Tafsir Surat Al Falaq (bag.3)

Sebelumnya:

TAFSIR SURAT AL-FALAQ (BAG.2)

💢💢💢💢💢💢💢

Berlindunglah Dari Kejahatan Makhluk Allah

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

Dari kejahatan makhluk-Nya ( QS. Al Falaq [113]: 2)

Makna kalimat โ€œSyarrโ€ย  (ุดุฑู‘)

Inilah hal pertama yang Allah perintahkan kepada manusia, yaitu memohonย  perlindungan kepada Allah dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya. Kalimat โ€œSyarrโ€ mengandung pengertian bahaya (Ad-Dharar) atau penyakit (al-adza) atau sakit atau kerusakan (al-fasad).[1]

Berlindunglah dari kejahatan yang tampak terasa secara fisik, seperti telah disebutkan diatas, atau kejahatan secara maknawi, seperti kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Bisa juga berupa penyimpangan pemikiran, kerusakan akhlak yang menimpa pribadi dan berkembang luas di masyarakat.

Lawan kata dari โ€˜Asy Syarrโ€ adalah โ€œAl-Khairโ€ (kebaikan). Yang mencakup segala kebaikan dan nikmat baik fisik maupun maknawi yang dirasakan oleh manusia.

Mengapa Allah Menciptakan Keburukan?

Timbul pertanyaan, mengapa Allah menciptakan keburukan atau kejahatan?. Bukankah kejahatan dan keburukan itu berbahaya bagi manusia? Mengapa Allah tidak melenyapkan saja keburukan diatas muka bumi ini sekaligus dan membiarkan kebaikan abadi tanpa harus bersusah payah mengejar dan membelanya? Syekh Yusuf Al-Qaradhawi menjawab pertanyaan tersebut dalam beberapa poin:

a. Allah tidak menciptakan keburukan atau kejahatan yang bersifat mutlaq, dengan maksud kejahatan secara dzatnya, namun disisi keburukan dan kejahatan itu terdapat sumber-sumber kebaikan. Allah menghadirkan kekuatan dan kelemahan dengan izin โ€“Nya.

Firman Allah:

ู‚ูู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ู…ูŽุงู„ููƒูŽ ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ุชูุคู’ุชููŠ ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุชูŽู†ู’ุฒูุนู ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒูŽ ู…ูู…ู‘ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุชูุนูุฒู‘ู ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุงุกู ูˆูŽุชูุฐูู„ู‘ู ู…ูŽู†ู’ ุชูŽุดูŽุงุกู ุจููŠูŽุฏููƒูŽ ุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุฑู ุฅูู†ู‘ูŽูƒูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ูƒูู„ู‘ู ุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏููŠุฑูŒ

Katakanlah,โ€ Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran [3]:26)

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda saat berdoa kepada Allah:

ุงู„ุฎูŠุฑ ุจูŠุฏูƒ ูˆุงู„ุดุฑ ู„ูŠุณ ุฅู„ูŠูƒ

โ€œKebaikan ada di tangan-Mu, keburukan bukan kembali kepada-Muโ€.[2]
(HR. Muslim Bab Shalat Musafir, No. 771, Abu Daud No. 760, At Tirmizi dalam Kitab Ad Daโ€™awat, No. 3422, dari Ali Bin Abi Thalib).

b. Setiap kita melihat keburukan dalam ciptaan Allah di atas muka bumi ini, sesungguhnya itu adalah keburukan yang bersifat parsial, nisbi dan khusus, sedangkan secara umum adalah kebaikan.

Sebagai contohnya, penciptaan manusia didunia merupakan kebaikan, mereka akan menjadi khalifah di bumi, diberi amanah dan akal untuk berfikir, begitupula Allah menurunkan kebaikan dengan diutusnya Rasulullah, diturunkan kitab-kitab Allah dan Allah memberikan pilihan jalan takwa dan jalan fujur (keburukan). Namun demikian masih ada orang-orang yang enggan menyembah Allah, dan kafir kepada para Rasul-Rasul Allah. Kemudian Allah akan memberikan balasan bagi orang yang takwa dan orang yang berbuat keburukan.

