







Sesungguhnya dakwah adalah jalan para nabi dan tugas mulia yang dengannya manusia dituntun menuju cahaya petunjuk. Akan tetapi, tidak setiap dakwah disebut sebagai dakwah yang benar, karena dakwah yang haq harus berjalan dengan ma’alim (rambu-rambu) yang benar serta menempuh manhaj para salafus shalih dalam menyampaikan kebenaran dengan hikmah dan kesabaran. Oleh sebab itu, penting bagi setiap da’i dan para penuntut ilmu untuk memahami hakikat “Shidqud Da‘wah” agar dakwah yang dilakukan benar-benar menjadi sebab tersebarnya hidayah dan tegaknya agama Allah Ta’ala di muka bumi.
Shidqun Niyyah (Niat Yang Benar)
Shidqun Niyyah dalam dakwah berarti lurus dan benarnya niat seorang da‘i dalam menyampaikan agama Allah Ta’ala, yaitu semata-mata mengharap ridha-Nya, bukan mencari pujian, popularitas, pengikut, kedudukan, ataupun keuntungan duniawi.
Dakwah adalah ibadah yang agung, sehingga tidak akan diterima kecuali dengan keikhlasan. Karena itu, seorang da‘i wajib selalu mengoreksi hatinya agar tujuan utamanya adalah menegakkan kebenaran dan menyelamatkan manusia dari kesesatan.
Apabila niat dalam dakwah telah rusak, maka keberkahan dakwah pun akan berkurang, meskipun secara lahir tampak berhasil. Sebaliknya, dakwah yang dibangun di atas niat yang benar akan melahirkan kesabaran, keteguhan, tawadhu’, dan semangat untuk terus menyampaikan kebenaran walaupun sedikit manusia yang menerima. Oleh sebab itu, para ulama sangat menekankan pentingnya ikhlas dan memperbaharui niat dalam setiap amal dakwah.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾
“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Shidqul Ittijah (Benarnya Arah)
Shidqul Ittijah (benarnya orientasi dan arah) dalam dakwah adalah lurusnya arah, jelas, dan tujuan perjuangan dakwah sesuai dengan tuntunan syariat. Seorang da‘i harus menjadikan tujuan utama dakwahnya adalah meninggikan kalimat Allah, menyebarkan tauhid, memperbaiki akidah dan akhlak manusia, serta mengajak umat untuk mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman yang benar yang diwariskan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan imam yang empat. Jangan terlena dgn arah dan perjalanan jangka pendek, sehingga melupakan capaian akhir, yaitu menjadikan Islam sebagai Ustadziyatul ‘Alam (Soko Guru Dunia).
Harus diingat, dakwah tidak boleh diarahkan untuk kepentingan kelompok, fanatisme golongan, ambisi kekuasaan, atau tujuan duniawi yang menyimpang dari misi para nabi.
Shidqul Ittijah berbeda dengan Shidqun Niyyah. Shidqun Niyyah berkaitan dengan keikhlasan hati dan tujuan batin seorang da‘i kepada Allah Ta‘ala, sedangkan Shidqul Ittijah berkaitan dengan arah, manhaj, dan fokus dakwah yang ditempuh. Bisa jadi seseorang ikhlas dalam berdakwah, tetapi orientasi dakwahnya keliru, salah arah, karena tidak dibangun di atas ilmu dan petunjuk syariat. Oleh sebab itu, dakwah yang benar harus menggabungkan keduanya: niat yang ikhlas dan orientasi yang lurus sesuai ajaran Islam.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah di atas ilmu yang nyata.” (QS. Yusuf: 108)
Shidqul Mabda’ (Benarnya Prinsip dan Landasan)
Shidqul Mabda’ berarti benarnya prinsip, asas, atau landasan dalam dakwah. Maksudnya, dakwah harus dibangun di atas mabda’ (prinsip) yang benar, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan di atas hawa nafsu, pemikiran menyimpang, tradisi batil, atau ideologi bikinan manusia.
Seorang da‘i yang memiliki Shidqul Mabda’ akan menjaga kemurnian ajaran Islam dan tidak mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan demi mencari simpati manusia. Karena itu, prinsip dakwah harus tetap kokoh walaupun menghadapi tekanan, celaan, atau sedikitnya pengikut. Inilah yang membedakan dakwah para nabi dengan dakwah yang dibangun di atas kepentingan dunia atau penyimpangan pemikiran.
