Abu Sufyan Radhiallahu ‘Anhu, dari Benci Menjadi Cinta

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bagi yang pernah membaca Sirah Nabawiyah pasti tidak asing dengan nama ini. Di masa Arab Pra Islam, ada empat orang ternama:

– Abu Jahal dan Abu Lahab, sampai mati tetap memusuhi Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi wa Sallam dan Islam

– Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, dengan sigap menyambut da’wah Islam bahkan disebut sebagai orang pertama yang masuk Islam dikalangan laki-laki dewasa

– Kemudian, Abu Sufyan bin Shakr bin Harb, awalnya memusuhi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, lebih cinta kedudukan dan jabatannya sebagai tokoh tapi akhirnya Allah Ta’ala memberikannya hidayah masuk Islam menjelang Fathul Makkah, bahkan kemudian menjadi pembela Islam dalam perang Hunain dan Yarmuk.

Tiga tipe manusia seperti di atas selalu ada dalam sejarah perjuangan Islam di masa selanjutnya. Sampai mati membenci Islam, menjelang akhir hayat barulah sadar dan menjadi pembelanya, dan sejak awal menjadi pembela Islam.

Untuk Abu Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu, kami ambil dari kitabnya Syaikh Ali Muhammad Ash Shalabiy Hafizhahullah, “Sirah Amiril Mu’minin Mu’awiyah bin Abi Sufyan”.

Berikut ini kisahnya:

“Dahulu, Abu Sufyan termasuk yang begitu bengis di zaman Jahiliyah dalam memerangi Islam … Buku-buku sejarah nabi memaparkan berbagai perilakunya yang selalu melawan da’wah Islam, sampai akhirnya Allah Ta’ala berkehendak memberinya hidayah. Dia masuk Islam sesaat sebelum Fathu Makkah.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memuliakannya saat Fathu Makkah, dan mengumandangkan: “Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman!”.

Pemuliaan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Abu Sufyan ini merupakan bentuk tarbiyah kepadanya, pengkhususan rumahnya merupakan sesuatu yang memuaskan jiwa Abu Sufyan, pada hal ini membuat tertanam kekuatan Islam dan iman kepadanya. Metode kenabian ini begitu efektif meredam kedengkian dalam hati Abu Sufyan, dan menjadi bukti bahwa kedudukannya di hadapan Quraisy tidak berkurang sedikitpun di dalam Islam, akhirnya dia tulus dan siap berkorban dijalan Allah.

Inilah manhaj Nabi yg mulia, maka wajib para ulama dan para da’i ilallah untuk menguasainya, dan mempraktekkannya saat berinteraksi dengan manusia. Keislaman Abu Sufyan begitu bagus, Beliau telah mengikuti banyak peristiwa, mempersembahkan pengabdian kepada Islam. Beliau ikut bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perang Hunain, ikut dalam pengepungan Thaif (Bani Tsaqif) yang membuat kehilangan satu matanya, dan ikut perang Yarmuk yang membuat hilang pula mata satunya lagi .

Setelah pengepungan terhadap Bani Tsaqif, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusnya bersama Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu ‘Anhu untuk menghancurkan berhala Latta -berhalanya Tsaqif-, bagi Quraisy berhala Latta juga begitu dihormati, mereka sering bersumpah dengannya. Hal ini menunjukkan ikatan kuat keimanan Abu Sufyan Radhiyallahu ‘Anhu, Beliau masuk Islam setelah hidup dalam naungan cinta kepada kedudukan yang menjadi batas antara dirinya dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam merawat faktor-faktor kejiwaan yang memiliki pengaruh dalam jiwa Abu Sufyan, dan jiwa-jiwa yang mulia bagi kaum Quraisy setelah Fathu Makkah, Rasulullah yg menjadikan brg siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka aman, dia juga mendapatkan ghanimah Hunain bersama yg lainnya, dgn itu dapat menundukkan hati mereka.

Abu Sufyan juga tidak lupa dengan penentangannya begitu keras kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di masa jahiliyah. Maka, dia pun begitu kuat pengabdiannya untuk Islam.

Imam Ibnu Katsir bercerita tentangnya:

“Beliau di antara pemimpin Quraisy di masa Jahiliyah, dia memisahkan diri dengan bermartabat setelah perang Badar, lalu setelah masuk Islam dia memiliki keislaman yang baik, sikapnya mulia, pengaruhnya begitu baik pada perang Yarmuk, baik sebelum dan sesudahnya.”

Sa’id bin Al Musayyab meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata: “Pada hari perang Yarmuk terjadi keheningan, hanya terdengar satu suara dari Seorang laki-laki ‘Wahai pertolongan Allah, mendekatlah!’ Lalu kaum muslimin memerangi Romawi, aku pun beranjak dan melihat ternyata itu adalah Abu Sufyan di bawah bendera anaknya, Yazid.”

Diriwayatkan disaat perang Yarmuk, Abu Sufyan berhenti di daerah Karadis, Beliau berkata kepada manusia: “Ingatlah Allah …, Kalian adalah pelindung Arab dan pembela Islam, sedangkan mereka pelindung Romawi dan pembela kesyirikan. Ya Allah, ini adalah hari-harimu, turunkanlah pertolonganMu kepada hamba-hambaMu.”

Dikatakan bahwa Abu Sufyan wafat tahun 31H, ada pula yang mengatakan 32, atau 33, atau 34 H. Dia dishalatkan oleh anaknya, Muawiyah, bahkan ada yang mengatakan dishalatkan oleh Utsman. Usia Beliau 83 th, ada pula yang mengatakan lebih dari 90 th.
(Selesai)

📚 Sumber: Kitab Sirah Amiril Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Hal. 20-21. Dar Ibn al Jauzi, Kairo. Cet. 1, 1428H/2007M.

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

scroll to top