Firman Allah:

ููŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ู…ูุซู’ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽุฑู‘ูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑู‹ุง ูŠูŽุฑูŽู‡ู (7) ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ ู…ูุซู’ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฐูŽุฑู‘ูŽุฉู ุดูŽุฑู‘ู‹ุง ูŠูŽุฑูŽู‡ู (8)

โ€œBarangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (atom) pun, niscaya ia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (atom) pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pulaโ€. (QS. Al Zalzalah [99]: 7-8)

Oleh karena itu Abu Hamid Al Ghazali dalam Al Ihya menyebutkan:

ูˆูƒู„ู‘ู ู…ุง ู‚ุณู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุจูŠู† ุนุจุงุฏู‡ ู…ู† ุฑุฒู‚ ูˆุฃุฌู„ุŒ ูˆุณุฑูˆุฑ ูˆุญุฒู†ุŒ ูˆุนุฌุฒ ูˆู‚ุฏุฑุฉุŒ ูˆุงูŠู…ุงู† ูˆูƒูุฑุŒ
ูˆุทุงุนุฉ ูˆู…ุนุตูŠุฉุŒ ููƒู„ู‘ูู‡ ุนุฏู„ ู…ุญุถ ู„ุง ุฌูˆุฑ ููŠู‡ุŒ ูˆุญู‚ ุตุฑู ู„ุง ุธู„ู… ููŠู‡ุŒ ุจู„ ู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฑุชูŠุจ
ุงู„ูˆุงุฌุจ ุงู„ุญู‚ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู†ุจุบูŠุŒ ูˆูƒู…ุง ูŠู†ุจุบูŠุŒ ูˆุจุงู„ู‚ุฏุฑ ุงู„ุฐูŠ ูŠู†ุจุบูŠุŒ ูˆู„ูŠุณ ููŠ ุงู„ุฅู…ูƒุงู† ุฃุตู„ุง ุฃุญุณู†
ู…ู†ู‡ุŒ ูˆู„ุง ุฃุชู…ู‘ูŽ ุŒ ูˆู„ุง ุฃูƒู…ู„ุŒ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงุฏุฎุฑู‡ ู…ุน ุงู„ู‚ุฏุฑุฉ ูˆู„ู… ูŠุชูุถู„ ุจู‡ ู„ูƒุงู† ุจุฎู„ุง ูŠู†ุงู‚ุถ ุงู„ุฌูˆุฏุŒ
ูˆุธู„ู…ุง ูŠู†ุงู‚ุถ ุงู„ุนุฏู„ุŒ ูˆู„ูˆ ู„ู… ูŠูƒู† ู‚ุงุฏุงุฑ ุง ู„ูƒุงู† ุนุฌุฒุง ูŠู†ุงู‚ุถ ุงู„ุฅู„ู‡ูŠุฉ

Setiap yang dibagikan Allah kepada hamba-Nya dari rezeki, maut, bahagia, sedih, kelemahan dan kemampuan, iman dan kafir, taat dan maksiat, semuanya merupakan keadilan yang tak ada ketimpangan didalamnya. Semua Allah distribusikan, tak ada kezaliman, sesuai urutan hak dan kewajibannya, dan dengan ukuran takdir yang semestinya, bukan secara asal lebih baik dari semestinya, atau lebih sempurna dari sebenarnya. Jika Allah menyimpan takdir dan tidak memberikan kepada hamba-Nya, maka sifat tersebut membatalkan sifat-Nya yang Maha Pemurah, sifat Zalim yang menafikan sifat Adil-Nya, jika Allah tidak Mampu maka sifat Lemah tersebut menafikan sifat Ilahiyah-Nya. [3](Ihya Ulumuddin, 4/258)

Saat seorang mukmin mengetahui hikmah dibalik penciptaan makhluk, dan rahasia-rahasia Allah yang berlaku atas makhluk, sungguh itu sebuah kebaikan untuknya agar semakin mengenal dan dekat dengan Rabbnya. Namun ketika ia luput dari memahami hikmah dan rahasia tersebut, dan pasti tidak semua hikmah dan rahasia ia ketahui, maka sikapnya adalah mengembalikan semuanya kepada Allah Sang Maha Pencipta. Sebagaimana firman Allah:

ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุฐู’ูƒูุฑููˆู†ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ู‚ููŠูŽุงู…ู‹ุง ูˆูŽู‚ูุนููˆุฏู‹ุง ูˆูŽุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูู†ููˆุจูู‡ูู…ู’ ูˆูŽูŠูŽุชูŽููŽูƒู‘ูŽุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ุชูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุจูŽุงุทูู„ู‹ุง ุณูุจู’ุญูŽุงู†ูŽูƒูŽ ููŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),โ€Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa nerakaโ€. (QS. Ali Imran [3]:191)

Pandangan Para Ulama Mufassirin

Berikut berapa pandangan para ulama tafsir terkait ayat kedua dari surat Al Falaq:

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ (2)

โ€œDari kejahatan makhluk-Nyaโ€

1. Imam Ibnu Katsir

Beliau menyebutkan, bahwa manusia diperintahkan untuk berlindung dari segala kejahatan.[4]

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ุฌูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ู…ูŽุฎู’ู„ููˆู‚ูŽุงุชู. ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุซูŽุงุจูุชูŒ ุงู„ู’ุจูู†ูŽุงู†ููŠู‘ูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ู ุงู„ู’ุจูŽุตู’ุฑููŠู‘ู: ุฌูŽู‡ูŽู†ู‘ูŽู…ู ูˆูŽุฅูุจู’ู„ููŠุณู ูˆูŽุฐูุฑู‘ููŠู‘ูŽุชูู‡ู ู…ูู…ู‘ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ

Berlindunglah dari kejahatan semua jenis makhluk, Tsabit Al Bunany dan Hasan Al Bashri berpendapat: Jahannam, iblis dan keturunannya yang Allah ciptakan.

2. Sayid Qutub Rahimahullah meyebutkan dalam tafsirnya:

ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑู‘ู ู…ุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุฃูŠ ู…ู† ุดุฑ ุฎู„ู‚ู‡ ุฅุทู„ุงู‚ุง ูˆุฅุฌู…ุงู„ุง,ย  ูˆู„ู„ุฎู„ุงุฆู‚ ุดุฑูˆุฑ ููŠ ุญุงู„ุงุช ุงุชุตุงู„ ุจุนุถู‡ุง ุจุจุนุถ
ูƒู…ุง ุฃู† ู„ู‡ุง ุฎูŠุฑุง ูˆู†ูุนุง ููŠ ุญุงู„ุงุช ุฃุฎุฑู‰. ูˆุงู„ุงุณุชุนุงุฐุฉ ุจุงู„ู„ู‡ ู‡ู†ุง ู…ู† ุดุฑู‡ุง ู„ูŠุจู‚ู‰ ุฎูŠุฑู‡ุง. ูˆุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ุฎู„ู‚ู‡ุง ู‚ุงุฏุฑ ุนู„ู‰ ุชูˆุฌูŠู‡ู‡ุง ูˆุชุฏุจูŠุฑ ุงู„ุญุงู„ุงุช ุงู„ุชูŠ ูŠุชุถุญ ููŠู‡ุง ุฎูŠุฑู‡ุง ู„ุง ุดุฑู‡ุง

โ€œManusia diperintahkan untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan makhluk-Nya mutlak dan umum, karena setiap makhluk memiliki potensi keburukan dan kebaikanย  saat saling berinteraksi satu dan lainnya. Maksud meminta perlindungan disini agar kebaikan-kebaikan tersebut semakin kekal adanya, dan Allah Maha Pencipta Maha Mampu untuk mengarahkan da mengatur kondisi mana yang baik dari yang buruk.[5]

Syekh Mutawalli Asy-Syaโ€™rawi juga menukil hal yang sama saatย  menafsirkan ayat ini[6]

