Memejamkan Mata Ketika Shalat

💥💦💥💦💥💦

Sebenarnya Para Ulama berbeda pendapat, antara memakruhkan dan membolehkan. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

ุชุบู…ูŠุถ ุงู„ุนูŠู†ูŠู†: ูƒุฑู‡ู‡ ุงู„ุจุนุถ ูˆุฌูˆุฒู‡ ุงู„ุจุนุถ ุจู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉุŒ ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู…ุฑูˆูŠ ููŠ ุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉ ู„ู… ูŠุตุญ

โ€œMemejamkan mata: sebagian ulama ada yang memakruhkan, sebagian lain membolehkan tidak makruh. Hadits yang meriwayatkan kemakruhannya tidak shahih.โ€ (Fiqhs Sunnah, 1/269. Darul Kitab Al โ€˜Arabi)

📌 Para Ulama Yang Memakruhkan

Imam Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra, mengatakan:

ูˆุฑูˆูŠู†ุง ุนู† ู…ุฌุงู‡ุฏ ูˆู‚ุชุงุฏุฉ ุงู†ู‡ู…ุง ูƒุงู†ุง ูŠูƒุฑู‡ุงู† ุชุบู…ูŠุถ ุงู„ุนูŠู†ูŠู† ููŠ ุงู„ุตู„ูˆุฉ ูˆุฑูˆู‰ ููŠู‡ ุญุฏูŠุซ ู…ุณู†ุฏ ูˆู„ูŠุณ ุจุดุฆ

โ€œKami meriwayatkan dari Mujahid dan Qatadah bahwa mereka berdua memakruhkan memejamkan mata dalam shalat. Tentang hal ini telah ada hadits musnad, dan hadits tersebut tidak ada apa-apanya. (As Sunan Al Kubra, 2/284)

Ini juga menjadi pendapat Sufyan Ats Tsauri. (Al Majmu Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr)

Selain mereka adalah Imam Ahmad, Imam Abu Jafar Ath Thahawi, Imam Abu Bakar Al Kisani, Imam As Sayyid Bakr Ad Dimyathi, dan lainnya.

Alasan pemakruhannya adalah karena memejamkan mata merupakan cara ibadahnya orang Yahudi, dan kita dilarang meniru mereka dalam urusan dunia, apalagi urusan ibadah.

📌 Para Ulama Yang Membolehkan

Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Zaid bin Hibban, telah bercerita kepada kami Jamil bin โ€˜Ubaid,katanya:

ุณู…ุนุช ุงู„ุญุณู† ูˆุณุฃู„ู‡ ุฑุฌู„ ุฃุบู…ุถ ุนูŠู†ูŠ ุฅุฐุง ุณุฌุฏุช ูู‚ุง ุฅู† ุดุฆุช

โ€œAku mendengar bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Al Hasan, tentang memejamkan mata ketika sujud. Al Hasan menjawab: โ€œJika engkau mau.โ€ (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 2/162)

Disebutkan oleh Imam An Nawawi, tentang pendapat Imam Malik:

ูˆู‚ุงู„ ู…ุงู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡ ููŠ ุงู„ูุฑูŠุถุฉ ูˆุงู„ู†ุงูู„ุฉ

โ€œBerkata Malik: tidak apa-apa memejamkan mata, baik pada shalat wajib atau sunah.โ€ (Al Majmuโ€™ Syarh Al Muhadzdzab, 3/314. Darul Fikr)

Semua sepakat bahwa memejamkan mata tidak haram, dan bukan pembatal shalat. Perbedaan terjadi antara makruh dan mubah. Jika dilihat dari sisi dalil -dan dalil adalah hal yang sangat penting- ternyata tidak ada hadits yang shahih tentang larangannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Sayyid Sabiq, dan diisyaratkan oleh Imam Al Baihaqi. Namun, telah shahih dari tabiin bahwa hal itu adalah cara shalatnya orang Yahudi, dan tidak boleh menyerupai mereka dalam hal keduniaan, lebih-lebih ritual keagamaan.

