Kapankah Musik dan Nyanyian Diharamkan?

▪▫▪▫▪▫▪▫

PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum
Ustadz, ana & teman ana bertanya, “seorang muslim itu boleh nggak bernyanyi dan mengambar?” (+62 852-6418-xxxx)

JAWABAN

▪▫▪▫▪▫▪▫

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh …

Nyanyian, selama isinya baik, tidak berlebihan tidak apa-apa..

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan:

فإن الغناء في مواضعه جائز والذي يقصد به فائذة مباحة حلال، وسماعه مباح، وبهذا يكون منفعة شرعية يجوز بيع آلته وشراؤها لانها متقومه.

ومثال الغناء الحلال: 1 – تغني النساء لاطفالهن وتسليتهن.

2 – تغني أصحاب الاعمال وأرباب المهن أثناء العمل للتخفيف عن متاعبهم والتعاون بينهم.

3 – والتغني في الفرح إشهارا له.

4 – والتغني في الاعياد إظهارا للسرور.

5 – والتغني للتنشيط للجهاد.

وهكذا في كل عمل طاعة حتى تنشط النفس وتنهض بحملها.
والغناء ما هو إلا كلام حسنه حسن وقبيحه قبيح، فإذا عرض له ما يخرجه عن دائرة الحلال كأن يهيج الشهوة أو يدعو إلى فسق أو ينبه إلى الشر أو اتخذ ملهاة عن الطاعات، كان غير حلال.

فهو حلال في ذاته وإنما عرض ما يخرجه عن دائرة الحلال.

وعلى هذا تحمل أحاديث النهي عنه.

والدليل على حله: 1 – ما رواه البخاري ومسلم وغيرهما عن عائشة، رضي الله عنها، أن أبا بكر دخل عليها وعندها جاريتان تغنيان وتضربان بالدف، ورسول الله صلى الله عليه وسلم مسجى بثوبه فانتهرهما أبو بكر، فكشف رسول الله صلى الله عليه وسلم وجهه وقال: (دعهما يا أبا بكر فإنها أيام عيد).

2 – ما رواه الامام أحمد والترمذي بإسناد صحيح أن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج في بعض مغازيه فلما انصرف جاءته جارية سوداء فقالت: يا رسول الله إني كنت نذرت إن ردك الله سالما أن أضرب بين يديك بالدف وأتغنى.

قال: (إن كنت نذرت فاضربي).
فجعلت تضرب.

3 – ما صح عن جماعة كثيرين من الصحابة والتابعين أنهم كانوا يسمعون الغناء والضرب على المعازف.
فمن الصحابة: عبد الله بن الزبير، وعبد الله بن جعفر وغيرهما.
ومن التابعين: عمر بن عبد العزيز، وشريح القاضي، وعبد العزيز بن مسلمة، مفتي المدينة وغيرهم.

“Sesungguhnya nyanyian  dalam berbagai temanya adalah boleh.  Dan, nyanyian  yang dengannya dimaksudkan untuk  hal yang  berfadah maka dia mubahlagi halal. Boleh mendengarkannya,  dan dengan ini   mendatangkan manfaat secara syar’i, maka boleh  jual beli alat-alatnya karena hal itu memiliki nilai.

Contoh nyanyian yang dihalalkan:

1.       Nyanyian seorang ibu untuk menghibur anak-anaknya

2.       Nyanyian para pekerja dan budak-budak ketika bekerja untuk meringankan pekerjaan dan saling membantu di antara mereka

3.       Nyanyian   pada saat senang agar nampak rasa senangnya

4.       Nyanyian ketika hari raya untuk menunjukkan kebahagiaan karenanya

5.       Nyanyian untuk menyemangatkan jihad

Demikian juga pada setiap perbuatan ketaatan sehingga bisa menyemangati jiwa dan bangkit mengerjakan ketaatan itu.

Nyanyian tidak lain tidak bukan adalah ucapan; jika baik maka dia baik, jika buruk maka dia buruk. Jika nyanyian diarahkan untuk keluar dari lingkup kehalalan, seperti membangkitkan syahwat, atau ajakan kepada kefasikan, atau menyadarkan kepada keburukan, atau menjadikannya lalai dari ketaatan, maka itu tidak halal.

Maka, dia  halal secara dzat, hanya saja diarahkan untuk keluar dari lingkup kehalalan. Untuk ini, banyak hadits-hadits  bermakna demikian yang melarangnya.

Dalil yang menunjukkan kehalalan nyanyian:

1.       Hadits riwayat Bukhari, Muslim, dan lainnya, dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Abu Bakar masuk ke tempatnya, dan di depannya ada dua jariyah (budak gadis remaja) yang sedang bernyanyi dengan menggunakan duf(rebana), saat itu Rasulullah sedang berselimut dengan kainnya. Maka, Abu Bakar menghardik kedua jariyah itu, lalu Rasulullah menyingkap selimut dari wajahnya dan bersabda: “Biarkan mereka berdua wahai Abu Bakar, karena ini hari raya.”