3. Az Zamakhsyari menyebutkan kejahatan terbagi dua,

kejahatan mukallafin (manusia dan jin)ย  dan ghaira mukallafin (hewan, tumbuhan dan benda mati). Kejahatan yang dilakukan oleh mukallafin seperti dosa, kezaliman, membahayakan orang lain, membunuh, merampas hak dan sebaginya. Sedangkan kejahatan yang dilakukan oleh ghaira mukallafin seperti memakan, menyengat. Atau sesuatu zat-zat berbahaya seperti racun pada hewan dan tumbuhan.[7]

Doa-doa agar dijauhkan dari kejahatan makhluk
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menyebutkan hadits terkait dengan doa-doa agar manusia diselamatkan dari kejahatan atau keburukan makhluk Allah yaitu:

ุฌูŽุงุกูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุจููŠูู‘ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู! ู…ูŽุง ู„ูŽู‚ููŠุชู ู…ูู†ู’ ุนูŽู‚ู’ุฑูŽุจู ู„ูŽุฏูŽุบูŽุชู’ู†ููŠ ุงู„ุจูŽุงุฑูุญูŽุฉูŽุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ : ุฃูŽู…ูŽุง ู„ูŽูˆู’ ู‚ูู„ู’ุชูŽ ุญููŠู†ูŽ ุฃูŽู…ู’ุณูŽูŠู’ุชูŽ: ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุชูŽู‘ุงู…ูŽู‘ุงุชู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽุถูุฑูŽู‘ูƒูŽ

โ€œSeseorang menemui Rasulullah dan berkata,โ€ Wahai Rasulullah apa yang aku lakukan, aku semalam disengat kelabangโ€. Rasulullah bersabda,โ€Jika kau mengatakan saat sore,โ€ Aku berlindung dengan kalimat Allah yang Maha Sempurna dari kejahatan ciptaan-Nya, maka kelabang tersebut tidak akan membahayakanmuโ€. (HR. Muslim, No. 2709 dari Abu Hurairah)

Begitu juga Imam At Tirmizi menyebutkan hadits:

ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุญููŠู†ูŽ ูŠูู…ู’ุณููŠ ุซูŽู„ุงูŽุซูŽ ู…ูŽุฑูŽู‘ุงุชู: ุฃูŽุนููˆุฐู ุจููƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู ุงู„ู„ู‡ู ุงู„ุชูŽู‘ุงู…ูŽู‘ุงุชู ู…ูู†ู’ ุดูŽุฑูู‘ ู…ูŽุง ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽุŒ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑูŽู‘ู‡ู ุญูู…ูŽุฉูŒ ุชูู„ู’ูƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ูŠู’ู„ูŽุฉู

โ€œBarangsiapa yang membaca pada sore hari sebanyak tiga kali,โ€ Aโ€™uzubikalimatillah tamat min syarri ma khalaq, ( aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan) maka tak ada yang membahayakannya pada malam ituโ€. (HR. At Tirmizi, No. 3604)

ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู…

🌻🌿🌺🍃🌴🌾☘🌸

✍ Ust Fauzan Sugiono, Lc


🌴🌴🌴🌴🌴🌴

[1] Yusuf Al Qaradhawi, Tafsir Juz โ€˜Amma, h.566
[2] HR. Muslim Bab Shalat Musafir, No. 771, Abu Daud No. 760, At Tirmizi dalam Kitab Ad Daโ€™awat, No. 3422, dari Ali Bin Abi Thalib
[3] Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, 4/256
[4] Tafsir Ibnu Katsir, 8/535
[5] Sayid Qutub (1385H), Fi Dzilalil Qurโ€™an, (Kairo: Dar Syuruq, 1412H) 6/4006
[6] Syekh Mutawalli Asy Syaโ€™rawi, Tafsir Juz Amma, ( Mesir: Dar Ar Rayah, 1428H) h. 665
[7] Az Zamakhsyari, Al Kasyaf, (Beirut: Dar al Kitab Al Arabi, 1407H) h. 4/820


Selanjutnya:

Tafsir Surat Al Falaq (bag. 4 -Selesai)

Serial Tafsir Surat Al-Falaq

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 1

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 2

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 3

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 4 (Selesai)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

scroll to top