg suami ingin berangkat lalu pamit kepada istri ternyata istri sdg shalat, maka tdk apa-apa dia pamit dgn kata-kata, “Saya berangkat”, atau semisalnya.

7⃣ Bertasbih dan bertepuk Tangan Untuk Meralat Imam

Dalilnya:

ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…:ย ย ู…ูŽู†ู’ ู†ูŽุงุจูŽู‡ู ุดูŽูŠู’ุกูŒ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ููŽู„ู’ูŠูุณูŽุจู‘ูุญู’ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุณูŽุจู‘ูŽุญูŽ ุงู„ู’ุชูููุชูŽ ุฅูู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ุชู‘ูŽุตู’ูููŠุญู ู„ูู„ู†ู‘ูุณูŽุงุกู

Dari Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBarangsiapa yang terganggu dalam shalatnya oleh suatu hal maka bertasbihlah, sesungguhnya jika dia bertasbih hendaknya menengok kepadanya, dan ย bertepuk tangan hanyalahย  untuk kaum wanita.โ€ (HR. Bukhari No. 652, Muslim No. 421)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullah:

ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุชุณุจูŠุญ ู„ู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ุชุตููŠู‚ ู„ู„ู†ุณุงุก ุฅุฐุง ุนุฑุถ ุฃู…ุฑ ู…ู† ุงู„ุงู…ูˆุฑุŒ ูƒุชู†ุจูŠู‡ ุงู„ุงู…ุงู… ุฅุฐุง ุฃุฎุทุฃ ูˆูƒุงู„ุงุฐู† ู„ู„ุฏุงุฎู„ ุฃูˆ ุงู„ุงุฑุดุงุฏ ู„ู„ุงุนู…ู‰ ุฃูˆ ู†ุญูˆ ุฐู„ูƒ

โ€œDibolehkan bagi laki-laki bertasbih dan bertepuk tangan bagi wanita, jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman seperti: mengingatkan imam ketika berbuat kesalahan, memberi izin kepada orang yang akan masuk, atau memandu orang buta atau yang semisalnya.โ€ย  (Fiqhus Sunnah,1/264)

8⃣ Meralat Bacaan Imam Yang Salah atau Lupa

Dalilnya:

ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุตู„ู‰ ุตู„ุงุฉ ูู‚ุฑุฃ ููŠู‡ุง ูุงู„ุชุจุณ ุนู„ูŠู‡ ูู„ู…ุง ูุฑุบ ู‚ุงู„ ู„ุงุจูŠ: (ุฃุดู‡ุฏุช ู…ุนู†ุงุŸ) ู‚ุงู„: ู†ุนู…. ู‚ุงู„: (ูู…ุง ู…ู†ุนูƒ ุฃู† ุชูุชุญ ุนู„ูŠุŸ) ุฑูˆุงู‡ ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ูˆุบูŠุฑู‡ ูˆุฑุฌุงู„ู‡ ุซู‚ุงุช

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shalat, lalu membaca suatu ayat, tiba-tiba beliau lupa atau ragu dalam bacaannya. Setelah selesai dia bertanya kepada ayahku (Umar bin Al Khathab): โ€œapakah engkau shalat bersamaku?โ€ Umar menjawab: โ€œYaโ€. Nabi bersabda: โ€œApa yang menghalangimu untuk mengingatkanku?โ€

(HR. Abu Daud No. 907, Ibnu Hibban dalam ShahihnyaNo. 2242. Syaikh Al Albani menghasankannya. Lihatย Shahih wa Dhaif Sunan Abi DaudNo. 907)

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al BadrHafizhahullah:

ูู‡ุฐุง ูŠุฏู„ู†ุง ุนู„ู‰ ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ุงู„ูุชุญ ุนู„ู‰ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฅุฐุง ุญุตู„ ู…ู†ู‡ ุฎุทุฃ

โ€œIni menunjukkan bahwa disyariatkan untuk memberitahukan kepada imam jika didapatkan padanya ada kesalahan.โ€ (Syarh Sunan Abi Daud, 115. Al Misykat

9⃣ Ingat Dengan Sesuatu Hal Yang Tidak Termasuk Amalan Shalat

Umar bin Al Khathabย Radhiallahu โ€˜Anhuย berkata:

ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูุฌูŽู‡ู‘ูุฒู ุฌูŽูŠู’ุดููŠ ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู

โ€œSesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedangย  shalat.โ€ย  (Riwayat Bukhari)

Tentang ucapan Umarย Radhiallahu โ€˜Anhuย ini, Imam Bukhari membuat judul:ย ย  Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syaiโ€™a fish shalah

Dari โ€˜Uqbah bin Al Haritsย Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ุตูŽู„ู‘ูŽูŠู’ุชู ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุงู„ู’ุนูŽุตู’ุฑูŽ ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู…ูŽ ุณูŽุฑููŠุนู‹ุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ู†ูุณูŽุงุฆูู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ูˆูŽุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูŽุง ูููŠ ูˆูุฌููˆู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู…ู ู…ูู†ู’ ุชูŽุนูŽุฌู‘ูุจูู‡ูู…ู’ ู„ูุณูุฑู’ุนูŽุชูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽูƒูŽุฑู’ุชู ูˆูŽุฃูŽู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ุชูุจู’ุฑู‹ุง ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ููŽูƒูŽุฑูู‡ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ูŠูู…ู’ุณููŠูŽ ุฃูŽูˆู’ ูŠูŽุจููŠุชูŽ ุนูู†ู’ุฏูŽู†ูŽุง ููŽุฃูŽู…ูŽุฑู’ุชู ุจูู‚ูุณู’ู…ูŽุชูู‡ู

โ€œAku shalat ashar bersama Nabiย Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam,ย ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudianย  Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: โ€œAku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang shalat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman,ย  maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.โ€ (HR. Bukhari No. 1221)

Walau hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas shalat. Syaikh Sayyid Sabiqย Rahimahullahย berkata:

ูˆู…ุน ุฃู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉ ุตุญูŠุญุฉ ู…ุฌุฒุฆุฉย ย  ูุฅู†ู‡ ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ู…ุตู„ูŠ ุฃู† ูŠู‚ุจู„ ุจู‚ู„ุจู‡ ุนู„ู‰ ุฑุจู‡ ูˆูŠุตุฑู ุนู†ู‡ ุงู„ุดูˆุงุบู„ ุจุงู„ุชููƒูŠุฑ ููŠ ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุงูŠุงุช ูˆุงู„ุชูู‡ู… ู„ุญูƒู…ุฉ ูƒู„ ุนู…ู„ ู…ู† ุฃุนู…ุงู„ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒุชุจ ู„ู„ู…ุฑุก ู…ู† ุตู„ุงุชู‡ ุฅู„ุง ู…ุง ุนู‚ู„ ู…ู†ู‡ุง.

โ€œMeskipun shalatnya tetap sah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang shalat itu menghadapkan hatinya kepada Allah dan melenyapkan segala godaan dengan memikirkan ayat-ayat dan memahami hikmah setiap perbuata shalat, karena yang dicatat dari perbuatan itu hanyalah apa-apa yang keluar dari kesadaran.โ€ (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Nabiย Shallalahu โ€˜Alaihi wa Sallamย bersabda:

ุฅู†ู‘ ุงู„ุฑู‘ุฌูู„ูŽ ู„ูŽูŠูŽู†ู’ุตูŽุฑููู ูˆูŽู…ูŽุง ูƒูุชูุจูŽ ู„ูŽู‡ู ุฅู„ุงู‘ ุนูุดู’ุฑู ุตู„ุงุชูู‡ู ุชูุณู’ุนูู‡ุง ุซูู…ู’ู†ูู‡ูŽุง ุณูุจู’ุนูู‡ูŽุง ุณูุฏูุณูู‡ูŽุง ุฎูู…ูุณูู‡ูŽุง ุฑูุจูุนูู‡ูŽุง ุซูู„ูุซูู‡ูŽุง ู†ูุตู’ููู‡ูŽุง

โ€œSesungguhnya ada orang yang selesai shalatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari shalatnya.โ€ (HR. Abu Daud No. 211. Hadits hasan)

Sekian. Wallahu Aโ€™lam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌴🌵🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top