Allah Ta‘ala berfirman:
﴿ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Kemudian Kami jadikan engkau berada di atas suatu syariat dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي»
“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara; kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Malik dalam Al Muwatha, hadits hasan)
Shidqul Manhaj (Benarnya Cara dan Konsep)
Shidqul Manhaj berarti benarnya metode dan cara dalam berdakwah. Maksudnya, dakwah tidak cukup hanya memiliki niat yang ikhlas, orientasi yang benar, dan prinsip yang lurus, tetapi juga harus ditempuh dengan manhaj yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta jalan para nabi dan salaf. Seorang da‘i harus menggunakan cara-cara yang dibenarkan syariat, seperti hikmah, ilmu, kelembutan pada tempatnya, kesabaran, dan tahapan yang benar dalam memperbaiki manusia.
Shidqul Manhaj juga berarti tidak menggunakan metode yang menyelisihi syariat meskipun dianggap efektif atau cepat menghasilkan banyak pengikut. Dengan kata lain, tidak dibenarkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dakwah. Karena tujuan yang benar tidak boleh ditempuh dengan cara yang batil. Dakwah para nabi senantiasa dibangun di atas ilmu, rahmat, dan keteguhan di atas kebenaran, bukan provokasi, kebohongan, fanatisme, atau cara-cara yang merusak persatuan umat. Oleh sebab itu, manhaj yang benar menjadi penjaga agar dakwah tetap berada di jalan Allah dan diridhai Allah Ta‘ala. Oleh karenanya, hendaknya senantiasa komitmen dgn syariah, libatkanlah ulama, sebelum menjalankan manuver dakwah.
Allah Ta’ala berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Shidqul ‘Amal (Benarnya Amal)
Shidqul ‘Amal artinya benarnya amal, yaitu kesesuaian amal perbuatan dengan apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, baik lahir maupun batin. Dalam dakwah, seorang da’i tidak cukup hanya memiliki niat dan manhaj yang benar, tetapi juga berkomitmen membuktikan apa yang dikatakannya dengan amal nyata, kesungguhan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah yang paling kuat pengaruhnya adalah dakwah yang disertai praktik nyata dari pelakunya.
Allah Ta‘ala mencela orang yang mengatakan sesuatu namun tidak mengamalkannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)
Shidqul ‘Amal juga berarti tidak melupakan peran vital ‘Amal Jama’i, istiqamah dalam dakwah secara berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman:
{ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ خُذُواْ حِذۡرَكُمۡ فَٱنفِرُواْ ثُبَاتٍ أَوِ ٱنفِرُواْ جَمِيعٗا }
Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) secara berkelompok, atau majulah bersama-sama (serentak). (QS. An-Nisa’: 71)
Para tokoh, ulama, dan pahlawan Islam memberikan nasihat..
Syaikh Abul A’la Al Maududi Rahimahullah berkata:
و من سنن الله في الأرض أن يحمل هذه الدعوة رجال يحافطون عليها و يسوسون أمرها
Di antara sunnatullah di atas bumi adalah bahwa dakwah Islam harus diperjuangkan oleh orang-orang yang senantiasa memelihara dakwah dan mengatur urusannya. (Tadzkirah Da’watil Islam, hal. 19)
Syaikh Hasan Al Banna Rahimahullah berkata:
يجب أن تحمل هذه الدعوة جماعة تؤمن بها و تجاهد في سبيلها
Dakwah ini wajib dibawa oleh suatu jamaah yang mengimaninya dan berjihad di jalannya. (Al Mu’tamar Al Khamis, hal. 17)
Syaikh Sayyid Quthb Rahimahullah berkata:
فكيف تبدأ عملية البعث الإسلامي إنه لا بد من طليعة تعزم هذه العزمة
Bagaimana proses kebangkitan Islam dimulai? Sesungguhnya ia memerlukan golongan perintis yang menegakkan kewajiban ini. (Ma’alim Fith Thariq, hal. 9)
Syaikh Sa’id Hawwa Rahimahullah berkata:
هذا هو الحل الوحيد الآن أن تقوم جماعة
Satu-satunya solusi adalah mesti tegaknya jamaah. (Jundullah Akhlaqan wa Tsaqafatan, hal. 31)
Syaikh Fathi Yakan Rahimahullah berkata:
فالرسول ﷺ لم يعتمد أسلوب العمل الفردى فط، و إنما حض من أول يوم على إقامة جماعة
Rasulullah ﷺ tidak pernah sama sekali bergantung kepada amal individu, sejak awal dakwahnya Beliau sudah menekankan penegakkan jamaah. (Maadza ya’ni intimaa, hal. 103)
Syaikh Muhammad Ahmad Ar Rasyid berkata:
إن نقطة البدء الآن هي نقطة البدء من أول عهد الرسول ﷺ، أن يوجد فى بقعة من الأرض أناس يدينون دين الحق
Sesungguhnya titik awal sekarang adalah titik awal pada masa Rasulullah ﷺ, yaitu harus ada di permukaan bumi ini orang-orang yang menegakkan agama yang benar ini.
(Al Munthalaq, hal. 165)
Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
✍ Farid Nu’man Hasan


