






Daftar Isi
1. Mengimaninya Sebagai Kalamullah
Seorang muslim wajib meyakini bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah) sebagaimana i’tiqad Ahlussunah wal Jamaah, bukan makhluk, bukan produk budaya Arab, sebagaimana tuduhan kaum mu’tazilah dan liberal.
Allah Ta’ala sendiri menyebut bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia agar dia sempat mendengar Kalam Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah: 6)
Ayat lainnya:
حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ
“…hingga dia mendengar Kalam Allah.” (QS. At-Taubah: 6)
2. Membacanya Dengan Menjaga Adab-Adab Tilawah
Membacanya merupakan adab dan interaksi selanjutnya terhadap Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi maupun terang-terangan, mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)
Dari Abu Umamah Al Bahili, Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ
Bacalah Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para sahabatnya. (HR. Muslim)
Imam Al Munawi mengatakan, maksud “sahabat Al Qur’an” adalah para pembacanya.
Adapun adab-adab tilawah adalah:
– Menghadirkan hati dan jiwa, serta Ikhlas membacanya
– Bersuci terlebih dahulu
– Bersiwak atau menggosok gigi
– Menutup aurat
– Duduk dengan tenang dan dianjurkan menghadap kiblat
– Pastikan tempat bersih dan suci, jangan membaca di tempat najis seperti di WC
– Memulai dengan ta’awudz
– Membaca basmalah jika di awal surah kecuali surat At Taubah
– Membacanya dengan Tartil dan menjaga hukum-hukum tajwidnya
– Menggerakkan lisan, bukan cuma membaca di hati, membaca di hati tidaklah dikatakan tilawah tapi tafakur (merenung) sebagaimana dikatakan Imam Malik
– Jika hati aman dari Riya dan juga tidak mengganggu org lain, hendaknya suara dijahrkan dan membaguskan suara
– Dilirihkan suara jika tidak aman dari riya, dan khawatir menganggu orang lain
– Sujud tilawah jika bertemu ayat sajadah
– Memohon Rahmat Allah jika berjumpa ayat tentang Rahmat, dan meminta perlindungan-Nya jika berjumpa dgn ayat-ayat azab
– Menangis atau berusaha menghadirkan rasa haru saat membaca ayat-ayat Allah
3. Mentadaburi Al Qur’an
Berinteraksi dengan Al Qur’an bukan hanya membacanya tapi juga mentadaburi atau merenungkan isinya, menggali maknanya, dan mengambil hikmah darinya. Allah Ta’ala berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?” (QS. Muhammad: 24)
Jika ada kalimat atau kata atau sesuatu yang belum dipahami maka hendaknya bertanya kepada ahlinya, sebagaimana arahan dari Allah Ta’ala:
فَسۡـَٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
Maka tanyakanlah kepada ahlu adz dzikri jika kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Anbiya’, Ayat 7)
Siapa Ahludz Dzikri? Ibnu Zaid berkata:
فاسألوا المؤمنين العالمين من أهل القرأن
“Bertanyalah kepada orang-orang beriman lagi berilmu dari kalangan ahli al quran.” (Tafsir Al Qurthubi, 7/166)
4. Mengamalkan isinya
Inilah tujuan utama Al Qur’an diturunkan, sebagai kitab untuk diamalkan, pedoman semua aspek kehidupan, bukan hanya bahan bacaan dan kajian apalagi perdebatan. Berusaha dan bermujahadah mengamalkan isinya adalah bagian dari jihad. Sebagaimana ayat:
والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المحسنين
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Sebagian mufasir -seperti dijelaskan Al Qurthubi- mengatakan bahwa maksud orang-orang yang berjihad dalam ayat ini adalah orang-orang yang mengamalkan ilmunya.
5. Memuliakan mushaf
Tidak meletakkannya di tempat yang kotor apalagi najis.Tidak menjadikannya sebagai alas atau bantalan. Menyimpannya di tempat yang layak dan lebih tinggi dari lainnya.
6. Belajar dan Mengajarkan Al Qur’an
Inilah salah satu karakter manusia terbaik. Sebagaimana hadits:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
7. Memperjuangkan dan mendakwahkan Al Qur’an
Yaitu menjadi penyeru dan mengajak manusia untuk kembali kepada Al Qur’an dan menjadikannya sebagai referensi tertinggi umat manusia terlebih lagi umat Islam. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Isra’: 9)
Demikian. Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam








Farid Nu’man Hasan


