Jenis-Jenis Walimah

▪▫▪▫▪▫▪

Makna Walimah

Maknanya, kata Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah:

هي كل طعام يتخذ لسرور حادث من عرس و عقد زواج و غيرها

Yaitu jamuan makan yang disediakan karena adanya peristiwa membahagiakan, seperti pesta pernikahan, akad perkawinan, dan selainnya.

(Al Fiqhu Asy Syafi’iy Al Muyassar, 2/71)

Macam-Macamnya:

  1. Al ‘Urs, jamuan makan saat pesta pernikahan
  2. Al Khars, jamuan makan saat aqiqah
  3. Al I’dzar, jamuan makan saat anak dikhitan
  4. Al Wakirah, jamuan makan setelah usai membangun rumah
  5. An Naqim, jamuan makan saat kedatangan musafir
  6. Wadhimah, memberikan makan saat musibah
  7. Al Imlak, jamuan makan setelah akad nikah
  8. Al Ma’dubah, jamuan makan tanpa sebab (Traktir). (Ibid)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan tentang Al Wakirah:

الوكيرة طعام سرور وشكران ، يتخذه الإنسان عند فراغه من البناء ، ويدعو إليه الناس ، وقد استحبها كثير من الفقهاء

Al Wakirah adalah jamuan makanan karena bahagia dan bersyukur, biasa dilakukan orang saat selesainya membangun bangunan (rumah), lalu dia mengundang manusia. Banyak sekali ulama fiqih yang mengatakan sebagai amal yg mustahab/SUNNAH… (Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 205413)

Ada pun memenuhi undangannya adalah SUNNAH, menurut mayoritas ulama.

كما ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ : الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ فِي أَصَحِّ الْوَجْهَيْنِ ، وَالْحَنَابِلَةُ : إِلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِمَنْ حَضَرَ طَعَامَ الْوَكِيرَةِ

Sebagaimana MAYORITAS ulama baik Hanafiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, bahwa SUNNAH menghadiri undangan makan Al Wakiirah. (Ibid)

Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah berpendapat WAJIB memenuhi semua bentuk undangan makan-makan.

Beliau berkata:

من دعي إلى الوليمة لزمته الاجابة فهي فرض عين صائما كان أو مفكرا

Siapa yang diundang untuk hadir walimah maka dia mesti meresponnya, yaitu fardhu ‘ain, baik dia dalam keadaan puasa atau tidak. (Al Fiqhu Asy Syafi’iy Al Muyassar, 2/71)

Dalilnya adalah:

اذا دعي أحدكم إلى الوليمة فليأتيها

Jika kalian diundang pada walimah (jamuan makan) maka datangilah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi yang berpuasa, dia wajib datang, dan boleh memilih untuk mendoakan saja dan tetap berpuasa, atau ikut makan (membatalkan puasanya). Ini situasional.

Dalilnya:

اذا دعي أحدكم فليجب فإن كان صائما فليصل و ان كان مفطرا فليطعم

Jika kalian diundang maka penuhilah undangan itu, jika sedang puasa maka doakanlah (tuan rumah), jika sedang tidak puasa makanlah.

(HR. Muslim)

Ada pun undangan yang dicampur oleh maksiat maka boleh tidak datang, dengan kata lain tidak wajib mendatanginya.

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah berkata:

أذا كان هناك ضرر شرعي فلا تجب إجابته

Jika ada dharar (bahaya/keburukan) menurut syariat maka tidak wajib mendatanginya.

(Misbahuzh Zhalam, 4/290)

Atau ‘udzur syar’iy lainnya seperti sakit, bencana alam, atau tempat yang teramat jauh.

Demikian. Wallahu a’lam

🌻☘🌿🌸🍃🍄🌷💐

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

scroll to top