(Ini menunjukkan kebolehannya nyanyian dan rebana, sebab jika keduanya haram, maka pasti Rasulullah menjadi orang pertama yang mencegahnya, dan jika memang haram tidak mungkin  berubah  menjadi halal hanya karena dimainkan di hari raya, sebab perilaku haram seperti zina, judi, khamr adalah tetap haram kapan pun juga, maka seharusnya nyanyian demikian juga. Tapi, ternyata Rasulullah membiarkannya  pada saat hari raya. pen)

2. Hadits riwayat Imam Ahmad dan At Tirmdzi dengan sanad shahih. Bahwa RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam pergi pada sebagian peperangannya. Ketika beliau pulan datanglah seorang jariyah hitam, dan berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya telah bernazar, jika engkau pulang dalam keadaan selamat maka aku akan bernyanyi dan memukul rebana di depanmu.” Maka Beliau bersabda: “Jika engkau sudah bernazar, maka pukul-lah (rebana).” Maka dia pun memukul rebana. (Ini juga menunjukkan kebolehan nyanyian dan rebana di  selain hari raya dan walimah. Sebab kisah ini terjadi saat Nabi pulang perang. Ini juga menunjukkan kebolehan nyanyian –yang baik-baik tentunya- dan rebana, sebab jika keduanya haram dan munkar, pasti Rasulullah akan melarang bernazar dengan yang haram dan munkar. pen)

3. Telah shahih dari  segolongan banyak sahabat dan tabi’in, bahwa mereka mendengarkan nyanyian, dan memukul/memainkan  ma’azif (alat-alat musik). Dari kalangan sahabat adalah Abdullah bin Zubeir, Abdullah bin Ja’far, dan selain keduanya. Dari kalangan tabi’in adalah Umar bin Abdul Aziz, Syuraih Al Qahi, Abdul Aziz bin Maslamah seorang mufti Madinah, dan lainnya.

(Fiqhus Sunnah, 3/56)

Hukum Halal/Haram Musik dalam Islam

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah menjelaskan:

الأناشيد الإسلامية مثل الأشعار؛ إن كانت سليمة فهي سليمة ، و إن كانت فيها منكر فهي منكر … و الحاصل أن البَتَّ فيها مطلقاً ليس بسديد ، بل يُنظر فيها ؛ فالأناشيد السليمة لا بأس بها ، والأناشيد التي فيها منكر أو دعوة إلى منكرٍ منكرةٌ ) [ راجع هذه الفتوى في شريط أسئلة و أجوبة الجامع الكبير ، رقم : 90 / أ [

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:

“Nasyid-nasyid Islam itu seperti sya’ir-sya’ir. Jika dia benar isinya, maka dia benar. Jika di dalamnya terdapat kemungkaran, maka dia munkar …. wal hasil, memutuskan hukum nasyid secara mutlak (general/menyamaratakan) tidaklah benar, tetapi mesti dilihat dulu. Maka, jika nasyid-nasid tersebut baik, maka tidak apa-apa. Dan nasyid-nasyid yang terdaat kemungkaran atau ajakan kepada kemunkaran, maka dia munkar.”

(Lihat fatwa ini dalam kaset tanya jawab, Al Jami’ Al Kabir, no. 90/side. A)

Kapankah diharamkan?

Menurut mayoritas fuqaha (ahli fiqih/juris) mendengarkan nyanyian adalah HARAM, yakni JIKA:

1.       Jika dibarengi dengan hal yang munkar

2.       Jika ditakuti mengantarkan kepada fitnah seperti terperangkap oleh wanita, atau remaja yang masih sangat muda, atau bangkitnya syahwat yang mengantarkannya pada zina

3.       Jika membuat pendengarnya meninggalkan kewajiban agama seperti shalat, dan   meninggalkan kewajiban dunia yang harus dilakukannya, ada pun jika sampai meninggalkan perbuatan sunah maka itu makruh, seperti meninggalkan shalat malam, doa di waktu sahur, dan semisalnya.

(Ihya ‘Ulumuddin, 2/269. Sunan Al Baihaqi, 5/69, 97.Asna Al Mathalib, 4/44, terbitan Al Maktabah Al Islamiyah. Hasyiah Al Jumal, 5/380, terbitan Dar Ihya At Turats. Hasyiah Ibnu ‘Abidin, 4/384 dan 5/22, Hasyiah Ad Dasuqi, 4/166. Al Mughni, 9/175, Al Manar Ats Tsalitsah. ‘Umdatul Qari, 6/271, terbitan Al Muniriyah)

Benarkah Imam Empat Madzhab Mengharamkan Musik?

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top