Kode Menepuk Bahu Untuk Sholat Berjamaah

▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz, ingin bertanya seputar makmum dalam shalat:
Apakah ada tuntunan sunnah bagi makmum masbuk yang ingin ikut shalat berjamaah dengan menepuk bahu kanan makmum yang juga masbuk?
Dari Abu Ibrahim, Kubu Raya

📬 JAWABAN

▪▫▪

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullah, langsung aja ya

Menepuk bahu orang yang sedang shalat sendiri, sebagai kode kita jadi makmum dia, tidak ada dalam Al Quran, As Sunnah, dan kitab-kitab para fuqaha. Maka, lebih aman cukup langsung saja menemaninya di sampingnya. Dahulu Abu Bakar Ash Shidiq pernah menemani seseorang yang sedang shalat sendiri tapi tidak ada keterangan menepuk itu.

Walau demikian masalah menepuk ini sangat situasional, biasa jadi dia terlarang jika justru mengganggu yang shalat, atau dibolehkan jika sekedar colek saja dan dia tidak merasa terganggu, dan dia tidak sadar jadi imam jika tanpa dicolek.

Namun, seperti yang awal saya sebutkan hal ini pada dasarnya tidak ada dalam tuntunan syariah.


▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Apakah ketika kita mau berjamaah dg orang yg sdg sholat sendiri harus kita tepuk pundaknya? (+62 812-8791-xxx)

📬 JAWABAN

▪▫▪

Boleh saja ditepuk sebagai bentuk komunikasi atau kode kepada orang tersebut. Asalkan menepuk biasa, bukan tepukan yang mengagetkan.

Berkomunikasi dgn orang shalat itu dibolehkan, berdasarkan hadits shahih:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ ، فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ، وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: ” مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي.

Dari Jabir bin Abdullah katanya: “Saya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: “Bagaimana tugasmu yang saya minta untuk diselesaikan? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya membalas ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat.” (HR. Muslim No. 540)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ويستوي في ذلك الاشارة بالاصبع أو باليد جميعها أو بالايماء بالرأس فكل ذلك وارد عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.

“Dalam hal ini sama saja, baik isyarat dengan jari, tangan atau anggukkan kepala, semua ini adalah boleh karena memiliki dasar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (Fiqhus Sunah, 1/264)

Syaikh Abul ‘Ala Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan:

فَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ أَشَارَ مَرَّةً بِأُصْبُعِهِ وَمَرَّةً بِيَدِهِ

“Maka, dibolehkan memberikan isyarat, sekali dengan jari dan sekali dengan tangannya.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/365)

Wallahu A’lam

🌺🌸🍃🌹🍀🌾🌴🌾

✍️Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top