– Doa adalah bagian dari zikir, tetapi zikir tidak selalu isinya doa
– Zikir dan Doa ada dua macam: Ma’tsur (dari Al Quran dan As Sunnah), dan Ghairul Ma’tsur (susunan manusia, selain Al Quran dan As Sunnah).
– Doa Rabithah termasuk Ghairul Ma’tsur, kalimatnya disusun oleh Imam Hasan Al Banna
– Menyusun doa dan dzikir sendiri, sesuai hajat manusianya, sudah dilakukan sejak masa salaf dan khalaf
– Sehingga itu adalah boleh dan sah menurut mayoritas ulama, selama isinya tidak ada yang melanggar syariat dan tidak dianggap sunnah nabi saat mengamalkannya.
Beberapa contoh zikir dan doanya para sahabat:
عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ
Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi berkata,
“Pada suatu hari kami shalat di belakang Nabi ﷺ. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar punjian orang yang memuji-Nya) ‘. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca;
‘RABBANAA WA LAKAL HAMDU HAMDAN KATSIIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkah) ‘.”
Selesai shalat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?”
Orang itu menjawab, “Saya.”
Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimat tersebut.”
(HR. Bukhari no. 799)
Hadits ini menunjukkan, sahabat nabi yg menciptakan dzikirnya sendiri di dalam shalat, dan Rasulullah ﷺ menyetujuinya. Istilahnya sunnah taqririyah.
Oleh karena itu Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:
واستدل به على جواز إحداث ذكر في الصلاة غير ماثور إذا كان غير مخالف للمأثور وعلى جواز رفع الصوت بالذكر ما لم يشوش على من معه
Hadits ini merupakan dalil BOLEHNYA menciptakan dzikir yang tidak ma’tsur di dalam shalat jika tidak bertentangan dengan dzikir yang ma’tsur, dan menunjukkan kebolehan meninggikan suara dalam dzikir selama tidak mengganggu orang-orang yang bersamanya. (Fathul Bari, 2/287)
Imam Ibnu ‘Abdil Bar Rahimahullah menjelaskan:
في مدح رسول الله صلى الله عليه وسلم لفعل هذا الرجل وتعريفه الناس بفضل كلامه وفضل ما صنع من رفع صوته بذلك الذكر أوضح الدلائل على جواز ذلك
Pujian Rasulullah ﷺ terhadap apa yang dilakukan laki-laki tersebut dan manusia mengetahui keutamaan perkataannya dan keutamaan apa yang dilakukannya berupa meninggikan suara dzikirnya, telah menjadi petunjuk bahwa hal itu memang boleh. (At Tamhid, 16/198)
Contoh lain, doanya Umar bin Khathab:
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Dari Umar Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:
“Ya Allah, rezekikanlah aku mati syahid di jalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu.”
(HR. Bukhari no. 1890)
Dalam riwayat lain:
وقال منصور سألت مجاهدا فقلت أرأيت دعاء أحدنا يقول اللهم إن كان اسمي في السعداء فأثبته فيهم وإن كان في الأشقياء فامحه عنهم واجعله في السعداء فقال حسن
Manshur berkata: aku bertanya kepada Mujahid: Apa pendapatmu dengan doa salah satu di antara kami:
“Ya Allah jika namaku bersama orang-orang berbahagia maka tetapkanlah bersama mereka, jika bersama orang-orang sengsara maka hapuslah, dan jadikan bersama orang-orang berbahagia.”
(Tafsir Ibnu Katsir, 4/469)
Malik bin Dinar berdoa:
وَقَالَ مَالِكُ بْنُ دِينَارٍ فِي الْمَرْأَةِ الَّتِي دَعَا لَهَا: اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ فِي بَطْنِهَا جَارِيَةٌ فَأَبْدِلْهَا غُلَامًا فَإِنَّكَ تَمْحُو مَا تَشَاءُ وَتُثْبِتُ وَعِنْدَكَ أُمُّ الْكِتَابِ
Malik bin Dinar mendoakan ibu hamil; “Ya Allah jika diperutnya adalah bayi perempuan, gantilah menjadi bayi laki-laki, karena Engkau maha menghapus apa yang Engkau kehendaki dan menetapkannya, dan di sisiMulah Ummul Kitab.” (Tafsir Al Qurthubi, 9/330)
Contoh lain kaum salaf:
Imam An Nawawi berkata:
وَقَدْ كَانَ بَعْضُ الْمُتَقَدِّمِينَ إذَا ذَهَبَ إلَى معلمه تصدق بشئ وَقَالَ اللَّهُمَّ اُسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّي
Sebagian ulama terdahulu, jika pergi menuju gurunya maka mereka menyedekahkan sesuatu dan berdoa: “Ya Allah, tutuplah aib guruku dariku dan janganlah Kau lenyapkan keberkahan ilmunya dariku.”
(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Jilid. 1, Hal. 157-158)
Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:
وإني لأدعو للشافعي منذ أربعين سنة في صلاتي
“Dalam shalat saya, sejak 40 tahun yang lalu saya berdoa untuk Asy Syafi’i.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 1/54)
Imam Yahya bin Said Al Qaththan Rahimahullah berkata:
أنا أدعو الله للشافعي، أخصه به
“Saya berdoa kepada Allah untuk Asy Syafi’i, saya khususkan doa baginya.” (Imam Al Baihaqi, Manaqib Asy Syafi’i, 2/243)
Semua contoh ini adalah sama-sama doa susunan dari manusia selain Rasulullah ﷺ dan bukan pula dari Al Quran. Tidak ada satu pun ulama yang mengingkarinya, dan ini menunjukkan kebolehannya.
Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:
فما صح معناه من الأدعية غير المأثورة يجوز الدعاء به، لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: ليتخير أحدكم من الدعاء أعجبه إليه فليدع الله عز وجل. رواه البخاري والنسائي، واللفظ له
Doa-doa yg ghairul ma’tsur (tidak ma’tsur) namun maknanya shahih boleh dipakai berdoa dengannya, hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi ﷺ: “kemudian hendaklah salah seorang dari kalian memilih do’a yang menarik hatinya dan berdo’alah kepada Allah dengan do’a itu.” (HR. Bukhari, An Nasa’i, dan ini lafaznya An Nasa’i).
(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 25798)
Semua ini sudah menunjukkan dalil dalam Sunnah, perilaku sahabat, dan kaum salaf bolehnya menyusun zikir dan doa sendiri, seperti doa Rabithah.
Demikian kebolehan berdoa dengan susunan sendiri, dengan syarat, isinya tidak melanggar syariat dan tidak dianggap sebagai sunnah nabi saat memakainya.
Wallahu A’lam
Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam
✍ Admin Madrasatuna


