Syaikh Abdullah bin Hasan Al Qu’ud Rahimahullah: Menasihati Pemimpin Secara Terang-Terangan dan Tersembunyi Adalah Diperintahkan

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

سئل العلامة عبد الله بن قعود رحمه الله : ما هو منهج أهل السنة في نصح الحاكم ؟ هل هو الإعلان بإنكار المنكر أو الإسرار به ؟
فأجاب رحمه الله :
على كل حال أنا أرى أن الأمر فيه تفصيل :
أولاً المناصحة من حيث المبدأ جزء من الاعتقاد ، أخذت البيعة بها (وأن تناصحوا من ولاَّه الله أمركم) ، المناصحة جزء من عقيدة المسلم ، أخذت البيعة بها بأن يناصح من ولاه الله أمره ولا سيما إن كان ذا وجاهة أو ذا علم أو ذا مكانة ، هذا من حيث المبدأ .
بقي أسلوب المناصحة ، أسلوب المناصحة : أنا أرى أن الأمر يـختلف باختلاف الأحوال ، يـختلف باختلاف وضع الحاكم وتسلطه ، ويـختلف باختلاف قوة الناصح ومكانته ومواجهته وتـحصنه من الحاكم ، ويختلف باختلاف الأمر الذي سينصح به ، فأنا أرى إن كان هذا الأمر الذي سيُنصح به أمر ظاهر ومعلَن وواضح ، فالمنكر المعلن الواضح الظاهر أرى أنه لا حرج في أن يناصَح الحاكم من مواجهة أو من عمود صحيفة أو من منبر أو بأي أسلوب من الأساليب إذا كان المنكر واضح وواقع في الناس وعلني ، فالقاعدة السليمة أن ما ينكر إذا كان علناً عولج ونُصِح به علناً . أما إذا كان المنكر لم يظهر ، ولم يُعلَم للناس ولا يزال في مثل هذه الأمور ، خفي ، فهنا لا ، المفروض أن تكون المناصحة به سراً .
فأنا لست مع من يقول انصحوا سراً أو فرادى ، ولا مع من يقول لا ، نفسه انصحوا علناً ، وجماعة ، فالكل مطلوب لكن باختلاف الأحوال

المرجع : شريط ( وصايا للدعاة – الجزء الثاني) للشيخ عبد الله بن حسن القعود

Syaikh Al ‘Allamah Abdullah Al Qu’ud Rahimahullah ditanya:

“Bagaimanakah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menasihati pemimpin?” Apakah mengingkari mereka dengan cara terang-terangan atau tertutup?”

Beliau – Rahimahullah- menjawab:

Bagaimana pun juga masalah ini menurutku perlu diperinci.

Pertama. Memberikan nasihat di sisi konsepsi merupakan bagian dari aqidah. Di antara isi dari bai’at adalah (Memberikan nasihat kepada orang yang Allah kuasakan kepadanya urusan kalian). Maka, nasihat adalah salah satu bagian dari aqidah muslim. Di mana bai’at pun juga terikat dengannya, yaitu memberikan nasihat kepada orang yang Allah berikan kuasa untuk mengurus urusan kalian. Apalagi bagi mereka yang memiliki kedudukan, ilmu, dan posisi. Ini dari sisi konsep dasarnya.

Ada pun dari sisi metode menasihati, menurutku ada perbedaan metode tergantung perbedaan situasi, baik perbedaan keadaan pemimpin dan jenis kekuasaannya, perbedaan kekuatan si pemberi nasihat dan kedudukannya, posisinya, dan daya tahannya terhadap pemimpin, juga tergantung perbedaan permasalahan yang membuatnya mesti memberikan nasihat kepadanya.

Aku berpendapat, jika permasalahannya adalah masalah yang memang nampak, terang, dan jelas, lalu dilakukan pengingkaran secera terang-terangan dan jelas pula, maka hal itu menurutku tidak apa-apa menasihati pemimpin baik secara langsung berhadapan, atau di media massa, atau di atas mimbar, atau cara apa pun, jika memang kemungkarannya jelas terjadi di tengah-tengah manusia dan terangan-terangan.

Maka, kaidah yang benar adalah kemungkaran yang terang-terangan maka nasihati dan berikan solusi secara terang-terangan. Ada pun kemungkaran yang tersembunyi dan tidak beredar di tengah-tengah manusia, dan tetap tersembunyi, maka wajib menasihatinya secara diam-diam.

Aku bukanlah orang yang bersama pihak yang mengatakan nasihat hanya diam-diam saja atau sendiri-sendiri, dan tidak pula bersama yang mengatakan “tidak”, yang hanya memberikan jalan keluar dengan nasihat secara terbuka dan beramai-ramai. Tetapi, semua ini cara yang diperintahkan, sesuai kondisinya masing-masing yang berbeda.

📚 Kaset: Washaya Lid Du’ah (Juz 2)

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

scroll to top