Solusi Islam Terhadap Marah

💥💦💥💦💥💦💥💦

Pernah marah? Barangkali ini pertanyaan yang konyol, sebab siapa sih yang tidak pernah marah? Walau tidak semua marah itu jelek, tapi umumnya marah itu memang mengarah pada keburukan.

Maka wajar jika di antara wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada sahabatnya adalah jangan marah.

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑูŽุฉูŽ ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ู
ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฃูŽูˆู’ุตูู†ููŠ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’ ููŽุฑูŽุฏู‘ูŽุฏูŽ ู…ูุฑูŽุงุฑู‹ุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุบู’ุถูŽุจู’

Dari Abu Hurairah Radhiallahu โ€˜Anhu bahwasanya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam: โ€œBerilah aku wasiat.โ€ Beliau bersabda: โ€œJangan marah.โ€ Beliau mengulangi berkali-kali: โ€œJangan marah.โ€ (HR. Bukhari No. 6116)

Nah, berikut ini solusi Islam untuk meredam amarah (Syaikh โ€˜Athiyah Salim menyebut solusi ini bersifat tadaarruj/bertahap):

1โƒฃ Dzikrullah (Mengingat Allah Taโ€™ala)

Ketika emosi kita sedang meluap memang agak sulit berdzikir, oleh karenanya harus dipaksakan dan bermujahadah (kerja keras) untuk melakukannya. Sebab inilah cara awal yang mujarab untuk mengembalikan kondisi normal bagi hati kaum beriman.

Allah Taโ€™ala berfirman:

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ู ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar Raโ€™du (13): 28)

Dzikir yang Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam ajarkan ketika sedang marah adalah membaca istiโ€™adzah (dzikir perlindungan), karena marah juga merupakan godaan syetan kepada manusia, dan kita berlindung kepada Allah Taโ€™ala dari semua bentuk gangguannya.

Sulaiman bin Shurad Radhiallahu โ€˜Anhu berkata:

ุงุณู’ุชูŽุจู‘ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŽุงู†ู ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู†ูŽุญู’ู†ู ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ุฌูู„ููˆุณูŒ ูˆูŽุฃูŽุญูŽุฏูู‡ูู…ูŽุง ูŠูŽุณูุจู‘ู ุตูŽุงุญูุจูŽู‡ู ู…ูุบู’ุถูŽุจู‹ุง ู‚ูŽุฏู’ ุงุญู’ู…ูŽุฑู‘ูŽ ูˆูŽุฌู’ู‡ูู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุฃูŽุนู’ู„ูŽู…ู ูƒูŽู„ูู…ูŽุฉู‹ ู„ูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ูŽุง ู„ูŽุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ู…ูŽุง ูŠูŽุฌูุฏู ู„ูŽูˆู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌููŠู…ู ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ู„ูู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุฃูŽู„ูŽุง ุชูŽุณู’ู…ูŽุนู ู…ูŽุง ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ู„ูŽุณู’ุชู ุจูู…ูŽุฌู’ู†ููˆู†ู

Dua orang laki-laki saling memaki di hadapan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, sedangkan kami sedang duduk-duduk di sisinya. Salah satu orang tersebut memaki sahabatnya dengan marahnya, dan wajahnya memerah. Lalu Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda: โ€œSaya akan ajarkan sebuah perkataan yang jika diucapkan akan menghilangkan apa yang sedang terjadi (amarah), seandainya dia mengucapkan: aโ€™udzubillahi minasy syaithanirrajim (aku berlindung kepada Allah dari gangguan syetan yang terkutuk) .โ€

Mereka berkata kepada laki-laki itu: โ€œApakah kamu dengar apa yang dikatakan Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam?โ€ Laki-laki itu menjawab: โ€œIya, saya bukan orang gila!โ€ (HR. Bukhari No. 6115, dan Muslim, dalam lafaz Muslim No. (109) (2610): hal taraa biy min majnuun ? (Apakah kau melihatku sebagai orang gila?), dalam lafaz lain dalam riwayat Muslim No. (110) (2610): A majnuunan taraaniy? (apakah kau melihatku sebagai orang gila?)

2โƒฃ Berwudhu

Ini merupakan tahapan selanjutnya, berdasarkan hadits nabi:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ู ุŒ ูˆูŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุทูŽุงู†ูŽ ุฎูู„ูู‚ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุงุกู ูŠูุทู’ููุฆู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑูŽ ุŒ ููŽุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽูˆูŽุถู‘ูŽุฃู’

Sesungguhnya marah itu dari syetan, dan syetan tercipta dari api, dan air mampu memadamkan api, maka jika salah seoranhg kalian marah hendaknya dia berwudhu. (HR. Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 7/8, Ahmad No. 17985, Abu Daud No. 4784, Ibni Abi โ€˜Ashim dalam Al Aahad wal Matsani No. 1267, 1431, Al Baihaqi dalam Syuโ€™abul Iman No. 8291)

Namun para ulama mendhaifkan hadits ini, seperti Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth (Tahqiq Musnad Ahmad No. 17985), juga Syaikh Al Albani (Dhaiful Jamiโ€™ No. 1510, As Silsilah Adh Dhaifah No. 582, dan beberapa kitabnya yang lain)

