Kafir Itu Zalim, Mari Tolak Pemimpin Zalim

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Allah Ta’ala berfirman:

ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุงููุฑููˆู†ูŽ ู‡ูู…ู ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููˆู†ูŽ

Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Baqarah: 254)

Ayat ini semakin memperkuat tidak bolehnya umat Islam memilih orang kafir sebagai pemimpinnya. Sebab, tidak ragu lagi, kekafiran itu sendiri adalah kezaliman, mengingat zalim itu adalah:

ูˆุถุนู ุงู„ุดูŠุก ููŠ ุบูŠุฑ ู…ูˆุถุนู‡

Meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. (Ash Shihah fil Lughah, 1/438. Aisar At Tafasir, 3/248)

Adakah kezaliman yang lebih besar dibanding ketika manusia menuhankan yang bukan Tuhan, seperti menuhankan manusia, Nabi dan Rasul? Mereka meletakkan manusia bukan pada posisi sebenarnya, mereka pun menghalalkan apa yang Allah Ta’ala haramkan, dan kebalikannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy Rahimahullah menjelaskan ayat di atas:

“Mereka adalah orang-orang yang meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Mereka meninggalkan kewajiban yang merupakan hak Allah dan Hamba, mereka mengembalikan yang halal menjadi haram. Dan kezaliman yang besar adalah kafir kepada Allah, yang seharusnya hanya Allah secara khusus diibadahi, tapi orang kafir merubahnya dengan menyembah makhluk semisalnya. Oleh karena itulah Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang kafir itulah orang-orang ang zalim.” (Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannaan, Hal. 110. Cet 1, 1420H/2000M. Muasasah Ar Risalah)

Oleh karena itu Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhuma, berkata:

ู„ุง ุฃุนู„ู… ุดุฑูƒุง ุฃุนุธู… ู…ู† ุฃู† ุชู‚ูˆู„: ุฅู† ุฑุจู‡ุง ุนูŠุณู‰

“Aku tidak ketahui adanya kesyirikan yang lebih besar dibanding orang yang berkata bahwa Tuhannya adalah ‘Isa.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/42. Cet. 2. 1420H/1999M. Daruth Thayyibah)

Kezaliman yang besar itu adalah syirik, dan kesyirikan yang paling besar adalah menuhankan Nabi Isa ‘Alaihissalam. Zalim di atas zalim.

Allah Ta’ala tegas melarang bagi orang beriman untuk sekedar memiliki “kecenderungan” terhadap orang-orang zalim, dengan ancaman neraka, apalagi lebih dari itu yaitu memberikan loyalitas kepada mereka? Lebih besar lagi larangannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุฑู’ูƒูŽู†ููˆุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุธูŽู„ูŽู…ููˆุง ููŽุชูŽู…ูŽุณู‘ูŽูƒูู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู ูˆูŽู…ูŽุง ู„ูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ู„ููŠูŽุงุกูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ู„ูŽุง ุชูู†ู’ุตูŽุฑููˆู†ูŽ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. Huud: 113)

Demikian jelasnya … apalagi yang membuat umat Islam ragu meninggalkannya?

Wallahu A’lam wal Musta’an

🍃☘🌺🌴🌻🌸🌾🌷

✍ Farid Nu’man Hasan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top