Maka, pandangan kompromis yang benar dan bisa diterima dari fakta-fakta ini adalah seperti apa yang diulas Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah sebagai berikut:

ูˆู‚ุฏ ุงุฎุชู„ู ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ููŠ ูƒุฑุงู‡ุชู‡ุŒ ููƒุฑูู‡ู‡ ุงู„ุฅูู…ุงู…ู ุฃุญู…ุฏ ูˆุบูŠุฑูู‡ุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุง:ู‡ูˆ ูุนู„ู ุงู„ูŠู‡ูˆุฏุŒ ูˆุฃุจุงุญู‡ ุฌู…ุงุนุฉ ูˆู„ู… ูŠูƒุฑู‡ูˆู‡ุŒ ูˆู‚ุงู„ูˆุง: ู‚ุฏ ูŠูƒูˆู†ู ุฃู‚ุฑุจูŽ ุฅู„ู‰ ุชุญุตูŠู„ ุงู„ุฎุดูˆุน ุงู„ุฐูŠ ู‡ูˆ ุฑูˆุญู ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุณุฑู‘ูู‡ุง ูˆู…ู‚ุตูˆุฏู‡ุง. ูˆุงู„ุตูˆุงุจ ุฃู† ูŠูู‚ุงู„: ุฅู† ูƒุงู† ุชูุชูŠุญู ุงู„ุนูŠู† ู„ุง ูŠูุฎูู„ู ุจุงู„ุฎุดูˆุนุŒ ูู‡ูˆ ุฃูุถู„ุŒ ูˆุฅู† ูƒุงู† ูŠุญูˆู„ ุจูŠู†ู‡ ูˆุจูŠู† ุงู„ุฎุดูˆุน ู„ู…ุง ููŠ ู‚ุจู„ุชู‡ ู…ู† ุงู„ุฒุฎุฑูุฉ ูˆุงู„ุชุฒูˆูŠู‚ ุฃูˆ ุบูŠุฑู‡ ู…ู…ุง ูŠูุดูˆุด ุนู„ูŠู‡ ู‚ู„ุจู‡ุŒ ูู‡ู†ุงู„ูƒ ู„ุง ูŠููƒุฑู‡ ุงู„ุชุบู…ูŠุถู ู‚ุทุนุงู‹ุŒ ูˆุงู„ู‚ูˆู„ู ุจุงุณุชุญุจุงุจู‡ ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุญุงู„ ุฃู‚ุฑุจู ุฅู„ู‰ ุฃุตูˆู„ ุงู„ุดุฑุน ูˆู…ู‚ุงุตุฏู‡ ู…ู† ุงู„ู‚ูˆู„ ุจุงู„ูƒุฑุงู‡ุฉุŒ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

โ€œPara fuqaha telah berselisih pendapat tentang kemakruhannya. Imam Ahmad dan lainnya memakruhkannya. Mereka mengatakan itu adalah perilaku Yahudi, segolongan yang lain membolehkannya tidak memakruhkan. Mereka mengatakan: Hal itu bisa mendekatkan seseorang untuk mendapatkan kekhusyuan, dan itulah ruhnya shalat, rahasia dan maksudnya. Yang benar adalah: jika membuka mata tidak menodai kekhusyuan maka itu lebih utama. Dan, jika justru hal itu mengganggu dan tidak membuatnya khusyu karena dihadapannya terdapat ukiran, lukisan, atau lainnya yang mebuat hatinya tidak tenang, maka secara qathi (meyakinkan) memejamkan mata tidak makruh. Pendapat yang menganjurkan memejamkan mata dalam kondisi seperti ini lebih mendekati dasar-dasar syariat dan maksud-maksudnya, dibandingkan pendapat yang mengatakan makruh. Wallahu Alam. (Zaadul Maad, 1/294. Muasasah Ar Risalah)

Wallahu A’lam

🍃🌾🌻🌴🌷โ˜˜🌺🌸

โœ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top