Walau pun hadits ini dhaif, tidaklah menganulir bahwa marah itu berasal dari sy

etan. Sebab hal itu telah diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dalam hadits lain yang shahih yang diriwayatkan oleh Syaikhan (Bukhari-Muslim) dari Sulaiman bin Shurad (lihat solusi no 1). Yakni ketika nabi mengajarkan: aโ€™udzubillahi minasy syaithaanirrajim, bagi orang yang marah menunjukkan bahwa marah adalah berasal dari syetan. Oleh karena itu, Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr Hafizhahullah menyebutkan bahwa secara makna hadits ini adalah shahih. (Syarh Sunan Abi Daud, 27/395. Syamilah)

Syaikh โ€˜Athiyah Salim Rahimahullah menyebutkan:

ูˆุงู„ุญูƒู…ุฉ ุฃู†ู‡ ุฅุฐุง ุชูˆุถุฃ ุญุจุณ ุงู„ุบุถุจ ููŠ ุฃุทุฑุงูู‡ุŒ ูู„ู… ูŠุฌุฏ ู„ู‡ ู…ู†ูุฐุงู‹ ููŠู‡ุฏุฃุŒ ูุฅู† ู„ู… ูŠุฐู‡ุจ ูู„ูŠุบุชุณู„

Hikmahnya adalah jika seseorang berwudhu maka itu akan mencegah kemarahan yang ada pada anggota badannya, dia tidak ada jalan untuk marah lalu menjadi reda, jika belum hilang juga, maka hendaknya dia mandi. (Syarhul Arbain An Nawiyah, 40/16)

โ€œMandiโ€ merupakan ijtihad dari Syaikh โ€˜Athiyah Salim. Bisa jadi karena fungsi air untuk mematikan api, dan mandi biasanya menggunakan air lebih banyak dibanding wudhu. Sehingga kemungkinan mematikan kobaran api juga lebih besar. Wallahu Aโ€™lam

Syaikh Abdul Muhsin Al โ€˜Abbad Al Badr menjelaskan pula:

ู…ุนู†ุงู‡: ุฃู† ู‡ุฐุง ู…ู† ุงู„ูˆุณุงุฆู„ ุงู„ุชูŠ ูŠูƒูˆู† ุจู‡ุง ุชุฎููŠู ุงู„ุบุถุจุ› ู„ุฃู† ุงู„ุบุถุจ ู…ู† ุงู„ุดูŠุทุงู†ุŒ ูˆุงู„ุดูŠุทุงู† ุฎู„ู‚ ู…ู† ู†ุงุฑุŒ ูˆุงู„ู†ุงุฑ ูŠุทูุฆู‡ุง ุงู„ู…ุงุกุŒ ููƒูˆู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ูŠุชูˆุถุฃ ูุฅู†ู‡ ูŠุฎูู ู…ู† ูˆุทุฃุฉ ุงู„ุบุถุจ ุนู„ูŠู‡

Maknanya: ini adalah di antara sarana yang dengannya bisa meringankan marah, karena marah itu berasal dari syetan, dan syetan tercipta dari api, dan api dipadamkannya dengan air, maka kondisi manusia yang berwudhu akan meringankan tekanan amarah yang ada padanya. (Syarh Sunan Abi Daud, 27/395)

Wallahu Aโ€™lam

3โƒฃ Jika marah sambil berdiri maka duduklah, jika masih marah, berbaringlah

Ini adalah tahapan selanjutnya atau cara lain untuk meredam amarah. Hal ini diajarkan langsung oleh Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam.

Dari Abu Dzar Al Ghifari Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:

ู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู†ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ุบูŽุถูุจูŽ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ูˆูŽู‡ููˆูŽ ู‚ูŽุงุฆูู…ูŒ ููŽู„ู’ูŠูŽุฌู’ู„ูุณู’ ููŽุฅูู†ู’ ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุนูŽู†ู’ู‡ู ุงู„ู’ุบูŽุถูŽุจู ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ููŽู„ู’ูŠูŽุถู’ุทูŽุฌูุนู’

Berkata (Rasulullah) kepada kami: jika salah seorang kalian marah dan dia sedang berdiri maka duduklah, itu jika mampu menghilangkan marahnya, jika tidak maka hendaknya berbaring. (HR. Abu Daud No. 4782, Ahmad No. 21348, Ibnu Hibban No. 5688)

Berkata Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth: โ€œPara rijal(perawi)-nya adalah terpercaya dan termasuk perawi shahih, tetapi ada perselisihan tentang Daud bin Abi Hindi yang terdapat pada sanadnya.โ€ (Tahqiq Musnad Ahmad No. 21348).

Yang benar adalah Daud bin Abi Hindi seorang tsiqah, dan Imam Bukhari telah meriwayatkan darinya secara muโ€™allaq, juga Imam Muslim dan para penyusun kitab Sunan (Ash Habus Sunan). (Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr, Syarh Sunann Abi Daud, 27/393)

Syaikh Al Albani menshahihkannya. (Shahihul Jamiโ€™ No. 694)
Ini merupakan solusi yang mengagumkan dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam. Anda lihat betapa tidak lazimnya manusia marah-marah sambil posisi duduk apalagi berbaring. Oleh karenanya, dua posisi ini adalah posisi yang paling mungkin kita ambil, untuk mengurangi gerakan tangan dan juga kegusaran hati, serta semakin memendekkan jangkauan tangan dan kaki untuk berbuat kasar. Berbeda dengan berdiri, yang merupakan posisi termudah untuk mengajar, memukul, dan sebagainya. Duduk adalah posisi yang sulit untuk itu, apalagi berbaring.

Wallahu Aโ€™lam

📓📕📗📘📙📔📒

โœ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top